Category Archives: cerita seks

Ujang – 3

Awek Pantat Panas CantikEh, ini anak belum tahu rasanya, sekali tahu rasanya jagi ketagihan nih, kataku dalam hati. Karena Ujang keluar duluan maka aku menindih tubuhnya sambil kuselipkan batang kemaluanku diantar pahanya dan kuminta dia untuk menjepitnya dengan kuat sampai akhirnya aku mencapai puncaknya dan kukeluarkan spermaku di atas perutnya sehingga perut Ujang penuh dengan leleran spermaku yang kemudian kuratakan ke arah dadanya sekali dan kulihat batang kemaluan Ujang sudah menegang lagi aku segera mengambil inisiatif untuk menghisapnya lagi dan kulumuri batang kemaluannya dengan air ludahku sampai cukup basah semuanya kemudian aku mengangkanginya dan jongkok di depannya serta mengarahkan batang kemaluannya ke arah lubang anusku.
Ketika batang kemaluan Ujang yang besar itu mulai memasuki lubangku, kurasakan sakit sekali karena batang kemaluan Ujang memang sangat besar dan panjang, senti demi senti kumasukkan perlahan-lahan sampai akhirnya amblas semuanya kutahan untuk beberapa saat sampai rasa sakit itu berangsur-angsur hilang dan kurasakan ada sesuatu benda kenyal yang mengganjal di dalam lubangku, aku naik-turunkan badanku dan kudengar rintihan dan lenguhan Ujang makin lama makin keras dan memburu dan kurasakan ada cairan hangat yang menyembur di dalam lubang anusku. Aku segera berlari ke kamar mandi yang ada di kamar itu dan kubersihkan diriku, kuguyur tubuhku dengan air hangat yang memancar dari shower, kubiarkan pintu kamar mandi terbuka sehingga aku bisa melihat Ujang masih menikmati sisa-sia kenikmatannya. Ketika dia menoleh ke arahku, kulambaikan tanganku untuk untuk memanggilnya agar bersama-sama mandi di bawah guyuran air shower ini.
Rupanya dia mengerti keinginanku, dia segera bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi dan ikut mengguyurkan dirinya di bawah shower, sambil saling menyabuni badan kami masing-masing terlebih-lebih menyabuni batang kemaluan lawan mainnya sampai tegang kembali. Akan tetapi tidak sampai terjadi ML di dalam kamar mandi itu, karena hari sudah malam, maka kami segera mengeringkan badan kami. Dan kulihat Ujang ingin segera berpakaian dan kembali ke kamarnya, akan tetapi aku mencegahnya, agar malam ini dia tidur di kamarku saja dan tidak usah berpakaian. Akhirnya kami berdua dalam keadaan telanjang bulat langsung nyungsep di bawah selimut yang tebal sambil berpelukan untuk saling memberi kehangatan di malam yang dingin itu dengan perasaan puas karena bisa saling memberi kenikmatan.
Ketika menjelang pagi kurasakan ada sesuatu yang hangat, kenyal dan bergerak-gerak menyentuh perutku, aku segera bangun dan kulihat Ujang masih terlelap di sampingku sambil tangannya melingkar di atas perutku dan kudengar dengkuran kecil keluar dari mulutnya, dan ternyata benda hangat itu adalah batang kemaluan Ujang yang sudah menegang kembali menjelang pagi ini. Segera kuraih batang kemaluan Ujang yang sudah tegang itu kukocok perlahan-lahan dan kulihat dia menikmati kocokan tanganku itu, dengan menggeliatkan tubuhnya sehingga tubuhnya terlentang sehingga batang kemaluannya yang tegang itu seperti tugu Monas yang sedang menjulang tinggi, segera kuhisap batang kemaluannya, mungkin karena keenakan sehingga dia akhirnya Ujang terbangun.


