Category Archives: seks terbaru

Tante, kakak dan sepupu

Awek Pantat Panas CantikCerita ini dimulai waktu ada acara keluarga di Villa Tretes minggu lalu. Sekarang ini aku duduk di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Namaku Hady, umurku 20 tahun.
Begini kisahnya.., Hari minggu keluargaku mengadakan acara temu kangen di Malang. Seluruh anggota keluarga hadir dalam acara itu, kira-kira ada 3 keluarga. Ada hal yang paling kugemari dalam acara itu, yaitu acara perkenalan tiap keluarga.

Pada kesempatan itu adik ibuku bernama Henny memperkenalkan keluarganya satu persatu. Aku lihat gaya bicara Tante Henny yang sangat mempesona, terus terang Tante Henny bila aku gambarkan bak bidadari turun dari langit, wajahnya yang cantik, kulitnya yang mulus dan bodinya yang aduhai membuat tiap laki-laki pasti jatuh hati padanya.



Perkenalan demi perkenalan telah terlewati malam itu, sekitar pukul 9 malam kami beristirahat. Badanku terasa penat dan aku pergi untuk mandi, sekalian persiapan untuk acara besok. Waktu aku akan mandi, tanpa sengaja aku melihat tanteku baru keluar dari kamarnya memakai kimono putih yang agak transparan dan terlihat samar-samar lekuk tubuhnya yang indah, dengan sedikit basa-basi aku bertanya padanya.
"Mau kemana Tante?", tanyaku.
Tanteku dengan kagetnya menjawab "Ouu Hadi, bikin tante kaget nich, Tante mau mandi pake bathtub", jawabnya.
"Sama nich", kataku.
"Rasanya memang malam ini penat sekali yach".
Akhirnya kami melangkah bersama menuju bathroom di belakang Villa kami. Malam itu agak dingin rasanya, sampai-sampai.., sambil agak mendesah Tanteku menahan dingin.

Sesampainya di depan kamar mandi aku berhenti sambil memperhatikan tingkah Tante yang agak aneh (maklum aku masih anak kecil, belum pernah lihat yang seperti gituan).
"Had.., kamu duluan yach..!", kata tanteku sambil mendesah.
"Nggak ach Tante, Tante dulu dech", kataku sambil rasa dingin (duch rasanya seperti dalam freezer tuch).
"Ok, Had.., Tante duluan yach".
Tanteku masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara pakaiannya yang ditanggalkan, gemericik air juga mulai mengisi bathtub. Aku menunggu di luar dengan rasa dingin yang sangat mengigit sambil melamun.
"Had, mana nich sabunnya". teriak tanteku mengagetkanku.
Seketika itu juga aku menjawab, "Disitu Tante".
"Dimana sich?", kata tanteku.
"Kamu masuk aja Had, ambilin dech sabunnya.., Tante nggak tau nich".

Dengan hati yang berdetak keras aku masuk ke kamar mandi sambil mencari-cari sabunnya. Ternyata sabunnya di bawah wastafel. Segera aku mengambilnya dan memberikannya pada tanteku. Tanpa sengaja aku melihat bodi tanteku yang aduhai yang tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Dengan wajah merah padam aku memberikan sabunnya.
Tanteku bertanya "Mengapa Had.., belum pernah liat yach!", kata tanteku dengan mengerlingkan matanya yang indah itu.
Dengan malu-malu kujawab "Belum pernah tuh, tante", kulihat tanteku hanya tersenyum kecil sambil menggandeng tanganku, ia menyuruhku masuk, sengaja atau tidak penisku berdiri.
"Had, punya kamu berdiri tuh", dengan malu aku berusaha menutupi penisku yang telah berdiri.
"Ngapain malu Had..", tanya tanteku.
Aku hanya tersenyum kecut, lalu tanteku melepaskan handukku sambil berkata "Tante boleh lihat punyamu.
"Jangan tante nanti Om tau".
"Ah, nggak apa-apa Om orangnya sangat fair".
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, kemudian dengan lembutnya tanteku mempermainkan penisku sambil berkata", Gila benar punyamu Had, barang sebesar ini kok di diemin aja..". aku hanya bisa meringis keenakan, karena memang aku tidak pernah merasakan hal itu.

Dengan lembutnya tanteku mengulum penisku, dengan refleks aku meraba payudara tanteku yang montok itu, "Ohh.., nikmat sekali". Dituntunnya aku untuk mengulum bibir kemaluannya.
Aku bertanya "Ini apa tante?".
"oo itu clitoris sayang", jawabnya. Aku terus mengulum bibir kemaluannya. Lama juga aku mengulum bibir kemaluannya, dengan gaya 69 kami saling menikmati hal itu. Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata "Ah.., tante kok tega main sama adikku.., kok tidak bilang-bilang kepadaku", sambil tersenyum kecil.

Mungkin karena terangsang dengan apa yang kami lakukan akhirnya kakakku ikut melepaskan pakaiannya. Tanteku berkata "Ayo sini punya adikmu nikmat lho". Aku tidak habis pikir, ternyata kakakku suka begituan juga. Baru pertama kali ini aku melihat polos tubuh kakakku ternyata kakakku tidak kalah dengan tanteku malah payudaranya lebih besar dari punya tante.

Tanpa pikir panjang aku tarik tangan kakakku, langsung aku kulum payudaranya yang besar itu. Terus tanteku bilang "Had masukin dong punyamu". Akhirnya kumasukkan punyaku ke liang kewanitaan tanteku "Ooh nikmat sekalii..", tanteku hanya bisa mendesah kenikmatan. Dengan goyangan yang seperti di film aku berusaha sekuat tenaga menghabisi liang kenikmatan tanteku. Selang berapa lama air mani tanteku keluar. "akhh", desahan itu keluar dari mulut tanteku, tapi aku belum apa-apa. Akhirnya tanpa rasa dosa kutarik kakakku untuk juga merasakan hebatnya penisku. Kakakku ternyata sudah tidak perawan lagi itu kuketahui waktu kumasukan penis ke liang senggamanya. Kakakku menggelinjang keenakan sambil berkata mengapa tidak dari dulu minta di "tusuk" oleh penisku. Aku terus menggenjotnya. Pada waktu lagi asyiknya aku menusuk liang kewanitaan kakakku sepupuku masuk "eehh.., lagi ngapain kalian" tanyanya. Aku cuek saja sambil berkata", kalo mau sini aja".

