Category Archives: melayu bogel

There he goes – 4

Awek Pantat Panas CantikChap IV

"Lucas berubah, Van."
"Berubah?" Vanka menatapku dengan pandangan heran.


"Maksud kamu?"
Kutatap siswa-siswa lain yang lalu lalang di depanku.
"Entahlah.." jawabku lirih.
"Dee, kamu kenapa..?"
"Nope. Nothing," jawabku mengelak.

"Aku buka, ya?" Dengan nafas tersengal Luke berbisik di telingaku.
"Jangan, Luke.." desahku mengerenyitkan alis.
Kulihat kaca mobil sudah dipenuhi embun. Keringat menetes di keningku.
"Please.." matanya memohon. Memohon lagi.
"Sudah, ya..?" bisikku seraya memeluk lehernya, berharap Lucas menghentikan semua kegilaannya. Tapi Lucas menarik tubuhnya dan melepaskan rangkulanku.
"Oke kalau begitu.." pemuda itu meraih dan menarik retsleting celananya.
"Ngga mau!" seruku seraya memalingkan wajah.
Lucas sudah gila!

"Dee.." kudengar Lucas mendesah di samping telingaku.
Tidak! Mendadak Lucas meraih tanganku dan kurasakan jemariku menyentuh sesuatu yang keras. Ya Tuhan! Kutarik cepat-cepat tanganku. Tapi Lucas meraih pundakku dan membalikkan tubuhku, melumat bibirku liar dan membaringkanku di jok. Sejenak kurasakan benda keras itu menusuk celana dalamku.
"Lepaskan! Lepaskan, Luke..!"
Tapi lucas menahan tanganku, menindih tubuhku dengan berat tubuhnya, membuka kedua pahaku dan menekan benda keras itu ke kemaluanku.
"Ahk! Sakit, Luke!"
Lucas seolah tak mendengar teriakanku. Benda itu masih menekan dan menggesek. Akhirnya dengan sekuat tenaga kutekuk lututku dan menendang pundaknya.

"Lepaskan..!"
Luke terlempar ke sisi lain mobil. Suara berdebuk terdengar saat kepalanya membentur jandela. Kulihat Lucas meringis dan memegangi kepalanya. Air mata mulai mengalir ke pipiku. Kutekuk tubuhku dan menutupi mulutku tanpa menatapnya.
"Aku ngga mau, Luke."
Kudengar Lucas mendesah lau menjatuhkan kepalanya di pahaku.
"Maafkan aku, Dee."
"Jangan, Luke. Aku ngga mau."
Lucas mengangat tubuhnya dan menempelkan kepalanya di bahuku.
"Aku tahu, Dee. Aku juga ngga mau. Aku hanya ingin menunjukkan padamu tentang segala sesuatunya aku.." pemuda itu berbisik dan mengecup daun telingaku.
"Dee.." bisiknya setelah aku tetap diam tanpa reaksi.
Lucas meraih pundakku dan mendekapku.

Masih tak berani kutatap dirinya. Lucas meraih tanganku sambil berbisik, "Please," dan meletakkannya lagi di atas benda keras itu. Kututup mataku dan mulai menangis lebih keras.
"Touch me, Dee. It's me. Aku, Lucas."
Kurasakan jemarinya melipat jemariku hingga menggenggam benda keras itu. Sesuatu menghalangiku untuk menolak. Apa maksudnya semua ini? Mengapa aku jadi begini?
"Look at me, Dee. Buka matamu."
Aku tak mau melihatmu!
"Dee, please," Lucas menarik daguku dan mengecup bibirku.
"Aku mau kamu tahu semua tentangku, Dee. Tanpa apapun yang harus dirahasiakan."
Kubuka mataku dan menatap matanya. Lucas tersenyum dan mengecup kedua mataku.

"Lihat ke bawah. Yang itu milikku." Suaranya terdengar begitu lembut.
Kutundukkan kepalaku, dan pertama kali itulah dalam hidupku kulihat alat kelamin seorang lelaki, selain kepunyaan Alex yang masih kuingat saat kami dulu sering mandi bersama waktu kecil. Bentuknya besar dan panjang dengan urat-urat yang melingkar. Sesuatu di ujungnya seolah tersenyum dan mengajakku berkenalan.
"Sudah..?" tanyaku pada Lucas.
Lucas mendesah. "Kamu sama sekali tidak tertarik, ya?"
"Ngga.." jawabku terus terang.
"Tapi itu aku, Dee. It's part of Lucas too."
Kutatap lagi benda yang masih kugenggam itu.
"Lalu..?" Pikiranku kosong. Sesuatu membuatu sakit hati dan kehilangan nalar. Dan Lucas menunjukkan cara memainkan batang penisnya. Menjijikkan.

"Sudah?"
"Kok nanya begitu terus?"
"Capek.." ucapku pendek seraya masih menggerakkan jemariku menarik-narik batang kemaluannya.
Lucas tertawa. Dan aku membenci tawa itu.
"Kalau begitu ya sudah. Tapi.."
"Apa lagi..?" tanyaku memalingkan wajah.
"I want to see you too."
Jadi begitu ceritanya. Tersenyum kutatap matanya. Benakku benar-benar kosong. Dan sesuatu merasukiku.

Kujauhkan tubuhku sampai bersandar ke pintu belakang dan mengangkat kakiku ke atas jok. Kutatap mata Lucas dalam sebelum memejamkan mataku dan menarik kepalaku ke belakang. Kurasakan jemari Lucas menyusup ke dalam rok yang kukenakan, menyingkapnya dan.. "Sshh," desisku saat jemari Lucas meraba kemaluanku. Rasa geli yang aneh menyusup ke tulang punggungku sampai ke otak.
"Ahh.." kudengar Lucas mendesah.
"Dee.."
Nyaris kumenjerit saat merasakan Lucas mulai menjilat kemaluanku dengan lidahnya. Rasa geli yang amat sangat membuatku mengangkat paha dan menjepit kepalanya di selangkanganku. Lidah Lucas bergerak-gerak di kemaluanku.
"Ahk.." jeritan-jeritan tertahan keluar dari bibirku.

Lucas mengulurkan lengannya dan meremas dada telanjangku dengan gerakan liar. Tanpa sadar aku mulai menggelinjang dan bergerak ke sana ke mari. Lucas mengangkat kepalaku, menarik kedua kakiku hingga kepalaku terjatuh di atas jok. Pemuda itu menarik tubuhnya sendiri dan menindih kemaluanku dengan kemaluannya. Rasa sakit mulai terasa di perut bagian bawahku.
"Jangan lakukan, Luke..!" desahku.
"Ngga kok.." Lucas mengecup kening dan bibirku, meninggalkan rasa hambar yang aneh, lalu mulai menggerakkan pinggulnya, menggesek dan menekan, menimbulkan rasa sakit dan geli yang menyengat seluruh syaraf di tubuhku. Membuat tubuhku meronta dan menggelinjang, dan suara-suara desahan keluar dari mulutku. Lucas menunduk dan mengecup bergantian kedua payudaraku, sementara pinggulnya terus bergerak.

Akhirnya kurasakan pinggulnya menekan dalam permukaan liang kemaluanku. Semula kukira batang kemaluannya sudah memasukiku, sehingga aku sempat tersentak kaget. Namun dalam hati aku bersyukur karena ternyata tidak. Tapi perutku terasa panas. Lucas mengangkat tubuhnya dan melirik ke bawah lalu tertawa. Keringatnya menetes di dadaku. Ingin tahu, kuangkat pinggangku dan melihat di atas bulu-bulu kemaluanku menempel cairan lenget berwarna keputihan.
"I love you, Dee.." Lucas mengecup lagi bibirku.
Hatiku hancur.

