Category Archives: Curang

Tante, kakak dan sepupu

Awek Pantat Panas CantikCerita ini dimulai waktu ada acara keluarga di Villa Tretes minggu lalu. Sekarang ini aku duduk di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Namaku Hady, umurku 20 tahun.
Begini kisahnya.., Hari minggu keluargaku mengadakan acara temu kangen di Malang. Seluruh anggota keluarga hadir dalam acara itu, kira-kira ada 3 keluarga. Ada hal yang paling kugemari dalam acara itu, yaitu acara perkenalan tiap keluarga.

Pada kesempatan itu adik ibuku bernama Henny memperkenalkan keluarganya satu persatu. Aku lihat gaya bicara Tante Henny yang sangat mempesona, terus terang Tante Henny bila aku gambarkan bak bidadari turun dari langit, wajahnya yang cantik, kulitnya yang mulus dan bodinya yang aduhai membuat tiap laki-laki pasti jatuh hati padanya.



Perkenalan demi perkenalan telah terlewati malam itu, sekitar pukul 9 malam kami beristirahat. Badanku terasa penat dan aku pergi untuk mandi, sekalian persiapan untuk acara besok. Waktu aku akan mandi, tanpa sengaja aku melihat tanteku baru keluar dari kamarnya memakai kimono putih yang agak transparan dan terlihat samar-samar lekuk tubuhnya yang indah, dengan sedikit basa-basi aku bertanya padanya.
"Mau kemana Tante?", tanyaku.
Tanteku dengan kagetnya menjawab "Ouu Hadi, bikin tante kaget nich, Tante mau mandi pake bathtub", jawabnya.
"Sama nich", kataku.
"Rasanya memang malam ini penat sekali yach".
Akhirnya kami melangkah bersama menuju bathroom di belakang Villa kami. Malam itu agak dingin rasanya, sampai-sampai.., sambil agak mendesah Tanteku menahan dingin.

Sesampainya di depan kamar mandi aku berhenti sambil memperhatikan tingkah Tante yang agak aneh (maklum aku masih anak kecil, belum pernah lihat yang seperti gituan).
"Had.., kamu duluan yach..!", kata tanteku sambil mendesah.
"Nggak ach Tante, Tante dulu dech", kataku sambil rasa dingin (duch rasanya seperti dalam freezer tuch).
"Ok, Had.., Tante duluan yach".
Tanteku masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara pakaiannya yang ditanggalkan, gemericik air juga mulai mengisi bathtub. Aku menunggu di luar dengan rasa dingin yang sangat mengigit sambil melamun.
"Had, mana nich sabunnya". teriak tanteku mengagetkanku.
Seketika itu juga aku menjawab, "Disitu Tante".
"Dimana sich?", kata tanteku.
"Kamu masuk aja Had, ambilin dech sabunnya.., Tante nggak tau nich".

Dengan hati yang berdetak keras aku masuk ke kamar mandi sambil mencari-cari sabunnya. Ternyata sabunnya di bawah wastafel. Segera aku mengambilnya dan memberikannya pada tanteku. Tanpa sengaja aku melihat bodi tanteku yang aduhai yang tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Dengan wajah merah padam aku memberikan sabunnya.
Tanteku bertanya "Mengapa Had.., belum pernah liat yach!", kata tanteku dengan mengerlingkan matanya yang indah itu.
Dengan malu-malu kujawab "Belum pernah tuh, tante", kulihat tanteku hanya tersenyum kecil sambil menggandeng tanganku, ia menyuruhku masuk, sengaja atau tidak penisku berdiri.
"Had, punya kamu berdiri tuh", dengan malu aku berusaha menutupi penisku yang telah berdiri.
"Ngapain malu Had..", tanya tanteku.
Aku hanya tersenyum kecut, lalu tanteku melepaskan handukku sambil berkata "Tante boleh lihat punyamu.
"Jangan tante nanti Om tau".
"Ah, nggak apa-apa Om orangnya sangat fair".
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, kemudian dengan lembutnya tanteku mempermainkan penisku sambil berkata", Gila benar punyamu Had, barang sebesar ini kok di diemin aja..". aku hanya bisa meringis keenakan, karena memang aku tidak pernah merasakan hal itu.

Dengan lembutnya tanteku mengulum penisku, dengan refleks aku meraba payudara tanteku yang montok itu, "Ohh.., nikmat sekali". Dituntunnya aku untuk mengulum bibir kemaluannya.
Aku bertanya "Ini apa tante?".
"oo itu clitoris sayang", jawabnya. Aku terus mengulum bibir kemaluannya. Lama juga aku mengulum bibir kemaluannya, dengan gaya 69 kami saling menikmati hal itu. Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata "Ah.., tante kok tega main sama adikku.., kok tidak bilang-bilang kepadaku", sambil tersenyum kecil.

Mungkin karena terangsang dengan apa yang kami lakukan akhirnya kakakku ikut melepaskan pakaiannya. Tanteku berkata "Ayo sini punya adikmu nikmat lho". Aku tidak habis pikir, ternyata kakakku suka begituan juga. Baru pertama kali ini aku melihat polos tubuh kakakku ternyata kakakku tidak kalah dengan tanteku malah payudaranya lebih besar dari punya tante.

Tanpa pikir panjang aku tarik tangan kakakku, langsung aku kulum payudaranya yang besar itu. Terus tanteku bilang "Had masukin dong punyamu". Akhirnya kumasukkan punyaku ke liang kewanitaan tanteku "Ooh nikmat sekalii..", tanteku hanya bisa mendesah kenikmatan. Dengan goyangan yang seperti di film aku berusaha sekuat tenaga menghabisi liang kenikmatan tanteku. Selang berapa lama air mani tanteku keluar. "akhh", desahan itu keluar dari mulut tanteku, tapi aku belum apa-apa. Akhirnya tanpa rasa dosa kutarik kakakku untuk juga merasakan hebatnya penisku. Kakakku ternyata sudah tidak perawan lagi itu kuketahui waktu kumasukan penis ke liang senggamanya. Kakakku menggelinjang keenakan sambil berkata mengapa tidak dari dulu minta di "tusuk" oleh penisku. Aku terus menggenjotnya. Pada waktu lagi asyiknya aku menusuk liang kewanitaan kakakku sepupuku masuk "eehh.., lagi ngapain kalian" tanyanya. Aku cuek saja sambil berkata", kalo mau sini aja".

