Category Archives: cerita seks pembantu

Rini si ayam kampus

Awek Pantat Panas CantikMalam itu seusai rapat organisasi, aku segera menstart motorku untuk pulang. Rasanya pengin sekali segera sampai di rumah, makan, lalu tidur. Tetapi baru saja sampai di gerbang depan kampus seseorang menyapaku, dan ketika aku toleh arah suara itu ternyata Rini, anak fakultas ekonomi. Ngapain anak ini sendirian di gerbang?

"Belum pulang, Rin?"
"Belum Den, habis nungguin bis lewat, lama amat." Jawabnya sambil berkedip-kedip genit.


"Bis lewat ditungguin, gue antar deh?"
"Bener situ mau nganterin?"
"Yah, pokoknya nggak gratis. Situ tau sendiri deh." Ujarku menggoda.
"Ah, bisa aja."

Rini mencubit kecil pinggangku lalu segera naik ke boncengan. Tangannya melingkat erat di pinggangku, lalu melajulah motor di ramainya jalanan. Lama-kelamaan si Rini malah menempelkan dadanya di punggungku. Tau nggak, rasanya benar-benar empuk dan hangat. Wuih, terasa bener kalau dia nggak pake beha. Sebagai laki-laki normal, wajar dong kalo batang penisku tiba-tiba menegang.

"Den, gimana kalo kita mampir ke taman kota? Aku dengar ada dangdutan di sana." Bisik Rini dekat di telinga kiriku.
"Seleramu dangdut juga ya?"

Rini kembali mencubit pinggangku, tapi kemudian mengelus-elus dadaku. Tengkukku mulai merinding. Ada maunya nih anak, pikirku waktu itu. Mungkin aku sedang dihadapkan salah satu ayam kampus, nih. OK, siapa takut!

Aku segera membelokkan sepeda motor ke taman kota. Lalu mencari tempat yang agak remang tapi cukup strategis untuk menikmati isi panggung yang terletak di tengah taman kota itu. Panggung yang kira-kira berukuran 6x6 meter itu tampak meriah dikelilingi ratusan pengunjung. Irama dangdut menggema memekakkan telinga.

"Den, sini dong? Sini, duduk sama aku."
Aku duduk di belakang Rini yang masih duduk di boncengan motorku. Gadis itu nampaknya asyik benar mengikuti irama dangdut. Sedang aku lebih tertarik memelototi tubuh penyanyinya dibanding suaranya yang menurutku biasa saja.

Beberapa orang penyayi bergoyang hot membangkitkan gelora birahi para pria yang memandangnya, termasuk aku. Pandanganku beralih kepada Rini. Sayang aku hanya bisa memandang ubun-ubunnya saja. Aroma wangi menebar dari rambutnya yang bisa dibilang bagus, aroma yang eksotik. Kalau saja ada kesempatan, desahku.

"Den, kok diam saja? Belum pernah lihat orang goyang ya?"
"Bukannya gitu, cuman gila aja mandang tuh cewek. Berani bener joget kayak gitu,"
"Ah, segitu saja. Coba kemarikan tanganmu!"

Aku mengulurkan tangan kananku. Astaga, gadis itu memasukkan tanganku di balik bajunya sehinga tanganku benar-benar bisa merasakan kegemukan dadanya. Keringat dinginku tiba-tiba merembes, dadaku bergemuruh.

"Rin, apa-apaan kamu ini?" Ujarku lirih tanpa menarik kembali tanganku.
"Kamu nggak suka ya?" Tanya Rini kalem.
"Engh.. Bukannya begitu..anu" Jawabku tergagap.
"Aku tau kamu suka. Aku juga suka Den, jadi nggak ada masalah kan?" Kata Rini menoleh ke padaku.
"I..iya sih."