Chap V

"Kamu kok diam sekali hari ini, Dee? Bukan hari ini saja sih, sejak beberapa hari yang lalu." Vanka mengomel panjang lebar keesokan harinya di sekolah.
Kulirik sahabatku dan tersenyum pahit. "Entahlah."
"Dee..? Cerita dong..! Kamu kan tahu aku sahabat kamu. Dan calon kakak ipar kamu juga sih.." sahut Vanka membuatku merasa geli juga.
"Aku mau memutuskan hubunganku dengan Lucas."
"Hahh..?" Vanka terlihat terperanjat.
"Iya. Mumpung belum keterusan."
"Keterusan? KETERUSAN..?" Dan dengan air mata kuceritakan semua kejadian itu padanya.
Vanka mendengarkan dengan mata membelalak.

"Van, kamu apain si Dita kok nangis..?" mendadak salah seorang teman sekelasku menyeletuk.
Anak itu langsung kaget ketika Vanka berdiri tiba-tiba dan memukulkan tangannya ke meja.
"BANGSAT..! Akan kubunuh jahanam itu..!"
"Van.." isakku menahan, beberapa anak mulai menghampiri kami.

"Putus..?" Lucas menatapku terkejut.
"Yap..!" ucapku pendek menoleh ke arah lain.
Mungkin lebih tepat disebut mengalihkan pandanganku daripada aku melihatnya dan menangis.
"Dee, aku.. aku.." Lucas memegang bahuku tapi kusentakkan.
"Sory, Luke. Semuanya sudah berakhir."
Kulangkahkan kakiku menghampiri Pak Oto yang sudah menepikan mobil di trotoar.

"Dee..! DEE..!" Lucas memanggil-manggil dari balik jendela mobil.
"Jalan, Pak..!" ucapku pada Pak Oto.
Kudengar Lucas masih berusaha mengejar laju mobil seraya mengetuk-ngetuk jendela di samping tempatku duduk. Kupalingkan wajahku ke arah lain dan mulai menangis. Lucas masih mengetuk.
"Mau saya hajar, Non..?" Pak Oto berkata gusar.
Kugelengkan kepalaku lemah. Akhirnya suara ketukan itu hilang. Kubiarkan tangisku membanjir.

Bagaimanapun, setelah semua yang dialami walaupun hanya dua setengah bulan. Rasa suka dan cinta yang sudah ada sejak dua tahun yang lalu. Mimpi-mimpi yang jadi kenyataan. Patched dreams that became true.. Semuanya berakhir sampai di sini. Hancur lebur sudah.

Chap VI

Dear Dita, Mungkin kamu tidak mau membaca surat ini, atau mungkin bahkan tidak mau menerimanya sama sekali. Tapi, seandainya kamu mau.. tidak.. bahkan seandainya ada seseorang yang menemukan surat ini setelah kamu membuangnya, membacanya, dan membertahukan isinya kepadamu, aku akan sangat-sangat bersyukur. Dita, sekian lama hatiku lebur saat kamu memutuskan hubungan kita. Semuanya terasa begitu indah walaupun tak sampai tiga bulan. Dan aku.. aku telah merusaknya. Aku tahu itu. Tapi bahkan kamu tidak mau menerima maafku. Tidak bahkan surat-surat dan telepon yang kutujukan padamu. Dita, aku minta maaf. Sedalam-dalamnya. Dari lubuk hatiku. Ini surat terakhir yang mungkin kualamatkan padamu. Aku ingin menemuimu saat pembagian STTB, tapi teman-temanmu melindungimu dariku. Kamu selalu 'tidak ada' di rumah. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku akan pergi ke London lewat Jakarta. Pesawatku berangkat pukul 15:40 WIB Rabu ini. Mungkin aku takkan pernah bisa menemui kamu lagi. Dita, kuharap kamu ada di sana mengantarkanku. Aku tahu itu tak mungkin, mengingat kebencianmu yang sebegitu dalamnya padaku. Tapi tak ada salahnya bermimpi, bukan? Mengingat segala yang lalu, aku mungkin tak berharga bagimu. Tapi.. sekali saja. Yang terakhir. Karena aku masih mencintai kamu.. Lucas.

Luke, aku tak pernah tidak membaca surat yang kamu berikan padaku. Bahkan surat bunuh diri yang kamu kirim sebelum kamu overdosis dan masuk rumah sakit. Aku tahu, Luke. Aku tahu semua tentangmu. Tapi aku takut, Luke. Aku takut. Kuremas surat itu dan mulai menangis lagi. Kutatap foto di atas meja. Saat benih terasa begitu indah. Ya Tuhan, mengapa aku tak bisa melupakannya. Bahkan setelah berbulan- bulan? Apakah aku masih mencintainya? Malam itu aku menangis sendirian. Dan aku merasakan kesepian yang dalam itu. Kesepian sejak Lucas tak lagi dalam kehidupanku. Ya Tuhan, katakan kalau aku salah mengambil keputusan.

Chap VII

"Alex, aku sendirian sampai di sini."
Alex menatapku dengan sendu, tatapan mata yang terlau sering kulihat akhir-akhir ini.
"Take care, Dee."
"Kalau dia memintamu kembali, tolak saja!" Vanka mendesis seraya memelukku.
"Vanka!" Alex menyergah.
Dengan mengusap air mata aku tersenyum dan berlari memasuki hall keberangkatan. Ya Tuhan, sekali lagi kumohon. Jangan sampai aku salah.

Kulihat pemuda itu memeluk kedua mama dan papanya. Ah, betapa kurusnya pemuda itu sekarang. Tulang pipinya tampak cekung dan kantung matanya menghitam. Tanpa sadar air mata keluar lagi membasahi pipiku. Tapi aku masih tidak juga berani keluar dari baik tembok ini. Aku hanya berharap pemuda itu melirik ke arahku. Tapi pemuda itu tidak meluruskan kepalanya sama sekali. Menunduk dan tetap menunduk, seolah tak ingin menatap dunia. Apa yang sudah kulakukan padanya? Apa?? Apa yang kulakukan sekarang?!!

"Dee.." bibir pemuda itu bergerak saat menatapku melangkah ke arahnya.
Kuhentikan langkahku dan tak tahan lagi tubuhku terjatuh. Orang-orang mulai mengerumuniku. Seorang penjaga toko membantuku berdiri.
"Dee.." kurasakan telingaku basah saat pemuda itu menyahutku dan memelukku erat. Erat sekali.
Semua kerinduan dalam hatiku tumpah serentak. Aku masih mencintainya! Sekian lamanya kami berpelukan seolah tak ingin terlepas.
"Aku mencintaimu, Dee. Aku minta maaf. Aku minta maaf." Lucas menangis di bahuku seperti seorang anak kecil.
Kupejamkan mataku dan membelai rambutnya. "Aku juga, Luke," desisku lirih, "Aku juga."

"Pesawat Garuda jurusan Jakarta dengan nomor penerbangan GA 718 akan segera diberangkatkan. Bagi seluruh penumpang diharapkan segera menuju ke ruang keberangkatan."

Kudorong pundak pemuda itu menjauh dan menganggukkan kepalaku. Sebuah tangan menepuk pundak Lucas.
"Ayo, Luke. Kamu harus berangkat sekarang."
Kuangkat kepalaku dan menatap wajah ayah Lucas, pria itu tersenyum dan mengangguk ke arahku seolah ingin mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata.
"Dee.." Lucas menghapus air matanya dan tersenyum menatapku.
"Apa, Luke..?"
Lepasnya kerinduan ini begitu singkat.
"Kamu menungguku? Aku akan mencoba berubah."
"Ssshh.." bisikku lalu mengecup pipinya, tak perduli ada kedua orangtuanya di situ, dan mata-mata yang menatap kami.
"I'm your dreampatcher, remember that..?"
Lucas mengangguk, tersenyum, lalu merangkul kedua orangtuanya. Kulihat ibu Lucas menangis, sementara ayahnya memeluk dan menenangkan.

