Category Archives: dewasa panas

Taruna angkatan laut

Awek Pantat Panas CantikAku kembali mengunjungi warnet Ampera7 untuk memuaskan nafsu homoseksualku. Siang hari, banyak pria gagah berkumpul di warnet itu. Mereka adalah para taruna angkatan laut. Ada yang badannya sangat tegap bak seorang binaragawan, tapi ada pula yang badannya agak tambun. Belakangan ini, aku demam menonton tinju dan fighting. Terutama kalau yang bertanding itu para bule yang berbadan keras. Aku tidak suka kekerasan, namun aku suka melihat tubuh atletis para pria yang sedang bertarung. Ah, sangat jantan dan maskulin.

Siang itu, saat aku asyik melihat foto-foto seksi Mirko Cro Cop (petarung Kroasia K-1) yang sedang bertarung telanjang dada, aku dikejutkan oleh seorang taruna yang kebetulan sedang menemani temannya di warnet itu. Mereka duduk tepat di sebelahku. Pria itu berkata, "Anda suka fighting, yach?"



Aku hanya tersenyum malu, diam-diam mencuri pandang. Pria itu mengenakan seragam angkatan laut, tanpa topi. Kulitnya sawo kecoklatan. Wajahnya menunjukkan usia 30an itu nampak ramah. Badannya memang tidak kekar, sedikit berlemak, namun tidak gemuk. Dia memang tidak tampan, tapi juga tidak jelek. Biarpun begitu, tiba-tiba aku menjadi bergairah sekali.

Temannya jauh berbeda dengannya, lebih muda (20an). Tubuhnya lebih langsing namun terlihat padat. Wajahnya sangat tegas dan juga tampan. Melihatnya saja sudah melambungkan imajinasiku ke langit ketujuh. Apalagi kalau diajak bercinta. Perkenalan lebih lanjut membuatku mengetahui bahwa nama pria yang menyapaku tadi adalah Iwan. Sedangkan temannya itu Bram.

"Mau enggak mampir ke tempatku?" tawar Iwan, tersenyum ramah.
"Aku punya banyak foto petarung di komputerku. Kamu pasti suka."

Tangannya diletakkan di atas punggungku, membuat jantungku berdebar tak karuan.

"Mau banget," jawabku. Diam-diam, penisku mulai tegang, setegang baja.

Singkat cerita, aku pun diajak Iwan dan Bram ke kamar asrama mereka. Banyak taruna ganteng dan gagah yang berlalu lalang. Kemaluanku menjadi semakin tegang dan mulai mengucurkan precum. Di dalam kamarnya, Bram menghempaskan dirinya ke atas ranjang bertingkat bagian bawah. Dengan cueknya, Bram melepaskan pakaiannya dan tidur dengan hanya mengenakan celana dalam putih. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Nampaknya Bram benar-benar kepanasan. Sekilas, aku mengintip tubuhnya yang mengkilat dengan keringat. Ah, seksi sekali.. Penuh dengan otot..

"Endy? Lagi ngapain kamu?" tanya Iwan, membuyarkan lamunanku.
"Kok dari tadi asyik mandangin badan Bram? Suka yach?" godanya, sambil mencolek pinggangku.

Aku terkejut sekali saat Iwan mencolek pinggangku. Untuk sesaat aku mengira kalau dia juga gay, sama sepertiku. Namun, aku segera menghapus pikiran itu, sebab mereka nampak sangat 'straight'. Tanpa menunggu jawabanku, Iwan menyalakan komputernya dan memintaku untuk duduk di depannya. Sesaat kemudian, dia sibuk memperlihatkam foto-foto para petarung lain yang tak kalah ganteng dan kekar dari Mirko Cro Cop. Aku semakin terangsang dan mulai duduk dengan gelisah. Tanpa kusadari Iwan bergeser ke belakangku sambil memencet-mencet keyboardnya. Tangan kirinya diletakkan di atas bahuku, meremas-remasnya dengan lembut. Aku menjadi mabuk kepayang dibuatnya.

"Aku punya gambar-gambar yang lebih bagus dari ini. Mau lihat?" tanyanya.

Aku mengangguk saja. Lalu Iwan membuka sebuah folder yang berjudul Cowok. Apa yang kulihat berikutnya membuatku terkejut sekali. Di depan layar komputer, berbaris foto-foto cowok bule bugil. Ada yang berpose telanjang bulat, ada yang berciuman dengan sesama pria, bahkan ada yang saling menyetubuhi pria lain. Jantungku berdebar kencang sekali. Iwan segera menjawab,

"Ya, aku gay. Aku ingin berhubungan seks denganmu, manis."

Iwan mencium-cium leherku dari belakang. Kedua lengannya yang besar dan kuat menglingkari pundakku. Tangannya menjalari dadaku, meremas-remasnya. Tanpa dapat ditahan, aku mengerang kenikmatan. Aku hanya dapat pasrah, menyadari bahwa sebentar lagi Iwan akan mengambil keperjakaanku. Namun aku tak dapat menyangkal kalau aku amat mengharapkannya.

Tangan Iwan pun mulai menjalar dengan liarnya. Sambil membimbingku berdiri, Iwan mulai memasukkan tangannya ke dalam celana pendekku. Alangkah terkejutnya Iwan mengetahui kalau aku tak memakai celana dalam. Sambil tetap memelukku dari belakang, dia memberikan sebuah senyuman mesum padaku. Mudah baginya untuk menemukan alat kelaminku. Begitu dia menyentuhnya, aku mengerang makin liar. Senjataku sudah mengeras dan membasahi celanaku. Satu-persatu, pakaianku jatuh ke lantai. Dengan lembut, dia memutar tubuhku agar aku menghadap mukanya. Aku kini sudah berdiri telanjang bulat di depannya. Iwan tersenyum sensual sambil menjilat bibirnya.

Katanya, "Aku paling suka cowok Chinese yang putih mulus sepertimu. Cocok sekali untuk dingentotin."

Iwan nampaknya tak mau berbasa-basi lagi sebab dia segera menanggalkan pakaiannya. Dengan bernafsu, Iwan memelukku. Pelukannya membuatku liar sehingga aku dengan leluasa meraba-raba punggungnya.

"Mau tidak 'dipakai'?" tanyanya sambil memelintir kedua putingku. Aku mengangguk.

Kemudian, terbuai dalam suasana erotis, aku menciumi sekujur tubuhnya, mulai dari leher, turun ke dadanya. Ah.. Aku amat memujanya.. Dada milik Iwan memang tidak terlalu keras dan berotot, namun lumayan seksi. Kedua putingnya yang tadi tertidur, kini mulai mengeras seiring dengan permainan lidahku. Sesaat kemudian terdengarlah erangan merdu dari bibir Iwan. Usai menjilati dadanya, aku bergerak menuruni perutnya dan tiba di kemaluannya.

Sungguh merupakan kontol terseksi yang pernah kulihat. Panjangnya hampir mencapai 20 cm dengan ketebalan yang nyaris melampaui 5cm. Terbakar oleh nafsu birahi, kontol itu berdenyut keras sekali, seolah menuntut servis dariku. Cairan pra-ejakulasinya mulai mengalir dan menetes ke atas lantai. Dengan sigap, aku menangkapnya dengan lidahku. Hmm.. Sungguh lezat sekali. Iwan hanya tersenyum meyaksikan ulahku. Kontol Iwan memang nampak lezat sekali. Dengan saus pra-ejakulasi yang terus mengalir turun.

"Ayo, sayang, hisap kontolku," ujarnya seraya mengelus-ngelus dadaku. Kemaluanku sendiri tegang sekali, minta dipuaskan.

Sambil berlutut, aku menjilati batang kejantanannya dengan antusias. Erangan nikmat Iwan terdengar kencang sekali. Namun dalam suasana erotis seperti itu, hal itu tidak dipedulikan sama sekali. Yang penting, hasrat semua pihak terpuaskan. Kubuka mulutku lebar-leabr dan membiarkan kontol Iwan menerjang keluar masuk. Sesekali aku tersedak namun dengan sigap, aku dapat kembali mengikuti irama sodokan kontolnya itu.

".. Aarrgghh.." erang Iwan, matanya terpejam rapat.

Cairan pra-ejakulasi Iwan terasa bagaikan cairan ternikmat di dunia. Rasanya agak asin dan terasa licin di lidah. Iwan memang sungguh merupakan seorang pejantan, sebab cairan itu mengalir tanpa henti. Seperti bayi yang menyusu, aku terus menghisap kepala kontolnya demi mendapatkan cairan itu lebih banyak. Aku memperkuat sedotanku dan Iwan pun mengerang keenakkan.

Asyik memeras kontol Iwan dengan bibir dan lidahku, aku tak menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di belakangku. Aku baru tersadar saat orang itu membelai-belai punggungku. Ternyata orang itu adalah Bram. Dari sudut mataku, aku mengintip dan mendapatkan Bram telah telanjang bulat. Kontolnya tegang, basah, dan meninggalkan noda di lantai.