Tanpa aku sadari ternyata sepupuku telah menanggalkan pakaiannya. Ternyata sepupuku biar masih SMU, bodinya hebat juga. Tanpa pikir panjang kutarik tangannya lalu kukulum susunya, sambil terus menggenjot liang kenikmatan kakakku. Aku lihat kakakku asyik mengulum bibir kemaluan sepupuku. Ternyata kakakku telah di puncak kenikmatan. Dia menggeliat seperti cacing kepanasan, kurasakan semburan air hangat keluar dari liang kewanitaan kakakku. "oohhkk", teriak kakakku. Aku tersenyum puas karena aku masih bisa bertahan. Dengan perkasa ganti sepupuku "Mira" kugenjot ia hanya bisa pasrah dalam dekapan kejantananku. Aku coba memasukkan penisku dengan pelan-pelan ternyata sepupuku itu masih perawan, sangat sulit pertama kali kumasukan penisku, ia merintih kesakitan aku tidak kurang akal, kuludahi liang surganya dan kumasukkan jari tanganku. Lalu kucoba memasukkan penisku. Kali ini bisa walau dengan susah payah. "Akhh nikmat sekali memek perawan", kataku. Kulihat Mira hanya merintih dan mendesah diantara sakit dan nikmat. Akhirnya aku merasakan juga puncak kenikmatan itu kami sama-sama klimaks, "akkhh", terak kami berdua. Akhirnya kami keluar bersamaan. Setelah itu, kami berempat mandi bersama sambil tersenyum puas.

Tamat


Air susu dibalas dengan air mani

Awek Pantat Panas CantikLaju sepeda motor yang dikemudikan Pak Irwan semakin cepat dan menyalip mobil angkutan di depan kami. Aku hanya diam, duduk dengan tenang di belakang boncengan, sesekali menjawab pertanyaan laki-laki tersebut atau memintanya untuk mengulanginya, karena suara bising kenderaan di sepanjang jalan membuat suara Pak Irwan tidak begitu jelas terdengar.

Memang hari ini lalu lintas begitu padat, tidak biasanya. Kecepatan sepeda Pak Irwan sedikit mulai stabil, tanganku yang sejak tadi terus merangkul tubuhnya yang besar, sedikit nakal menggoda laki-laki tersebut, dan memukul tanganku saat tanganku yang nakal meremas kontolnya.



"Jangan main-main" ucapnya sambil tertawa.
"Sudah tak tahan Pak" bisikku dan Pak Irwan tertawa lagi.

Tanganku mengelus-elus dadanya yang dibalut oleh jeket tersebut, badannya dan punggungnya tak lepas dari elusan tanganku. Laki-laki tersebut tertawa dengan kekonyolan yang aku buat padanya, yang pasti dia sangat menyukainya.

Cukup lama aku mengenal Pak Irwan. Laki-laki yang sangat baik dan dermawan. Karena beliaulah aku dapat meneruskan sekolah ke Lanjutan Pertama. Laki-laki tersebut membiayai sekolahku dari kelas 4 SD sampai sekarang. Dan bukan itu saja ketiga adikku juga. Laki-laki tersebut sangat budiman, aku banyak berhutang budi padanya. Inang tak bisa menahan harunya saat Pak Irwan mengulurkan bantuan pada keluargaku dan memberikan modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah.

Sejak meninggalnya Amang, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Inang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya. Sebagai anak laki-laki yang paling besar, aku sedikitnya terpanggil untuk membantu meringankan beban Inang, walau usiaku masih sangat-sangat muda untuk bekerja. Umurku 11 tahun dan sudah setahun yang lalu sudah meninggalkan bangku sekolah karena faktor biaya.

Dari hasil barang-barang bekas yang aku dapatkan, sedikitnya membantu Inang untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Dan seperti biasa aku berkeliling mencari barang-barang bekas dari tempat-tempat sampah orang kaya dengan karung goni yang selalu setia di atas pundakku, sementara sebuah gancu mengaduk-aduk tempat-tempat sampah tersebut, mencari barang bekas yang laku untuk dijual.

Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.

Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.

"He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini".

Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.

"Maaf, Bang" ucapku dengan sura terbata-bata.
"Aku pikir emer ini tidak dipakai lagi" dengan suara gagap ketakutan.
"Letakkan lagi di tempatnya semula, kalau tidak saya panggil polisi"
"Maaf, Bang, jangan.. Jangan panggil polisi Bang" ucapku lagi memohon dan hampir menangis dan meletakkan ember bekas tersebut ke tempatnya semula.
"Sini kau!" bentak laki-laki tersebut dan saat aku mendekatinya, laki-laki tersebut langsung menarik kupingku, menjewernya dengan kuat.
"Kecil-kecil sudah jadi maling, besarnya mau jadi apa, ah?"
"Ampun Bang, aku pikir ember itu tidak dipakai lagi, aku baru kali ini melakukannya".
"Sudah mencuri, bohong lagi" bentak laki-laki tersebut dan semakin kuat tangannya menjewer kupingku.
"Ampun Bang, ampun" ucapku memohon menahan sakit sehingga aku menangis.
"Kurang ajar, apa tidak pernah diajarkan orang taua kau, ah"

Aku hanya diam menunduk, laki-laki tersebut melepaskan tangannya pada kupingku dan memeriksa karung goniku.

"Apa kau tidak sekolah, ah" bentak laki-laki itu lagi dan aku mengangguk menjawabnya.
"Malas, ah?, mau jadi apa kau ini, sudah tidak sekolah, maling dan sudah besarnya mau jadi rampok yah?"
"Tidak Bang" jawabku.
"Lalu apa?"
"Inang tidak punya uang untuk menyekolahkan kami"

Laki-laki tersebut menatapku tajam, menyimak perkataanku, memastikan apa aku berbohong atau berkata benar padanya. Perasaan lega saat aku di suruh pergi juga akhirnya dan memenuhi janjinya untuk tidak akan menampakkan mulalu di sekitar rumahnya lagi. Berbagai sumpah serapah aku ucapkan dengan pelan pada laki-laki tersebut sambil meninggalkan pekarangan belakang rumahnya.

Sebulan kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan laki-laki galak tersebut dan sedikit terkejut saat laki-laki tersebut mengajakku ke rumahnya dan memberikan ember yang pernah aku incar beserta barang-barang bekas lainnya. Mimpi apa aku semalam, begitu banyak barang-barang bekas yang aku dapatkan hari ini, gumamku.