Tanpa aku sadari ternyata sepupuku telah menanggalkan pakaiannya. Ternyata sepupuku biar masih SMU, bodinya hebat juga. Tanpa pikir panjang kutarik tangannya lalu kukulum susunya, sambil terus menggenjot liang kenikmatan kakakku. Aku lihat kakakku asyik mengulum bibir kemaluan sepupuku. Ternyata kakakku telah di puncak kenikmatan. Dia menggeliat seperti cacing kepanasan, kurasakan semburan air hangat keluar dari liang kewanitaan kakakku. "oohhkk", teriak kakakku. Aku tersenyum puas karena aku masih bisa bertahan. Dengan perkasa ganti sepupuku "Mira" kugenjot ia hanya bisa pasrah dalam dekapan kejantananku. Aku coba memasukkan penisku dengan pelan-pelan ternyata sepupuku itu masih perawan, sangat sulit pertama kali kumasukan penisku, ia merintih kesakitan aku tidak kurang akal, kuludahi liang surganya dan kumasukkan jari tanganku. Lalu kucoba memasukkan penisku. Kali ini bisa walau dengan susah payah. "Akhh nikmat sekali memek perawan", kataku. Kulihat Mira hanya merintih dan mendesah diantara sakit dan nikmat. Akhirnya aku merasakan juga puncak kenikmatan itu kami sama-sama klimaks, "akkhh", terak kami berdua. Akhirnya kami keluar bersamaan. Setelah itu, kami berempat mandi bersama sambil tersenyum puas.

Tamat


Berpacu dalam nafsu – 2

Awek Pantat Panas Cantik"mbak Lily? saya Rino temannya Rio" sapanya
Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi dengan penampilan dia yang begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Edwin di ranjang.
"Sebentar ya" kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yang aku harapkan tapi bagaimana dengan Pak Edwin, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis women professional, aku bingung memikirkannya.
"kudengar ada bel pintu, ada tamu kali" kata Pak Edwin dari ranjang


"eh..anu..enggak kok Pak" jawabku kaget agak terbata
"jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dengan apa yang baru saja terjadi, panggil Edwin atau Koh Edwin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua"
"iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi" kataku
"ah nggak pa pa kok, santai saja" jawabnya ringan.

Aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, usia paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.

"di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu" kataku pada Rino tegas.
"Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Lily, aku percaya sama Rio dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri" katanya lalu kupersilahkan masuk.
Kulihat Edwin masih berbaring di ranjang dengan bertutupkan selimut. Aku jadi canggung diantara dua laki laki yang baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Edwin bangkit dari ranjang dan dengan tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aku kaget lalu melihat ke Rino yang hanya dibalas dengan senyuman nakal.

"wah ngganggu nih" celetuk Rino
"ah enggak udah selesai kok"jawabku singkat
"baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily" teriak Edwin dari kamar mandi, entah basa basi atau bercanda atau serius aku nggak tau.
"Rio udah cerita sama aku mengenai mbak" bisik Rino pelan supaya tidak terdengar Edwin.

Edwin keluar dari kamar mandi dengan tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Rino dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Edwin mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Edwin mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.

Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.
Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan tubuhnya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Edwin di seluruh tubuhku, kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Edwin.

Ketika jilatan Edwin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang, kubuka mataku ternyata Edwin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku membuat aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku.

Mereka merebahkan tubuhku di ranjang, Edwin tetap berkutat di vaginaku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai penis Rino yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa penisnya lebih panjang, hampir dua kali punya Edwin meski batangnya tidak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuat aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari penisnya.
Edwin membalikkan tubuhku dan memintaku pada posisi doggie, Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi penisnya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku.

Untuk kedua kalinya Edwin melesakkan penisnya ke vaginaku dan langsung menyodok dengan keras hingga penis Rino menyentuh pipiku. Kuremas penis itu ketika Edwin dengan gairahnya mengobok obok vaginaku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Edwin, kujilati Penis Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Edwin menghentakkan tubuhnya ke pantatku, meski tidak sampai menyentuh dinding terdalam vaginaku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya. Kukulum penis Rino dengan gairah segairah kocokan Edwin padaku, Rino memegang kepalaku dan menekan dalam dalam sehingga penisnya masuk lebih dalam ke mulutku meski tidak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Edwin meraba raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan penisnya dari mulutku.

"eegghhmm.. eegghh" desahku dari hidung karena mulutku tersumbat penis Edwin.
Tak lama kemudian Edwin menghentikan kocokannya dan mengeluakan penisnya dari vaginaku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Edwin, dengan mudahnya dia melesakkan penisnya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari penis Edwin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam vaginaku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika penis Rino menyentuhnya. Dia langsung mengocok perlahan dengan penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dengan gerakan tubuhnya sehingga penisnya makin masuk ke dalam mengisi rongga vaginaku yang tidak berhasil terisi oleh penis Edwin.

Ada kenikmatan yang berbeda antara Edwin dan Rino tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang, Edwin entah kemana dia tidak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tidak orgasme duluan.
Rino lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya tubuhku dengan tubuh sexy-nya lalu kembali dia memasukkan penisnya, dengan sekali dorong amblaslah tertelan vaginaku, dengan cepat dan keras dia mengocokku, penisnya yang keras dengan kepala besar seakan mengaduk aduk isi vaginaku, aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.

"eehh..yess..fuck me hard..yess" desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tidak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya. Kulihat Edwin berdiri di samping Rino, tatapan mataku tertuju pada penisnya yang terbungkus kondom yang menurutku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal penisnya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dengan pandangan dan senyum nakal.

Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar penisnya disaat saat aku menikmatinya dengan penuh nafsu. Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Edwin menggantikan posisinya, begitu penisnya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya tapi begitu penisnya masuk semua mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, ternyata kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku saat Edwin menghunjam tajam ke vaginaku, klitorisku seperti di gelitik gelitik saat Edwin mengocok vaginaku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.

Edwin merasakan kemenangan ketika tubuhku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu tubuhnya naik ke atas tubuhku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya penisnya ke mulutku, aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut, kucium aroma vaginaku masih menempel di penisnya, langsung kubuka mulutku menerima penis itu. Sementara kocokan Edwin di vaginaku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan penis Rino yang keluar masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan dibawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini.

Setelah cukup lama mengocokku dengan kondom kepalanya, Edwin menarik keluar penisnya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke vaginaku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari penis Edwin yang tertanam di vaginaku, denyutannya seakan memelarkan vaginaku karena terasa begitu membesar saat orgasme membuatku menyusul beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Edwin. Tahu bahwa Edwin telah mendapatkan kepuasannya, Rino beranjak menggantikan posisi Edwin, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya.
Rino lalu telentang di sampingku, kunaiki tubuhnya dan kuatur tubuhku hingga penisnya bisa masuk ke vaginaku tanpa kesulitan berarti.

Aku langsung mengocok penisnya dengan gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya dengan penuh gairah seiring dengan kocokanku. Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino, makin dia melawan makin dalam penisnya menancap di vagina dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dengan Edwin, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino, denyutanku seolah meremas remas penis Rino di vaginaku.

"OUUGGHH.. yess.. yess.. yess" teriakku
Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, tubuhku ambruk di atas dadanya, sambil tetap mengocokku dia memeluk tubuhku dengan erat, kini aku Cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum. Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di vaginaku terutama kepala penisnya yang membesar hingga mengisi semua vaginaku.

"oouuhh..yess..I love it" teriakku saat merasakan orgasme dari Rino.
Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang penis di vaginaku itu.
Kami berpelukan beberapa saat, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Rino memiringkan tubuhnya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di tubuhku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku.

"mbak Lily sungguh hebat" bisiknya pelan di telingaku.
Aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.
Akhirnya kami dikagetkan bunyi "beep" satu kali dari jam tangan Rino yang berarti sudah jam 1 malam.
"Rino, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Edwin kalau nggak keberatan dan tidak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?" pintaku
"Dengan senang hati" jawabnya gembira, Rino hanya mengangguk sambil mencium keningku.

Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan tubuhku menghadap Edwin, kutumpangkan kaki kananku ke tubuhnya dan tanganku memeluk tubuhnya, sementara Rino memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku.Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua laki laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.

Entah berapa lama kami tidur dengan posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik vaginaku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, ternyata Rino berusaha memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang dengan posisi seperti itu. Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku, aku masih tidak melepaskan pelukanku dari Edwin sementara Rino mulai mengocokku dari belakang dengan perlahan sambil meremas remas buah dadaku. Tanganku pindah ke penis Edwin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Edwin masih memejamkan matanya, sepuluh menit kemudian Rino kurasakan denyutan kuat dari penis Rino pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Rino aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Edwin sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Rino ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk tubuh Rino dan memegangi penisnya yang sudah mulai melemas.

Berbeda dengan kocokan Rino yang pelan pelan, Edwin melakukan kocokan dengan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Edwin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.

Bersambung...


Asmara dalam selimut duka – 2

Awek Pantat Panas CantikEka bangkit dari tempat duduknya mendekat ke tempat Antok duduk. Tapi Antok sudah terburu menghamburkan tubuhnya ke tempat tidur dan membenamkan mukanya diatas bantal. Eka menyusulnya dan memeluk pundaknya.
"Sudah Tok, lepaskan kepergian adikku! Biarkan dia tenang! Sahabat sejati tak akan menambah penderitaan sahabatnya yang pergi, bukan?", suara lirih Eka diatas telinga Antok yang masih menelungkupkan mukanya. Nasihat Eka menyadarkan Antok dari keterpurukan suasana kalut hatinya.

Sedikit demi sedikit beban kesedihan Antok mulai berkurang. Seiring dengan itu ia mulai membalikkan badannya pelan. Kepalanya menengadah ke arah plafon dengan muka masih berurai sisa-sisa air matanya. Sentuhan tangan Eka yang lembut mengusapnya. Keduanya sangat dekat hingga satu sama lain dapat merasakan nafas masing-masing. Membangkitkan kembali kesadaran emosi dan nafsu Antok.



Antok bingung dengan apa yang sedang dialaminya hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata maupun berbuat sesuatu. Yang dapat dilakukannya adalah memeluk bahu Eka yang saat ini tengah menidurkan kepalanya diatas dada Antok. Eka merasakan pelukan tangan Antok pada bahunya dengan hati tersenyum. Degup jantung yang didengar Eka dari dada Antok bagaikan irama "nina-bobo" yang mengantarkannya kembali tidur. Terbuai dengan kehangatan tubuh Eka yang sedang memeluknya, Antok pun ikut tertidur.

Sinar matahari pagi membangunkan Eka dari tidurnya. Bangkit pelan ia memberanikan diri mendekatkan mukanya pada muka Antok yang masih tertidur pulas. Ditatapnya wajah sahabat adiknya itu. Dalam hati Eka menanyai dirinya sendiri, dia heran mengapa dia bisa merasa sangat dekat dengan Eko. Padahal sebelumnya ia sangat jarang bertemu dengannya dan telah lama tak bertemu dengannya. Pertemuan-pertemuan sebelumnya pun terjadi tanpa sengaja dan sangat sebentar. Memang Edo pernah menceritakan perihal Antok tapi itupun tidak detil dan banyak yang sudah ia lupakan. Yang ia tahu pasti adalah Antok merupakan sahabat Edo dalam masa lebih dari 10 tahun. Dan keluarganya sudah menganggap Antok seperti anggota keluarganya begitu pula keluarga Antok juga sudah menganggap Edo sebagai keluarganya.