Sejujurnya, Bram jauh lebih ganteng dan berotot dibanding Iwan, namun Iwan sendiri memiliki aura kelaki-lakian yang tak dapat kutolak. Bram menggosok-gosokkan kontolnya ke punggungku, sambil berciuman dengan Iwan. Sesaat kemudian, Bram bergeser, mendekat pada Iwan sehingga kontolnya berada tepat di depan mulutku yang penuh dengan kontol Iwan. Bram memukul-mukulkan kontolnya yang berliur itu ke pipiku. Mau-tak mau, aku melepaskan kontol Iwan dan menggantikannya dengan kontol Bram.

Pada dasarnya, kontol mereka kelihatan hampir sama. Namun, kontol milik Bram nampak lebih besar. Mungkin Karena pemiliknya adalah pria yang berotot. Begitu kontol Bram mendarat dalam mulutku, aku langsung dihadiahi dengan berliter-liter cairan kelaki-lakiannya. Aahh.. Enak sekali.. Aku menyedot, menghisap, menjilati, dan menggigit kontolnya. Aku mengkhayalkan kontol mereka berada di dalam liang duburku secara bersamaan.. Pasti akan terasa asyik sekali.. Seolah-olah dapat membaca pikiranku.

Iwan berkata, "Sabar saja, sayang. Nanti kamu akan mendapatkan kedua kontol kami di dalam pantatmu."

Iwan mengocok-ngocok kontolnya sambil menikmati caraku menghisap kontol temannya itu.

"Kami akan mengisi perutmu dengan sperma kami, sampai kamu kebanjiran. Kamu mau kan?"

Saya hanya mengangguk sambil terus menikmati kontol terlezat yang pernah kuhisap. Menghisap kontol memang hobiku. Daripada menghisap rokok, lebih baik menghisap kontol. Lebih enak, segar, dan sehat.

Bram nampaknya larut dalam hisapan mautku. Sambil mengerang tertahan, dia memejamkam matanya rapat-rapat dan terus memaju-mundurkan kepalaku.

".. Aarrgghh.. Yeah.. Hisap terus kontolku.. Yeah.. Seperti itu.. Lebih kuat lagi, sayang.. Aarrgghh.." erangnya.

Aku terus menghisap batang itu dengan bersemangat. Sesekali, aku meraba-raba pelernya dan juga dada bidangnya yang perkasa. Aahh.. Iwan yang tak mau ketinggalan, menggosok-gosokan cairan pra-ejakulasinya ke mukaku. Aku tahu keinginannya. Maka dengan adil, aku menghisap kontol mereka berdua secara bergilir. Sementara aku menghisap kontol Iwan, tanganku mengocok-ngocok penis Bram. Dan begitu sebaliknya.

"AArrgghh.."

Tiba-tiba, Bram menjauhkan kontolnya dariku.

Dia berkata, "Saatnya untuk dingentotin."

Tangannya menepuk pantatku keras-keras. Jantungku berdebar-debar. Dari dulu memang saya sering membayangkan nikmatnya disodomi, namun aku belum pernah mencobanya. Bagai domba yang digiring, saya digiring ke tempat tidur. Kedua pria perkasa itu akan segera merenggut keperjakaanku. Iwan membaringkan tubuhku ke atas ranjang dengan mesra sambil tetap menciumi bibirku.

Tubuhku terbaring telentang dengan kedua kaki terkangkang lebar-lebar sementara Iwan berdiri tepat di pertengahan selangkanganku. Bram berdiri di samping ranjang dan segera mendorong kepala penisnya masuk ke dalam mulutku. Dengan lahap aku menghisap batang itu kembali. Aahh, nikmatnya. Cairan pra-ejakulasi tak henti-hentinya mengalir keluar dari lubang kencing milik Bram.

Dengan penuh nafsu, Bram meremas-remas dadaku sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

".. Yeah.. Hisap kontolku.. Loe suka kontolku, 'kan? Yeah.. Hisaplah seperti seorang penghisap kontol yang baik.. Buat gue ngecret di mulutmu.. Hisap kontolku.."

Kontolnya didorong lebih dalam lagi, sampai-sampai kepala kontolnya mengenai dinding kerongkonganku. Kontan saya tersedak, namun Bram tak sudi melepaskanku. Sebaliknya, dia makin bernafsu, seakan-akan senang melihatku tersiksa seperti itu.

Aku hampir kehabisan napas namun tetap berusaha sekuatnya untuk mengikuti ritme sodokan kontol Bram. Sementara itu, Iwan meraba-raba perut dan kemaluanku. Dengan lembut, dia berkata,

"Jangan takut, takkan sakit, kok. Yang penting, jangan dilawan. Biarkan saja kontolku masuk. Santai saja."

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang besar dan basah sedang berusaha membuka paksa lubang pantatku. Pelan namun pasti, benda itu mulai bergerak masuk ke dalam anusku. Sakitnya tak terlukiskan. Untuk pertama kalinya, bibir anusku terbuka lebar dengan paksa, perih sekali. Aku merasa seakan-akan bibir anusku akan sobek seperti plastik yang terkoyak.

"AARRGGHH..!" tangisku.

Namun tangisan and eranganku tak dapat keluar dengan bebas sebab mulutku tersumpal kontol Bram yang besar dan lezat itu. Hanya suara-suara eranan tertahan yang tak jelas yang terdengar.

Akhirnya kepala kontol Iwan telah masuk seluruhnya ke dalam tubuhku. Anusku mencengkeram batang kejantanannya kuat-kuat, tak ingin melepaskannya. Meskipun anusku berdenyut-denyut tak karuan, namun aku sangat menikmatinya. Rasa sakit itu bercampur dengan kenikmatan. Kenikmatan yang kuperoleh dari kontol seorang lelaki. Iwan hanya tersenyum mesum melihat kenikamtan yang jelas tergambar di wajahku. Dia tahu benar seperti apa sifatku. Sifat itulah yang sering dia temukan pada diri semua pelacur. Dia tahu benar betapa aku menikmati keberadaan kontolnya di dalam tubuhku. Setetes cairan pra-ejakulasi menetes di dalam duburku dan mengalir masuk ke dalam ususku. Aku hanya dapat mendesah kenikmatan sambil tetap menghisap kontol Bram.

Tanpa memberi aba-aba, Iwan mulai menggenjot pantatku. Dipompakannya penisnya yang besar itu masuk-keluar, masuk-keluar, masuk-keluar, terus menerus. Semakin lama, pompaannya semakin kuat, seakan ingin menanamkan seluruh batangnya ke dalam tubuhku dan 'menghamiliku' dengan benih-benihnya. Tubuhku berguncang-guncang dengan hebat, seiring dengan sodokan kontol Iwan yang makin bertenaga.

Bram nampak mulai bernafsu. Wajahnya mulai berubah kemerahan, menahan sesuatu. Rupanya Bram sudah berada di ambang orgasme. Sebentar lagi dia akan segera ngecret.

".. Oh sial.. Gue mau keluar.. Aarrgghh.. Yeah.. Telan semuanya.. Telan air mani gue.. TTEELLAANN..!!" Begitu kata TELAN habis diucapkan, kontolnya menggembung besar di dalam mulutku dan mulai menembakan spermanya. CROT! CROT!

"AARRGGHH..!!", teriaknya.
".. AARRGGHH..!! UUGHH..!! OOHH..!! YEAH!! AARRGHH..!! OOHH..!!"

Tubuh Bram terguncang-guncnag dan bergetar hebat. Setiap tembakan pejuhnya mengirim listrik bertegangan seribu volt ke seluruh tubuhnya.

CROT! CROT!
Iwan yang sedari tadi asyik menggenjot pantatku, rupanya terangsang habis oleh orgasm kawannya itu. Seperti reaksi berantai, Iwan mulai menunjukkan gejala-gejala akan kelaur sebentar lagi.

".. Aakkhh.. Aku.. Kkellu.. AARGHH..!! UUGGHH..!! OOHH..!! AARRGGHH..!! UUGGHH..!! AARRGHH..!!"

Iwan terus-menerus mengerang sambil menembakan cairan kejantanannya, membanjiri ususku. CROT! CROT! CROT! CRET!
Aku sendiri terasa penuh, mengerang penuh kenikmatan.

Bram yang masih merem-melek oleh karena orgasmnya yang luar biasa itu langsung memegangkan kontolku dan mengocok-ngocoknya. Tak ayal lagi, aku pun keluar, dalam beberapa detik saja.

".. Oohh.. AARRGHH..!! OOGGHH..!! AARRGHH..!!"

CROT! CROT! CROT!
Spermaku bermuncratan ke mana-mana, mengenai tubuhku, tubuh Iwan, ranjang, dan tentunya tangan Bram. Badanku menggelepar-gelepar, lubang anusku mencekik kepala kontol milik Iwan yang masih berada di dalam. Kontol Iwan pun melemas begitu tetes terakhir dari pejuhnya menetes keluar.