"Bye, Dee." Lucas menatap terakhir kalinya ke arahku sebelum melangkah tanpa menoleh lagi menuju ruang keberangkatan.
"Ayo, Nak. Kita pulang," kudengar ayah Lucas memanggilku 'nak' serasa sebuah simfoni indah yang mengalun lembut di telingaku.
"Permisi, Pak.." ucapku lalu segera berlari menembus penjaga ruang keberangkatan.
"Loh, Mbak! Mbak..!"
Mereka mengejarku. Aku tak perduli. Kucari Lucas dengan pandangan mataku.
"LUKE!! AKU MENCINTAIMU!!" teriakku yang membuat orang-orang memandang ke arahku.
Lucas menolehkan kepalanya dan berlari memelukku, berputar dan mengecup keningku.
"Aku juga, Dreampatcher. Aku juga."
Dan aku menangis di dadanya. Petugas keamanan hanya menggaruk-garuk kepala mereka sambil tersenyum-senyum.

Akhirnya mereka membiarkanku menatap keberangkatan pesawat yang ditumpangi Lucas, sampai akhirnya pesawat itu menghilang di balik awan. Cintaku berangkat jauh, tapi tidak sejauh itu di hatiku. Kutunggu dia pulang untuk bersama membaca mimpi-mimpinya. Dan akan kuwujudkan dengan cinta dan kasih sayangku. Karena aku adalah.. dreampatcher-nya. So it told that when dreams come true Then the sadness be blown away When the path is clear and the dream patched Suddenly happiness answers the pray How long will it still I think it's forever [END OF There He Goes - the dreampatcher story] Dee, sobbing I have nothing to say..

TAMAT


There he goes – 4

Awek Pantat Panas CantikChap IV

"Lucas berubah, Van."
"Berubah?" Vanka menatapku dengan pandangan heran.


"Maksud kamu?"
Kutatap siswa-siswa lain yang lalu lalang di depanku.
"Entahlah.." jawabku lirih.
"Dee, kamu kenapa..?"
"Nope. Nothing," jawabku mengelak.

"Aku buka, ya?" Dengan nafas tersengal Luke berbisik di telingaku.
"Jangan, Luke.." desahku mengerenyitkan alis.
Kulihat kaca mobil sudah dipenuhi embun. Keringat menetes di keningku.
"Please.." matanya memohon. Memohon lagi.
"Sudah, ya..?" bisikku seraya memeluk lehernya, berharap Lucas menghentikan semua kegilaannya. Tapi Lucas menarik tubuhnya dan melepaskan rangkulanku.
"Oke kalau begitu.." pemuda itu meraih dan menarik retsleting celananya.
"Ngga mau!" seruku seraya memalingkan wajah.
Lucas sudah gila!

"Dee.." kudengar Lucas mendesah di samping telingaku.
Tidak! Mendadak Lucas meraih tanganku dan kurasakan jemariku menyentuh sesuatu yang keras. Ya Tuhan! Kutarik cepat-cepat tanganku. Tapi Lucas meraih pundakku dan membalikkan tubuhku, melumat bibirku liar dan membaringkanku di jok. Sejenak kurasakan benda keras itu menusuk celana dalamku.
"Lepaskan! Lepaskan, Luke..!"
Tapi lucas menahan tanganku, menindih tubuhku dengan berat tubuhnya, membuka kedua pahaku dan menekan benda keras itu ke kemaluanku.
"Ahk! Sakit, Luke!"
Lucas seolah tak mendengar teriakanku. Benda itu masih menekan dan menggesek. Akhirnya dengan sekuat tenaga kutekuk lututku dan menendang pundaknya.

"Lepaskan..!"
Luke terlempar ke sisi lain mobil. Suara berdebuk terdengar saat kepalanya membentur jandela. Kulihat Lucas meringis dan memegangi kepalanya. Air mata mulai mengalir ke pipiku. Kutekuk tubuhku dan menutupi mulutku tanpa menatapnya.
"Aku ngga mau, Luke."
Kudengar Lucas mendesah lau menjatuhkan kepalanya di pahaku.
"Maafkan aku, Dee."
"Jangan, Luke. Aku ngga mau."
Lucas mengangat tubuhnya dan menempelkan kepalanya di bahuku.
"Aku tahu, Dee. Aku juga ngga mau. Aku hanya ingin menunjukkan padamu tentang segala sesuatunya aku.." pemuda itu berbisik dan mengecup daun telingaku.
"Dee.." bisiknya setelah aku tetap diam tanpa reaksi.
Lucas meraih pundakku dan mendekapku.

Masih tak berani kutatap dirinya. Lucas meraih tanganku sambil berbisik, "Please," dan meletakkannya lagi di atas benda keras itu. Kututup mataku dan mulai menangis lebih keras.
"Touch me, Dee. It's me. Aku, Lucas."
Kurasakan jemarinya melipat jemariku hingga menggenggam benda keras itu. Sesuatu menghalangiku untuk menolak. Apa maksudnya semua ini? Mengapa aku jadi begini?
"Look at me, Dee. Buka matamu."
Aku tak mau melihatmu!
"Dee, please," Lucas menarik daguku dan mengecup bibirku.
"Aku mau kamu tahu semua tentangku, Dee. Tanpa apapun yang harus dirahasiakan."
Kubuka mataku dan menatap matanya. Lucas tersenyum dan mengecup kedua mataku.

"Lihat ke bawah. Yang itu milikku." Suaranya terdengar begitu lembut.
Kutundukkan kepalaku, dan pertama kali itulah dalam hidupku kulihat alat kelamin seorang lelaki, selain kepunyaan Alex yang masih kuingat saat kami dulu sering mandi bersama waktu kecil. Bentuknya besar dan panjang dengan urat-urat yang melingkar. Sesuatu di ujungnya seolah tersenyum dan mengajakku berkenalan.
"Sudah..?" tanyaku pada Lucas.
Lucas mendesah. "Kamu sama sekali tidak tertarik, ya?"
"Ngga.." jawabku terus terang.
"Tapi itu aku, Dee. It's part of Lucas too."
Kutatap lagi benda yang masih kugenggam itu.
"Lalu..?" Pikiranku kosong. Sesuatu membuatu sakit hati dan kehilangan nalar. Dan Lucas menunjukkan cara memainkan batang penisnya. Menjijikkan.

"Sudah?"
"Kok nanya begitu terus?"
"Capek.." ucapku pendek seraya masih menggerakkan jemariku menarik-narik batang kemaluannya.
Lucas tertawa. Dan aku membenci tawa itu.
"Kalau begitu ya sudah. Tapi.."
"Apa lagi..?" tanyaku memalingkan wajah.
"I want to see you too."
Jadi begitu ceritanya. Tersenyum kutatap matanya. Benakku benar-benar kosong. Dan sesuatu merasukiku.