"Eh, Mas Adi, aduh enak lho Mas Adi, kalo digitukan," kata Ujang polos."Kamu mau coba nggak ngisep batang kemaluanku.""Aduh, aku nggak bisa nih Mas Adi.""Ayo kamu coba dulu."
Akhirnya aku mengambil posisi 69, sehingga batang kemaluan Ujang tepat didepan mulutku dan batang kemaluanku pun tepat di depan mulut Ujang, akan tetapi dia masih ragu-ragu, mula-mula batang kemaluanku dikocok-kocoknya dengan perlahan-lahan, kemudian diciumnya dan akhirnya kurasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh batang kemaluanku, ternyata Ujang berusaha untuk menjilati batang kemaluanku. Kurasakan beberapa saat kemudian kurasakan jilatan itu berubah menjadi hisapan pada batang kemaluanku, sedangkan mulutku tetap menghisap batang kemaluannya tangan mulai bergerilya untuk merusaha mencari lubang anusnya yang masih terasa sempit sekali. Aku lumuri jariku dengan air liurku kemudian kumasukkan dalam anusnya setelah agak lancar maka mulai dua buah jariku masuk ke dalam anusnya sampai akhirnya tiga jariku bisa masuk ke dalam anusnya. Kucabut batang kemaluannya dari mulutku dan juga kucabut batang kemaluanku dari mulutnya, segera kutelentangkan dia, kuangkat kedua belah kakinya sehingga lubang anusnya mendongak ke atas.
"Aku ingin memasuki lubang kamu, Jang.""Mungkin untuk pertama kali akan terasa sakit, tapi kamu tahan yaa Jang," pintaku.Dia tidak bereaksi hanya mengangguk perlahan, segera kupegang batang kemaluanku dan kumasukkan ke dalam lubangnya yang masih terasa sempit sekali, sehingga aku harus berulang-ulang mencobanya, sampai pada usahaku yang ketiga aku baru berhasil memasukkan batang kemaluanku ke dalam lubangnya dan kudengar erangan Ujang karena kesakitan dan kulihat ada aliran air bening yang keluar dari kedua belah matanya. Sambil mencengkeram kasur dia menahan masuknya batang kemaluanku senti demi senti. Setelah semuanya bisa masuk sampai pangkalnya aku segera berdiam diri untuk memberikan kesempatan kepada Ujang untuk beradaptasi dengan keadaan batang kemaluanku berada di dalam lubangnya itu. Setelah beberapa saat aku mulai menggenjotkan pinggulku maju-mundur di atas pantat Ujang, sampai akhirnya aku tak tahan lagi merasakan keenakan karena lubang anus Ujang yang masih perawan ini. Tidak berapa lama kemudian akhirnya aku muncrat juga di dalam lubang anus Ujang.
"Aaahh, aaduuhh Jaangg.""Eeennaakk Jaang pantatmu, Jang.""Perawan lagi Jaang, beruntung aku dapet kamu Jaang.."
Sampai akhirnya aku menggelosor di atas dada Ujang, sedangkan batang kemaluan Ujang masih tegak berdiri dan dia juga ingin minta jatah juga untuk segera dikeluarkan isinya, maka segera aku telentang sambil mengangkat kakiku dan kusuruh Ujang untuk memasuki lubangku yang tentunya sudah tidak perawan lagi. Ujang pun menuruti kemauanku dengan segera, dia menancapkan batang kemaluannya yang besar dan panjang itu ke dalam lubang anusku dan kemudian menggenjotnya dan tak berapa lama kemudian kudengar lenguhan yang keras dan.. "Croot.. croot, crroot.." kurasakan denyutan dan semburan spermanya di dalam lubangku.
Pagi itu, kami mandi berdua di dalam bathup sambil berendam air hangat, saling menyabuni tubuh kami masing-masing, membersihkan batang kemaluan lawan mainnya, berpelukan di dalam bathup sambil merasakan air hangat. Ketika kami selesai mandi hari sudah siang karena matahari sudah tinggi dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, Ujang jadi kelabakan, karena dia belum membereskan dan membersihkan rumah yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya, biasanya dia jam 05.00 pagi sudah mulai bersih-bersih rumah, menyapu kebun, menyiapkan sarapan dan sebagainya. Akan tetapi hari itu aku tidak menuntut semua kewajiban dan tanggung jawab Ujang terpenuhi semuanya karena semua ini memang kesalahanku juga.
"Jang, nyapu kebunnya besok aja, khan Oom baru pulang dua hari lagi," kataku."Terus beresin rumah entar siang aja, mendingan sekarang kita buat sarapan bareng-bareng saja yaa.." kataku."Baiklah, Mas Adi."Kami berdua kemudian menuju ke dapur, karena tidak ada yang siap untuk dimakan pagi itu akhirnya, pagi itu kami bedua sarapan dengan mie instan dan telur rebus, sambil minum susu coklat panas.
Selama masih ada waktu berlibur di rumah oomku, maka aku tidak menyia-nyiakan waktu yang ada untuk setiap malam selalu ML dengan Ujang, sampai pada hari yang ketiga tiba, dimana oomku sudah kembali dari Jakarta dan tidur di rumahnya, malam itu aku begitu merasakan kesepian yang amat sangat, karena tidak mungkin aku harus tidur dengan Ujang lagi, aku jadi gelisah dan tidak bisa tidur walaupun sudah tengah malam, sampai akhirnya aku keluar kamar dan kubuka pintu yang menuju ke ruang belakang kuhampiri kamar Ujang, pintu kamarnya terkunci dari dalam, kuketuk beberapa kali tidak ada balasan akhirnya kuputuskan untuk kembali kekamarku kembali. Paginya ketika subuh, aku segera keluar dari kamarku menuju ke ruang belakang, karena aku tahu bahwa Ujang pasti sudah bangun dari tidurnya dan sudah mulai melaksanakan semua tugas rutinnya. Ternyata ketika aku berjalan ke belakang kudengar suara di dapur, ketika kulongok ternyata Ujang sedang mempersiapkan untuk memasak air dan menanak nasi, segera kuhampiri dia dan kupeluk dari belakang, Ujang agak terkejut tapi akhirnya bisa menguasai diri.
"Jang, aku semalam nggak bisa tidur. Aku selalu inget kamu, aku tadi malem mau ke kamarmu tapi terkunci dari dalam, makanya nanti malam kamar kamu jangan dikunci yaa, biar kalau aku kangen sama kamu, bisa masuk kamar kamu, oke?""Baik, Mas Adi," jawab Ujang. Hari-hariku berjalan penuh dengan kejenuhan karena tidak bisa selalu bersama dengan Ujang, aku merasa kesal, aku merasa bosan, walaupun malam hari bisa bertemu dengan Ujang dan ML, akan tetapi rasanya tergesa-gesa dan seperti maling saja.
Setelah genap seminggu aku di rumah oomku, maka pagi itu aku minta ijin kepada oomku untuk pulang balik ke Surabaya, dan akhirnya aku diantar oleh oomku ke stasiun pada saat aku berada dalam mobil oomku, aku sempat melihat Ujang melambaikan tangan untukku dengan pandangan mata yang penuh dengan sejuta misteri yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Apakah aku jatuh cinta sama Ujang, atau sebaliknya Ujang yang jatuh cinta sama aku. Aku sendiri tidak bisa menjawabnya karena batinku selalu bergejolak. Di dalam mobil aku lebih banyak berdiam diri, dan kujawab pertanyaan dari oomku, sebatas yang diperlukan saja, sampai akhirnya mobil berhenti di depan stasiun kereta api yang akan membawaku kembali ke Surabaya.
Di dalam perjalanan dengan kereta api itu, alam pikiranku berjalan kembali bagai kilas balik, seperti film yang diputar ulang tentang apa yang telah terjadi antara aku dan Ujang. Aku ingin merasakan sisa-sisa kenikmatan, sisa-sisa kehangatan pelukannya, tusukan batang kemaluannya yang sepanjang 21 cm itu. Dan akankah kita akan bertemu kembali Ujangku sayang. Aku berjanji liburan semester depan aku akan mengunjungimu lagi Ujangku, asalkan kamu masih bekerja di rumah oomku. Salam manis selalu Ujangku, dan kututup adegan terakhir dalam lamunanku dengan senyumku yang kupaksakan. I always miss you, Ujang.
Tamat