Yah, begitulah. Akhirnya aku punya kesempatan. Tanganku membelai-belai dada Rini dengan bebasnya. Mempermainkan putingnya dengan gemas, kupelintir kesana kemari. Gadis itu bukannya kesakitan, tapi malah mendesah-desah kegirangan. Aku sendiri sudah nggak tahu berapa kali menelan ludah. Rasanya ingin memelintir puting itu dengan mulutku. Rupanya tangan kiriku mulai iri, lalu segera menyusul tangan kananku menerobos masuk di balik baju Rini. Meremas-remas kedua bukit yang tak terlihat itu.

"Den, Deni.. tangan-tanganmu benar-benar nakal. Hoh.. aduh.. geli Den," Desah Rini menjambak rambutku yang cukup gondrong.
"Rin, aku suka sekali.. bagaimana kalau kita.."
"Uhg.. heeh, iya.. aku mau."

Aku segera menghentikan kegiatanku mengobok-obok isi baju Rini. Lalu kami segera menuju sebuah hotel yang tak jauh dari taman kota. Tiada kami peduli dengan beberapa pasang mata yang memandangi kami dengan sejuta pikiran. Masa bodoh, yang penting aku segera bisa mengencani Rini.**

Segera aku bayar uang muka sewa kamar, lalu kami melenggang ke kamar 51. Rini yang sedari tadi memeluk tubuhku kini tergeletak di atas springbed. Matanya yang sayu bagai meminta, tangannya melambai-lambai. Aku langsung saja membuka kancing bajuku hingga bertelanjang dada.

"Den.. sudah lama aku inginkan kamu,"
"Oya? Kenapa tak bilang dari dulu?" Ujarku sambil melepas kancing baju Rini.

Benarlah kini tampak, dua bukit kenyal menempel di dadanya. Tangan Rini membelai-belai perutku. Rasanya geli dan uh.. lagi-lagi aku merinding. Kutekan-tekan kedua putingnya, bibir gadis itu mengulum basah. Matanya yang semakin memejam membuat birahiku semakin terkumpul menyesakkan dada.

"Den.. ayo.. kamu tak ingin mengulumnya? Ayo masukkan ke mulutmu."
"Heh.. iya, pasti!"

Aku segera mengangkangi Rini lalu berjongkok diatasnya, lalu menunduk mendekati dadanya. Kemudian segera memasukkan bukit kenyal itu ke dalam mulutku. Aku hisap putingnya perlahan, tapi semakin aku hisap rasanya aku pingin lebih sehingga semakin lama aku menghisapnya kuat-kuat. Seperti dalam haus yang sangat. Ingin rasanya aku mengeluarkan isi payudara Rini, aku tekan dan remas-remas bukit gemuk itu penuh nafsu. Rini merintih-rintih kesakitan.

"Den.. hati-hati dong, sakit tahu! Perlahan.. perlahan saja Ok? Heh.. Yah, gitu.. eeh hooh.."

Busyet, baru menghisap payudara kiri Rini saja spermaku sudah muncrat. Batang penisku terasa berdenyut-denyut sedikit panas. Rini bergelinjangan memegangi jeans yang aku pakai, seakan ingin aku segera melorotnya. Tapi aku belum puas mengemut payudara Rini. Aku pingin menggilir payudara kanannya. Tapi ketika pandanganku mengarah pada bukit kanan Rini, wuih! Bengkak sebesar buah semangka. Putingnya nampak merah menegang, aku masih ingin memandanginya. Tapi Rini ingin bagian yang adil untuk kedua propertinya itu.

"Ayo Den, yang adil dong.." Katanya sambil menyuguhkan payudara kanannya dengan kedua tangannya.

Aku memegangi payudara kanan Rini, mengelusnya perlahan membuat Rini tersenyum-senyum geli. Ia mendesah-desah ketika aku pelintir putingnya ke kanan dan ke kiri. Lalu segera mencomot putingnya yang tersipu dengan mulutku. Puting itu tersendal-sendal oleh lidahku.
"Deni.. dahsyat banget, uaohh.. enak.. ayo Den.. teruss.."