"AAhh.."

Iwan jatuh menimpa tubuhku dengan lembut, sambil menyisirkan jari-jarinya pada rambutku. Aku sendiri hanya dapat bernapas terengah-engah, letih tapi puas sekali. Bram tak mau ketinggalan. Setelah mengeringkan kontolnya dengan cara menggosok-gosokkannya pada mukaku, Bram berbaring di ranjang dan memelukku. Kami bertiga saling berangkulan, bermain lidah dan bibir. Air liur kami saling bercampur, namun rasanya nikmat sekali. Tangan Bram and Iwan menjamah tubuhku dan mengusap-usap cairan sperma yang menempel pada badanku. Kurasa, aku mulai jatuh cinta pada mereka berdua..

Tamat


The power of love – 1

Awek Pantat Panas CantikNiki adalah cewek paling ngetop di kantorku. Cantik, supel, berduit, dan luas gaul. Terbukti beberapa temanku tertarik dan mencoba mendekatinya, selain dua lainnya yang kutahu pasti diam-diam sudah sering jalan sama dia. Yang satu si Aji seniorku, modalnya kuat (kapal pesiarnya saja ada dua). Satunya lagi Fendi adik kelasku semasa kuliah, ganteng, aktif gaul, dan populer di kalangan cewek. Keduanya kukenal baik.

Aku sendiri cukup bergaul walau tidak tertarik berurusan sama cewek kantor sendiri. Di kantor aku lebih dikenal sebagai orang yang 'serius' dan 'banyak urusan melulu'. Biar begitu, setiap ada waktu aku selalu menyempatkan diri nimbrung sejenak dengan mereka, cewek-cewek kantor. Aku sebenarnya tertarik juga sama Niki, tapi karena 'pertarungan'-nya demikian seru jadi rada malas untuk ikutan. Sampai satu saat, datang peristiwa yang mengawali kedekatanku dengannya.



Mulainya: April 1993 ..

Hujan deras sore itu membuat yang pulang kerja mengumpul di sekitar lobby menunggu ojek payung.
Niki datang terengah-engah dengan berkerudung koran, "Aduuh, tolong dong, mobilku mogok di depan situ."
Aku tidak terlalu mengerti soal mobil, tapi karena berdiri paling dekat, aku duluan merespon.

"Dimana mobilnya Ki..?" tanyaku.
Niki menunjuk ke arah jalan keluar sambil menyerahkan kunci. Kuseret si Joni bule yang ngerti mobil untuk menemani, dan kuserobot ojek payung yang mendekat. Bergegas kami menghampiri mobil itu. Joni langsung membuka kap mesin, aku bisanya hanya megangi payung. Dalam beberapa menit mobil langsung hidup, sementara itu Niki menyusul dengan payung lain.

Kami naik mobil sama-sama. Niki batal kuliah karena telat, lalu mengajak kami makan. Joni menolak karena ada kencan lain, ia diturunkan di kantor, lalu kami jalan. Singkat cerita, setelah kesana kemari bingung cari makan, akhirnya kami hanya nonton di KC, dengan makan malam kentang goreng dan lemper. Selama nonton Niki menyandar ke bahuku, telapaknya yang kedinginan digosokkan ke lenganku. Kami pulang tanpa terjadi apa-apa kecuali satu hal, kami semakin akrab.

Sebelum melanjutkan, aku cerita sedikit soal pribadi. Beberapa tahun lalu pernah kejadian cewekku selingkuh, sialnya aku sendiri yang mergoki. Kami putus, tapi sesudahnya 'barang'-ku sulit sekali berfungsi, padahal hasrat seksualku cukup tinggi. Saat nonton dengan Niki, entah kenapa batangku tiba-tiba bangun mengeras, persis layaknya saat aku normal.

Sesudahnya kami sering jalan sama-sama. Pulang kantor kalau Niki tidak kuliah, kami jalan pakai mobilnya, biasanya makan malam sambil ngobrol bertukar pengalaman masing-masing. Pernah kusinggung tentang hubungannya dengan Aji dan Fendi. Niki hanya ketawa, tapi secara tidak langsung ia cerita soal hubungan dengan keduanya, dan alasan kenapa ia tertarik. Hanya, di antara kami bertiga katanya aku yang paling nyaman diajak jalan, karena yang lain tidak mau terbuka, maunya 'ngumpet-ngumpet'.

Dua bulan berlalu hanya diisi dengan makan, ngobrol, nonton pameran dan hal-hal yang sejenis, tapi kami sudah sangat dekat. Di hari ulang tahunnya, Niki kuhadiahi souvenir dan ciuman di pipi. Lalu satu ketika aku pulang dari tugas ke Bali, ia kubawakan oleh-oleh baju. Spontan ia menciumku di bibir yang membuatku terperangah, terlambat bereaksi. Niki meninggalkanku terbengong-bengong.

Hangatnya: Juli 1993 ..

Malamnya (atau beberapa hari sesudahnya, aku agak lupa) ia mengajakku ke Ancol. Sambil makan bihun goreng ia memintaku cerita tentang pacar-pacarku yang disimaknya dengan antusias. Tentu saja aku cerita yang perlu-perlu saja. Sesudahnya obrolan dilanjutkan di mobil.

Niki duduk di jok driver, aku di sebelahnya. Ia menghidupkan mesin, menyalakan AC dan musik. Lalu sambil berdendang mengikuti lagu (kuingat, lagunya The Beauty and The Beast) ia merebahkan sandaran jok, aku juga. Mengikuti suasana hati, kami berduet sambil tangan saling menggenggam. Lalu terbawa suasana rileks dan syahdu, tangannya yang dalam genggamanku secara naluriah kubawa ke bibir, kucium lembut. Tiba-tiba bibir kami mendekat, kami berciuman.

Seperti air mendidih di panci tertutup, begitu dibuka uapnya menyembur ke mana-mana, begitulah kami. Begitu bibir menempel kami bengong, diam sekian detik, lalu meluap! Ganas lidahnya yang menjelajahi rongga mulutku tidak kubiarkan, lidahku menjulur membelit lidahnya. Sementara bibir menempel ketat, tanganku tidak lagi menggenggam, tapi sudah menjelajah ke pinggang, punggung dan perutnya, lalu dilanjutkan dengan membuka kancing kemejanya.

Niki akhirnya menyeberang ke jok tempatku, merapatkan pelukan untuk menumpahkan kedekatan kami dalam bentuk yang lebih nyata. Jok yang didisain untuk satu orang ternyata muat untuk berdua, bahkan masih cukup ruang untuk saling melucuti pakaian.

Sementara tanganku menyusup ke BRA-nya, Niki membuka Zip celanaku, juga jeans-nya sendiri. Batangku yang tegak mengintip dari pinggir CD makin mengeras oleh remasan jarinya. Aku melepas kaitan BRA, membuat sepasang buah ranum itu bebas mengembang. Penjelajahan jariku di putingnya membuat Niki mendesis seperti kepedasan.

Aku menarik Niki ke atas tubuhku yang telentang di jok. Kurengkuh tubuhnya hingga buah dadanya terjangkau oleh bibirku. Lembut kujelajahi buah ranum itu dengan lidah dan kuhisap putingnya perlahan. Aku berusaha melepaskan jeansnya sampai ke bawah pantat hingga tanganku bebas menyelusup ke dalam CD, mengusap lipatan pangkal pahanya yang basah dibanjiri cairan birahi, membuatnya menggelinjang. Tanganku kutekuk hingga jariku dapat menggapai klitorisnya.

Niki terlonjak oleh sentuhanku. Ia menegang sejenak, lalu sambil menggelinjang menggosok-gosokkan mulut vaginanya pelan ke jari-jariku yang terjepit oleh pangkal paha dan lipatan jeans. Dengan mata terpejam menikmati hisapan di putingnya, gesekan Niki di jariku semakin cepat, dan Niki mengerang sambil mendekap kepalaku erat-erat, lalu melemas dalam pelukanku, ia orgasme.

Sesudahnya Niki mencoba membangunkan penisku yang lemas akibat gesekan jeans yang agak menyakitkan. Aku menolak dan dia agak kecewa (problemku kini, bila ada gangguan sedikit saja yang mengurangi kenyamanan akan berakibat 'burungku' kehilangan kekerasannya). Kuyakinkan ia bahwa aku tidak apa-apa.

Dalam perjalanan pulang kuceritakan problemku itu pada Niki, ia dapat mengerti. Dan kami kembali ngobrol dengan asyik. Kami makin dekat lagi!

Hari-hari berikutnya kami jadi terbiasa petting di mobil (hanya petting karena ternyata ia masih virgin), dan Niki selalu berusaha membantu membesarkan hatiku agar lebih percaya diri. Tapi aku tetap belum berhasil orgasme, sekeras apapun penisku selalu saja pada akhirnya melemas tanpa sebab.

Mendidihnya: September 1993 ..