"Satu karung saja kau bawa dulu, yang satu tinggalkan dulu, nanti kau jeput"

Aku mengikuti saran laki-laki tersebut. Dan hari-hari berikutnya, laki-laki tersebut memberikan barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku ternyata salah, laki-laki tersebut ternyata sangat baik dan selalu menasehatiku. Aku jadi malu mengingat kejadian pertama kali itu dan beberapa kali meminta maaf padanya atas kekeliruanku. Karena ember bocor aku jadi berniat mencuri, karena ember bocor aku jadi malu dan karena ember bocor itu juga aku mengenal Pak Irwan.

Suatu hari, Pak Irwan melihat sendir keadaan keluargaku.

"Hanya rumah berdinding tepas inilah peninggalan Amang anak-anak" ucap Inang.
"Ido sangat membantu saya, penghasilannya dari barang-barang bekas itu bisa menambah untuk membeli beras dan lainnya, sementara sya bekerja di pasar jadi kuli angkat barang atau membantu pedagang menjual barangnya kalau dminta".

Singkat cerita, aku beserta adikku diangkat Pak Irwan sebagai anak angkatnya, dan aku tidak perlu mencari barang-barang bekas lagi.

"Kau harus sekolah dan juga Adik-Adik mu, sekolah yang rajin biar pintar dan suatu saat kalau sudah kerja kan bisa bantu Inang" pesan Pak Irwan.

Walau aku bukanlah tergolong anak yang pintar, namun aku selalu menurut, mengikuti nasehat Bapak angkatku itu, dan juga Bapak angkat bagi ke tiga adikku, tapi bagimana dengan Inang? Apa Pak Irwan mengangkatnya sebagai anak? Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana mungkin, tapi jika Pak Irwan mau mengawini Inang, pasti kami akan tinggal di rumahnya yang besar, kami jadi orang kaya, tapi mana mungkin, Pak Irwan khan sudah punya isteri yang cantik dan baik hati, yang pasti kalau Pak Irwan kawin dengan Inang ceritanya akan berubah pastinya yah.

Karena usiaku yang sudah 11 tahun, aku dimasukkan Pak Irwan ke kelas 4 SD, padahal kelas 3 pun aku belum tamat, tapi karena dia seorang guru dan banyak kenalan, akhirnya aku diterima di kelas 4 SD walau harus dalam masa percobaan terlebih dahulu. Kami hanya disuruh belajar dan belajar, semua kebutuhan kami di subsidi Pak Irwan. Laki-laki tersebut pun memberi modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah, sehingga lebih membantu kami lagi.

Kata-kata yang mengandung makna berupa nasehat selalu disampaikan kepadaku sehingga memacuku untuk belajar lebih giat lagi agar cita-citaku tercapai dan akan menunjukkan kepadanya bahwa pertolongannya tidak sia-sia.

Setahun kemudian

Seperti biasa, sepulang sekolah aku mampir ke rumah Pak Irwan, masuk dari belakang rumah, seperti layaknya seperti rumahku sendiri, mencari keberadaan Pak Irwan, memberi kejutan kepadanya. Melihat laki-laki tersebut yang sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV, akupun mendekatinya dengan perlahan.

"Kena" ucapku sambil menutup kedua matanya.

Pak Irwan menangkap kedua tanganku dan menariknya sehingga tubuhku terangkat ke depan, tangan laki-laki tersebut memegang celanaku, menariknya sehingga badanku terjatuh ke sofa. Pak Irwan ternyata tidak memberikan ampun kepadaku lagi, badanku digelitikinya.

"Akhh.. Ampun.. Ampun Pak" ucapku tertawa, kegelian, meliuk-liukkan badanku.

Keakraban begitu memang sering kami lakukan. Pak Irwan seperti Bapak kandungku, selayaknya keceriaan antara Bapak dan anak, dan hanya dengan Pak Irwan baru aku dapatkan. Laki-laki tersebut terus menggelitiki badanku, tidak menghiraukan aku yang memohon meminta ampun untuk menghentikan permainannya, aku sampai mengeluarkan air mata karena bahagia.

Laki-laki tersebut tersenyum, menghentikan permainannya, menatapku sejenak dan dengan tiba-tiba tangannya langsung mencaplok kontolku, meremas-remasnya.

"Geli.. Geli.. Pak.." ucapku lagi sambil tertawa.

Pak Irwan menarik tubuhku ke depan, meletakkan kepalaku di bantal kursi yang berada di bawah pusarnya dan kembali tangannya menjangkau kontolku, meremas-remasnya.

"Akhh.. Bapak gete (genit)" ucapku.

Laki-laki tersebut hanya tersenyum dan terus meremas-remas kontolku yang berada di balik celana. Mendengar sura desahan-desahan, mataku tertuju ke depan TV dan melihat permainan asyik laki-laki dan perempuan di atas ranjang, dan dalam keadaan telanjang bulat.

Bapak angkatku ternyata sedang menonton film porno dan usiaku yang baru 12 tahun, belum faham betul permainan tersebut. Aku menjadi tertarik dengan tontonan di TV tersebut. Pak Irwan tersenyum melihatku yang begitu serius menonton adegan ngentot.

"Seius sekali kau" ucap Pak Irwan memegang daguku.

Aku tersenyum, tersipu malu dan saat itu pula Bapak angkatku mengangkat bantal kursi dari selangkangannya, kontolnya naik ke atas, tegang dengan bulu-bulu yang lebat dan ikal. Pak Irwan tersenyum menatapku, aku baru sadar, ternyata Bapak angkatku telanjang bulat.

"Bapak, tidak malu" ucapku mengejeknya sambil tersenyum.
"Kenapa malu?, khan hanya ada anak Bapak di sini" ucapnya sambil tertawa, tangannya merangkul pundakku, kepalanya dirapatkan ke kepalaku dan Pak Irwan mencium pipiku.
"Akhh, bapah tambah gete saja" ucapku dan menghapus pipiku yang habis diciumnya.

Pak Irwan tertawa lagi, meraih tanganku dan meletakkan ke kontolnya.