Kebiasaan rutin Eka setelah bangun adalah segera mandi untuk menyegarkan badan. Tapi kali ini ia merasa berat untuk melakukannya. Ia masih terbelenggu oleh perasaannya dan belum beranjak dari tempatnya. Tak kuasa menahan kehendak hatinya, dengan pelan ia mengusapkan bagian belakang jari-jari tangannya pada wajah Antok yang imut dan lugu selagi pulas. Usapannya pelan dan lembut penuh perasaan. Kembali hatinya menanyakan perasaannya pada Antok. Hatinya tak mau diajak kompromi untuk menganggap Antok hanya sebagai adiknya sepeninggal Edo. Perasaannya menginginkan lebih dari itu.

Semakin keras usaha Eka untuk melawan perasaannya semakin gundah pula hatinya. Tapi berkat pengalamannya berhubungan dengan lawan jenisnya, akhirnya Eka dapat menepis semua itu dengan rasionilnya. Rasio sadarnya menyatakan bahwa perasaannya pada Antok muncul hanya karena situasi dan kondisi serta pengaruh gairah nafsunya yang sedang memuncak. Ciuman bibir basahnya ia layangkan pada kening Antok untuk tanda ucapan perpisahan bagi perasaannya pada Antok. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi, khawatir ciumannya akan membangunkan Antok.

Dalam guyuran air shower, rasio pikiran Eka ikut jatuh terguyur. Perasaan yang telah ditepisnya kembali menghinggapi hati Eka.
"Kenapa aku sangat tertarik pada Antok? Apakah ini bukan sekedar ajakan nafsu? Apakah hal ini benar-benar kata hatiku? Apakah aku harus mengikuti kata hatiku? Ataukah harus kuhalau semua perasaan itu? Tapi bagaimana caranya? Bagaimana dengan Antok? Bagaimana sikapnya kalau dia mengetahui perasaanku padanya?", itulah sebagian pertanyaan yang muncul dibenak Eka ketika ia mandi.

Ketukan pintu kamar dan suara perbincangan antara Eka dengan pegawai room service hotelmembangunkan Antok dari tidurnya. Antok agak bingung merasa seakan-akan ingatannya hilang sebagian. Lalu dilihatnya Eka dengan troli makanan. Sedikit demi sedikit ingatannya pulih dan akhirnya ia ingat akan semua kejadian kemarin hingga saat ini.

"Tok, kamu kupesankan nasi goreng untuk sarapan", ujar Eka sambil buru-buru mengenakan celana jeansnya sementara masih mengenakan piyamanya.
Lalu Eka memutar badannya dan mengganti piyamanya dengan kaos putih berkerah. Celana dalam dan BH warna hitam yang dikenakannya sempat terlihat oleh Antok tanpa sengaja. Pemandangan Eka berganti pakaian itu membuat ereksi pagi yang sedang dialami Antok semakin kuat. Segera saja ia turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi karena tak ingin malu pada kakak sahabatnya itu.

Di kamar mandi ia hanya buang air kecil, membasuh muka dan menyempatkan gosok gigi dengan sikat gigi dalam plastik dari fasilitas kamar hotel.
"Mbak, sikat gigi hotelnya kupakai", kata Antok pada Eka yang lagi minum kopi panasnya dengan hati-hati.
"Nggak apa-apa, aku juga nggak akan memakainya", jawab Eka.
"Cepat minum kopimu sebelum keburu dingin, eh kamu suka kopi atau nggak?", lanjutnya.
"Suka malah sudah jadi kebutuhan, Mbak kok repot-repot sih!", balas Antok sedikit berbasa-basi.
"Hitung-hitung punya bodyguard yang dibayar pakai sarapan", canda Eka sambil tersenyum manis pada Antok.
Antok pun membalasnya dengan senyuman dan segera menghabiskan sarapan yang telah dipesankan Eka.

"Omong-omong, mandimu cepat sekali, Tok!", komentar Eka seusai sarapan.
"Memang nggak Mbak", jawab Antok santai.
"Apa? Kamu nggak mandi.. Uhh.. jorok kamu!", komentar Eka yang sempat keheranan.
"Sudah dari dulu Mbak", kata Antok polos tanpa rasa bersalah.
"Pantas aja kamu belum dapat pacar!", olok Eka.
"Ah, Mbak bisa aja! Saya memang belum usaha cari kok Mbak!", tangkis Antok.
"Hmm.. rupanya kamu pinter ngomong juga ya, kukira kamu pendiam", kata Eka.
"Soalnya kuperhatikan sejak kemarin, kamu banyak diam", imbuh Eka.
"Bukannya gitu Mbak, tapi kenyataannya memang seperti itu", jawab Antok.
"Terus kalau sudah usaha, apa kamu yakin dan pasti bisa dapat pacar?", kejar Eka.
"Belum, namanya juga usaha, Mbak", jawab Antok tanpa beban.

Eka kemudian berdiri ke depan cermin dan menyisir rambutnya serta melanjutkannya dengan sedikit merias wajahnya.
Sambil memperhatikan Eka, Antok berceloteh, "Mbak meskipun aku belum berusaha cari pacar tapi sudah ada kok cewek yang memperhatikan aku".
Eka hanya melirikkan matanya ke arah Antok sambil tersenyum penuh arti. Senyuman bibir mungil Eka diantara kedua lesung pipitnya membuat Antok terpana sesaat dan salah tingkah.

"Eh, Mbak.. mm.. saya bisa bertanya sedikit soal Edo?", kata Antok mengalihkan pembicaraan setelah ia teringat perihal yang lebih serius.
"Soal apa Tok?", tanya Eka sambil kembali ke tempat duduknya.
"Ini soal hutang piutang Edo dengan saya, apa bisa kuutarakan pada bapak dan ibunya Mbak Eka?", tanya Antok kemudian.
"Sebaiknya jangan diutarakan hari ini, tunggulah 2-3 hari lagi, biar bapak dan ibu agak tenang dulu", jawab Eka.
Antok hanya mengangguk mendengar penjelasan Eka.