Kanker leher rahim

Awek Pantat Panas CantikKanker leher rahim? Oh, no! Begitu sergah seorang wanita mengetahui dirinya divonis mengidap kanker leher rahim.

Wanita manapun ketakutan setengah mati mengetahui dirinya terkena kanker cervic atau leher rahim. Kanker jenis ini menduduki posisi keempat tertinggi di dunia sebagai penyebab kematian pada wanita. Ranking di atasnya adalah kanker payudara, usus besar dan paru-paru.



Menurut yayasan kanker di negeri Paman Sam, hampir semua kasus kanker leher rahim disebabkan infeksi oleh human papilomavirus ( HPV ). Virus ini disebarkan oleh hubungan seks dan menimbulkan terjadinya pembengkakan.

Meski kebanyakan infeksi HPV pada organ kelamin tidak ganas dan bisa sembuh, sebagian kecil dari infeksi ini beresiko tinggi disebabkan oleh virus ‘resiko tinggi’. Apabila virus ‘resiko tinggi’ ini tidak hilang, dia menyebabkan pertumbuhan abnormal dari sel pra kanker.

Bila sel ini tidak segera diobati maka bisa berubah menjadi kanker. Kunci pencegahan ini adalah pemeriksaan secara menyeluruh terhadap leher rahim. Di negeri Paman Sam, direkomendasikan pemeriksaan Pap smear setahun sekali bagi wanita di atas usia 21 tahun, atau bagi mereka yang telah melakukan hubungan seks. Nah, jelas sudah pencegahannya, yakni pemeriksaan dini, jangan sungkan-sungkan kalau pengin sehat.


Dari email turun ke ranjang – 2

Awek Pantat Panas Cantik"Sshh.. ohh.. Rio.. sshh" Mbak Lilis mendesah menahan rasa nikmat.
Aku tak peduli. Lidahku terus menjelajahi puting dan payudaranya secara bergantian. Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. sementara kedua tanganku tak henti-henti meremasnya.
"Sshh.. Riioo" tiba-tiba Mbak Lilis bangkit dan memeluk tubuhku erat sekali. Hmm.. payudaranya yang hangat pun menempel ketat di dadaku. Nikmat sekali. Mbak Lilis mendesah panjang sambil membenamkan wajahnya di bahuku. Aku mengangkat kepala wanita itu dari bahuku.
"Kenapa Mbak?" tanyaku setengah berbisik.


Mbak Lilis tersenyum agak tersipu, lantas menggeleng. Kedua tangannya yang lembut membelai pipiku.
"Nggak pa-pa.. Yo" desahnya.
Wajahnya terlihat habis menuntaskan sesuatu. Aku langsung menyimpulkan bahwa wanita di hadapanku ini baru saja melepas orgasmenya. Aku tersenyum sambil mencubit payudara Mbak Lilis.
"Udah keluar ya Mbak?" bisikku setengah menggoda.
Mbak Lilis tersenyum geli sambil mengangguk. Aku pun tertawa. Wanita itu malah mencubit pinggangku.
"Ketawa lagi.. awas ya kamu, ntar aku bikin kelojotan baru tau rasa.. hihihihi"
Mbak Lilis langsung mendorong tubuhku hingga jatuh di sofa lagi. Kemudian dengan liar wanita itu mencoba melepas ritsleting celanaku. Tak diperdulikannya daster yang sudah mawut-mawut di tubuhnya itu. Aku membiarkan Mbak Lilis menelanjangiku. Dan tak lama kemudian tubuhku sudah lolos tanpa busana.