Rini menceracau tak karuan, tangannya menjambak-jambak rambut gondrongku. Kakinya bergelinjang-gelinjang kesana kemari. Binal juga gadis ini, pikirku. Aku berpindah menyamping, menghindari sepakan kaki Rini. Jangan sampai penisku terkena sepakan kakinya, bisa kalah aku nanti. Justru dengan menyamping itulah Rini semakin bebas. Bebas membuka resleting jeans yang dipakainya. Tapi dasar binal! Gerakannya yang tak karuan membuat kami berguling jatuh di lantai kamar. Dan payudara kanannya lolos dari kulumanku.

"Gimana sih, Rin? Jangan banyak gerak dong!" Ujarku sedikit kesal.
"Habis kamu ganas banget sih.." Hiburnya dengan tatapan menggoda.

Untuk mengobati kekesalan hatiku Rini segera membuka semua pakaiannya tanpa kecuali. Jelaslah sudah tubuh mungil Rini yang mempesona. Air liurku segera terbit, inginnya mengganyang tubuh mungil itu.

Tubuhnya yang meliuk-liuk semampai, dua payudaranya yang nampak ranum bengkak sebesar buah semangka, perutnya yang langsing bagai berstagen tiap hari, ahh.. Lalu, bagian kewanitaannya! Uhh, pussy itu cukup besar dengan bulu-bulu basah yang menghiasinya. Pahanya yang sekal membuatku ingin mengelusnya, dan betisnya yang mulus nan langsat.. ehmm.. Maka dengan tergesa-gesa aku melucuti pakaianku, tanpa terkecuali!

"Wah! Pistolmu besar Den!" Kata Rini yang segera berjongkok dan meremas gemas batang penisku yang sudah sangat tegang.
"Auh.. jangan begitu, geli kan?" Jawabku menepis tangannya.
"Jangan malu-malu, pistol sebesar ini, pasti ampuh."

Rini terus saja membelai-belai batang penisku yang ukurannya bisa dibilang mantap. Semakin lama batang penisku semakin menegang, rasanya mau meledak saja. Tubuhku bagai tersiram air hangat yang kemudian mengalir di setiap sendi darahku.

"Engh, auh.." Aku berdehem-dehem asyik saat Rini asyik memainkan jemari tangannya pada batang penisku.

Telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran yang kemudian digerak-gerakkan keluar masuk batang penisku. Layaknya penisku bermain hula hop. Spermaku mencoba meyeruak keluar, tapi aku tahan dengan sekuat tenaga. Aku remas-remas rambut panjang Rini.

Tapi kemudian Rini yang semakin gemas segera memasukkan batang keperkasaanku itu ke dalam liang mulutnya. Lalu dia mengemutnya bagai mengemut es lilin.

"Ehg.. ehmm.. "
Terdengar suara desisan Rini bagai sangat menikmati batang penisku, begitupun aku. Bagaimana tidak, bibir tebal Rini segera melumat kulit penisku, lalu lidah Rini menjilat-jilat ujungnya. Nafasku serasa putus, keringatku merembes dari segala arah. Sedang Rini bagai kesetanan, terus saja menciptakan sejuta keindahan yang siap diledakkan.

Crot.. crot.. Tak ada yang bisa menahannya lagi. Spermaku keluar menyembur ke liang mulut Rini. Gadis itu nampak sedikit tersedak, beberapa sperma muncrat keluar mulutnya dan kemudian membasahi pangkal penisku.

"Ehmm.. ehmm.. keluarkan teruss.. ehmm," Ujar Rini dengan mulut yang penuh dengan cairan spermaku.
Srup, srup, ia meminumnya dengan semangat sambil tangannya menggelayut di pahaku. Ujung penisku dikenyot-kenyot membuat geloraku makin berdenyut-denyut.