"Pegang kontol Bapak, kontol Arido Bapak pegang juga" bisiknya

Tanganku merasakan batang keras tersebut, sementara Pak Irwan meremas-remas kontolku juga, merasa tak puas, laki-laki tersebut membuka retsleting celanaku dan mengeluarkan batang kontolku yang lemas.

"Wah, kontolmu ternyata panjang juga" ucapnya melihat kontolku yang menjulur dari lubang retsleting.

Tangan Pak Irwan menarik-narik ujung kontolku yang terkatup, kuncup. Aku termasuk orang yang tidak sunat. Gerakkan-gerakkan tangan Bapak angkatku yang meremas-remas dan mengocok-ngocok batang kontolku, membuat kontolku semakin bereaksi, hidup, membesar pada diameter batangnya dan semakin panjang dari bentuk semula dan kulit pada ujungnya melebar, seiring kepala kontolku yang membengkak, membesar.

"Wah, kalau Bapak tahu lebih dulu kau punya batang kontol yang besar dan panjang, Bapak langsung menggarap Ido" ucapnya sambil tersenyum.

Pak Irwan mencium pipiku lagi sebelum pergi meninggalkanku dan kembali tak lama kemudian dengan membawa boneka perempuan telanjang bulat tinggi dan ramping. Laki-laki tersebut tersenyum dan kembali duduk di sampingku.

"Bapak kenalkan dengan Madonna" ucapnya padaku memperkenalkan boneka tersebut dan memberitahukan setiap organ tubuh boneka tersebut.

Aku menolak saat Pak Irwan menyuruh untuk menghisap-isap puting payudara boneka tersebut, Bapak angkatku memberi contoh, dia langsung mengisap-isap puting payudara boneka tersebut, menjilatinya dan menarik-narik puting payudara boneka tersebut bergantian. Aku tertawa melihatnya. Bapak angkatku seperti bayi yang sedang menyusu pada boneka tersebut.

Beberapa lama kemudian, Pak Irwan memasukkan kontolnya ke dalam mulut boneka karet tersebut yang menganga lebar, tersenyum melihatku, tangannya terus menekan-nekan kepala boneka karet tersebut.

"Madonna mau merasakan kontol Arido, dia mau mengisap-isap kontol Arido" ucap Bapak Angkatku.
"Enak Pak?" tanyaku.
"Geli dan enak" jawab Pak Irwan sambil tersenyum dan membuka baju dan celana seragamku.

Aku merasakan kegelian saat mulut boneka tersebut keluar masuk memakan batang kontolku.

"Geli.. Geli.. Pak" ucapku.
Pak Irwan tersenyum sambil terus menggerak-gerakan kepala boneka tersebut.
"Pak.. Gelii" ucapku lagi.
"Akhh.." desahku pelan dan pendek.
Bapak angkatku mengangkat boneka karet tersebut, "Wah.. Air manimu, tertinggal di dalam mulut Madonna" ucapnya menunjukkan cairan kental seperti ludah namun lebih kental lagi.
"Anak Bapak, kecil-kecil sudah menghasilkan" ucap Pak Irwan lagi, menambah kebingunganku lagi. Laki-laki tersebut memelukku sambil mengelus-elus rambutku.

Pak Irwan mengajakku ke kamar mandi, mendudukkanku di sisi bak, sementara Bapak angkatku tersebut jongkok, tangannya meraih kontolku dan.. Dan.. Bapak angkatku tersebut menelan batang kontolku, menarik-nariknya dengan mulutnya, dengan gerakan cepat sehingga kontolku bertambah besar kembali dan memanjang. Pak Irwan mengocok-ngocok batang kontolku, merapatkan kedua bibirnya sehingga batang kontolku terjepit, hingga batang kontolku tenggelam samapai pangkalnya. Tanpa pengetahuan dan tidak tahuanku, aku membiarkan Bapak angkatku melakukannya. Kocokan-kocokan mulutnya pada batang kontolku semakin enak saja, geli rasanya.

Pak Irwan mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya, dan lidahnya menari-nari, menjilati seluruh batang kontolku dari ujung, kepala kontolku sampai pangkalnya dan yang lebih enak lagi, saat Bapak angkatku menjilati biji kontolku, mengulumnya satu persatu sambil menarik-nariknya dengan mulutnya dan kedua biji kontolku ditelannya sekaligus dan menarik-nariknya untuk beberapa lama laki-laki tersebut melakukannya dan kemudian menelan batang kontolku berikut kedua biji kontolku secara bersamaan, kembali menariknya dengan pelan.

Akkhh.. Geli dan enak aku rasakan, hangatt..

Untuk beberapa lama Bapak angkatku melakukannya, mengisap-isap kontolku dan terus.. Terus dia lakukan hingga hal yang sama aku dapatkan seperti saat boneka karet tersebut menelan kontolku, aku merasakan gelii.. Gelii yang mengenakkan dan Bapak angkatku mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya dan menunjukkan cairan kental dalam mulutnya. Cairan mani kata Bapakku dan langsung ditelannya.

Permainan berikutnya aku dapatkan, dengan waktu yang di atur oleh Bapak angkatku sendiri, sementara aku merasa ketagihan dengan permainan tersebut.

Hari yang telah ditentukan, rasanya aku ingin pelajaran sekolah cepat selesai, supaya aku dapat menemui Pak Irwan dan memintanya untuk mengajarkan permainan berikutnya. Seperti yang sudah di jadwalkan, kembali aku merasakan permaianan Madonna dengan asuhan Bapak angkatku, aku memperkosa lubang kemaluannya, akhh.. Sangat enak.. Enakk.. Enakk, Pak Irwan menyuruhku mendesah jika aku merasakan nikmat.. Dan aku melakukannya, sementara aku mengentot Madonna, Bapak angkatku menciumiku, mencumbu, bibirku, melumat bibirku. Dengan tekhnik-teknik dan ajarannya aku pun mulai membalas setiap cumbuannya. Hangat, nikmat aku rasakan saat bibir Bapak angkatku menyentuh bibirku dan melumat mulutku. Setelah selesai dengan Madonna, kembali Bapak angkatku mengambil alih posisinya, seperti biasa menelan batang kontolku, mengocok-ngocoknya dengan mulutnya, dan kembali air maniku muncrat di dalam mulutnya, dan ditelan langsung oleh Bapak angkatku tersebut.