Mbak Lilis tersenyum melihat batang penisku yang mulai tegang. Digelitiknya daerah sensitifku dengan rambutnya yang panjang. Hmm.. geli-geli enak. Mbak Lilis kemudian meneteskan air ludahnya ke atas kepala penisku. aahh.. aku merasakan enak ketika air ludah itu menyentuh lubang kencingku. hh.. tubuhku sedikit bergidik. Dengan jemari lentiknya, Mbak Lilis meratakan air ludah yang membasahi penisku. Dengan lembut wanita itu mengusap seluruh permukaan penisku yang sudah licin. hhmm.. nikmat sekali. Kelima jemari lentiknya mengusap dan menjepit pangkal penisku, dan.. ahh.. Mbak Lilis mulai menjilati kepala penisku yang sudah basah.

Lembut sekali lidah wanita ini. Sementara tangan Mbak Lilis mengocok bagian pangkal penisku, lidahnya lincah menjelajahi kepala dan leher penisku. Dijelajahinya seluruh daerah sensitifku. Dan sebagai ibu-ibu yang sudah lama menikah, Mbak Lilis lihai sekali mencari titik-titik rangsangku. Akhirnya batang penisku masuk ke dalam mulutnya yang hangat. Ahh.. nikmat sekali. Kulihat kepala Mbak Lilis naik-turun mengikuti irama kenikmatan yang diberikan padaku. Sebelah tangannya yang sejak tadi diam saja kini merayapi daerah perutku. Uuuhh.. nikmatnya. Birahiku semakin memuncak. Tak tahan kedua tanganku pun meremas rambut Mbak Lilis yang lebat. Wanita itu bagai tak peduli terus menjilat, mengulum dan mengisap batang penisku.
Birahiku yang semakin naik menuntunku untuk mengangkat tubuh Mbak Lilis naik ke atas tubuhku. Wanita itu tersenyum senang melihat birahiku yang menyala-nyala. Aku meloloskan daster yang masih menyangkut di pinggangnya. aahh.. gila, ternyata Mbak Lilis juga tidak mengenakan celana dalam sejak tadi.

Kini kami berdua sudah sama-sama telanjang bulat. Mbak Lilis duduk di atas pahaku, kedua tangannya merangkul leherku. Aku memeluk pinggang Mbak Lilis yang dihiasi sedikit lemak itu.
"Sekarang Yo?" desahnya.
Aku tersenyum sambil menggeleng. Kemudian secara mengejutkan aku memutar posisi hingga Mbak Lilis kini yang duduk di sofa. Wanita itu sempat menjerit sesaat. Detik berikutnya dengan buas aku mengangkat sebelah paha Mbak Lilis yang mulus ke atas sandaran sofa. Aku memperhatikan vagina Mbak Lilis yang ditumbuhi bulu lebat sekali. Hmm.. terus terang bagiku kurang nikmat menjilati vagina wanita yang ditumbuhi bulu yang lebat.

"Mbak bulunya banyak banget" seruku. Mbak Lilis mengangguk.
"Iya, nggak pernah dicukur. Aku nggak berani" jawabnya. Aku tersenyum penuh arti.
"Aku cukurin ya Mbak" pintaku. Mbak Lilis terlihat terkejut.
"Hah.. terus gimana?" tanyanya setengah bingung.
"Ya nggak gimana-gimana hihihi.. Mbak ada cukuran?" tanyaku.
Tanpa diminta dua kali Mbak Lilis bangkit menuju kamar tidurnya dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah alat cukur manual.
"Oke.. aku cukur ya, mau model apa Mbak? Hihihihi" godaku.
"Apa aja deh, abis juga boleh hihihi" jawab Mbak Lilis.
Aku pun mulai beraksi. Kucukuri seluruh bulu yang tumbuh di daerah kemaluan Mbak Lilis sampai bersih, diiringi desahan-desahan manja si pemilik bulu.
"Udah Mbak" seruku. Mbak Lilis melongok ke bawah.
"Hihihi.. botak abis, aku cuci dulu ya"
Mbak Lilis pun ke kamar mandi untuk membersihkan bulu-bulunya. Tak lama wanita itu kembali ke ruang TV.
"Taraa" serunya menirukan suara terompet sambil merentangkan kedua tangannya. Aku tertawa melihat gayanya.
"Waahh.. mulus abiss" seruku.