Suatu ketika kami 'ngetem' di parkiran Taman Ria Senayan (waktu itu masih arena bermain anak-anak, dan kalau malam dipakai parkir warga ibukota yang ingin kencan di mobil). Setelah persiapan beres (pipis, cuci tangan, Aqua dan tisyu, blazer di gantung di jendela) kami mulai bersantai di jok belakang.

Sambil saling melepas pakaian, kami melakukan fastkissing, ia begitu pandai membangkitkan birahi dengan ciuman-ciuman kilatnya di sekujur tubuhku, sehingga begitu lembar terakhir pakaianku lepas, batangku sudah sangat keras.

Ukuran jok belakang hanya sepanjang tubuh lebih sedikit. Di situ tubuh telanjang Niki tergolek telentang dengan kaki kiri terjuntai di lantai mobil, kaki kanannya mengait ke jendela yang dibuka sedikit. Sambil jongkok di depannya, ciumanku menjelajahi leher dan dadanya seraya tanganku mengusap tubuhnya.

Sinar bulan yang menerobos dari rear window membuat tubuh telanjang Niki berkilauan. Buah dadanya yang besar nampak berkilat oleh jilatan lidahku, membuat gairahku memuncak. Sementara tangannya meremas batangku yang makin mengeras, jariku yang licin oleh cairan birahinya menggosok kelentitnya, pelan dan teratur.

Dengan menelungkupi tubuhnya, ciumanku kini menjelajahi perutnya, menggeser ke bawah pelan-pelan membuat tubuh Niki yang hangat bergetar. Lalu kepalaku membenam di antara pahanya yang terbuka, memudahkan lidahku menjilati celah vaginanya. Niki menggeliat mempererat genggamannya pada kemaluanku yang dibasahi dengan cairan yang menetes dari kepalanya, lalu mengocoknya seirama dengan sentuhan lidahku di kelentitnya. Kocokan dan desahannya membawaku pada perasaan yang sudah lama tidak kualami.

"Hmm.. Ki, kayaknya aku mau keluar.." aku berbisik sambil menciuminya.
"Keluarin aja.., gesekin aja ke memek.. Niki juga hampiir.."

Aku berputar, mencoba menindih Niki di jok yang ukurannya tidak memadai untuk kegiatan ini dan berusaha menggesek-gesekkan batang kemaluanku yang sedang pada puncak kekerasannya ke bibir vagina Niki yang sudah banjir oleh cairan kenikmatan yang meleleh dari liang perawannya. Rasa nikmat yang hampir terlupakan kini merambat ke seluruh tubuh, berputar, bergulung, mendesak memenuhi pucuk batangku.

Akhirnya Niki menggeser pantat ke pinggiran jok seraya menekuk kedua pahanya ke atas, sehingga dengan berlutut aku dapat menggesekkan leher kemaluanku di celah vaginanya, menggelitik klitorisnya yang membuat Niki mengerang. Gelombang dahsyat bergulung-gulung di seluruh tubuhku, mendesak-desak ke ujung kemaluan, dan akhirnya menyembur membasahi perut Niki. Akhirnya, AKU BISA ORGASME LAGI! (Aku tidak akan lupa kejadian itu Ki..!).

Dari pengalaman itu Niki menyimpulkan bahwa untuk dapat orgasme aku harus santai, tidak buru-buru, telanjang total dan privacy. Sejak itu petting dilakukan di hotel, motel, atau kalau terpaksa di mobil harus di tempat yang bebas gangguan.

Aku dapat memijat sedikit, dan Niki menyukainya. Biasanya Niki telungkup, kumulai dengan memijat telapak kaki, paha, pantat terus naik ke punggung. Saat memijat lengan, kadang-kadang Niki sudah tidur. Aku biarkan saja sementara aku baca-baca atau nonton film. Saat ia bangun baru kami mulai bercumbu.

Pernah juga saat aku telentang dan ia di atas menciumiku, tiba-tiba ia memborgolku di tempat tidur. Aku telentang tidak dapat menggerakkan tangan, hanya dapat mengejang dan menyepak. Sementara ia dengan ciuman dan jilatannya di seluruh tubuhku membuat batang kemaluanku tegak mengeras. Niki lalu menunggangiku, menyusuri leher kemaluanku dengan belahan vaginanya yang basah oleh cairan birahi. Kelembutan bibir vagina yang basah mengusap leher dan kepala kemaluanku, membuat rasa nikmatku membubung tinggi. Dengan cepat aku mencapai orgasme.

Niki juga menyenangi posisi konvensional. Aku di atas dengan tangan menggenggam batang kemaluan, terus helm-ku kuusapkan di mulut vaginanya. Cairan pembuka yang menetes dari ujung penis membasahi permukaan bibir vagina, melicinkan sentuhan ke klitorisnya. Rangsangan itu membuat cairan vaginanya membanjir. Kepala kemaluanku yang berlumuran cairan menjelajahi klitoris dan mulut vaginanya membuat Niki menggelinjang, mengerang sambil mencakari punggungku sampai ia orgasme.

Tiba giliranku, Niki merapatkan pahanya, menjepit batang kemaluanku yang basah licin menggesek di mulut vaginanya seolah digiling-giling. Dengan menggerakkan batangku keluar masuk jepitannya, maka tidak lama kemudian aku pasti menyusul.

Bersambung ...


Terperangkap

Awek Pantat Panas CantikNama saya, sebut saja Linda, married, belum punya anak. Saya dan suami kebetulan keturunan Chinese. Bedanya saya lahir di salah satu kota di Jawa, sedangkan suami saya lahir China sana. Cerita ini terjadi saat misoa saya sehabis bulan madu 3 bulan, langsung tugas ke Abroad (sampai saat itu sudah hampir 4 bulan) jadi total 7 bulan after married kejadiannya. Tidak ada dia puyeng rasanya kepala (biasa bermesraan, maklum baru).

Di suatu siang saat saya naik taksi ke arah Senen dari Megaria tiba-tiba di radio terdengar Jakarta rusuh. Sopir panik, akhirnya setelah di pertigaan Salemba tidak jadi ke kiri langsung ke arah perempatan Matraman. Tanpa pikir lagi taksi dibelokkan ke arah Pramuka. Untungnya saat itu terdengar di radio bahwa perempatan Rawamangun (by pass) terjadi pembakaran. Akhirnya taksi dibelokkan ke satu hotel besar di Jl. Pramuka (Hotel S). Sesampai di sana sopir minta maaf dan lapor satpam, saya diturunkan di situ, satpam marah. Namun seseorang menghampiri, orangnya gagah, necis, berjas, hitam tinggi besar, educated, sopan. Dia bilang sesuatu ke satpam akhirnya satpam membolehkan saya sementara waktu beristirahat sambil memantau keadaan lalu lintas.



Saya diberikan tempat/kamar di lantai 10, bersih. Ngeri juga, mana sendirian lagi. Tapi mendingan daripada di luar. Tak terasa sudah sore, ada yang mengetuk, pelayan menanyakan mau makan apa? Saya bilang tidak usah, mau pulang saja. "Di luar masih rusuh Bu, tuan bilang tinggal aja dulu di sini, sampai keadaan aman," sahut pelayan. Dalam hati, tuan siapa? Saya diberi handuk dan peralatan mandi. Ragu juga mau mandi, takut ada yang mengintip. Ah ada akal, saya matikan lampu kamar mandi terus mandi buru-buru yang penting bersih plus gosok gigi. Tak lama hari mulai gelap, makanan datang disertai pelayan dan lelaki hitam yang simpatik itu. Dia tersenyum mensilakan saya mencicipi hidangan bersamanya, pelayan disuruh pergi. Karena memang sudah lapar saya makan, sambil sesekali menjawab beberapa pertanyaannya. Mukanya berubah saat saya menjawab bahwa sudah bersuami dan sedang ditinggal tugas hampir 4 bulan. Selesai makan kami tetap ngobrol kesana kemari, sampai pelayan datang lagi membersihkan meja, dan pergi lagi dengan meninggalkan kami berdua. Saya ingin cepat-cepat keluar dan tiba di rumah.

Seperti mengetahui jalan pikiran saya dia menghampiri dan mencoba menenangkan, "Tenang saja dulu di sini, kalau perlu nginap semalam, lebih aman." Tangannya menggenggam jemari saya. Besar sekali dan terkesan kuat/kekar.
Dia bilang, "Panggil saya Marvin saja!"
"Bolehkah saya panggil Linda saja? Biar akrab?" tanyanya.
Terpaksa saya mengangguk. Merinding tubuh saya disentuh lelaki lain selain suami. Dia mengelus-elus lembut tangan saya. Mendesir seluruh peredaran darah saya. Antara ingin menepiskan dan keterpesonaan pada penampilan fisiknya yang sangat seksi menurut penilaian saya. Ah, tapi sepertinya dia orangnya baik juga, mungkin dia turut prihatin atas keadaan saya. Dilihat dari pakaiannya dan bau parfumnya jelas pria asing ini dari kalangan berduit. Tampangnya perpaduan orang India, Arab, Afrika, atau Negro Amerika. Rambutnya agak plontos. Giginya putih. Tingginya antara 185 sampai 190 cm. Lebih mirip bodyguard.