Karena tak tahan maka tak ayal lagi aku segera menubruknya. Menindih tubuh mungilnya lalu melahap bibir nakalnya. Lidah kami bergelut di dalam, menggigit-gigit gemas dan penuh nafsu. Tak peduli Rini merintih-rintih. Entah karena aku terlalu rakus mengganyang bibirnya, atau berat menahan tindihanku. Yang pasti rintihan Rini terdengar sangat merdu di telingaku.

Maka setelah puas mencumbui bibirnya aku segera beralih kepada pussy-nya. Benda keramat itu entah sudah berapa kali kebobolan, aku tak peduli. Kali ini ganti kau yang kukerjain, pikirku.

Langsung saja aku lebarkan paha Rini sehingga jelas pussy berumput yang sangat basah itu. Jemariku memainkan daging gemuk itu. menyusuri perbukitan yang berlorong. Lalu memelintir klitorisnya ke kanan dan ke kiri. Surr.. menyembur lagi cairan kewanitaan Rini. Bening menetes diantara jemariku.

"Den.. tunggu apa.. ayo dong.."
"Aku datang sayang."

Wajahku segera mendekat ke pussy Rini. Lalu tanganku sedikit membuka si pussy sehingga aku bisa menikmati goa kenikmatan itudengan mataku walau hanya sebentar. Srup, srup, aku jilati pussy basah itu. Lidahku sengaja mencari-cari lubang yang mungkin bisa kutembus. Lidahku semakin ke dalam. Mempermainkan klitorisnya yang kenyal. Tanganku pun menyempurnakan segalanya. Bermain-main di payudara Rini yang semakin tegang, mengeras. Sayup-sayup terdengar suara erangan Rini. Aku harap gadis itu juga menikmatinya.

"Ayouhh Den, masukk, aku tak tahan lagi.."
Suara gadis itu terdengar lemah, mungkin sudah keletihan. Aku pun sudah cukup puas beranal ria. So, tunggu apa lagi?? Aku meminta Rini untuk menungging. Gadis itu menurut dengan wajah letih namun penuh semangat. Kemudian aku segera memasukkan penisku ke lubang kawinnya. Mudah. Sekali hentakan sudah masuk. Lalu kucabut dan kumasukkan berkali-kali. Lalu kubiarkan terbenam di dalam beberapa menit.

"Eghh.." Rini menahan rasa nikmat yang kemudian tercipta.
Tubuhnya sedikit mengejang tapi kemudian bergoyang-goyang mengikuti gerakan penisku. Aku segera mengocok penisku dengan kekuatan penuh. Dan kemudian.. kembali spermaku muncrat keluar memenuhi lubang kawin Rini.

Beberapa saat kami saling menikmati kenikmatan itu. darahku seakan berhenti mengalir seperti ada hawa panas yang menggantikan aliran darahku. Seluruh persendian terasa tegang, tapi kemudian seperti ada rasa kepuasan yang tak bisa terucapkan.

Hingga kemudian aku mencabut kembali batang penisku dari pussy Rini. Gadis itu kembali terlentang di lantai kamar hotel. Sedang aku segera menghempaskan tubuhku di atas kasur. Dinginnya lantai kamar yang menyentuh jemari kakiku tak bisa mengalahkan panasnya suasana kamar itu. Bau keringat kami berbaur.

Namun tiba-tiba batang penisku yang sudah mulai mengendur tersentuh kulit halus wanita. Ketika aku mendongakkan wajah ternyata Rini yang telah duduk di depan kakiku sambil mengelus-elus batang penisku.

"Den, kamu hebat banget. Aku benar-benar puas."
"Ehng.. kamu juga. Sekarang kamu mau minta apa??"

Gadis itu masih diam sambil terus mempermainkan batang penisku. Gawat, bisa-bisa bangun lagi batang penisku. Bisa perang lagi nih, dobel dong tarifnya.

"Kamu minta apa? HP? Duit?"
"Aku minta.. minta lagi deh," Kata Rini yang kemudian kembali mengenyot batang penisku.
"Waduh, bisa-bisa lembur nih!", pikirku.