"Begini saja, kalau kamu memang sedang butuh kira-kira berapa hutang Edo biar kutanggung dulu", kata Eka agak tegang.
"Mbak, kalau Edo yang berhutang pada saya, sudah kurelakan sejak kemarin, tapi ini kebalikannya Mbak", kata Antok.
"Maksudmu?", tanya Eka kebingungan.
"Saya yang masih punya tanggungan pada Edo makanya saya merasa punya beban hutang", jelas Antok.
"Kalau begitu sewaktu-waktu kamu bisa mengembalikannya baru kamu ngomong ke bapak dan ibu", kata Eka kembali tenang.
"Mbak, ini bentuknya bukan uang tunai", kata Antok.

Melihat Eka yang jadi bingung oleh penjelasannya, Antok menceritakan dengan lebih rinci lagi soal investasi Edo yang dipercayakan padanya. Dari penjelasan Antok akhirnya Eka mengetahui bahwa Edo memutarkan sebagian tabungannya di pasar saham bersama Antok. Dan sewaktu Edo meninggal sebagian besar investasi Edo masih berbentuk saham yang belum diuangkan didalam account Antok. Dan saat ini Antok sedang tidak tahu apakah investasi Edo tersebut ingin dicairkan atau terus diputar karena si empunya sudah tiada. Tapi akhirnya Eka dapat membantu memberinya saran solusi mengenai hal itu.

"Sudah lama kamu bermain saham Tok?", tanya Eka.
"Hampir 2 tahunan Mbak, tapi Edo baru ikut setelah kerjanya pindah kesini, ya kira-kira 8 bulanan kalau Edo", jelas Antok.
"Makanya semalam kamu tahu soal saham, sungguh nggak mengira aku", kata Eka.
"Semalam itu sebenarnya saya penasaran dengan perkataan temannya Mbak dan ingin memancing keluarnya informasi baru mengenai saham perusahaan Mbak bekerja kalau memang ada, eh tahunya malah dapat caci-maki", jawab Antok.
"Tentu saja Tok, kamu cari informasi dengan orang yang lagi cemburu padamu", komentar Eka.

Antok terbengong mendengar komentar Eka, lalu beranjak dari kursinya untuk menghindar dari subyek yang dikomentari Eka.
"Mbak, aku pamit pulang dulu ya!", ujar Antok.
"Eh, tunggu! Tolong anterin aku ke rumah lagi ya", kata Eka.
"Iya Mbak, saya kan sudah dibayar sarapan, jadi ya tidak bisa nolak", canda Antok sambil menuju ke arah pintu kamar.
Eka senang mendengar Antok dapat bergurau dan melupakan kesedihannya tapi juga agak gemas terhadap kata-kata yang dilontarkan Antok karena seperti tak pernah serius.

Setelah menyalakan mesin mobil Antok tak segera melajukan kendaraannya. Ia menyempatkan mengambil hand phone nya dari laci dashboard didepan Eka. Tanpa sengaja tangannya bergeser dengan paha Eka.
"Oh, maaf Mbak!", kata Antok.
"Memangnya kenapa?", tanya Eka sengaja bergurau.
"Nggak, eh nggak apa-apa!", jawab Antok dengan muka agak merah dan segera menyibukkan diri dengan HP nya menunggu mesin mobilnya panas.
Eka pun hanya tersenyum melihat Antok salah tingkah.

Dalam perjalanan mereka berdua banyak berbincang tentang keadaan kota Surabaya. Mereka berdua juga saling menukar nomer HP masing-masing. Sesampai dirumah orang tua Eka, Antok langsung melajukan mobilnya kembali tanpa mampir.

Di rumahnya yang sedang ramai dikunjungi oleh sanak famili keluarganya, Eka kembali disibukkan oleh kesibukan-kesibukan yang berhubungan dengan meninggalnya seseorang. Di sela-sela kesibukannya ia sempat menanyakan perihal Antok pada adik-adiknya. Rupanya tak hanya Edo yang mengenal Antok tapi adik-adiknya yang lain juga karena ia memperoleh informasi lebih banyak yang ia perkirakan.

3 Hari Kemudian

Antok sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tua Edo, ketika Eka datang bersama Edi adiknya, dengan membawa bungkusan makanan.
"Tok, kamu kok tahu kalau ada makanan enak", ujar Eka.
"Ayo Mas kita santap bersama makanan ini", imbuh Edi.
Belum sempat Antok berkomentar, Edwin si bungsu keluar dari kamarnya sambil berteriak, "Kok lama sih kak, sudah lapar nih!".
"Ah kamu bisanya ngomel melulu, antrinya nih bikin kaki capek", hardik Eka tak dihiraukan Edwin karena sudah berlari menyusul Edi ke ruang makan.
Tak mau ketinggalan Antok pun langsung menyusul Edi dan Edwin meninggalkan sopan santunnya pada kedua orang tua sahabatnya. Ayah dan ibunya Edo menyambut hal itu dengan bahagia karena kesedihan keluarga sepeninggal Edo berangsur-angsur surut.

Sewaktu Eka melangkahkan kaki ke ruang makan, Ayahnya memanggilnya.
"Ini Ka, tadi Antok menyerahkan ini tapi ayah masih belum mengerti meski Antok sudah menerangkannya tadi", kata ayahnya sambil menunjukkan cek dan beberapa lembar catatan.
"Iya Ka, darimana sih kok Edo bisa dapat banyak uang?", lanjut ibunya.
Eka pun menerangkan dengan bahasanya hingga kedua orang tuanya mengerti.
Setelah agak mengerti, ibunya berkomentar, "Edo tak pernah cerita soal ini pada siapapun, beruntung ia punya sahabat seperti Antok". Komentar itu diiyakan oleh ayahnya dan wajah Eka yang berbinar haru.

Ramainya ruang makan terdengar hingga ruang tengah dan mengingatkan Eka pada makanan yang dibelinya. Bergegas ia pun bergabung dengan 3 pemuda yang sedang melahap makan malam sambil bersenda gurau.
"Awas kalian kalau sampai aku nggak kebagian", ancam Eka.
Antok, Edi dan Edwin saling menyalahkan dan mengolok yang makannya banyak.