Kujauhkan tubuhku sampai bersandar ke pintu belakang dan mengangkat kakiku ke atas jok. Kutatap mata Lucas dalam sebelum memejamkan mataku dan menarik kepalaku ke belakang. Kurasakan jemari Lucas menyusup ke dalam rok yang kukenakan, menyingkapnya dan.. "Sshh," desisku saat jemari Lucas meraba kemaluanku. Rasa geli yang aneh menyusup ke tulang punggungku sampai ke otak.
"Ahh.." kudengar Lucas mendesah.
"Dee.."
Nyaris kumenjerit saat merasakan Lucas mulai menjilat kemaluanku dengan lidahnya. Rasa geli yang amat sangat membuatku mengangkat paha dan menjepit kepalanya di selangkanganku. Lidah Lucas bergerak-gerak di kemaluanku.
"Ahk.." jeritan-jeritan tertahan keluar dari bibirku.

Lucas mengulurkan lengannya dan meremas dada telanjangku dengan gerakan liar. Tanpa sadar aku mulai menggelinjang dan bergerak ke sana ke mari. Lucas mengangkat kepalaku, menarik kedua kakiku hingga kepalaku terjatuh di atas jok. Pemuda itu menarik tubuhnya sendiri dan menindih kemaluanku dengan kemaluannya. Rasa sakit mulai terasa di perut bagian bawahku.
"Jangan lakukan, Luke..!" desahku.
"Ngga kok.." Lucas mengecup kening dan bibirku, meninggalkan rasa hambar yang aneh, lalu mulai menggerakkan pinggulnya, menggesek dan menekan, menimbulkan rasa sakit dan geli yang menyengat seluruh syaraf di tubuhku. Membuat tubuhku meronta dan menggelinjang, dan suara-suara desahan keluar dari mulutku. Lucas menunduk dan mengecup bergantian kedua payudaraku, sementara pinggulnya terus bergerak.

Akhirnya kurasakan pinggulnya menekan dalam permukaan liang kemaluanku. Semula kukira batang kemaluannya sudah memasukiku, sehingga aku sempat tersentak kaget. Namun dalam hati aku bersyukur karena ternyata tidak. Tapi perutku terasa panas. Lucas mengangkat tubuhnya dan melirik ke bawah lalu tertawa. Keringatnya menetes di dadaku. Ingin tahu, kuangkat pinggangku dan melihat di atas bulu-bulu kemaluanku menempel cairan lenget berwarna keputihan.
"I love you, Dee.." Lucas mengecup lagi bibirku.
Hatiku hancur.

Chap V

"Kamu kok diam sekali hari ini, Dee? Bukan hari ini saja sih, sejak beberapa hari yang lalu." Vanka mengomel panjang lebar keesokan harinya di sekolah.
Kulirik sahabatku dan tersenyum pahit. "Entahlah."
"Dee..? Cerita dong..! Kamu kan tahu aku sahabat kamu. Dan calon kakak ipar kamu juga sih.." sahut Vanka membuatku merasa geli juga.
"Aku mau memutuskan hubunganku dengan Lucas."
"Hahh..?" Vanka terlihat terperanjat.
"Iya. Mumpung belum keterusan."
"Keterusan? KETERUSAN..?" Dan dengan air mata kuceritakan semua kejadian itu padanya.
Vanka mendengarkan dengan mata membelalak.

"Van, kamu apain si Dita kok nangis..?" mendadak salah seorang teman sekelasku menyeletuk.
Anak itu langsung kaget ketika Vanka berdiri tiba-tiba dan memukulkan tangannya ke meja.
"BANGSAT..! Akan kubunuh jahanam itu..!"
"Van.." isakku menahan, beberapa anak mulai menghampiri kami.

"Putus..?" Lucas menatapku terkejut.
"Yap..!" ucapku pendek menoleh ke arah lain.
Mungkin lebih tepat disebut mengalihkan pandanganku daripada aku melihatnya dan menangis.
"Dee, aku.. aku.." Lucas memegang bahuku tapi kusentakkan.
"Sory, Luke. Semuanya sudah berakhir."
Kulangkahkan kakiku menghampiri Pak Oto yang sudah menepikan mobil di trotoar.

"Dee..! DEE..!" Lucas memanggil-manggil dari balik jendela mobil.
"Jalan, Pak..!" ucapku pada Pak Oto.
Kudengar Lucas masih berusaha mengejar laju mobil seraya mengetuk-ngetuk jendela di samping tempatku duduk. Kupalingkan wajahku ke arah lain dan mulai menangis. Lucas masih mengetuk.
"Mau saya hajar, Non..?" Pak Oto berkata gusar.
Kugelengkan kepalaku lemah. Akhirnya suara ketukan itu hilang. Kubiarkan tangisku membanjir.

Bagaimanapun, setelah semua yang dialami walaupun hanya dua setengah bulan. Rasa suka dan cinta yang sudah ada sejak dua tahun yang lalu. Mimpi-mimpi yang jadi kenyataan. Patched dreams that became true.. Semuanya berakhir sampai di sini. Hancur lebur sudah.

Chap VI

Dear Dita, Mungkin kamu tidak mau membaca surat ini, atau mungkin bahkan tidak mau menerimanya sama sekali. Tapi, seandainya kamu mau.. tidak.. bahkan seandainya ada seseorang yang menemukan surat ini setelah kamu membuangnya, membacanya, dan membertahukan isinya kepadamu, aku akan sangat-sangat bersyukur. Dita, sekian lama hatiku lebur saat kamu memutuskan hubungan kita. Semuanya terasa begitu indah walaupun tak sampai tiga bulan. Dan aku.. aku telah merusaknya. Aku tahu itu. Tapi bahkan kamu tidak mau menerima maafku. Tidak bahkan surat-surat dan telepon yang kutujukan padamu. Dita, aku minta maaf. Sedalam-dalamnya. Dari lubuk hatiku. Ini surat terakhir yang mungkin kualamatkan padamu. Aku ingin menemuimu saat pembagian STTB, tapi teman-temanmu melindungimu dariku. Kamu selalu 'tidak ada' di rumah. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku akan pergi ke London lewat Jakarta. Pesawatku berangkat pukul 15:40 WIB Rabu ini. Mungkin aku takkan pernah bisa menemui kamu lagi. Dita, kuharap kamu ada di sana mengantarkanku. Aku tahu itu tak mungkin, mengingat kebencianmu yang sebegitu dalamnya padaku. Tapi tak ada salahnya bermimpi, bukan? Mengingat segala yang lalu, aku mungkin tak berharga bagimu. Tapi.. sekali saja. Yang terakhir. Karena aku masih mencintai kamu.. Lucas.

Luke, aku tak pernah tidak membaca surat yang kamu berikan padaku. Bahkan surat bunuh diri yang kamu kirim sebelum kamu overdosis dan masuk rumah sakit. Aku tahu, Luke. Aku tahu semua tentangmu. Tapi aku takut, Luke. Aku takut. Kuremas surat itu dan mulai menangis lagi. Kutatap foto di atas meja. Saat benih terasa begitu indah. Ya Tuhan, mengapa aku tak bisa melupakannya. Bahkan setelah berbulan- bulan? Apakah aku masih mencintainya? Malam itu aku menangis sendirian. Dan aku merasakan kesepian yang dalam itu. Kesepian sejak Lucas tak lagi dalam kehidupanku. Ya Tuhan, katakan kalau aku salah mengambil keputusan.

Chap VII

"Alex, aku sendirian sampai di sini."
Alex menatapku dengan sendu, tatapan mata yang terlau sering kulihat akhir-akhir ini.
"Take care, Dee."
"Kalau dia memintamu kembali, tolak saja!" Vanka mendesis seraya memelukku.
"Vanka!" Alex menyergah.
Dengan mengusap air mata aku tersenyum dan berlari memasuki hall keberangkatan. Ya Tuhan, sekali lagi kumohon. Jangan sampai aku salah.