*****

Tamat


Teman sekelasku yang menggairahkan

Awek Pantat Panas CantikSaat ini aku sedang kuliah semester dua di salah satu universitas swasta di selatan Jakarta. Ini kisah beberapa bulan lalu, sekaligus cerita pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks. Hari pertama kuliah memang membosankan karena belum kenal teman-teman. Tetapi, dengan jarak satu baris, ada mahasiswi duduk tiba-tiba, dia terlambat sekitar 10 menit. Kemudian agak kulirik hati-hati bagaimana rupanya. Memang sih tidak terlalu cantik tetapi manis. Ditambah kulit coklatnya, rambutnya agak ikal, panjangnya setengah leher, belah tengah. Sejenak otak terpenuhi pikiran-pikiran kotor. Bajunya abu-abu dengan lengan biru dan agak ketat, jadi buah dadanya terlihat mancung. Perkiraanku sekitar 34A ukurannya.

Sekitar seminggu berlalu, tetapi aku belum juga kenal dengan cewek itu. Seminggu kemudian, saat aku sedang ngobrol dengan beberapa temanku (yang kenal dengan cewek itu), tiba-tiba dia menghampiri kumpulanku dan teman-temanku. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya dia duluan yang bertanya untuk berkenalan.
"Eh, elo namanya siapa..?" katanya.


Dalam hatiku, "Agresif nih kayaknya.. bodo ah, tancap aja..!"
Lalu kubilang, "Eldi."
Dia juga ngejawab, "Diya Hartiyan, panggil aja Yayan."
Akhirnya kami berkenalan juga.

Setelah aku merasa akrab dengannya, pikiranku mulai kembali pada pikiran-pikiran kotorku lagi. Bahkan lebih parah, ingin bersetubuh dengan Yayan. Setiap kali kulihat dada seksinya, batang kejantananku mulai tegang. Malah, kadang-kadang kalau sedang duduk di belakangnya, Yayan seringkali membangkitkan nafsuku dengan melepas ikat rambutnya dan menaikkan rambutnya hingga lehernya terlihat. Juga bibirnya yang sexy, yang mungkin terlalu enak untuk dicium dan dikulum. Nafsuku yang sudah meledak suka ingin membuatku melepaskan celana dan onani di depan wajahnya. Aku juga ingin memiliki fotonya buat bahan onani di kamar atau di kamar mandi. Tetapi berhubung nafsuku sudah kelewat batas, aku sering onani dengan bahan hanya menggunakan daya khayalku saja.

Yang membuatku bertambah nafsu, Yayan gampang sekali dirangkul atau dipeluk cowok. Kupakai kesempatan ini dengan memeluk bagian pinggangnya, apalagi Yayan malah menanggapinya dan membalasnya. Kemudian, pada saat ujian negara semester 1, wanita diharuskan memakai rok panjang semata kaki. Begitu kulihat Yayan, wuaih.. anggun sekali! Apalagi dengan tambahan belahan roknya yang hampir sedengkul. Ketika kebetulan dia duduk, kulihat pahanya yang ternyata tidak sehitam kulit bagian lainnya, melainkan lebih coklat muda, hampir putih. Batang kejantananku kembali terangsang. Sesampainya di rumah, aku melakukan onani lagi.

Lalu, inilah saat-saat yang mengejutkan. Setelah midtest semester dua, salah seorang temanku ingin main ke rumahku yang juga mengajak beberapa teman-teman lainnya. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah. Bagian yang paling mengejutkan dan membuat nafas memburu adalah Yayan ikut juga ke rumahku. Hari itu Yayan memakai kemeja yang agak memperlihatkan bagian pusarnya. Di rumah aku mencoba biasa saja dan berusaha menutupi nafsu birahiku. Tidak lama Yayan ingin ke kamar mandi. Karena rumahku bertingkat, dan kamar mandi atas lagi rusak (airnya tidak jalan), kuantarkan Yayan ke kamar mandi bawah (sementara teman-teman lainnya di atas main Play Station) sambil mencoba menstabilkan nafas yang memburu melambangkan orang penasaran.