Ketiga pemuda itu telah menyelesaikan makannya ketika Eka mengambil lauk pauk yang ada di meja.
"Sudah Kak, meski ada Mas Antok nggak usah malu-malu, ambil aja yang banyak seperti biasanya", goda adiknya Edwin.
"Iya, kemarin bisa menghabiskan 3 potong, masa sekarang cuman satu", timpal Edi.
"Makanya kakakmu belum dapat jodoh, rupanya calon-calonnya takut nggak bisa memberi jatah", tambah Antok yang langsung disambut tawa oleh Edi dan Edwin.

Eka berusaha menahan emosinya dengan wajah bersungut dan diam seribu bahasa.
"Ngambek nih ye!", goda Edi.
"Marah, ya?", imbuh Edwin.
"Eh, kalian kesini sebentar!", ajak Antok pada Edi dan Edwin agar duduk mendekat disampingnya.
"Coba lihat, wajah kakakmu, kalau lagi ngambek gitu tambah cakep ya, tapi kenapa jodohnya pada lari ya!", kata Antok sambil tertawa diikuti Edi dan Edwin.

Mendengar kata-kata Antok, Eka pun tak kuasa menahan amarahnya. Ia langsung berdiri memegang piring kosong yang ada disampingnya. Ketiga pemuda yang ada didepannya segera saja lari ketakutan dan berhamburan dari ruang makan. Dan Eka pun kembali duduk untuk melanjutkan makannya karena memang dia hanya berniat menggertak saja.

Bersambung . . . .


Asmara dalam selimut duka – 2

Awek Pantat Panas CantikEka bangkit dari tempat duduknya mendekat ke tempat Antok duduk. Tapi Antok sudah terburu menghamburkan tubuhnya ke tempat tidur dan membenamkan mukanya diatas bantal. Eka menyusulnya dan memeluk pundaknya.
"Sudah Tok, lepaskan kepergian adikku! Biarkan dia tenang! Sahabat sejati tak akan menambah penderitaan sahabatnya yang pergi, bukan?", suara lirih Eka diatas telinga Antok yang masih menelungkupkan mukanya. Nasihat Eka menyadarkan Antok dari keterpurukan suasana kalut hatinya.

Sedikit demi sedikit beban kesedihan Antok mulai berkurang. Seiring dengan itu ia mulai membalikkan badannya pelan. Kepalanya menengadah ke arah plafon dengan muka masih berurai sisa-sisa air matanya. Sentuhan tangan Eka yang lembut mengusapnya. Keduanya sangat dekat hingga satu sama lain dapat merasakan nafas masing-masing. Membangkitkan kembali kesadaran emosi dan nafsu Antok.



Antok bingung dengan apa yang sedang dialaminya hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata maupun berbuat sesuatu. Yang dapat dilakukannya adalah memeluk bahu Eka yang saat ini tengah menidurkan kepalanya diatas dada Antok. Eka merasakan pelukan tangan Antok pada bahunya dengan hati tersenyum. Degup jantung yang didengar Eka dari dada Antok bagaikan irama "nina-bobo" yang mengantarkannya kembali tidur. Terbuai dengan kehangatan tubuh Eka yang sedang memeluknya, Antok pun ikut tertidur.

Sinar matahari pagi membangunkan Eka dari tidurnya. Bangkit pelan ia memberanikan diri mendekatkan mukanya pada muka Antok yang masih tertidur pulas. Ditatapnya wajah sahabat adiknya itu. Dalam hati Eka menanyai dirinya sendiri, dia heran mengapa dia bisa merasa sangat dekat dengan Eko. Padahal sebelumnya ia sangat jarang bertemu dengannya dan telah lama tak bertemu dengannya. Pertemuan-pertemuan sebelumnya pun terjadi tanpa sengaja dan sangat sebentar. Memang Edo pernah menceritakan perihal Antok tapi itupun tidak detil dan banyak yang sudah ia lupakan. Yang ia tahu pasti adalah Antok merupakan sahabat Edo dalam masa lebih dari 10 tahun. Dan keluarganya sudah menganggap Antok seperti anggota keluarganya begitu pula keluarga Antok juga sudah menganggap Edo sebagai keluarganya.

Kebiasaan rutin Eka setelah bangun adalah segera mandi untuk menyegarkan badan. Tapi kali ini ia merasa berat untuk melakukannya. Ia masih terbelenggu oleh perasaannya dan belum beranjak dari tempatnya. Tak kuasa menahan kehendak hatinya, dengan pelan ia mengusapkan bagian belakang jari-jari tangannya pada wajah Antok yang imut dan lugu selagi pulas. Usapannya pelan dan lembut penuh perasaan. Kembali hatinya menanyakan perasaannya pada Antok. Hatinya tak mau diajak kompromi untuk menganggap Antok hanya sebagai adiknya sepeninggal Edo. Perasaannya menginginkan lebih dari itu.

Semakin keras usaha Eka untuk melawan perasaannya semakin gundah pula hatinya. Tapi berkat pengalamannya berhubungan dengan lawan jenisnya, akhirnya Eka dapat menepis semua itu dengan rasionilnya. Rasio sadarnya menyatakan bahwa perasaannya pada Antok muncul hanya karena situasi dan kondisi serta pengaruh gairah nafsunya yang sedang memuncak. Ciuman bibir basahnya ia layangkan pada kening Antok untuk tanda ucapan perpisahan bagi perasaannya pada Antok. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi, khawatir ciumannya akan membangunkan Antok.

Dalam guyuran air shower, rasio pikiran Eka ikut jatuh terguyur. Perasaan yang telah ditepisnya kembali menghinggapi hati Eka.
"Kenapa aku sangat tertarik pada Antok? Apakah ini bukan sekedar ajakan nafsu? Apakah hal ini benar-benar kata hatiku? Apakah aku harus mengikuti kata hatiku? Ataukah harus kuhalau semua perasaan itu? Tapi bagaimana caranya? Bagaimana dengan Antok? Bagaimana sikapnya kalau dia mengetahui perasaanku padanya?", itulah sebagian pertanyaan yang muncul dibenak Eka ketika ia mandi.