Kulihat pemuda itu memeluk kedua mama dan papanya. Ah, betapa kurusnya pemuda itu sekarang. Tulang pipinya tampak cekung dan kantung matanya menghitam. Tanpa sadar air mata keluar lagi membasahi pipiku. Tapi aku masih tidak juga berani keluar dari baik tembok ini. Aku hanya berharap pemuda itu melirik ke arahku. Tapi pemuda itu tidak meluruskan kepalanya sama sekali. Menunduk dan tetap menunduk, seolah tak ingin menatap dunia. Apa yang sudah kulakukan padanya? Apa?? Apa yang kulakukan sekarang?!!

"Dee.." bibir pemuda itu bergerak saat menatapku melangkah ke arahnya.
Kuhentikan langkahku dan tak tahan lagi tubuhku terjatuh. Orang-orang mulai mengerumuniku. Seorang penjaga toko membantuku berdiri.
"Dee.." kurasakan telingaku basah saat pemuda itu menyahutku dan memelukku erat. Erat sekali.
Semua kerinduan dalam hatiku tumpah serentak. Aku masih mencintainya! Sekian lamanya kami berpelukan seolah tak ingin terlepas.
"Aku mencintaimu, Dee. Aku minta maaf. Aku minta maaf." Lucas menangis di bahuku seperti seorang anak kecil.
Kupejamkan mataku dan membelai rambutnya. "Aku juga, Luke," desisku lirih, "Aku juga."

"Pesawat Garuda jurusan Jakarta dengan nomor penerbangan GA 718 akan segera diberangkatkan. Bagi seluruh penumpang diharapkan segera menuju ke ruang keberangkatan."

Kudorong pundak pemuda itu menjauh dan menganggukkan kepalaku. Sebuah tangan menepuk pundak Lucas.
"Ayo, Luke. Kamu harus berangkat sekarang."
Kuangkat kepalaku dan menatap wajah ayah Lucas, pria itu tersenyum dan mengangguk ke arahku seolah ingin mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata.
"Dee.." Lucas menghapus air matanya dan tersenyum menatapku.
"Apa, Luke..?"
Lepasnya kerinduan ini begitu singkat.
"Kamu menungguku? Aku akan mencoba berubah."
"Ssshh.." bisikku lalu mengecup pipinya, tak perduli ada kedua orangtuanya di situ, dan mata-mata yang menatap kami.
"I'm your dreampatcher, remember that..?"
Lucas mengangguk, tersenyum, lalu merangkul kedua orangtuanya. Kulihat ibu Lucas menangis, sementara ayahnya memeluk dan menenangkan.

"Bye, Dee." Lucas menatap terakhir kalinya ke arahku sebelum melangkah tanpa menoleh lagi menuju ruang keberangkatan.
"Ayo, Nak. Kita pulang," kudengar ayah Lucas memanggilku 'nak' serasa sebuah simfoni indah yang mengalun lembut di telingaku.
"Permisi, Pak.." ucapku lalu segera berlari menembus penjaga ruang keberangkatan.
"Loh, Mbak! Mbak..!"
Mereka mengejarku. Aku tak perduli. Kucari Lucas dengan pandangan mataku.
"LUKE!! AKU MENCINTAIMU!!" teriakku yang membuat orang-orang memandang ke arahku.
Lucas menolehkan kepalanya dan berlari memelukku, berputar dan mengecup keningku.
"Aku juga, Dreampatcher. Aku juga."
Dan aku menangis di dadanya. Petugas keamanan hanya menggaruk-garuk kepala mereka sambil tersenyum-senyum.

Akhirnya mereka membiarkanku menatap keberangkatan pesawat yang ditumpangi Lucas, sampai akhirnya pesawat itu menghilang di balik awan. Cintaku berangkat jauh, tapi tidak sejauh itu di hatiku. Kutunggu dia pulang untuk bersama membaca mimpi-mimpinya. Dan akan kuwujudkan dengan cinta dan kasih sayangku. Karena aku adalah.. dreampatcher-nya. So it told that when dreams come true Then the sadness be blown away When the path is clear and the dream patched Suddenly happiness answers the pray How long will it still I think it's forever [END OF There He Goes - the dreampatcher story] Dee, sobbing I have nothing to say..

TAMAT


Pengalaman percintaan pertamaku

Awek Pantat Panas CantikSetelah sekian lama hanya menjadi pembaca setia dari situs ini akhirnya muncul juga keberanian untuk membagi pengalaman pribadiku yang benar benar aku alami di dunia nyata. Semua yang aku tulis adalah apa yang benar-benar aku rasakan dan lakukan. Nama dan tempat aku samarkan untuk menjaga privasi orang-orang dalam cerita ini. Sebut saja namaku Rony,berumur 25 tahun, tinggi 170 cm berat 60 kg. Masih kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di kota Surabaya semester akhir dan bekerja part time di sebuah perusahaan software house.

Sebagai perkenalan aku dilahirkan di sebuah kota di jawa timur. Berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Aku merasa beruntung semua yang aku butuhkan di masa kecilku bisa terpenuhi walau tidak bisa diartikan kebutuhan secara materi yang berlebih lebihan. Hidup secara mandiri dan jangan memandang segala hal dari segi materi itu yang aku camkan dalam nurani sebagai nasihat orang tua yang akhirnya membuatku tumbuh sebagai seorang yang tidak materialis.



Semua hal dalam masa pertumbuhanku berjalan normal, hanya satu hal yang aku rasa lain dari kebanyakan sesama anak seusiaku. Aku selalu merasa lebih tertarik dengan wanita yang umurnya lebih tua. Rasanya lebih asik bila bisa dekat dengan wanita wanita yang umurnya diatas umurku sendiri. Begitupun ketika ketika di sekolah aku selalu berusaha menarik perhatian kakak-kakak kelasku tidak pada teman teman cewek yang seumuran.Walaupun aku orangnya biasa-biasa saja dengan otakku yang tergolong encer sehingga tidak begitu sulit menarik perhatian mereka. Aku selalu dijajaran rangking 1-3 di sekolah sehingga aku selalu bersekolah di sekolah favorit dan akhirnya bisa masuk di sebuah perguruan tinggi favorit juga.

Petualanganku berawal ketika aku terlibat salam sebuah forum mailing list tentang IT di internet dan aku aktif di dalamnya. Dalam forum itu aku mengenal seseorang yang aktif juga di dalamnya sebut saja Dina seorang wanita karir di perusahaan BUMN terkenal di jakarta berumur 35 tahun dengan 2 anak. Dari sekedar saling berdiskusi akhirnya kami saling berhubungan lewat email, dia juga sering bercerita tentang kehidupannya juga tentang keluarganya. Dari permulaan obrolan biasa saja kami jadi lebih dekat dan saling rindu jika sehari tidak saling terima email. Kadang dia juga menelfon ku berjam-jam untuk bercerita semua kisah kesehariannya. Hingga suatu hari tidak sengaja aku berkirim email yang isinya bagaimana yah rasanya phonesex . Dan tak kuduga dia menanggapi dengan serius dan akhirnya sepakat janjian sekitar jam 7 malam dia akan menelfonku ketika suaminya ada dinas keluar kota.

Dengan hati berdebar debar aku menunggu teleponnya. Tepat jam 7 dia meneleponku:

Hai Rony sudah siap belum nih?, sambil tertawa renyah.

Sudah siap dari tadi Mbak, jawabku sambil tertawa kecil juga.

Gimana mulainya ini Ron, Mbak kok bingung mo mulainya?,

Hmm Mbak sekarang pakai baju apa nih? tanyaku..

Pake daster terusan warna putih, jawab Mbak Dina.