Sejenak aku berpikir, "Terlalu nekat nih.. tapi, kapan lagi..?"
Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diriku. Aku pura-pura menjelaskan bagian-bagian kamar mandiku kepada Yayan.
"Yan, ini showernya, ati-ati lho nyemprotnya kencang, trus WC-nya.. udah bisa kan..?"
Tidak lama kemudian kulakukan niat gilaku.
"Emm.. Yan..!" aku bertanya agak gemetaran sambil melihat tangga.
Yayan menjawab, "Apaan sih..? Ada apa..?"
"Ehmm.. Gue.. boleh..," Yayan langsung memotong, "Apaan sih..! Boleh apaan..?"
"Gue boleh cium elo, nggak..?"
Batinku berkata, "Kok kayak anak SMP yah..? Tapi, bodo amat lah..!"
Yayan agak tertegun, "Hah..! Ee.. emm.."
Entah adrenalin dari mana yang datang, tiba-tiba kupegang pinggang kanannya sambil menarik Yayan ke pelukanku. Yayan terlihat tidak berdaya, hanya agak mendesah. Langsung saja kucium perlahan bibir seksinya itu.

Awalnya bibir Yayan hanya diam saja, terkadang agak membuka lebar. Namun setelah agak lama, Yayan mulai memejamkan matanya dan langsung melingkari kedua tangannya di leherku, lalu membalas ciumanku ditambah jilatan di ujung bibirku. Sesekali Yayan juga mengulum lidahku dan agak digigit.
Aku mendengar desahan Yayan, "Ehmm.. eehh.. mm.." mungkin karena menikmati kulumannya.
Lalu Yayan yang mulai agresif, mendorongku ke tembok sambil membuka bajuku. Terpikir olehku, seperti di film saja. Setelah bajuku lepas, Yayan melemparkannya ke lantai dan menjilati dadaku, lalu turun menjilati bulu daerah pusarku. Bukannya geli yang kurasakan, tetapi justru menambah kencangnya ereksi batang kemaluanku. Lalu kubalas lagi melucuti kemejanya. Terlihat buah dadanya yang bulat sexy.

Sambil meneruskan ciuman mautku, kulepas kaitan BH-nya. Kulempar BH-nya ke lantai dan mulai menghisapi buah dada Yayan.
"Aghh.. ahhgghh.., Di.. aahh..!" Yayan terlihat berkeringat dan mengeluarkan desahan.
Beruntung pintu kamar mandi sudah kututup rapat. Puting Yayan kubasahi dengan ludah dan kujilati kembali. Yayan juga sesekali menjambak rambutku dan menjilati daun telingaku. Setelah lama bermain pada puting payudaranya, kulepaskan celana panjang dan celana dalamku. Kemudian aku menyender di tembok sambil memegangi batang kejantananku yang sudah berdiri tegang dan agak berurat. Yayan tidak mulai memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, tapi malah memainkannya dengan sedikit kocokan. Serentak dengan masuknya batang kejantananku ke mulut Yayan, aku merasakan ada semacam getaran listrik di daerah pinggul dan selangkangan.

"Eghh.. Yan.. ehhgghh..!" aku juga mendesah karena enaknya hisapan Yayan.
Sesekali Yayan juga meludahi ujung batang kemaluanku dan menjilati pinggirnya. Akhirnya, kuajak Yayan untuk melakukan persenggamaan.
"Ehh.. Yan.. gue masukkin yahh.. hh..!" sambil nafasku naik-turun.
Tanpa banyak bicara kecuali sedikit desahan, "Eughh.. ehh.." Yayan langsung mendorongku ke dudukan WC, sehingga aku terduduk dan Yayan duduk di pangkuanku setelah melucuti celananya.
Wajahnya menghadap ke arahku. Yayan sendiri yang mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya.