Dengan gemas Mbak Lilis menghampiriku dan memeluk tubuhku. Aku pun memutar tubuh hingga Mbak Lilis kembali duduk di sofa. Seperti tadi aku mengangkat paha Mbak Lilis dan kudekatkan wajahku ke arah vaginanya. Hmm.. aroma kewanitaannya langsung tercium. Dengan lembut kujilati sekeliling vagina dan selangkangan Mbak Lilis sebelum akhirnya aku bergumul dengan bibir vaginanya yang masih rapat.
"sshh.. Rioo.. aahh" Mbak Lilis menggelinjang menahan nikmat.
Lidahku semakin liar menjelajahi vagina Mbak Lilis. Jemariku pun ikut membantu melonggarkan liang vaginanya agar aku bisa menjilati klitoris Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis terus menggelinjang tak karuan. Nafasnya tidak teratur. Desahan-desahan menahan nafsu terus keluar dari bibirnya.
"Riioo.. sshh" desahan panjang Mbak Lilis kembali terdengar.
Bersamaan dengan itu dari vagina yang tengah kujilati pun keluar cairan kewanitaannya. Hmm.. aku langsung menghirup cairan itu sambil menyedot dinding vagina Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis sampai terlonjak.
"sshh.. cukup sayang.. sekarang kasih yang aslinya dong" pinta Mbak Lilis seraya mengangkat tubuhku.
Aku tersenyum sambil mengangguk. Perlahan aku mulai mengarahkan batang penisku ke vagina Mbak Lilis. Pelan-pelan kumasukkan sedikit demi sedikit. Dan.. ssllpp.. aahh.. penisku pun amblas dalam hangatnya vagina Mbak Lilis. Wanita itu merintih sejenak. Kemudian aku menggoyang-goyangkan pantatku untuk berbagi kenikmatan dengan Mbak Lilis.

"Oohh.. oohh.. sshh.. aahh" desahan dan erangan kami saling bersahutan.
Kami betul-betul menikmati permainan. Vagina Mbak Lilis terasa hangat sekali mengulum penisku. Kedua tangan kami saling berpegangan. Kira-kira lima belas menit kemudian aku mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis berdenyut dan cengramannya semakin kencang. Desahan Mbak Lilis pun semakin liar. Tak lama kemudian aku merasakan ada cairan yang membanjiri penisku dari dalam vagina Mbak Lilis. aahh.. wanita itu orgasme lagi. Kulihat Mbak Lilis tersenyum simpul.

Kemudian kami berganti posisi. Mbak Lilis nungging di sofa sambil berpegang pada sandaran, dan sambil berdiri kembali kutembus liang kenikmatan wanita itu dengan penisku. Uuuhh.. kedua tanganku memegangi pinggul Mbak Lilis yang ikut maju-mundur karena goyanganku. Kuusap pantat Mbak Lilis yang halus dan mulus. Bosan dengan posisi tersebut, kami berganti lagi. Kali ini aku duduk di sofa dan Mbak Lilis duduk di atas tubuhku. Hmm.. hangat sekali tubuhnya. Mbak Lilis cukup lihai memimpin permainan. Pinggulnya tak hanya maju-mundur tapi juga memutar sehingga memberi sensasi nikmat yang luar biasa pada penisku. Aku memeluk tubuh montok Mbak Lilis erat-erat hingga payudara wanita itu menempel di wajahku. Huuff.. lidahku segera menjulur keluar untuk menikmati kenyalnya puting susu Mbak Lilis. Sesekali kugigit dengan pelan. Wanita itu berkali-kali menjerit di tengah desahan nikmatnya.

Setelah beberapa menit aku mulai merasa spermaku akan muntah dari penisku.
"aahh.. ahh.. Mbak.. udah mau nyampe nih" desahku.
Mbak Lilis tersenyum sambil terus mendekap kepalaku.
"sshh.. iya Yo.. aku juga nih, tungguin yaa" desah Mbak Lilis seraya mencium bibirku.
Ugghh.. lumatan bibir Mbak Lilis membuatku semakin tak kuasa menahan kendali. Kucengkeram pinggang Mbak Lilis yang tengah bergoyang hebat agar wanita itu berhenti bergoyang.
"sshh.. kenapa sayang?" tanya Mbak Lilis. Aku tersenyum.
"Nggak pa-pa, nunda sebentar Mbak.. hihihi" jawabku. Mbak Lilis mencubit dadaku gemas.
"Dasar ya" desahnya manja. Wanita itu memeluk tubuhku erat. aahh.. hangat sekali tubuhnya.
"Terusin Mbak" bisikku sambil menjilati telinganya.
Tubuh Mbak Lilis kembali bergoyang. aahh.. betul-betul nikmat. Gairahku semakin memuncak, dan aku juga mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis berdenyut.
"Rioo.. bareng ya.. keluarin di dalam aja" desah Mbak Lilis.
Aku mengangguk. Mbak Lilis semakin mempercepat goyangannya. Aku pun membantu dengan menggoyangkan pinggangku. aahh.. ahh.. penisku semakin cepat keluar masuk vagina Mbak Lilis, dan.. Croott.. crott.. crroott.. croott.. ccrroott.. ccroott.. Entah berapa kali penisku menyemprotkan cairan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Mbak Lilis.