Malam itu, Pak Irwan menyuruhku untuk ke rumahnya dan saat yang aku nantikan akhirnya tiba, kebetulan satu minggu itu aku tidak berjumpa dengannya, Pak Irwan mengantar istrinya pulang karena ada urusan keluarga katanya. Kami akan melakukannya malam itu sepuasnya, yah sepuasnya. Aku juga sudah sangat merindukannya terutama kerinduan mulutnya yang akan mengocok-ngocok kontolku yang membuatku kegelian, keenakan, kenikmatan, hingga tubuhku mengejang seiring dengan air maniku yang kental muncrat ke dalam mulutnya.

Pak Irwan langsung mengajakku masuk dan tanpa basa-basi lagi aku menelanjangi pakaianku, sementara Pak Irwan yang sudah bertelanjang dada dan hanya memakai sarung saja saat itu, langsung membuka sarungnya dan Bapak angkatku sudah tidak memakai apa-apa lagi. Tubuhnya yang bulat, padat berisi tanpa dibalut sehelai benangpun. Pak Irwan menarik tanganku dan kami berbaring di atas air bad yang sudah terbentang di depan TV. Bpak angkatku mengusap seluruh badanku dengan baby oil, mengocok-ngocok kontolku dengan minyak tersebut hingga kontolku bertambah besar dan panjang, berdiri tegak 90 derajat.

"Madonnanya mana Pak?" tanyaku.
"Kau tidak butuh lagi" jawab Bapak angkatku sambil tersenyum.

Bapak angkatku membaringkan badannya ke air bad, terlungkup dan menyuruhku untuk mengoleskan Baby oil ke punggungnya, ke pantatnya, kedua paha, betis dan kakinya, kemudian laki-laki tersebut menumpahkan sisa baby oil pada belahan pantatnya, meraba-raba lubang pantatnya, hingga terbuka lebar, dan aku pun menaiki tubuhnya sesuai permintaannya, keadaan licin tubuhnya membuat tubuhku meliuk-liuk di atas punggungnya.

"Enak Pak, enak sekali" ucapku memberi komentar, Pak Irwan tersenyum, dan memintaku untuk memasukkan kontolku ke dalam lubang pantatnya. Tanpa banyak tanya lagi aku melakukkannya dan menekan pantatku hingga batang kontolku amblas di dalam lubang pantatnya.

"Aakkhh.." desahku, betul-betul enak.. Nikmat.. Enakk.. Gelii..

Aku mulai menggerakkan pantatku perlahan, namun dasar nafsuku yang besar namun tenaga yang kurang, aku cepat mencapai puncak orgasme..

"Yah, istirahat dulu" saran Bapak dan akan aku lanjutkan kembali.

Aku tidak ingin berlama-lama beristirahat dan mengajak Bapak angkatku kembali untuk menyodomi lubang pantatnya dan aku berhasil melakukannya beberapa kali, sampai Bapak angkatku khawatir dengan fisikku yang tidak akan mampu lagi untuk melanjutkan permainan.

"Jangan dipaksakan, kita masih banyak waktu" ucapnya.

Aku yang sudah merasakan enak, geli dengan permainan yang barusan aku lakukan, meminta Bapak kembali untuk meyodomi lubang pantatnya dan Bapak angkatku tersebut kembali melayaniku.

"Permainan ini, betul-betul enak, gelii, gelii, Pak" ucapku lagi.

Bapak angkatku hanya tersenyum. Dan hari-hari berikutnya aku meminta Bapak untuk menyodominya, memuaskan nafsuku yang sangat besar, dan Bapak dengan setia melayaniku, kami saling bercumbu, berciuman, memacu nafsu kami yang tak habis-habisnya. Aku menyukai Bapak angkatku, sama halnya dengan beliau lebih menyukaiku daripada istrinya, dia lebih terpuaskan dengan laki-laki muda dengan kontol yang besar dan panjang.

Permainan kami terus berlanjut hingga sekarang, sepertinya terjalin perasaan cinta di antara kami, rasa sayang dan saling menyukai bukan antara anak dan Bapak lagi, tetapi mungkin seperti kekasih, kekasih sejenis, tidak ada sang istri. Adakalanya Bapak bertindak sebagai istri atau sebaliknya dengan diriku sendiri, kami saling memuaskan, memacu gairah kami yang lagi panas, apalagi aku mulai tumbuh sebagai laki-laki remaja, dengan perubahan diriku yang nyata, suara, tubuhku, dan organ-organ tubuhku yang lainnya.

Kontolku semakin besar dan dengan panjangnya bertambah beberapa senti, dengan bulu-bulu yang tumbuh subur di sekita kontolku dan selalu di cukur Bapak angkatku, sehingga botak. Dia sangat menyukainya. Apa yang dia sukai otomatis aku menyukainya, aku memberikan semuanya untuk kesenangannya karena dia begitu banyak menolongku dan keluargaku. Atau apa karena aku menyukai laki-laki tersebut sejak awal, atau mungkin karena aku mencintainyakah?

Akhh, aku harap untuk selamanyaa..

TAMAT


Berpacu dalam nafsu – 2

Awek Pantat Panas Cantik"mbak Lily? saya Rino temannya Rio" sapanya
Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi dengan penampilan dia yang begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Edwin di ranjang.
"Sebentar ya" kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yang aku harapkan tapi bagaimana dengan Pak Edwin, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis women professional, aku bingung memikirkannya.
"kudengar ada bel pintu, ada tamu kali" kata Pak Edwin dari ranjang


"eh..anu..enggak kok Pak" jawabku kaget agak terbata
"jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dengan apa yang baru saja terjadi, panggil Edwin atau Koh Edwin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua"
"iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi" kataku
"ah nggak pa pa kok, santai saja" jawabnya ringan.

Aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, usia paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.

"di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu" kataku pada Rino tegas.
"Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Lily, aku percaya sama Rio dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri" katanya lalu kupersilahkan masuk.
Kulihat Edwin masih berbaring di ranjang dengan bertutupkan selimut. Aku jadi canggung diantara dua laki laki yang baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Edwin bangkit dari ranjang dan dengan tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aku kaget lalu melihat ke Rino yang hanya dibalas dengan senyuman nakal.

"wah ngganggu nih" celetuk Rino
"ah enggak udah selesai kok"jawabku singkat
"baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily" teriak Edwin dari kamar mandi, entah basa basi atau bercanda atau serius aku nggak tau.
"Rio udah cerita sama aku mengenai mbak" bisik Rino pelan supaya tidak terdengar Edwin.