"Esshhghh.. emmhh..!" Yayan mendesah namun seperti tertahan.
Wajahnya terlihat agak merah. Dari situ kuketahui kalau dia sepikiran denganku. Tidak ingin suaranya kedengeran. Akhirnya aku melakukan persetubuhan untuk pertama kalinya. Setelah Yayan menusukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, aku merasakan ujung batang kejantananku menabrak dan mendorong sesuatu. Nampaknya selaput daranya tertekan.
Batinku berkata, "Yess.. Yayan masih perawan."
Yayan mencoba mengayunkan badannya ke atas dan bawah.

Kugoyangkan juga badanku ke atas dan ke bawah. Kurasakan selaput Yayan sudah robek. Mungkin nanti akan terlihat noda darah. Goyangan Yayan semakin kencang. Sekujur tubuhnya terlihat kucuran keringat. Bagitu juga badanku, terutama bagian leher. Kuusapi keringatnya dengan tanganku sambil mengelus tubuh seksinya, juga kutempelkan badannya ke badanku. Karena aku takut tutup WC-nya jebol, kuangkat Yayan dengan batang kejantananku masih menancap, dan kutiduri Yayan di lantai. Untung lantainya belum basah, jadi masih bersih. Kukangkangkan kedua kakinya, kutempelkan di pinggang dan kupegangi. Goyanganku kini maju mundur.

"Aghh.. aah.. Di.. a.. ayo.. Di..!" Yayan kembali mendesah sambil memanggil namaku.
Kembali aku merasakan adrenalin aneh merasukiku. Biasanya senafsu-nafsunya aku onani, paling cepat hanya 5 menit. Karena di kamar mandiku ada jam dinding, kulihat sudah hampir 10 menit sejak ciuman pertamaku itu, aku belum juga mencapai klimaksnya. Kalau onani pasti sudah keluar dari tadi. Akhirnya, Yayan ejakulasi duluan. Di sekujur batang kemaluanku kurasakan cairan hangat dari vaginanya. Kocokanku masih berlanjut, tetapi tidak lama. Aku merasa juga sudah ingin segera mencapai orgasmeku. Karena takut keluar di dalam, segera kucabut batang kejantananku. Aku bermaksud untuk memuncratkan spermaku di wajahnya.

Sambil kudekatkan batang kemaluanku ke bibir Yayan, kukocok sedikit lagi dengan telapak kananku yang sebagian dipenuhi oleh air mani Yayan. Kemudian ketika mau keluar, Yayan ikut memegangi batang kemaluanku.
"Crot.. crot..!" Spermaku membanjiri wajahnya.
Nampak seputar bibirnya dipenuhi sperma putih kental. Juga di pipinya, hidung, alis dan ada yang memuncrat hingga mengenai rambutnya. Sisa-sisa spermaku ditelan habis oleh Yayan.

"Aghh.. Di.. sperma loe banyak bangeetthh..!" Yayan mencoba berbicara sambil masih mengocok batang kejantananku dan membersihkan wajahnya dari lelehan cairan panas itu.
"Ghhahh.. ahh.. Yan.. capek nih gue..! Kuat juga elo..!" aku mencoba bercanda.
Yayan membalas, "Eughh.. ehh.. elo lagi.. kuat banget..!"
Akhirnya Yayan membersihkan bekas sperma yang membasahi sekitar wajahnya dan berpakaian kembali. Aku sepakat dengan Yayan untuk bilang kalau kami tadi lagi nelpon dulu, jadi agak lama naiknya, biar yang lainnya tidak pada curiga, dan Yayan menjawab setuju dengan ciuman.

Setelah melakukan persetubuhan itu, Yayan ke atas duluan, pura-pura tidak ada apa-apa. Begitu juga aku sehabis berbohong menelepon.