Tiba-tiba saya merasakan agak pening, tanpa sadar saya memijit-mijit kening sendiri. "Are you Ok?" katanya, sesekali memang dia bicara Inggris, meskipun telah fasih bahasa Indonesia (sudah 10 tahun katanya di Jakarta). Saya tak bisa menolak saat, dia membantu memijit-mijit kening saya, lumayan juga agak mendingan. Saya disuruh istirahat dulu dan dibimbingnya ke kamar tidur. Spreinya warna biru muda polos, tembok kamar kuning muda, sangat kontras. "Tiduran dulu aja," katanya. Saya takut. Tapi demi menyadari bahwa itu percuma, saya hanya berharap semoga tak terjadi apa-apa. Saya berbaring, sementara dia duduk di pinggir tempat tidur. Sangat riskan karena sewaktu-waktu dia dapat menyergap dengan mudah.
"Lin, telungkup aja!" katanya.
Yach, untunglah agak mendingan, begini.
"Biar lebih enakan, saya pijitin punggung kamu yach," katanya.
"Tidak usah Mister, eh Marvin.." kata saya.
Tapi dia telah mulai memijit tengkuk saya, bahu, oouhh enak sekali, pintar juga dia. Punggung saya mendapat giliran. Saking enaknya tak terasa dia juga memijit bokong saya, paha, betis sampai mata kaki dan telapak kaki. Segar rasanya tubuh ini.

Dia minta saya buka baju (kurang ajar orang ini!). Dia bilang mau dikasih lotion biar tidur enak dan tambah segar.
"Marvin, saya ini orang baik-baik dan bersuami, kamu tidak akan macam-macam kan?" tanya saya.
"Tidak dong Lin," katanya.
Dia membantu membuka baju saya, dan eehh celana saya dijambretnya sekalian. Saya tinggal ber-BH dan CD. Sementara dia masih berjas. Terakhir baru dia melepas jasnya, tapi tetap berkemeja dan celana panjang. Dia melumuri bagian belakang tubuh saya dengan lotion yang enak baunya. Saya tambah keenakan dipijit begitu. Hilang rasanya semua stres. Saya diminta berbalik/baring. Nach, ini masalahnya. Dia senyum seperti cuek, memijit kening dan kepala, leher, dada (ough tidak menyangka termasuk kedua payudara saya (yang masih ber-BH) diputar-putarnya. Saya kaget, tapi belum sempat protes dia telah pindah ke perut dan pinggang, seolah itulah prosedurnya. Kembali saya terdiam, dan sekarang sampai ke paha, dia juga memijit-mijit CD saya.

"Stop Marvin..!"
Tapi dia diam, terus pindah ke kaki.
"You are so beautiful Linda," katanya sambil menduduki betis saya.
"Oh God, help me please.." dalam hati.
Tapi dia tidak memaksa, lembut, sopan, dia buka kemeja dan kaos dalam. Wow, sangat menggiurkan, kokoh, atletis, otot-ototnya terlihat, bulu dadanya itu, seksi sekali. Kelihatannya dia orang yang peduli dengan keindahan tubuhnya. Mirip binaragawan. Ah, saya tersadar saya bersuami.
"Marvin jangan..!" teriak saya.
"Apa Babe..? katanya sambil kedua tangannya menggenggam kedua tangan saya.
Oh, dia mulai mengecup mata saya (saya dipaksa), pipi saya, bibir saya, tapi saya tutup mulut saya rapat-rapat, saya tersinggung, saya tak rela lidahnya menjilat-jilat lidah saya. Agak kesal dia turun ke leher, dan tampaknya siap mencupang.
"Ohh jangan Marvin, nanti kelihatan orang, pleasee.."
Dia berhenti.
"Kalau gitu yang tidak terlihat ini dong.." katanya.
Dia membuka BH saya, dan mulai menghisap puting kiri saya. "Ooughh.." mendesir sekujur tubuh saya sampai ke kemaluan saya. Tangan saya melemas tak berdaya, apalagi jemari kirinya yang kokoh memilin-milin puting kanan, tangan kanannya meremas-remas pantat saya.

Mulutnya kemudian saling berpindah dari puting kiri ke kanan dan sebaliknya. "Payudaramu indah sekali Lin, I like it, not too big. Yes, it's really an asian taste," katanya. Tak tahan saya menerima permainannya, sangat lain, beda, pintar sekali. Payudara saya langsung mengeras. Kedua puting saya kontan meruncing, tegak. Kombinasi antara lembut dan terkadang agak kasar ini, belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya sering dihisap begini oleh suami tapi tak pernah senikmat ini. Apakah karena sudah terlalu lama menganggur? Terbengkalai? Gersang? Perlu siraman? atau birahi saya yang memang terlampau besar? Tak terasa tahu-tahu dia telah meninggalkan beberapa cap merah di sekeliling kedua payudara saya yang telah kencang. Jemarinya mulai merasuk ke belahan kemaluan saya, tangan satunya meremas-remas pantat saya. Ogh! dia menggesek-gesek liang kemaluan saya dengan jemarinya. Ooouuww, serangan bersamaan di lubang kemaluan dan hisapan puting menyebabkan saya orgasme, yang pertama setelah 4 bulan lebih libur panjang. Tanpa sadar mulut saya terbuka menahan nikmat. Dasar dia canggih, tahu kesempatan, mulutnya menyumpal mulut saya, dan lidahnya saat ini berkesempatan menari-nari mencari lidah saya. Saat ini tak sanggup saya menolaknya. Oouuh, enak sekali.

Saya tanpa sadar membalas jilatannya. Sementara kemaluan saya membanjir dengan CD yang telah terlepas entah kapan. Jari tengahnya mulai menusuk-nusuk perlahan ke dalam lubang kemaluan saya. Ouugh, semakin dalam, dalam sekali, belum pernah saya ditusuk sedalam ini, oouugh nikmatnya. Jarinya saja panjang begini apalagi "burung"-nya. Sejenak saya tersentak,
"Marvin, cukup.. saya tidak mau kamu melakukan itu," kata saya.
"Itu apa?" katanya.
"Itumu jangan dimasukkan, Marvin."
"Why?" tanyanya.
"Your thing is too big," jawab saya.
"Ahh, ini cuma jari," katanya lagi.
"Janji ya.. Marvin, dan tolong pintunya dikunci dulu nanti ada yang masuk."
Dia malah menyahut, "Tidak ada yang berani ganggu saya, kamu aman sama saya," kata Marvin meyakinkan.

Saya agak tenang, untuk selanjutnya kembali menikmati permainannya yang sangat spektakuler. Saya lupa bahwa telah bersuami. Marvin mulai membuka celana panjangnya. Belum sempat protes, dia telah menyergap mulut saya lagi, yang sekarang sudah hilang kekuatan untuk menghindarnya. Saya jelas saat ini telah telanjang bulat, dia tinggal ber-CD. Mulut dia kembali menghisap puting saya terus ke pusar, dan serta merta dia menjilati lubang kemaluan saya dengan kecepatan tinggi. Wooww, nikmat. Seolah dia menemukan permainan baru tangan dan mulutnya berkecimpung di sana. Saya hanya bisa mendesah, mendesis, melenguh. "Uuueehhggh.. Oh! Oh! Oh! Oouughh.." Selagi asyik begitu dia langsung stop! dan mendekap saya, seraya berbisik di telinga,
"Enak tidak Babe," saya mengangguk.
"Mau lagi?" katanya. Saya mengangguk.
"Kalau mau lebih enak, dimasukin ya?"
"I'm afraid Martin, please.. help me. Ooogghh.."

Saya sudah tak kuasa menahan dorongan yang sangat aneh dari dalam tubuh ini. Belum pernah senelangsa ini, benar-benar pasrah.
"Ooohh, Marvin.."
Sepertinya dia ingin menyiksa saya dalam kehausan saya.
"Punya suamimu berapa panjangnya?" tanyanya.
"Lima belas," jawab saya.
"Wow so panjang, 15 inch?" tanyanya lagi.
"No, Marvin.. 15 cm," jawab saya.
"No problem, punya saya cuma selisih sedikit, nanti kalau kepanjangan tidak usah dimasukin semuanya yach..?"
"And supaya tidak kaget you kenalan dulu, pegang dulu, kulum dulu, Ok? Don't worry Babe," hiburnya.