Ketukan pintu kamar dan suara perbincangan antara Eka dengan pegawai room service hotelmembangunkan Antok dari tidurnya. Antok agak bingung merasa seakan-akan ingatannya hilang sebagian. Lalu dilihatnya Eka dengan troli makanan. Sedikit demi sedikit ingatannya pulih dan akhirnya ia ingat akan semua kejadian kemarin hingga saat ini.

"Tok, kamu kupesankan nasi goreng untuk sarapan", ujar Eka sambil buru-buru mengenakan celana jeansnya sementara masih mengenakan piyamanya.
Lalu Eka memutar badannya dan mengganti piyamanya dengan kaos putih berkerah. Celana dalam dan BH warna hitam yang dikenakannya sempat terlihat oleh Antok tanpa sengaja. Pemandangan Eka berganti pakaian itu membuat ereksi pagi yang sedang dialami Antok semakin kuat. Segera saja ia turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi karena tak ingin malu pada kakak sahabatnya itu.

Di kamar mandi ia hanya buang air kecil, membasuh muka dan menyempatkan gosok gigi dengan sikat gigi dalam plastik dari fasilitas kamar hotel.
"Mbak, sikat gigi hotelnya kupakai", kata Antok pada Eka yang lagi minum kopi panasnya dengan hati-hati.
"Nggak apa-apa, aku juga nggak akan memakainya", jawab Eka.
"Cepat minum kopimu sebelum keburu dingin, eh kamu suka kopi atau nggak?", lanjutnya.
"Suka malah sudah jadi kebutuhan, Mbak kok repot-repot sih!", balas Antok sedikit berbasa-basi.
"Hitung-hitung punya bodyguard yang dibayar pakai sarapan", canda Eka sambil tersenyum manis pada Antok.
Antok pun membalasnya dengan senyuman dan segera menghabiskan sarapan yang telah dipesankan Eka.

"Omong-omong, mandimu cepat sekali, Tok!", komentar Eka seusai sarapan.
"Memang nggak Mbak", jawab Antok santai.
"Apa? Kamu nggak mandi.. Uhh.. jorok kamu!", komentar Eka yang sempat keheranan.
"Sudah dari dulu Mbak", kata Antok polos tanpa rasa bersalah.
"Pantas aja kamu belum dapat pacar!", olok Eka.
"Ah, Mbak bisa aja! Saya memang belum usaha cari kok Mbak!", tangkis Antok.
"Hmm.. rupanya kamu pinter ngomong juga ya, kukira kamu pendiam", kata Eka.
"Soalnya kuperhatikan sejak kemarin, kamu banyak diam", imbuh Eka.
"Bukannya gitu Mbak, tapi kenyataannya memang seperti itu", jawab Antok.
"Terus kalau sudah usaha, apa kamu yakin dan pasti bisa dapat pacar?", kejar Eka.
"Belum, namanya juga usaha, Mbak", jawab Antok tanpa beban.

Eka kemudian berdiri ke depan cermin dan menyisir rambutnya serta melanjutkannya dengan sedikit merias wajahnya.
Sambil memperhatikan Eka, Antok berceloteh, "Mbak meskipun aku belum berusaha cari pacar tapi sudah ada kok cewek yang memperhatikan aku".
Eka hanya melirikkan matanya ke arah Antok sambil tersenyum penuh arti. Senyuman bibir mungil Eka diantara kedua lesung pipitnya membuat Antok terpana sesaat dan salah tingkah.

"Eh, Mbak.. mm.. saya bisa bertanya sedikit soal Edo?", kata Antok mengalihkan pembicaraan setelah ia teringat perihal yang lebih serius.
"Soal apa Tok?", tanya Eka sambil kembali ke tempat duduknya.
"Ini soal hutang piutang Edo dengan saya, apa bisa kuutarakan pada bapak dan ibunya Mbak Eka?", tanya Antok kemudian.
"Sebaiknya jangan diutarakan hari ini, tunggulah 2-3 hari lagi, biar bapak dan ibu agak tenang dulu", jawab Eka.
Antok hanya mengangguk mendengar penjelasan Eka.

"Begini saja, kalau kamu memang sedang butuh kira-kira berapa hutang Edo biar kutanggung dulu", kata Eka agak tegang.
"Mbak, kalau Edo yang berhutang pada saya, sudah kurelakan sejak kemarin, tapi ini kebalikannya Mbak", kata Antok.
"Maksudmu?", tanya Eka kebingungan.
"Saya yang masih punya tanggungan pada Edo makanya saya merasa punya beban hutang", jelas Antok.
"Kalau begitu sewaktu-waktu kamu bisa mengembalikannya baru kamu ngomong ke bapak dan ibu", kata Eka kembali tenang.
"Mbak, ini bentuknya bukan uang tunai", kata Antok.

Melihat Eka yang jadi bingung oleh penjelasannya, Antok menceritakan dengan lebih rinci lagi soal investasi Edo yang dipercayakan padanya. Dari penjelasan Antok akhirnya Eka mengetahui bahwa Edo memutarkan sebagian tabungannya di pasar saham bersama Antok. Dan sewaktu Edo meninggal sebagian besar investasi Edo masih berbentuk saham yang belum diuangkan didalam account Antok. Dan saat ini Antok sedang tidak tahu apakah investasi Edo tersebut ingin dicairkan atau terus diputar karena si empunya sudah tiada. Tapi akhirnya Eka dapat membantu memberinya saran solusi mengenai hal itu.