Dalemnya Mbak?, tanyaku menyambung.

Hmm atas warna krem bawahnya juga,

Boleh Rony pegang yang atas Mbak?, tanyaku.

Boleh Ron ohh Mbak bayangin kamu remasin Ron, jawab dia mulai serak.

Aku bukain yah baju Mbak, jawabku.

Iyah Ron bukain aja, Mbak dah kepingin ini, jawab Mbak Dina.

Panjang penismu berapa Ron?, tanya Mbak Dina menyambung.

17 cm Mbak kalo lagi tegang, jawabku.

Rony juga bukain baju rony Mbak, boleh Rony masukin ndak Mbak?, tanyaku.

Oh Ron Mbak dah basah masukin aja Ron penis kamu ohh Mbak bayangin kamu masukin penis kamu ke vagina Mbak ohh, jawab dia semakin bernafsu.

Rony masukin sekarang Mbak.. ohh my god vagina Mbak enak sekali, jawabku kemudian.

Iya Ron penismu enak bangett.. maju mundurin sayang.. ohh Mbak gak tahan mo keluar nih, serunya.

Aku juga Mbak keluar bareng bareng yah, kataku.

Ohh Ronyy Mbak keluarr oh yess

Aduhh aku juga mbakk oh yeahh, kataku menyahut.

(phone sex ini tidak saya tuliskan keseluruhan karena terlalu panjang, hanya bagian penting yang saya tuliskan)

Setelah kejadin itu kami jadi sering janjian lakuin phonesex. Hingga suatu saat dia bilang akan ke surabaya dalam rangka ada tugas dari kantor. Mbak Dina mengajak ketemuan, aku bilang dengan senang hati akan datang. Akhirnya disepakati ketemu di lobi hotel tempat dia menginap di S***d Hotel jam 7 malam setelah dia menyelesaikan tugasnya di kantor cabang. Jam 6 sore aku bersiap-siap dan berusaha membuat diriku serapi mungkin. Timbul keraguan juga jangan jangan dia kecewa setelah melihat aku karena aku orangnya biasa-biasa saja tidak spesial, just ordinary people tapi akhirnya aku beranikan diri. Tiba jam 7 malam tepat di lobi aku melepas pandangan ke seluruh ruangan akhirnya mataku tertuju pada wanita berkulit putih, berbaju blues hitam dengan rok hitam memakai kacamata, akhirnya aku menyapa.

Hai Mbak Dina yah, sapaku berdebar debar.


Hai ini Rony yah, jawabnya sambil tersenyum manis .
Ke my roomku aja yuk lebih enak ngobrolnya, kata dia sambil menarik tanganku.

Akhirnya aku menurut saja ketika dia mengajakku menuju elevator dan menuju lantai 4 hotel. Keluar elevator kami berjalan sampai di depan room 409 dan dia membuka pintu dan masuk.

Ayo Ron masuk saja kok jadi malu malu gak kayak di telepon hehehehe, katanya mengejekku sambil bercanda.

Aku masuk dan duduk di pinggir single bed sambil memandangi punggung Mbak Dina yang mengambil minuman dingin.

Nih minum dulu Ron pasti haus deh.

Aku ambil gelas yang disodorkannya aku minum 2 teguk kemudian aku taruh di meja. Akhirnya kami ngobrol sambil tiduran diatas bed dan nonton TV. Setelah agak lama aku fikir ini saatnya untuk bertindak lebih jauh. Aku coba pegang tangannya dia diam saja kemudian aku coba remas tangannya dia balas meremas tanganku. Sinyal positif fikirku aku coba lebih jauh dengan mendekatkan hidungku ke pipinya dan menggeser tubuhku lebih dekat ke tubuhnya. Aku cium pipinya lembut dia hanya memejamkan mata. Aku dekatkan bibirku ke bibirnya aku lumat bibirnya dia balas melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku.

Dia memelukku dengan erat sambil berkata, Ron sudah lama Mbak ingin melakukannya denganmu sayang, desahnya

Aku juga Mbak, jawabku sambil mulai meremas remas payudara Mbak Dina.

Mbak Dina juga semakin agresif dia mulai meremas remas penisku dari luar celana. Aku mulai membuka blues Mbak Dina dengan tetap melumat bibir wanita berkulit putih ini. Sampai kemudian rok span dia juga aku lepaskan hingga dia tinggal memakain bra dan celana dalamnya. Walau kelihatan payudara nya agak turun (mungkin karena sudah beranak dua) namun tetap membuat aku terangsang. Wanita-wanita berumur lebih membuatku terangsang.

Akhirnya Mbak Dina tidak sabar dia membuka celana jeans yang aku pakai sekalian dengan celana dalam ku hingga tampak penisku berdiri tegang dengan panjang 17 cm dan Mbak Dina mengocoknya dengan tangannya yang halus. Aku buka bra yang dia pakai,aku kulumin payudaranya bergantian kiri dan kanan sementara Mbak Dina hanya mendesah gak karuan. Aku mulai cium perutnya dan aku buka celana dalam nya sampai kelihatan vagina yang ditutupi rambut di sekelilingnya. Aku mulai cium pinggiran vaginanya aku teruskan dengan mencium setiap sudut dari vagina Mbak Dina . Sementara Mbak Dina meremas remas kepalaku sambil mendesah.

Ohh sayang terus sayang enak banget.. lidah kamu nakal sekali ohh.

Salah satu hal yang akhirnya menjadi kegemaranku yaitu membuat wanita merasakan kenikmatan ketika aku meng oral meraka. Mbak Dina sudah merasa tidak sabar dia segera menarikku ke atas dan mengarahkan penisku ke vaginanya. Dan dia menuntun penisku ke lubang kenikmatannya. Aku membantunya dengan mendorong pelan pelan sampai masuk semua sampai mentok (fikirku saat itu hilang sudah keperjaanku).

Mbak Dina mendesah, Oh sayang punya kamu panjang banget sampai mentok aduh enak banget sayang goyangin dong.

Akupun mulai memaju mundurkan penisku.

Selang 5 menit kemudian Mbak Dina mendesah, Oh sayang aku mo nyampai.

Aku mulai mempercepat gerakanku.

Akhirnya dia menjerit Ohh Rony aku sampai sayangg.

Aku rasakan kakinya menjepit erat pinggulku seakan ingin menancapkan sedalam dalamnya penisku ke dalam vaginanya. Aku memberi kesempatan Mbak Dina meresapi kenikmatannya. 2 menit kemudian aku mulai memaju mundurkan lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku goyangin semakin cepat sampai aku merasa ada sesuatu yang ingin segera meledak dalam penisku.

Ohh Mbak Dina aku mo keluar, dikeluarin di dalam apa diluar?

Di dalam saja sayang, katanya.

Akhirnya aku kerahkan sekuat tenaga ketika nikmat yang membawaku melayang ke angkasa. Kami berpelukan sampai beberapa saat. Terimakasih yah Ron.

Sama sama Mbak, jawabku.

Masak baru pertama ini ML Ron?, tanyanya gak percaya.

Iyah Mbak emang kenapa?, aku berkata.

Kok sudah pinter banget?, tanyanya lagi.

Masak sih Mbak?, Dari VCD aku belajarnya Mbak, hehehe, aku menimpali.