Dia kembali melakukan serangan dengan menjilati kemaluan saya. "Ooouughh," kemudian menghisap puting saya. "Ouuggh," sambil tangannya melepas CD-nya. Lidah kami saling mencari saling membutuhkan, dan tampaknya ada sesuatu yang lembut agak keras, besar, panjang menempel di atas paha saya.
"Honey, saya tahu you sudah tidak tahan, dan seandainya saya pergi, terus ada lelaki lain masuk mau ngegantiin saya, you pasti mau juga 'kan?"
"No.. Marvin, please entot saya Marvin.." pinta saya.
Meskipun dalam hati membenarkan apa yang dikatakannya karena sudah terlampau berat dorongan ini, pingin segera dicoblos pakai apa saja, punya siapa saja. Ah, saya dipaksa duduk melihat punyanya. Woow, besar sekali dan panjang. Hitam sekali, agak ungu, biru, kokoh, mana mungkin bisa masuk. Saya dipaksa untuk memegangnya, saking besarnya tidak cukup satu tangan, harus dua. Diameternya lebih panjang dari pergelangan tangan saya. "Gede mana sama punya suamimu?" tanyanya.

Saya diam karena ngeri. Panjangnya hampir 2 kali barang suami saya. "Ayo dikulum dulu!" Saat itu entah kenapa mungkin karena saya sedang terangsang, saya turuti saja apa maunya. Mulut saya hanya mampu menerima kepalanya saja, itupun harus membukanya lebar-lebar.
"Sudah ah.." kata saya.
"Kamu siap ya.." katanya.
"Sebentar aja ya!" kata saya lagi.
Marvin sangat memperhitungkan kondisi saya, dia tidak terburu-buru, dengan mesra dia mencumbui saya lagi, menghisap puting, kemaluan, meremas bokong, dan kombinasi lainnya termasuk menjilati lidah saya bolak balik. Tibalah saatnya, kedua paha saya direnggangkan lebar-lebar. Saat itu saya merasakan nikmat tiada terkira yang diakibatkan oleh serangannya yang seolah terukur dapat mengantar saya ke puncak birahi. Sesaat saya lupa kalau saya bersuami, yang saya ingat cuma Marvin dan barangnya yang besar panjang. Sudah mendongak ke atas, lebih mirip terompet tahun baru. Ada rasa takut, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos barang yang lebih besar, lebih panjang, lebih hitam. "Ooouugghh," tak sabar saya menunggunya.

Marvin memegangi kedua paha saya yang telah terbuka lebar-lebar, dia masih menjilati terus kemaluan saya yang entah sudah berapa kali orgasme.
"Babe, biar nikmatnya selangit kedua jemarimu coba memilin-milin kedua putingmu bersamaan sambil saya melakukan ini," katanya.
Dan, oh ternyata benar-benar enak. Mengapa suami saya tak pernah memberitahu saya.
"Cepat.. Marvin.. please.. masukkan.."
Kepala burungnya yang besar hitam sudah menempel pelan di bibir kemaluan saya.
"Do you need this big black cock, Linda?"
"Ya, masukkan sedalam-dalamnya, saya tak tahan lagi Marvin, please.. entot saya..!" kata saya.
"Wait.. wait Lin, pintunya 'kan belum dikunci?" katanya.
"Biarin.." kata saya benar-benar sudah melayang tak tahan.
"Nanti orang lain atau suamimu lihat?" katanya.
"Biarin," kata saya lagi.
Dan.. "Bleessh" kepalanya susah payah sudah masuk.
"Wooww sakit.. sakkiitt.. Marvin.." erang saya.
"Sebentar ya..?" katanya terus menggenjot pelan.
"Ooougghh stop.. Marvin!" saya benar-benar merasa kesakitan tetapi campur nikmat.

Saya heran, kok seperti masih perawan saja, padahal sudah diterobos Misoa, cuma memang barangnya kecil. Marvin sebenarnya tinggal napak tilas saja. Ternyata harus membuka jalan baru di sampingnya dan di kedalamannya. "Bagaimana sayang.. masih sakit?" tanyanya. Saya terdiam sebab kadang sakit kadang nikmat. Dia mendorong perlahan sampai kira-kira seperlima panjangnya. Maju mundur, oh mulai agak nikmat.
"Babe, lubangmu ternyata gede juga.. cuma selama ini 'idle' aja.."
"Iya.. Ooouuww sekarang 'full capacity' Marvin.. Oh.."
Marvin terus memperdalam jelajahnya dengan cara menarik sekitar 2-3 cm dan memasukkan kembali 4-5 cm, sampai kira-kira mencapai 50 persen panjangnya. Rasanya kalau suami saya sudah full segini. Marvin terus melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat, sehingga, "Oougghh, Oh.. Oh.. Oh. Oh.." Dia mulai mengisi ruang baru yang tak tersentuh sebelumnya. Sangat terasa sumpalannya, kokoh, kuat, bertenaga, jantan! Fantastis hampir semua miliknya yang panjang itu tertelan, tinggal sedikit. Dan di sinilah keahlian Marvin.

Dia kembali menarik sebagian barangnya, dan mempermainkan kocokan dengan cepat tambah cepat antara kedalaman 30%-60% kira-kira 5 sampai 6 kocokan diakhiri tusukan lembut seluruhnya (100%) terus diulang berkali-kali. Sehingga menghasilkan irama desahan dari mulut saya, "Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Ooouugghh.. Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oouugffhh.." Mana tahan saya orgasme lagi. Marvin sangat memegang kendali, pada saat dia menancapkan seluruh rudalnya, dia diamkan sesaat digoyang-goyang pantatnya, dan berbisik, "Lan.. lihat tuh di kaca.." Oh, tubuh besar hitam kekar sedang menindih tubuh kecil putih mengkilat karena lotion.
"Siapa itu Lin?" katanya, saya diam dia mengocok.
"Siapa Lin? kalau kamu diam saya stop nih," kata dia.
Terpaksa saya jawab, "Marvin!"
"Sama siapa?" tanyanya.
"Saya.. Linh.. daah.. ah.."
"Who is Marvin?"
Ough, belum dijawab dia mengocok lagi, nikmat sekali permainan ini selama 3 bulan lamanya bulan madu paling saya mengalami orgasme hanya 3 kali. Ini belum semalam saja sudah lebih 5 kali.
"Bandingkan saya dengan suamimu, Ok? Kalau tidak saya berhenti," katanya.
"Oh.. no.. jangan berhenti Marvin, terusshhkan lebih kerass lebih dalammhh."
"Tapi jawab dong!" bentaknya.
"Iyyaahh.. Marvin," sambil dia menghantam-hantamkan rudalnya sepenuh tenaga, saya merasakan kedua bijinya menyentuh-nyentuh kemaluan luar saya menambah sensasi kenikmatan.

Tak tahan dengan kenikmatan yang amat sangat, saya mencoba menyongsong setiap hantaman rudalnya dengan cara mengangkat pinggul/pantat setinggi mungkin. Pada saat dia menekan, menusuk saya songsong dengan mengangkat pinggul, sehingga hantamannya yang keras semakin keras cepat, dan nikmat. Tubuhnya saya terguncang-guncang naik turun seirama hentakan perkasanya. Sekilas terlihat dari cermin, latar belakang tembok kuning muda, sprei biru muda, tergolek pasrah wanita putih mulus mungil ditindih seorang pria hitam besar dengan penuh nafsu. Tak ada pancaran ketakutan sedikitpun dari wajah si wanita, selain pancaran wajah penuh birahi.

Sambil menikmati kocokannya, saya berusaha menjawab pertanyaannya.
"Marvin lebih kuat.. Oh!"
Dia menyeringai dan mempercepat kocokannya.
"Marvin lebih gede.. Ouugghh.. Haa!"
Dia menahan untuk kemudian menghentak dengan satu dorongan kuat.
"Marvin lebih pintarr.. ouwww.."
Dia menusuk dengan perlahan namun pasti sampai masuk semuanya.
"Marvin lebih panjaanngh.. Hoh.. Hohh.. Aw!"
"Marvin lebih lamaa.. aahh.. Oh!"
"Marvin.. lebih.. jantaanhh.. usfgghh! perkasaa.. Oh.. Oh.. Oh.. uuhh!"
"Marvin sangat nikamatth.. ennakhh terussh sayang.. teruszhh.. oouugghh mmhh.."
"Lin, aku mau keluar, di dalam nggak apa-apa atau dicabut?"
"No, jangan dicabut, keluarin di dalam saja Sayang.."
"Enak mana sama punya suamimu?" katanya.
"Enak inni.. hh.. Marvin!" kata saya jujur.

Pada saat itu saya juga akan mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Marvin tiba-tiba merenggut, menjambak rambut saya. Dihentak-hentakkan. Oh, ternyata mampu mempercepat orgasme saya.
"Ooouughh.."
"Seerr.."
Semprotannya kencang sekali. Dibarengi dengan semburan cairan kewanitaan saya tanda pengakuan akan kenikmatan yang diberikan Marvin. Marvin masih terus mengocok pelan-pelan, setelah agak lama baru dikeluarkan rudalnya, dan saking penuhnya isi kemaluan saya, terdengar bunyi "Plop!" saat barangnya dicabut.
"Berapa sih panjangnya Marvin?"
"Cuma 23 cm."
Oh, pantas sampai sesak rasanya.
Saya tersadar, "Oh.. Marvin saya takut hamil!"
"Nungging aja, biar sperma saya balik lagi."
Terpaksa saya menungging. Melihat saya begini, dasar nafsu dan tenaganya memang Ok, Marvin menghajar saya lagi dari belakang. Dasar barangnya memang kuat, besar dan panjang tidak ada kesulitan sedikitpun menyelusup dari arah bawah belakang. Yang ada cuma saya dengan kenikmatan baru seolah tanpa akhir. Mimpi apa semalam, kok dapat pengalaman yang aneh begini, tapi nikmat sekali. Sulit untuk disesali.