"Sudah lama kamu bermain saham Tok?", tanya Eka.
"Hampir 2 tahunan Mbak, tapi Edo baru ikut setelah kerjanya pindah kesini, ya kira-kira 8 bulanan kalau Edo", jelas Antok.
"Makanya semalam kamu tahu soal saham, sungguh nggak mengira aku", kata Eka.
"Semalam itu sebenarnya saya penasaran dengan perkataan temannya Mbak dan ingin memancing keluarnya informasi baru mengenai saham perusahaan Mbak bekerja kalau memang ada, eh tahunya malah dapat caci-maki", jawab Antok.
"Tentu saja Tok, kamu cari informasi dengan orang yang lagi cemburu padamu", komentar Eka.

Antok terbengong mendengar komentar Eka, lalu beranjak dari kursinya untuk menghindar dari subyek yang dikomentari Eka.
"Mbak, aku pamit pulang dulu ya!", ujar Antok.
"Eh, tunggu! Tolong anterin aku ke rumah lagi ya", kata Eka.
"Iya Mbak, saya kan sudah dibayar sarapan, jadi ya tidak bisa nolak", canda Antok sambil menuju ke arah pintu kamar.
Eka senang mendengar Antok dapat bergurau dan melupakan kesedihannya tapi juga agak gemas terhadap kata-kata yang dilontarkan Antok karena seperti tak pernah serius.

Setelah menyalakan mesin mobil Antok tak segera melajukan kendaraannya. Ia menyempatkan mengambil hand phone nya dari laci dashboard didepan Eka. Tanpa sengaja tangannya bergeser dengan paha Eka.
"Oh, maaf Mbak!", kata Antok.
"Memangnya kenapa?", tanya Eka sengaja bergurau.
"Nggak, eh nggak apa-apa!", jawab Antok dengan muka agak merah dan segera menyibukkan diri dengan HP nya menunggu mesin mobilnya panas.
Eka pun hanya tersenyum melihat Antok salah tingkah.

Dalam perjalanan mereka berdua banyak berbincang tentang keadaan kota Surabaya. Mereka berdua juga saling menukar nomer HP masing-masing. Sesampai dirumah orang tua Eka, Antok langsung melajukan mobilnya kembali tanpa mampir.

Di rumahnya yang sedang ramai dikunjungi oleh sanak famili keluarganya, Eka kembali disibukkan oleh kesibukan-kesibukan yang berhubungan dengan meninggalnya seseorang. Di sela-sela kesibukannya ia sempat menanyakan perihal Antok pada adik-adiknya. Rupanya tak hanya Edo yang mengenal Antok tapi adik-adiknya yang lain juga karena ia memperoleh informasi lebih banyak yang ia perkirakan.

3 Hari Kemudian

Antok sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tua Edo, ketika Eka datang bersama Edi adiknya, dengan membawa bungkusan makanan.
"Tok, kamu kok tahu kalau ada makanan enak", ujar Eka.
"Ayo Mas kita santap bersama makanan ini", imbuh Edi.
Belum sempat Antok berkomentar, Edwin si bungsu keluar dari kamarnya sambil berteriak, "Kok lama sih kak, sudah lapar nih!".
"Ah kamu bisanya ngomel melulu, antrinya nih bikin kaki capek", hardik Eka tak dihiraukan Edwin karena sudah berlari menyusul Edi ke ruang makan.
Tak mau ketinggalan Antok pun langsung menyusul Edi dan Edwin meninggalkan sopan santunnya pada kedua orang tua sahabatnya. Ayah dan ibunya Edo menyambut hal itu dengan bahagia karena kesedihan keluarga sepeninggal Edo berangsur-angsur surut.

Sewaktu Eka melangkahkan kaki ke ruang makan, Ayahnya memanggilnya.
"Ini Ka, tadi Antok menyerahkan ini tapi ayah masih belum mengerti meski Antok sudah menerangkannya tadi", kata ayahnya sambil menunjukkan cek dan beberapa lembar catatan.
"Iya Ka, darimana sih kok Edo bisa dapat banyak uang?", lanjut ibunya.
Eka pun menerangkan dengan bahasanya hingga kedua orang tuanya mengerti.
Setelah agak mengerti, ibunya berkomentar, "Edo tak pernah cerita soal ini pada siapapun, beruntung ia punya sahabat seperti Antok". Komentar itu diiyakan oleh ayahnya dan wajah Eka yang berbinar haru.

Ramainya ruang makan terdengar hingga ruang tengah dan mengingatkan Eka pada makanan yang dibelinya. Bergegas ia pun bergabung dengan 3 pemuda yang sedang melahap makan malam sambil bersenda gurau.
"Awas kalian kalau sampai aku nggak kebagian", ancam Eka.
Antok, Edi dan Edwin saling menyalahkan dan mengolok yang makannya banyak.

Ketiga pemuda itu telah menyelesaikan makannya ketika Eka mengambil lauk pauk yang ada di meja.
"Sudah Kak, meski ada Mas Antok nggak usah malu-malu, ambil aja yang banyak seperti biasanya", goda adiknya Edwin.
"Iya, kemarin bisa menghabiskan 3 potong, masa sekarang cuman satu", timpal Edi.
"Makanya kakakmu belum dapat jodoh, rupanya calon-calonnya takut nggak bisa memberi jatah", tambah Antok yang langsung disambut tawa oleh Edi dan Edwin.

Eka berusaha menahan emosinya dengan wajah bersungut dan diam seribu bahasa.
"Ngambek nih ye!", goda Edi.
"Marah, ya?", imbuh Edwin.
"Eh, kalian kesini sebentar!", ajak Antok pada Edi dan Edwin agar duduk mendekat disampingnya.
"Coba lihat, wajah kakakmu, kalau lagi ngambek gitu tambah cakep ya, tapi kenapa jodohnya pada lari ya!", kata Antok sambil tertawa diikuti Edi dan Edwin.

Mendengar kata-kata Antok, Eka pun tak kuasa menahan amarahnya. Ia langsung berdiri memegang piring kosong yang ada disampingnya. Ketiga pemuda yang ada didepannya segera saja lari ketakutan dan berhamburan dari ruang makan. Dan Eka pun kembali duduk untuk melanjutkan makannya karena memang dia hanya berniat menggertak saja.

Bersambung . . . .