Kok tahan lama juga biasanya cowok yang baru pertama ML nempel langsung keluar kamu kok bisa lama?, tanyanya lagi.
Ya gak tau Mbak ya kenyatannya gitu, (suatu saat aku paham gimana cara menahan agar orgasme bisa ditahan lebih lama dan kapan harus di keluarkan, aku juga gak tau kok bisa nahan orgasme lebih lama, yang pasti sudah bisa dari dulunya, dari lahir kali hehehe)

Malam itu aku gak boleh pulang oleh Mbak Dina. Kami menikmati malam dengan pergulatan tiada henti berbagai style kami coba. Sampai kami akhirnya kelelahan dan baru tidur jam 3 pagi. Jam 9 kami baru bangun, kami mandi bersama kemudian Mbak Dina berkemas kemas karena jam 11 siang harus check out dan pergi ke bandara untuk kembali ke jakarta. Setelah mengemasi travel bag nya Mbak Dina memelukku erat erat.

Aku sangat menikmati saat saat bersama kamu Ron, katanya.

Aku juga Mbak, jawabku.

Mbak Dina menyelipkan amplop ke sakuku aku segera mencegahnya.

Mbak, ini apa?

Mbak Dina berkata, Buat kamu.

Aku segera mengembalikannya sambil berkata, Mbak aku bukan cowok materialistis dan bukan cowok yang mencari uang dengan sex.

Mbak Dina berkata lagi, Please ambil Ron sebagai tanda terima kasih Mbak.

Aku berjalan mendekati travel bagnya dan memasukkan amplop itu ke dalamnya, sambil berkata Gak usah dibahas lagi, nanti Mbak terlambat sampai di bandara.

Dia tersenyum manis dan berkata, Ok deh, yuk.

Kami naik taksi di depan pintu hotel, dan taksi meluncur ke arah bandara, 30 menit kami sampai di bandara. Aku mengantar sampai di pintu pemberangkatan dan Mbak Dina memelukku erat-erat. Aku kemudian memanggil taksi yang mengantarku pulang. Di dalam taksi ketika aku merogoh sakuku aku terkejut ternyata ada amplop berisi uang dan didalamnya ada tulisan tangan berbunyi, Ron aku tau kamu bakal menolak pemberian Mbak, makanya Mbak taruh dalam sakumu, janji untuk menerimanya atau kamu berarti tidak sayang sama Mbak jika menolaknya, TTD Dina. Aku hanya menggeleng-geleng kepala.

E N D


Pengalaman percintaan pertamaku

Awek Pantat Panas CantikSetelah sekian lama hanya menjadi pembaca setia dari situs ini akhirnya muncul juga keberanian untuk membagi pengalaman pribadiku yang benar benar aku alami di dunia nyata. Semua yang aku tulis adalah apa yang benar-benar aku rasakan dan lakukan. Nama dan tempat aku samarkan untuk menjaga privasi orang-orang dalam cerita ini. Sebut saja namaku Rony,berumur 25 tahun, tinggi 170 cm berat 60 kg. Masih kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di kota Surabaya semester akhir dan bekerja part time di sebuah perusahaan software house.

Sebagai perkenalan aku dilahirkan di sebuah kota di jawa timur. Berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Aku merasa beruntung semua yang aku butuhkan di masa kecilku bisa terpenuhi walau tidak bisa diartikan kebutuhan secara materi yang berlebih lebihan. Hidup secara mandiri dan jangan memandang segala hal dari segi materi itu yang aku camkan dalam nurani sebagai nasihat orang tua yang akhirnya membuatku tumbuh sebagai seorang yang tidak materialis.



Semua hal dalam masa pertumbuhanku berjalan normal, hanya satu hal yang aku rasa lain dari kebanyakan sesama anak seusiaku. Aku selalu merasa lebih tertarik dengan wanita yang umurnya lebih tua. Rasanya lebih asik bila bisa dekat dengan wanita wanita yang umurnya diatas umurku sendiri. Begitupun ketika ketika di sekolah aku selalu berusaha menarik perhatian kakak-kakak kelasku tidak pada teman teman cewek yang seumuran.Walaupun aku orangnya biasa-biasa saja dengan otakku yang tergolong encer sehingga tidak begitu sulit menarik perhatian mereka. Aku selalu dijajaran rangking 1-3 di sekolah sehingga aku selalu bersekolah di sekolah favorit dan akhirnya bisa masuk di sebuah perguruan tinggi favorit juga.

Petualanganku berawal ketika aku terlibat salam sebuah forum mailing list tentang IT di internet dan aku aktif di dalamnya. Dalam forum itu aku mengenal seseorang yang aktif juga di dalamnya sebut saja Dina seorang wanita karir di perusahaan BUMN terkenal di jakarta berumur 35 tahun dengan 2 anak. Dari sekedar saling berdiskusi akhirnya kami saling berhubungan lewat email, dia juga sering bercerita tentang kehidupannya juga tentang keluarganya. Dari permulaan obrolan biasa saja kami jadi lebih dekat dan saling rindu jika sehari tidak saling terima email. Kadang dia juga menelfon ku berjam-jam untuk bercerita semua kisah kesehariannya. Hingga suatu hari tidak sengaja aku berkirim email yang isinya bagaimana yah rasanya phonesex . Dan tak kuduga dia menanggapi dengan serius dan akhirnya sepakat janjian sekitar jam 7 malam dia akan menelfonku ketika suaminya ada dinas keluar kota.

Dengan hati berdebar debar aku menunggu teleponnya. Tepat jam 7 dia meneleponku:

Hai Rony sudah siap belum nih?, sambil tertawa renyah.

Sudah siap dari tadi Mbak, jawabku sambil tertawa kecil juga.

Gimana mulainya ini Ron, Mbak kok bingung mo mulainya?,

Hmm Mbak sekarang pakai baju apa nih? tanyaku..

Pake daster terusan warna putih, jawab Mbak Dina.

Dalemnya Mbak?, tanyaku menyambung.

Hmm atas warna krem bawahnya juga,

Boleh Rony pegang yang atas Mbak?, tanyaku.

Boleh Ron ohh Mbak bayangin kamu remasin Ron, jawab dia mulai serak.

Aku bukain yah baju Mbak, jawabku.

Iyah Ron bukain aja, Mbak dah kepingin ini, jawab Mbak Dina.

Panjang penismu berapa Ron?, tanya Mbak Dina menyambung.

17 cm Mbak kalo lagi tegang, jawabku.

Rony juga bukain baju rony Mbak, boleh Rony masukin ndak Mbak?, tanyaku.

Oh Ron Mbak dah basah masukin aja Ron penis kamu ohh Mbak bayangin kamu masukin penis kamu ke vagina Mbak ohh, jawab dia semakin bernafsu.

Rony masukin sekarang Mbak.. ohh my god vagina Mbak enak sekali, jawabku kemudian.

Iya Ron penismu enak bangett.. maju mundurin sayang.. ohh Mbak gak tahan mo keluar nih, serunya.

Aku juga Mbak keluar bareng bareng yah, kataku.

Ohh Ronyy Mbak keluarr oh yess

Aduhh aku juga mbakk oh yeahh, kataku menyahut.

(phone sex ini tidak saya tuliskan keseluruhan karena terlalu panjang, hanya bagian penting yang saya tuliskan)

Setelah kejadin itu kami jadi sering janjian lakuin phonesex. Hingga suatu saat dia bilang akan ke surabaya dalam rangka ada tugas dari kantor. Mbak Dina mengajak ketemuan, aku bilang dengan senang hati akan datang. Akhirnya disepakati ketemu di lobi hotel tempat dia menginap di S***d Hotel jam 7 malam setelah dia menyelesaikan tugasnya di kantor cabang. Jam 6 sore aku bersiap-siap dan berusaha membuat diriku serapi mungkin. Timbul keraguan juga jangan jangan dia kecewa setelah melihat aku karena aku orangnya biasa-biasa saja tidak spesial, just ordinary people tapi akhirnya aku beranikan diri. Tiba jam 7 malam tepat di lobi aku melepas pandangan ke seluruh ruangan akhirnya mataku tertuju pada wanita berkulit putih, berbaju blues hitam dengan rok hitam memakai kacamata, akhirnya aku menyapa.