Demikian cerita saya, jika ada pembaca yang ingin bertukar pikiran (cowok atau cewek), silakan hubungi saya melalui e-mail.

TAMAT


There he goes – 4

Awek Pantat Panas CantikChap IV

"Lucas berubah, Van."
"Berubah?" Vanka menatapku dengan pandangan heran.


"Maksud kamu?"
Kutatap siswa-siswa lain yang lalu lalang di depanku.
"Entahlah.." jawabku lirih.
"Dee, kamu kenapa..?"
"Nope. Nothing," jawabku mengelak.

"Aku buka, ya?" Dengan nafas tersengal Luke berbisik di telingaku.
"Jangan, Luke.." desahku mengerenyitkan alis.
Kulihat kaca mobil sudah dipenuhi embun. Keringat menetes di keningku.
"Please.." matanya memohon. Memohon lagi.
"Sudah, ya..?" bisikku seraya memeluk lehernya, berharap Lucas menghentikan semua kegilaannya. Tapi Lucas menarik tubuhnya dan melepaskan rangkulanku.
"Oke kalau begitu.." pemuda itu meraih dan menarik retsleting celananya.
"Ngga mau!" seruku seraya memalingkan wajah.
Lucas sudah gila!

"Dee.." kudengar Lucas mendesah di samping telingaku.
Tidak! Mendadak Lucas meraih tanganku dan kurasakan jemariku menyentuh sesuatu yang keras. Ya Tuhan! Kutarik cepat-cepat tanganku. Tapi Lucas meraih pundakku dan membalikkan tubuhku, melumat bibirku liar dan membaringkanku di jok. Sejenak kurasakan benda keras itu menusuk celana dalamku.
"Lepaskan! Lepaskan, Luke..!"
Tapi lucas menahan tanganku, menindih tubuhku dengan berat tubuhnya, membuka kedua pahaku dan menekan benda keras itu ke kemaluanku.
"Ahk! Sakit, Luke!"
Lucas seolah tak mendengar teriakanku. Benda itu masih menekan dan menggesek. Akhirnya dengan sekuat tenaga kutekuk lututku dan menendang pundaknya.

"Lepaskan..!"
Luke terlempar ke sisi lain mobil. Suara berdebuk terdengar saat kepalanya membentur jandela. Kulihat Lucas meringis dan memegangi kepalanya. Air mata mulai mengalir ke pipiku. Kutekuk tubuhku dan menutupi mulutku tanpa menatapnya.
"Aku ngga mau, Luke."
Kudengar Lucas mendesah lau menjatuhkan kepalanya di pahaku.
"Maafkan aku, Dee."
"Jangan, Luke. Aku ngga mau."
Lucas mengangat tubuhnya dan menempelkan kepalanya di bahuku.
"Aku tahu, Dee. Aku juga ngga mau. Aku hanya ingin menunjukkan padamu tentang segala sesuatunya aku.." pemuda itu berbisik dan mengecup daun telingaku.
"Dee.." bisiknya setelah aku tetap diam tanpa reaksi.
Lucas meraih pundakku dan mendekapku.

Masih tak berani kutatap dirinya. Lucas meraih tanganku sambil berbisik, "Please," dan meletakkannya lagi di atas benda keras itu. Kututup mataku dan mulai menangis lebih keras.
"Touch me, Dee. It's me. Aku, Lucas."
Kurasakan jemarinya melipat jemariku hingga menggenggam benda keras itu. Sesuatu menghalangiku untuk menolak. Apa maksudnya semua ini? Mengapa aku jadi begini?
"Look at me, Dee. Buka matamu."
Aku tak mau melihatmu!
"Dee, please," Lucas menarik daguku dan mengecup bibirku.
"Aku mau kamu tahu semua tentangku, Dee. Tanpa apapun yang harus dirahasiakan."
Kubuka mataku dan menatap matanya. Lucas tersenyum dan mengecup kedua mataku.

"Lihat ke bawah. Yang itu milikku." Suaranya terdengar begitu lembut.
Kutundukkan kepalaku, dan pertama kali itulah dalam hidupku kulihat alat kelamin seorang lelaki, selain kepunyaan Alex yang masih kuingat saat kami dulu sering mandi bersama waktu kecil. Bentuknya besar dan panjang dengan urat-urat yang melingkar. Sesuatu di ujungnya seolah tersenyum dan mengajakku berkenalan.
"Sudah..?" tanyaku pada Lucas.
Lucas mendesah. "Kamu sama sekali tidak tertarik, ya?"
"Ngga.." jawabku terus terang.
"Tapi itu aku, Dee. It's part of Lucas too."
Kutatap lagi benda yang masih kugenggam itu.
"Lalu..?" Pikiranku kosong. Sesuatu membuatu sakit hati dan kehilangan nalar. Dan Lucas menunjukkan cara memainkan batang penisnya. Menjijikkan.

"Sudah?"
"Kok nanya begitu terus?"
"Capek.." ucapku pendek seraya masih menggerakkan jemariku menarik-narik batang kemaluannya.
Lucas tertawa. Dan aku membenci tawa itu.
"Kalau begitu ya sudah. Tapi.."
"Apa lagi..?" tanyaku memalingkan wajah.
"I want to see you too."
Jadi begitu ceritanya. Tersenyum kutatap matanya. Benakku benar-benar kosong. Dan sesuatu merasukiku.

Kujauhkan tubuhku sampai bersandar ke pintu belakang dan mengangkat kakiku ke atas jok. Kutatap mata Lucas dalam sebelum memejamkan mataku dan menarik kepalaku ke belakang. Kurasakan jemari Lucas menyusup ke dalam rok yang kukenakan, menyingkapnya dan.. "Sshh," desisku saat jemari Lucas meraba kemaluanku. Rasa geli yang aneh menyusup ke tulang punggungku sampai ke otak.
"Ahh.." kudengar Lucas mendesah.
"Dee.."
Nyaris kumenjerit saat merasakan Lucas mulai menjilat kemaluanku dengan lidahnya. Rasa geli yang amat sangat membuatku mengangkat paha dan menjepit kepalanya di selangkanganku. Lidah Lucas bergerak-gerak di kemaluanku.
"Ahk.." jeritan-jeritan tertahan keluar dari bibirku.

Lucas mengulurkan lengannya dan meremas dada telanjangku dengan gerakan liar. Tanpa sadar aku mulai menggelinjang dan bergerak ke sana ke mari. Lucas mengangkat kepalaku, menarik kedua kakiku hingga kepalaku terjatuh di atas jok. Pemuda itu menarik tubuhnya sendiri dan menindih kemaluanku dengan kemaluannya. Rasa sakit mulai terasa di perut bagian bawahku.
"Jangan lakukan, Luke..!" desahku.
"Ngga kok.." Lucas mengecup kening dan bibirku, meninggalkan rasa hambar yang aneh, lalu mulai menggerakkan pinggulnya, menggesek dan menekan, menimbulkan rasa sakit dan geli yang menyengat seluruh syaraf di tubuhku. Membuat tubuhku meronta dan menggelinjang, dan suara-suara desahan keluar dari mulutku. Lucas menunduk dan mengecup bergantian kedua payudaraku, sementara pinggulnya terus bergerak.

Akhirnya kurasakan pinggulnya menekan dalam permukaan liang kemaluanku. Semula kukira batang kemaluannya sudah memasukiku, sehingga aku sempat tersentak kaget. Namun dalam hati aku bersyukur karena ternyata tidak. Tapi perutku terasa panas. Lucas mengangkat tubuhnya dan melirik ke bawah lalu tertawa. Keringatnya menetes di dadaku. Ingin tahu, kuangkat pinggangku dan melihat di atas bulu-bulu kemaluanku menempel cairan lenget berwarna keputihan.
"I love you, Dee.." Lucas mengecup lagi bibirku.
Hatiku hancur.

Chap V

"Kamu kok diam sekali hari ini, Dee? Bukan hari ini saja sih, sejak beberapa hari yang lalu." Vanka mengomel panjang lebar keesokan harinya di sekolah.
Kulirik sahabatku dan tersenyum pahit. "Entahlah."
"Dee..? Cerita dong..! Kamu kan tahu aku sahabat kamu. Dan calon kakak ipar kamu juga sih.." sahut Vanka membuatku merasa geli juga.
"Aku mau memutuskan hubunganku dengan Lucas."
"Hahh..?" Vanka terlihat terperanjat.
"Iya. Mumpung belum keterusan."
"Keterusan? KETERUSAN..?" Dan dengan air mata kuceritakan semua kejadian itu padanya.
Vanka mendengarkan dengan mata membelalak.