"aawww.. kamu duluan ya sayang.. hihihihi" desah Mbak Lilis.
Aku tersenyum kecut seraya memeluk tubuh Mbak Lilis. Dengan sisa-sisa yang ada aku mencoba menggenjot tubuhku untuk membuat Mbak Lilis mencapai puncak. Dan..
"aahh.. sshh.. Riioo" Mbak Lilis kembali mengeluarkan desahan panjang seiring membanjirnya vagina wanita itu.
Dengan tubuh agak lemas kami berpelukan. Penisku masih tertancap di dalam vagina Mbak Lilis.
"sshh.. makasih ya sayang, aku udah lama banget nggak ngerasa kayak gini" desah Mbak Lilis di sela-sela kecupan bibirnya.
"Iya.. makasih juga untuk pengalamannya Mbak hihihi" jawabku.
Mbak Lilis memelukku dengan gemas dan melumat bibirku habis-habisan. Malam itu akhirnya aku menginap di rumah Mbak Lilis. Aku tidak ingat berapa kali kami memacu birahi bersama. Hampir setiap sudut rumah itu kami pakai. Di ruang TV, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan juga dapur. Yang kuingat kami tertidur di ranjang Mbak Lilis sekitar jam 3 pagi. Kemudian Mbak Lilis membangunkanku jam 7 pagi. Kulihat wanita itu sudah segar kembali lengkap dengan pakaian kantornya.
"Mandi dulu sayang.. kamu juga kan mesti ke kantor" desah Mbak Lilis seraya membangunkanku.

Aku harus kembali ke rumah dulu sebelum ke kantor karena aku tidak membawa baju. Setelah mandi, aku berangkat bareng Mbak Lilis dengan taksi yang dipesannya ke rumah. Oke, sampai di sini dulu pengalamanku dengan Mbak Lilis. Aku belum tau bagaimana selanjutnya hubungan kami. Yang jelas kami masih sering SMS-an dan telepon. Tunggu saja cerita selanjutnya.

Tamat


Dari email turun ke ranjang – 2

Awek Pantat Panas Cantik"Sshh.. ohh.. Rio.. sshh" Mbak Lilis mendesah menahan rasa nikmat.
Aku tak peduli. Lidahku terus menjelajahi puting dan payudaranya secara bergantian. Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. sementara kedua tanganku tak henti-henti meremasnya.
"Sshh.. Riioo" tiba-tiba Mbak Lilis bangkit dan memeluk tubuhku erat sekali. Hmm.. payudaranya yang hangat pun menempel ketat di dadaku. Nikmat sekali. Mbak Lilis mendesah panjang sambil membenamkan wajahnya di bahuku. Aku mengangkat kepala wanita itu dari bahuku.
"Kenapa Mbak?" tanyaku setengah berbisik.


Mbak Lilis tersenyum agak tersipu, lantas menggeleng. Kedua tangannya yang lembut membelai pipiku.
"Nggak pa-pa.. Yo" desahnya.
Wajahnya terlihat habis menuntaskan sesuatu. Aku langsung menyimpulkan bahwa wanita di hadapanku ini baru saja melepas orgasmenya. Aku tersenyum sambil mencubit payudara Mbak Lilis.
"Udah keluar ya Mbak?" bisikku setengah menggoda.
Mbak Lilis tersenyum geli sambil mengangguk. Aku pun tertawa. Wanita itu malah mencubit pinggangku.
"Ketawa lagi.. awas ya kamu, ntar aku bikin kelojotan baru tau rasa.. hihihihi"
Mbak Lilis langsung mendorong tubuhku hingga jatuh di sofa lagi. Kemudian dengan liar wanita itu mencoba melepas ritsleting celanaku. Tak diperdulikannya daster yang sudah mawut-mawut di tubuhnya itu. Aku membiarkan Mbak Lilis menelanjangiku. Dan tak lama kemudian tubuhku sudah lolos tanpa busana.

Mbak Lilis tersenyum melihat batang penisku yang mulai tegang. Digelitiknya daerah sensitifku dengan rambutnya yang panjang. Hmm.. geli-geli enak. Mbak Lilis kemudian meneteskan air ludahnya ke atas kepala penisku. aahh.. aku merasakan enak ketika air ludah itu menyentuh lubang kencingku. hh.. tubuhku sedikit bergidik. Dengan jemari lentiknya, Mbak Lilis meratakan air ludah yang membasahi penisku. Dengan lembut wanita itu mengusap seluruh permukaan penisku yang sudah licin. hhmm.. nikmat sekali. Kelima jemari lentiknya mengusap dan menjepit pangkal penisku, dan.. ahh.. Mbak Lilis mulai menjilati kepala penisku yang sudah basah.