Edwin keluar dari kamar mandi dengan tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Rino dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Edwin mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Edwin mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.

Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.
Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan tubuhnya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Edwin di seluruh tubuhku, kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Edwin.

Ketika jilatan Edwin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang, kubuka mataku ternyata Edwin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku membuat aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku.

Mereka merebahkan tubuhku di ranjang, Edwin tetap berkutat di vaginaku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai penis Rino yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa penisnya lebih panjang, hampir dua kali punya Edwin meski batangnya tidak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuat aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari penisnya.
Edwin membalikkan tubuhku dan memintaku pada posisi doggie, Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi penisnya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku.

Untuk kedua kalinya Edwin melesakkan penisnya ke vaginaku dan langsung menyodok dengan keras hingga penis Rino menyentuh pipiku. Kuremas penis itu ketika Edwin dengan gairahnya mengobok obok vaginaku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Edwin, kujilati Penis Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Edwin menghentakkan tubuhnya ke pantatku, meski tidak sampai menyentuh dinding terdalam vaginaku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya. Kukulum penis Rino dengan gairah segairah kocokan Edwin padaku, Rino memegang kepalaku dan menekan dalam dalam sehingga penisnya masuk lebih dalam ke mulutku meski tidak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Edwin meraba raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan penisnya dari mulutku.

"eegghhmm.. eegghh" desahku dari hidung karena mulutku tersumbat penis Edwin.
Tak lama kemudian Edwin menghentikan kocokannya dan mengeluakan penisnya dari vaginaku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Edwin, dengan mudahnya dia melesakkan penisnya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari penis Edwin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam vaginaku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika penis Rino menyentuhnya. Dia langsung mengocok perlahan dengan penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dengan gerakan tubuhnya sehingga penisnya makin masuk ke dalam mengisi rongga vaginaku yang tidak berhasil terisi oleh penis Edwin.

Ada kenikmatan yang berbeda antara Edwin dan Rino tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang, Edwin entah kemana dia tidak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tidak orgasme duluan.
Rino lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya tubuhku dengan tubuh sexy-nya lalu kembali dia memasukkan penisnya, dengan sekali dorong amblaslah tertelan vaginaku, dengan cepat dan keras dia mengocokku, penisnya yang keras dengan kepala besar seakan mengaduk aduk isi vaginaku, aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.

"eehh..yess..fuck me hard..yess" desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tidak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya. Kulihat Edwin berdiri di samping Rino, tatapan mataku tertuju pada penisnya yang terbungkus kondom yang menurutku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal penisnya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dengan pandangan dan senyum nakal.

Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar penisnya disaat saat aku menikmatinya dengan penuh nafsu. Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Edwin menggantikan posisinya, begitu penisnya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya tapi begitu penisnya masuk semua mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, ternyata kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku saat Edwin menghunjam tajam ke vaginaku, klitorisku seperti di gelitik gelitik saat Edwin mengocok vaginaku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.

Edwin merasakan kemenangan ketika tubuhku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu tubuhnya naik ke atas tubuhku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya penisnya ke mulutku, aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut, kucium aroma vaginaku masih menempel di penisnya, langsung kubuka mulutku menerima penis itu. Sementara kocokan Edwin di vaginaku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan penis Rino yang keluar masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan dibawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini.

Setelah cukup lama mengocokku dengan kondom kepalanya, Edwin menarik keluar penisnya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke vaginaku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari penis Edwin yang tertanam di vaginaku, denyutannya seakan memelarkan vaginaku karena terasa begitu membesar saat orgasme membuatku menyusul beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Edwin. Tahu bahwa Edwin telah mendapatkan kepuasannya, Rino beranjak menggantikan posisi Edwin, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya.
Rino lalu telentang di sampingku, kunaiki tubuhnya dan kuatur tubuhku hingga penisnya bisa masuk ke vaginaku tanpa kesulitan berarti.

Aku langsung mengocok penisnya dengan gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya dengan penuh gairah seiring dengan kocokanku. Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino, makin dia melawan makin dalam penisnya menancap di vagina dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dengan Edwin, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino, denyutanku seolah meremas remas penis Rino di vaginaku.

"OUUGGHH.. yess.. yess.. yess" teriakku
Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, tubuhku ambruk di atas dadanya, sambil tetap mengocokku dia memeluk tubuhku dengan erat, kini aku Cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum. Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di vaginaku terutama kepala penisnya yang membesar hingga mengisi semua vaginaku.

"oouuhh..yess..I love it" teriakku saat merasakan orgasme dari Rino.
Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang penis di vaginaku itu.
Kami berpelukan beberapa saat, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Rino memiringkan tubuhnya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di tubuhku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku.

"mbak Lily sungguh hebat" bisiknya pelan di telingaku.
Aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.
Akhirnya kami dikagetkan bunyi "beep" satu kali dari jam tangan Rino yang berarti sudah jam 1 malam.
"Rino, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Edwin kalau nggak keberatan dan tidak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?" pintaku
"Dengan senang hati" jawabnya gembira, Rino hanya mengangguk sambil mencium keningku.

Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan tubuhku menghadap Edwin, kutumpangkan kaki kananku ke tubuhnya dan tanganku memeluk tubuhnya, sementara Rino memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku.Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua laki laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.

Entah berapa lama kami tidur dengan posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik vaginaku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, ternyata Rino berusaha memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang dengan posisi seperti itu. Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku, aku masih tidak melepaskan pelukanku dari Edwin sementara Rino mulai mengocokku dari belakang dengan perlahan sambil meremas remas buah dadaku. Tanganku pindah ke penis Edwin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Edwin masih memejamkan matanya, sepuluh menit kemudian Rino kurasakan denyutan kuat dari penis Rino pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Rino aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Edwin sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Rino ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk tubuh Rino dan memegangi penisnya yang sudah mulai melemas.

Berbeda dengan kocokan Rino yang pelan pelan, Edwin melakukan kocokan dengan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Edwin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.

Bersambung...


Makcik Anum

Awek Pantat Panas CantikMenemukan pembaca situs Rumah Seks. Salam sejahtera. Aku dari Malaysia. Sangat ingin berkongsi cerita dengan pembaca budiman. Aku N, budak nakal usia dua belas tahun sekitar tahun 60an dan masih sekolah dalam darjah Enam waktu itu. Muga kisah-kisah yang aku alami dahulu boleh dijadikan perbandingan dengan cerita-cerita yang berlaku di Milenium ini.