"Van, kamu apain si Dita kok nangis..?" mendadak salah seorang teman sekelasku menyeletuk.
Anak itu langsung kaget ketika Vanka berdiri tiba-tiba dan memukulkan tangannya ke meja.
"BANGSAT..! Akan kubunuh jahanam itu..!"
"Van.." isakku menahan, beberapa anak mulai menghampiri kami.

"Putus..?" Lucas menatapku terkejut.
"Yap..!" ucapku pendek menoleh ke arah lain.
Mungkin lebih tepat disebut mengalihkan pandanganku daripada aku melihatnya dan menangis.
"Dee, aku.. aku.." Lucas memegang bahuku tapi kusentakkan.
"Sory, Luke. Semuanya sudah berakhir."
Kulangkahkan kakiku menghampiri Pak Oto yang sudah menepikan mobil di trotoar.

"Dee..! DEE..!" Lucas memanggil-manggil dari balik jendela mobil.
"Jalan, Pak..!" ucapku pada Pak Oto.
Kudengar Lucas masih berusaha mengejar laju mobil seraya mengetuk-ngetuk jendela di samping tempatku duduk. Kupalingkan wajahku ke arah lain dan mulai menangis. Lucas masih mengetuk.
"Mau saya hajar, Non..?" Pak Oto berkata gusar.
Kugelengkan kepalaku lemah. Akhirnya suara ketukan itu hilang. Kubiarkan tangisku membanjir.

Bagaimanapun, setelah semua yang dialami walaupun hanya dua setengah bulan. Rasa suka dan cinta yang sudah ada sejak dua tahun yang lalu. Mimpi-mimpi yang jadi kenyataan. Patched dreams that became true.. Semuanya berakhir sampai di sini. Hancur lebur sudah.

Chap VI

Dear Dita, Mungkin kamu tidak mau membaca surat ini, atau mungkin bahkan tidak mau menerimanya sama sekali. Tapi, seandainya kamu mau.. tidak.. bahkan seandainya ada seseorang yang menemukan surat ini setelah kamu membuangnya, membacanya, dan membertahukan isinya kepadamu, aku akan sangat-sangat bersyukur. Dita, sekian lama hatiku lebur saat kamu memutuskan hubungan kita. Semuanya terasa begitu indah walaupun tak sampai tiga bulan. Dan aku.. aku telah merusaknya. Aku tahu itu. Tapi bahkan kamu tidak mau menerima maafku. Tidak bahkan surat-surat dan telepon yang kutujukan padamu. Dita, aku minta maaf. Sedalam-dalamnya. Dari lubuk hatiku. Ini surat terakhir yang mungkin kualamatkan padamu. Aku ingin menemuimu saat pembagian STTB, tapi teman-temanmu melindungimu dariku. Kamu selalu 'tidak ada' di rumah. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku akan pergi ke London lewat Jakarta. Pesawatku berangkat pukul 15:40 WIB Rabu ini. Mungkin aku takkan pernah bisa menemui kamu lagi. Dita, kuharap kamu ada di sana mengantarkanku. Aku tahu itu tak mungkin, mengingat kebencianmu yang sebegitu dalamnya padaku. Tapi tak ada salahnya bermimpi, bukan? Mengingat segala yang lalu, aku mungkin tak berharga bagimu. Tapi.. sekali saja. Yang terakhir. Karena aku masih mencintai kamu.. Lucas.

Luke, aku tak pernah tidak membaca surat yang kamu berikan padaku. Bahkan surat bunuh diri yang kamu kirim sebelum kamu overdosis dan masuk rumah sakit. Aku tahu, Luke. Aku tahu semua tentangmu. Tapi aku takut, Luke. Aku takut. Kuremas surat itu dan mulai menangis lagi. Kutatap foto di atas meja. Saat benih terasa begitu indah. Ya Tuhan, mengapa aku tak bisa melupakannya. Bahkan setelah berbulan- bulan? Apakah aku masih mencintainya? Malam itu aku menangis sendirian. Dan aku merasakan kesepian yang dalam itu. Kesepian sejak Lucas tak lagi dalam kehidupanku. Ya Tuhan, katakan kalau aku salah mengambil keputusan.

Chap VII

"Alex, aku sendirian sampai di sini."
Alex menatapku dengan sendu, tatapan mata yang terlau sering kulihat akhir-akhir ini.
"Take care, Dee."
"Kalau dia memintamu kembali, tolak saja!" Vanka mendesis seraya memelukku.
"Vanka!" Alex menyergah.
Dengan mengusap air mata aku tersenyum dan berlari memasuki hall keberangkatan. Ya Tuhan, sekali lagi kumohon. Jangan sampai aku salah.

Kulihat pemuda itu memeluk kedua mama dan papanya. Ah, betapa kurusnya pemuda itu sekarang. Tulang pipinya tampak cekung dan kantung matanya menghitam. Tanpa sadar air mata keluar lagi membasahi pipiku. Tapi aku masih tidak juga berani keluar dari baik tembok ini. Aku hanya berharap pemuda itu melirik ke arahku. Tapi pemuda itu tidak meluruskan kepalanya sama sekali. Menunduk dan tetap menunduk, seolah tak ingin menatap dunia. Apa yang sudah kulakukan padanya? Apa?? Apa yang kulakukan sekarang?!!

"Dee.." bibir pemuda itu bergerak saat menatapku melangkah ke arahnya.
Kuhentikan langkahku dan tak tahan lagi tubuhku terjatuh. Orang-orang mulai mengerumuniku. Seorang penjaga toko membantuku berdiri.
"Dee.." kurasakan telingaku basah saat pemuda itu menyahutku dan memelukku erat. Erat sekali.
Semua kerinduan dalam hatiku tumpah serentak. Aku masih mencintainya! Sekian lamanya kami berpelukan seolah tak ingin terlepas.
"Aku mencintaimu, Dee. Aku minta maaf. Aku minta maaf." Lucas menangis di bahuku seperti seorang anak kecil.
Kupejamkan mataku dan membelai rambutnya. "Aku juga, Luke," desisku lirih, "Aku juga."

"Pesawat Garuda jurusan Jakarta dengan nomor penerbangan GA 718 akan segera diberangkatkan. Bagi seluruh penumpang diharapkan segera menuju ke ruang keberangkatan."

Kudorong pundak pemuda itu menjauh dan menganggukkan kepalaku. Sebuah tangan menepuk pundak Lucas.
"Ayo, Luke. Kamu harus berangkat sekarang."
Kuangkat kepalaku dan menatap wajah ayah Lucas, pria itu tersenyum dan mengangguk ke arahku seolah ingin mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata.
"Dee.." Lucas menghapus air matanya dan tersenyum menatapku.
"Apa, Luke..?"
Lepasnya kerinduan ini begitu singkat.
"Kamu menungguku? Aku akan mencoba berubah."
"Ssshh.." bisikku lalu mengecup pipinya, tak perduli ada kedua orangtuanya di situ, dan mata-mata yang menatap kami.
"I'm your dreampatcher, remember that..?"
Lucas mengangguk, tersenyum, lalu merangkul kedua orangtuanya. Kulihat ibu Lucas menangis, sementara ayahnya memeluk dan menenangkan.

"Bye, Dee." Lucas menatap terakhir kalinya ke arahku sebelum melangkah tanpa menoleh lagi menuju ruang keberangkatan.
"Ayo, Nak. Kita pulang," kudengar ayah Lucas memanggilku 'nak' serasa sebuah simfoni indah yang mengalun lembut di telingaku.
"Permisi, Pak.." ucapku lalu segera berlari menembus penjaga ruang keberangkatan.
"Loh, Mbak! Mbak..!"
Mereka mengejarku. Aku tak perduli. Kucari Lucas dengan pandangan mataku.
"LUKE!! AKU MENCINTAIMU!!" teriakku yang membuat orang-orang memandang ke arahku.
Lucas menolehkan kepalanya dan berlari memelukku, berputar dan mengecup keningku.
"Aku juga, Dreampatcher. Aku juga."
Dan aku menangis di dadanya. Petugas keamanan hanya menggaruk-garuk kepala mereka sambil tersenyum-senyum.

Akhirnya mereka membiarkanku menatap keberangkatan pesawat yang ditumpangi Lucas, sampai akhirnya pesawat itu menghilang di balik awan. Cintaku berangkat jauh, tapi tidak sejauh itu di hatiku. Kutunggu dia pulang untuk bersama membaca mimpi-mimpinya. Dan akan kuwujudkan dengan cinta dan kasih sayangku. Karena aku adalah.. dreampatcher-nya. So it told that when dreams come true Then the sadness be blown away When the path is clear and the dream patched Suddenly happiness answers the pray How long will it still I think it's forever [END OF There He Goes - the dreampatcher story] Dee, sobbing I have nothing to say..

TAMAT