Lembut sekali lidah wanita ini. Sementara tangan Mbak Lilis mengocok bagian pangkal penisku, lidahnya lincah menjelajahi kepala dan leher penisku. Dijelajahinya seluruh daerah sensitifku. Dan sebagai ibu-ibu yang sudah lama menikah, Mbak Lilis lihai sekali mencari titik-titik rangsangku. Akhirnya batang penisku masuk ke dalam mulutnya yang hangat. Ahh.. nikmat sekali. Kulihat kepala Mbak Lilis naik-turun mengikuti irama kenikmatan yang diberikan padaku. Sebelah tangannya yang sejak tadi diam saja kini merayapi daerah perutku. Uuuhh.. nikmatnya. Birahiku semakin memuncak. Tak tahan kedua tanganku pun meremas rambut Mbak Lilis yang lebat. Wanita itu bagai tak peduli terus menjilat, mengulum dan mengisap batang penisku.
Birahiku yang semakin naik menuntunku untuk mengangkat tubuh Mbak Lilis naik ke atas tubuhku. Wanita itu tersenyum senang melihat birahiku yang menyala-nyala. Aku meloloskan daster yang masih menyangkut di pinggangnya. aahh.. gila, ternyata Mbak Lilis juga tidak mengenakan celana dalam sejak tadi.

Kini kami berdua sudah sama-sama telanjang bulat. Mbak Lilis duduk di atas pahaku, kedua tangannya merangkul leherku. Aku memeluk pinggang Mbak Lilis yang dihiasi sedikit lemak itu.
"Sekarang Yo?" desahnya.
Aku tersenyum sambil menggeleng. Kemudian secara mengejutkan aku memutar posisi hingga Mbak Lilis kini yang duduk di sofa. Wanita itu sempat menjerit sesaat. Detik berikutnya dengan buas aku mengangkat sebelah paha Mbak Lilis yang mulus ke atas sandaran sofa. Aku memperhatikan vagina Mbak Lilis yang ditumbuhi bulu lebat sekali. Hmm.. terus terang bagiku kurang nikmat menjilati vagina wanita yang ditumbuhi bulu yang lebat.

"Mbak bulunya banyak banget" seruku. Mbak Lilis mengangguk.
"Iya, nggak pernah dicukur. Aku nggak berani" jawabnya. Aku tersenyum penuh arti.
"Aku cukurin ya Mbak" pintaku. Mbak Lilis terlihat terkejut.
"Hah.. terus gimana?" tanyanya setengah bingung.
"Ya nggak gimana-gimana hihihi.. Mbak ada cukuran?" tanyaku.
Tanpa diminta dua kali Mbak Lilis bangkit menuju kamar tidurnya dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah alat cukur manual.
"Oke.. aku cukur ya, mau model apa Mbak? Hihihihi" godaku.
"Apa aja deh, abis juga boleh hihihi" jawab Mbak Lilis.
Aku pun mulai beraksi. Kucukuri seluruh bulu yang tumbuh di daerah kemaluan Mbak Lilis sampai bersih, diiringi desahan-desahan manja si pemilik bulu.
"Udah Mbak" seruku. Mbak Lilis melongok ke bawah.
"Hihihi.. botak abis, aku cuci dulu ya"
Mbak Lilis pun ke kamar mandi untuk membersihkan bulu-bulunya. Tak lama wanita itu kembali ke ruang TV.
"Taraa" serunya menirukan suara terompet sambil merentangkan kedua tangannya. Aku tertawa melihat gayanya.
"Waahh.. mulus abiss" seruku.

Dengan gemas Mbak Lilis menghampiriku dan memeluk tubuhku. Aku pun memutar tubuh hingga Mbak Lilis kembali duduk di sofa. Seperti tadi aku mengangkat paha Mbak Lilis dan kudekatkan wajahku ke arah vaginanya. Hmm.. aroma kewanitaannya langsung tercium. Dengan lembut kujilati sekeliling vagina dan selangkangan Mbak Lilis sebelum akhirnya aku bergumul dengan bibir vaginanya yang masih rapat.
"sshh.. Rioo.. aahh" Mbak Lilis menggelinjang menahan nikmat.
Lidahku semakin liar menjelajahi vagina Mbak Lilis. Jemariku pun ikut membantu melonggarkan liang vaginanya agar aku bisa menjilati klitoris Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis terus menggelinjang tak karuan. Nafasnya tidak teratur. Desahan-desahan menahan nafsu terus keluar dari bibirnya.
"Riioo.. sshh" desahan panjang Mbak Lilis kembali terdengar.
Bersamaan dengan itu dari vagina yang tengah kujilati pun keluar cairan kewanitaannya. Hmm.. aku langsung menghirup cairan itu sambil menyedot dinding vagina Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis sampai terlonjak.
"sshh.. cukup sayang.. sekarang kasih yang aslinya dong" pinta Mbak Lilis seraya mengangkat tubuhku.
Aku tersenyum sambil mengangguk. Perlahan aku mulai mengarahkan batang penisku ke vagina Mbak Lilis. Pelan-pelan kumasukkan sedikit demi sedikit. Dan.. ssllpp.. aahh.. penisku pun amblas dalam hangatnya vagina Mbak Lilis. Wanita itu merintih sejenak. Kemudian aku menggoyang-goyangkan pantatku untuk berbagi kenikmatan dengan Mbak Lilis.

"Oohh.. oohh.. sshh.. aahh" desahan dan erangan kami saling bersahutan.
Kami betul-betul menikmati permainan. Vagina Mbak Lilis terasa hangat sekali mengulum penisku. Kedua tangan kami saling berpegangan. Kira-kira lima belas menit kemudian aku mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis berdenyut dan cengramannya semakin kencang. Desahan Mbak Lilis pun semakin liar. Tak lama kemudian aku merasakan ada cairan yang membanjiri penisku dari dalam vagina Mbak Lilis. aahh.. wanita itu orgasme lagi. Kulihat Mbak Lilis tersenyum simpul.