Aku anak polis. Hidup di berek polis. Populasi polis di sekitar berek kami terdiri dari empat buah flat dua tingkat sekitar 100 keluarga. Banyak kisah-kisah menarik yang berlaku di dalam masyarakat kami. Aku memfokuskan kisah-kisah yang aku alami sahaja.



Aku masih berpeluang dan bahagia dapat mengintai/mengintip Pakcik Hassan dan makcik Anum memadu kasihsayang dan bersetubuh dalam pondok di kebun Pakcik Hassan. Mereka tidak sedar dan tahu yang aku mengetahui rahasia mereka berdua.

Secara peribadi aku memang geram terhadap Makcik Anum. Puting teteknya berwarna merah dan besar ibu jari. Tundunnya tembam dihiasi rumput yang dipotong bagus. Perutnya kempis dan dia cerah orangnya. Akju juga tahu yang dia tidak puas bersetubuh dengan suaminya maka dia membenarkan tubuhnya diratah oleh Pakcik Hassan.

Aku sengih dan senyum sendirian. Sebabnya, bila Pakcik Hassan mengodam cipap Makcik Anum, kedua-dua mereka adalah jiran aku-aku pula dipelawa dan di ajak oleh Makcik Timah, isteri Pakcik Hassan mengodam dan mempompa pepetnya. Aneh sungguh.

Tidak lupa Kak Etun, isteri Pakcik Agus, yang tidak melepaskan peluang bila suaminya tiada, dia akan terus meminta aku menemaninya dan suka sangat mengulum batang zakarku. Dia suka memainkan lidahnya ke batang zakarku membuatkan aku sendiri kegelian dan tak ketentuan. Namun aku adalah kekasih yang setia buat Makcik Timah dan Kak Etun, dua orang isteri yang curang terhadap suami masing-masing.

*****

Petang itu redup sebab awan kelabu menghiasi langit. Angin berhembus sedikit kuat. Daun-daun lalang liang lintuk dipukul angin. Bunyi ayam berkokok dan berketuk. Kawasan kebun menjadi sunyi. Hujan jatuh satu-satu. Angin tetap bertiup..

Aku baru selesai memberi ayam-ayam ku makan. Hanya nasi semalam untuk ayam-ayam dan dedak untuk itik-itik. Bila hujan turun satu-satu, aku mula bergegas menutup pintu reban ayam. Guruh dan kilat tiada. Hanya hujan mula turun renyai-renyai.

"N.. Sini," jerit sebuah suara antara dengar dan tidak. Hujan turun renyai sambil aku berlari anak menutup mukaku dengan suratkabar lama keluar dari reban.

"O Nnn.." pekik suara itu lagi dan ketika itu aku melalui tepi kebun Pakcik Rahman.

Aku terhenti dan menoleh ke arah suara yang memanggil aku tu. Hati ku berdebar dan dub dab juga. Suara hanu ke? Aku amati suara itu sambil menghalakan pandangan ke arah datangnya suara.

"Makcik Anum lah.. Ke sini N.." panggilnya melambai dari pondok Pakcik Rahman.

Aku melihat dan mengenal-pasti yang memanggil itu makcik Anum yang sudah menunggu di pondok Pakcik Rahman sedang hujan sudah mula turun sedikit deras.

"Ya makcik.." sahut aku sambil berlari anak menuju ke pondok di mana Makcik Anum sedang berteduh duduk dalam pondok. Dia tersengih ketika aku mengah-mengah sampai ke pondok itu. Hatiku
berdebar dan kulihat dia seorang diri sedangkan pakcik Rahman tiada. Aku tidak berani bertanyakan di mana pakcik Rahman, takut nanti makcik Anum tahu yang aku mengetahui rahsia mereka berdua.

"Buat apa sini Makcik?" tanya ku dalam mengah sambil naik ke pondok dan menutup daun pintu dari plastik itu.
"Hujan mak cik teduh sekejap kat pondok pakcik Rahman ni," katanya sambil memeluk tubuh memandang kepada aku yang bersila di depannya.

Aku memakai kemeja T sekolah dan bercelana pendek. Makcik Anum mengenakan Kemeja T biru tua dan berkain batik. Nyata dia tak memakai coli dan mungkin juga dia tidak berseluar dalam. Fikirku. Nasib baik pondok Pakcik Rahman ada. Nasib baik Pakcik Rahman membuat bidai untuk menangkis angin dan hujan pada pondoknya. Angin bertiup sederhana dan hujan renyai menjadi garang sedikit. Aku dan Makcik Anum berdua sahaja di dalam pondok itu.

"Pakcik Abas mana kak?"aku bertanya sengih memandang tepat ke payudara kembar Makcik Anum.
"Dia keje jauh dua minggu. Jadi Makcik bosan. Jalan-jalan tengok kebun kat sini," katanya tersenyum melirik.

Dia tidak bermake-up namun dia tetap lawa di mataku cukup mengairahkan melihat puting teteknya menonjol kemeja T yang dipakainya.

"Makcik Anum aku tahu yang kebun-kebun kat sini bagus."
"Ya kak, Pakcik Rahman rajin berkebun dan membuat pondok ni. Saya bagi makan ayam dan itik. Kami berkebun juga sebelah sana tu," jawab aku Sengih.
"Kau ni N.. Besar badan ye.. Tak sangka usia kau masih muda lagi," kata Makcik Anum, sambil mencubit pipiku.
"Nak buat camne makcik, sudah rangka saya jauh lebih besar dari usia," jawabku.
"Agaknya ikut belah Atuk saya Makcik Anum oi."

Aku sengih dan mataku tetap terpaku kepada puting teteknya. Makcik Anum bertubuh gebu bulat. Masih muda dalam 25 tahun dan pejal Bodynya.

"Makcik sunyi ye takde anak?" aku beranya sambil meletakkan akhbar yang ada di tanganku.
"Sunyi dan bosan juga N.., Makcik lom ada rezeki nak beranak," jawab Makcik Anum lesu.

Dia menyandarkan tubuhnya ke tiang pondok tu. Angin masih bertiup segar. Dia melunjurkan kakinya di depanku. Aku tahu fikiran nakalku mula menular. Aku berhajat sangat mahu mengongkek Makkcik Anum tetapi dia masih cool bercakap denganku. Hatiku berdebar-debar juga. Penisku mula mencanak tapi aku cuba menyoroknya disebalik seluarku.