Hai Mbak Dina yah, sapaku berdebar debar.


Hai ini Rony yah, jawabnya sambil tersenyum manis .
Ke my roomku aja yuk lebih enak ngobrolnya, kata dia sambil menarik tanganku.

Akhirnya aku menurut saja ketika dia mengajakku menuju elevator dan menuju lantai 4 hotel. Keluar elevator kami berjalan sampai di depan room 409 dan dia membuka pintu dan masuk.

Ayo Ron masuk saja kok jadi malu malu gak kayak di telepon hehehehe, katanya mengejekku sambil bercanda.

Aku masuk dan duduk di pinggir single bed sambil memandangi punggung Mbak Dina yang mengambil minuman dingin.

Nih minum dulu Ron pasti haus deh.

Aku ambil gelas yang disodorkannya aku minum 2 teguk kemudian aku taruh di meja. Akhirnya kami ngobrol sambil tiduran diatas bed dan nonton TV. Setelah agak lama aku fikir ini saatnya untuk bertindak lebih jauh. Aku coba pegang tangannya dia diam saja kemudian aku coba remas tangannya dia balas meremas tanganku. Sinyal positif fikirku aku coba lebih jauh dengan mendekatkan hidungku ke pipinya dan menggeser tubuhku lebih dekat ke tubuhnya. Aku cium pipinya lembut dia hanya memejamkan mata. Aku dekatkan bibirku ke bibirnya aku lumat bibirnya dia balas melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku.

Dia memelukku dengan erat sambil berkata, Ron sudah lama Mbak ingin melakukannya denganmu sayang, desahnya

Aku juga Mbak, jawabku sambil mulai meremas remas payudara Mbak Dina.

Mbak Dina juga semakin agresif dia mulai meremas remas penisku dari luar celana. Aku mulai membuka blues Mbak Dina dengan tetap melumat bibir wanita berkulit putih ini. Sampai kemudian rok span dia juga aku lepaskan hingga dia tinggal memakain bra dan celana dalamnya. Walau kelihatan payudara nya agak turun (mungkin karena sudah beranak dua) namun tetap membuat aku terangsang. Wanita-wanita berumur lebih membuatku terangsang.

Akhirnya Mbak Dina tidak sabar dia membuka celana jeans yang aku pakai sekalian dengan celana dalam ku hingga tampak penisku berdiri tegang dengan panjang 17 cm dan Mbak Dina mengocoknya dengan tangannya yang halus. Aku buka bra yang dia pakai,aku kulumin payudaranya bergantian kiri dan kanan sementara Mbak Dina hanya mendesah gak karuan. Aku mulai cium perutnya dan aku buka celana dalam nya sampai kelihatan vagina yang ditutupi rambut di sekelilingnya. Aku mulai cium pinggiran vaginanya aku teruskan dengan mencium setiap sudut dari vagina Mbak Dina . Sementara Mbak Dina meremas remas kepalaku sambil mendesah.

Ohh sayang terus sayang enak banget.. lidah kamu nakal sekali ohh.

Salah satu hal yang akhirnya menjadi kegemaranku yaitu membuat wanita merasakan kenikmatan ketika aku meng oral meraka. Mbak Dina sudah merasa tidak sabar dia segera menarikku ke atas dan mengarahkan penisku ke vaginanya. Dan dia menuntun penisku ke lubang kenikmatannya. Aku membantunya dengan mendorong pelan pelan sampai masuk semua sampai mentok (fikirku saat itu hilang sudah keperjaanku).

Mbak Dina mendesah, Oh sayang punya kamu panjang banget sampai mentok aduh enak banget sayang goyangin dong.

Akupun mulai memaju mundurkan penisku.

Selang 5 menit kemudian Mbak Dina mendesah, Oh sayang aku mo nyampai.

Aku mulai mempercepat gerakanku.

Akhirnya dia menjerit Ohh Rony aku sampai sayangg.

Aku rasakan kakinya menjepit erat pinggulku seakan ingin menancapkan sedalam dalamnya penisku ke dalam vaginanya. Aku memberi kesempatan Mbak Dina meresapi kenikmatannya. 2 menit kemudian aku mulai memaju mundurkan lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku goyangin semakin cepat sampai aku merasa ada sesuatu yang ingin segera meledak dalam penisku.

Ohh Mbak Dina aku mo keluar, dikeluarin di dalam apa diluar?

Di dalam saja sayang, katanya.

Akhirnya aku kerahkan sekuat tenaga ketika nikmat yang membawaku melayang ke angkasa. Kami berpelukan sampai beberapa saat. Terimakasih yah Ron.

Sama sama Mbak, jawabku.

Masak baru pertama ini ML Ron?, tanyanya gak percaya.

Iyah Mbak emang kenapa?, aku berkata.

Kok sudah pinter banget?, tanyanya lagi.

Masak sih Mbak?, Dari VCD aku belajarnya Mbak, hehehe, aku menimpali.

Kok tahan lama juga biasanya cowok yang baru pertama ML nempel langsung keluar kamu kok bisa lama?, tanyanya lagi.
Ya gak tau Mbak ya kenyatannya gitu, (suatu saat aku paham gimana cara menahan agar orgasme bisa ditahan lebih lama dan kapan harus di keluarkan, aku juga gak tau kok bisa nahan orgasme lebih lama, yang pasti sudah bisa dari dulunya, dari lahir kali hehehe)

Malam itu aku gak boleh pulang oleh Mbak Dina. Kami menikmati malam dengan pergulatan tiada henti berbagai style kami coba. Sampai kami akhirnya kelelahan dan baru tidur jam 3 pagi. Jam 9 kami baru bangun, kami mandi bersama kemudian Mbak Dina berkemas kemas karena jam 11 siang harus check out dan pergi ke bandara untuk kembali ke jakarta. Setelah mengemasi travel bag nya Mbak Dina memelukku erat erat.

Aku sangat menikmati saat saat bersama kamu Ron, katanya.

Aku juga Mbak, jawabku.

Mbak Dina menyelipkan amplop ke sakuku aku segera mencegahnya.

Mbak, ini apa?

Mbak Dina berkata, Buat kamu.

Aku segera mengembalikannya sambil berkata, Mbak aku bukan cowok materialistis dan bukan cowok yang mencari uang dengan sex.

Mbak Dina berkata lagi, Please ambil Ron sebagai tanda terima kasih Mbak.

Aku berjalan mendekati travel bagnya dan memasukkan amplop itu ke dalamnya, sambil berkata Gak usah dibahas lagi, nanti Mbak terlambat sampai di bandara.

Dia tersenyum manis dan berkata, Ok deh, yuk.

Kami naik taksi di depan pintu hotel, dan taksi meluncur ke arah bandara, 30 menit kami sampai di bandara. Aku mengantar sampai di pintu pemberangkatan dan Mbak Dina memelukku erat-erat. Aku kemudian memanggil taksi yang mengantarku pulang. Di dalam taksi ketika aku merogoh sakuku aku terkejut ternyata ada amplop berisi uang dan didalamnya ada tulisan tangan berbunyi, Ron aku tau kamu bakal menolak pemberian Mbak, makanya Mbak taruh dalam sakumu, janji untuk menerimanya atau kamu berarti tidak sayang sama Mbak jika menolaknya, TTD Dina. Aku hanya menggeleng-geleng kepala.

E N D