Kemudian kami berganti posisi. Mbak Lilis nungging di sofa sambil berpegang pada sandaran, dan sambil berdiri kembali kutembus liang kenikmatan wanita itu dengan penisku. Uuuhh.. kedua tanganku memegangi pinggul Mbak Lilis yang ikut maju-mundur karena goyanganku. Kuusap pantat Mbak Lilis yang halus dan mulus. Bosan dengan posisi tersebut, kami berganti lagi. Kali ini aku duduk di sofa dan Mbak Lilis duduk di atas tubuhku. Hmm.. hangat sekali tubuhnya. Mbak Lilis cukup lihai memimpin permainan. Pinggulnya tak hanya maju-mundur tapi juga memutar sehingga memberi sensasi nikmat yang luar biasa pada penisku. Aku memeluk tubuh montok Mbak Lilis erat-erat hingga payudara wanita itu menempel di wajahku. Huuff.. lidahku segera menjulur keluar untuk menikmati kenyalnya puting susu Mbak Lilis. Sesekali kugigit dengan pelan. Wanita itu berkali-kali menjerit di tengah desahan nikmatnya.

Setelah beberapa menit aku mulai merasa spermaku akan muntah dari penisku.
"aahh.. ahh.. Mbak.. udah mau nyampe nih" desahku.
Mbak Lilis tersenyum sambil terus mendekap kepalaku.
"sshh.. iya Yo.. aku juga nih, tungguin yaa" desah Mbak Lilis seraya mencium bibirku.
Ugghh.. lumatan bibir Mbak Lilis membuatku semakin tak kuasa menahan kendali. Kucengkeram pinggang Mbak Lilis yang tengah bergoyang hebat agar wanita itu berhenti bergoyang.
"sshh.. kenapa sayang?" tanya Mbak Lilis. Aku tersenyum.
"Nggak pa-pa, nunda sebentar Mbak.. hihihi" jawabku. Mbak Lilis mencubit dadaku gemas.
"Dasar ya" desahnya manja. Wanita itu memeluk tubuhku erat. aahh.. hangat sekali tubuhnya.
"Terusin Mbak" bisikku sambil menjilati telinganya.
Tubuh Mbak Lilis kembali bergoyang. aahh.. betul-betul nikmat. Gairahku semakin memuncak, dan aku juga mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis berdenyut.
"Rioo.. bareng ya.. keluarin di dalam aja" desah Mbak Lilis.
Aku mengangguk. Mbak Lilis semakin mempercepat goyangannya. Aku pun membantu dengan menggoyangkan pinggangku. aahh.. ahh.. penisku semakin cepat keluar masuk vagina Mbak Lilis, dan.. Croott.. crott.. crroott.. croott.. ccrroott.. ccroott.. Entah berapa kali penisku menyemprotkan cairan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Mbak Lilis.

"aawww.. kamu duluan ya sayang.. hihihihi" desah Mbak Lilis.
Aku tersenyum kecut seraya memeluk tubuh Mbak Lilis. Dengan sisa-sisa yang ada aku mencoba menggenjot tubuhku untuk membuat Mbak Lilis mencapai puncak. Dan..
"aahh.. sshh.. Riioo" Mbak Lilis kembali mengeluarkan desahan panjang seiring membanjirnya vagina wanita itu.
Dengan tubuh agak lemas kami berpelukan. Penisku masih tertancap di dalam vagina Mbak Lilis.
"sshh.. makasih ya sayang, aku udah lama banget nggak ngerasa kayak gini" desah Mbak Lilis di sela-sela kecupan bibirnya.
"Iya.. makasih juga untuk pengalamannya Mbak hihihi" jawabku.
Mbak Lilis memelukku dengan gemas dan melumat bibirku habis-habisan. Malam itu akhirnya aku menginap di rumah Mbak Lilis. Aku tidak ingat berapa kali kami memacu birahi bersama. Hampir setiap sudut rumah itu kami pakai. Di ruang TV, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan juga dapur. Yang kuingat kami tertidur di ranjang Mbak Lilis sekitar jam 3 pagi. Kemudian Mbak Lilis membangunkanku jam 7 pagi. Kulihat wanita itu sudah segar kembali lengkap dengan pakaian kantornya.
"Mandi dulu sayang.. kamu juga kan mesti ke kantor" desah Mbak Lilis seraya membangunkanku.

Aku harus kembali ke rumah dulu sebelum ke kantor karena aku tidak membawa baju. Setelah mandi, aku berangkat bareng Mbak Lilis dengan taksi yang dipesannya ke rumah. Oke, sampai di sini dulu pengalamanku dengan Mbak Lilis. Aku belum tau bagaimana selanjutnya hubungan kami. Yang jelas kami masih sering SMS-an dan telepon. Tunggu saja cerita selanjutnya.

Tamat