Makcik Anum melirik senyum sambil memerhatikan keadaan aku. Hujan renyai-renyai kini menjadi sedikit lebat.

"Kuat hujan kuat angin Makcik..," kataku sambil memandang keluar dari balik tirai pondok.
"Apa yang bonjol dalam seluar kau tu N," tegur Makcik Anum memandang ke seluarku yang terbonjol.
Aku senyum, tersipu dan malu sambil mengalihkan pandanganku.
"Kau ni sudah baligh ke N.." kata makcik Anum sambil memegang bonjolan di seluarku.
"Ooo, besar penis kau ni N.. Cam orang dewasa nyer," tambah Makcik Anum terus memegang batang zakarku yang mencanak dari dalam seluar. Aku segan dan menginsut ke belakang.
"Jangan malu lah dengan Makcik Anum, makcik suka kat N.." kata Makcik Anum membujuk aku dan dia sudah mula menanggalkan celana pendek ku melepasi kakiku.

Aku macam tak percaya yang bahagian bawah pinggangku sudah bogel dan jelas Makcik Anum memegang penisku dan meembelainya. Matanya terbelalak melihat kote ku yang besar dan panjang tu. Makcik
Anum sudah mula menjilat kepala zakarku.

"Makcik Anum suka kau N.. Besar kote kau niee, kalah suami makcik punya, hmm," desah makcik Anum sambil membelai dan mula mengulum batang kote aku. Aku menjingkat punggungku mengikut rentak kulomannya. Aku tak berdiam lalu meminta Makcik Anum menanggalkan kemeja t nya. Aku nak menghisap puting teteknya. Pantas makcik Anum menanggalkan kemeja T nya. Aku melihat gunung kembarnya yang besar. Bulat dengan puting Teteknya berwarna merah muda.

Sebaik payudara itu berbuai aku terus memegang dan meramas sambil makcik Anum meneruskan kocokan dan mengulum batang zakar ku yang mengembang. Makcik Anum mula membongkok menjilat dan menghisap baang Zakarku. Aku mengentel puting susu dan meramas susunya.

"Huu.." desahku, "Makcik sedapp.." aku menhinggut-hinggutkan punggungku bila kote ku terus dihisap makcik Anum.
"Mak Cik akan sedapkan kau N.. Kote kau besar.. Makcik suka." kata Makcik Anum lagi.

Aku sendiri sudah tak tahan. Aku selak kain makcik Anum. Kini makcik Anum mengangkangkan pehanya sambil bersandar ke tiang pondok. Aku menariknya perlahan untuk berbaring. Aku melihat pepetnya yang tembam. Ku raba dan mendapati ia sudah basah. Lalu aku membuat posisi 69 dengan aku di atas. Kini aroma pukinya menikam hidungku.. Uuu sedapp merangsangkan koteku menjadi keras..

Aku mula menjilat kelentit, kemudian mengulom kelentit Makcik Anum sambil memainkan lidahku. Dia mengerang halus sambil menginjalkan pungungnya mengikut rentak jilatan aku. Kemudian ku jilat lurah puki dan bibir pukinya kukulom.. Air membecak sambil menjilat aku menghirup jus madu di puki makcik Anumm yang sudah mengerang dan mendesah keras..

"N.. Makkcik tak tahan dahh.." desah makcik Anum,
"Masukkan kote kau N.. Masukkan kat sini," arah makcik Anum.

Aku pun mengikut maunya. Aku meletakkan kepala kote ku yang merah menyala besar tu ke muka lubang jusnya. Kemudian aku menolak kepala zakarku sedikit kuat..

"Aduhh.. Perlahan tolak N.." kata makcik Anum. Dia memegang pinggang aku. Aku menghenjut zakarku ke dalam sedikit.. Dan ke dalam lagi..
"UU N.. Sedapp.. Henjut N.. Henjut kat puki Makcik," arah Makcik Anum geram dan mahu.

Aku terus menghunjamkan kote ku ke lubang puki Makcik Anum. Bibir pukinya mula mengemut dan mengigit batang zakarku. Aku menyorong dan menarik keluar dalam dan lama.

"Huhh kuat-kuat henjut N.. Lajukan.." arah makcik Anum mengangkat kakinya kemudian memeluk pinggangku dengan kedua belah kakinya dan mengikut henjutan aku. Sambil itu mengoyangkan punggungnya menerima tujahan penisku dalam liang pukinya. Aku merasa puki makcik Anum besah dengan air yang banyak.

"Arghh.. Sedapp N makcik nak kuarr," kata makcik Ann menahan sedap dan mengigit bibirnya sedang aku melumat mulutnya selepas itu. Henjutan aku aku kuatkan dan melakukannya dengan laju sekali sehinga aku sendiri meraskan kegelian.

Makcik Anum orgasme sambil mencakar-cakar belakangbadanku. Aku juga tak tahan dan menyemprutkan maniku ke dalam lubang puki Makcik Anum. Aku rebah atas tubuhnya dan masih merasakan kemutan pada zakarku oleh puki Makcik Anum. Makcik Anum kepuasan.

"Pandai kau mengongkek N," puji Makcik Anum sambil mengenakan kemeja T nya. Dia menyapu bekas-bekas air mani di zakarku dengan kain batiknya.
Aku mencium Makcik Anum." Makcik pun sedap. Saya suka. Makci suka ke?"
"Mestilahh," jawabnya mencubit pipi dan zakarku.
Aku memakai celana ku semula.
"Jangan citer kat sapa-sapa N. Ini rahsia kita berdua. Nanti bila Makcik senang kita kongkek lagi ok." kata makcik Anum memeluk aku.

Aku angguk. Aku bahagia aku dapat bersetubuh dengan makcik jiran-jiranku.

*****

Hasrat untuk mengongkek Makcik Anum berjaya juga dalam hujan di pondok Pakcik Rahman. Aku bahagia keraana dapat menikmati puki milik Makcik Timah, Kak Etun dan makcik Anum.

Dan tidak ketinggalan ketiga-tiga wanita ini suka bersetubuh dengan aku. Jadi aku kenalah bergilir-gilir mengongkek dan memuaskan kehausan dan kedahagaan mereka.

E N D