TAMAT


Teman sekelasku yang menggairahkan

Awek Pantat Panas CantikSaat ini aku sedang kuliah semester dua di salah satu universitas swasta di selatan Jakarta. Ini kisah beberapa bulan lalu, sekaligus cerita pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks. Hari pertama kuliah memang membosankan karena belum kenal teman-teman. Tetapi, dengan jarak satu baris, ada mahasiswi duduk tiba-tiba, dia terlambat sekitar 10 menit. Kemudian agak kulirik hati-hati bagaimana rupanya. Memang sih tidak terlalu cantik tetapi manis. Ditambah kulit coklatnya, rambutnya agak ikal, panjangnya setengah leher, belah tengah. Sejenak otak terpenuhi pikiran-pikiran kotor. Bajunya abu-abu dengan lengan biru dan agak ketat, jadi buah dadanya terlihat mancung. Perkiraanku sekitar 34A ukurannya.

Sekitar seminggu berlalu, tetapi aku belum juga kenal dengan cewek itu. Seminggu kemudian, saat aku sedang ngobrol dengan beberapa temanku (yang kenal dengan cewek itu), tiba-tiba dia menghampiri kumpulanku dan teman-temanku. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya dia duluan yang bertanya untuk berkenalan.
"Eh, elo namanya siapa..?" katanya.


Dalam hatiku, "Agresif nih kayaknya.. bodo ah, tancap aja..!"
Lalu kubilang, "Eldi."
Dia juga ngejawab, "Diya Hartiyan, panggil aja Yayan."
Akhirnya kami berkenalan juga.

Setelah aku merasa akrab dengannya, pikiranku mulai kembali pada pikiran-pikiran kotorku lagi. Bahkan lebih parah, ingin bersetubuh dengan Yayan. Setiap kali kulihat dada seksinya, batang kejantananku mulai tegang. Malah, kadang-kadang kalau sedang duduk di belakangnya, Yayan seringkali membangkitkan nafsuku dengan melepas ikat rambutnya dan menaikkan rambutnya hingga lehernya terlihat. Juga bibirnya yang sexy, yang mungkin terlalu enak untuk dicium dan dikulum. Nafsuku yang sudah meledak suka ingin membuatku melepaskan celana dan onani di depan wajahnya. Aku juga ingin memiliki fotonya buat bahan onani di kamar atau di kamar mandi. Tetapi berhubung nafsuku sudah kelewat batas, aku sering onani dengan bahan hanya menggunakan daya khayalku saja.

Yang membuatku bertambah nafsu, Yayan gampang sekali dirangkul atau dipeluk cowok. Kupakai kesempatan ini dengan memeluk bagian pinggangnya, apalagi Yayan malah menanggapinya dan membalasnya. Kemudian, pada saat ujian negara semester 1, wanita diharuskan memakai rok panjang semata kaki. Begitu kulihat Yayan, wuaih.. anggun sekali! Apalagi dengan tambahan belahan roknya yang hampir sedengkul. Ketika kebetulan dia duduk, kulihat pahanya yang ternyata tidak sehitam kulit bagian lainnya, melainkan lebih coklat muda, hampir putih. Batang kejantananku kembali terangsang. Sesampainya di rumah, aku melakukan onani lagi.

Lalu, inilah saat-saat yang mengejutkan. Setelah midtest semester dua, salah seorang temanku ingin main ke rumahku yang juga mengajak beberapa teman-teman lainnya. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah. Bagian yang paling mengejutkan dan membuat nafas memburu adalah Yayan ikut juga ke rumahku. Hari itu Yayan memakai kemeja yang agak memperlihatkan bagian pusarnya. Di rumah aku mencoba biasa saja dan berusaha menutupi nafsu birahiku. Tidak lama Yayan ingin ke kamar mandi. Karena rumahku bertingkat, dan kamar mandi atas lagi rusak (airnya tidak jalan), kuantarkan Yayan ke kamar mandi bawah (sementara teman-teman lainnya di atas main Play Station) sambil mencoba menstabilkan nafas yang memburu melambangkan orang penasaran.

Sejenak aku berpikir, "Terlalu nekat nih.. tapi, kapan lagi..?"
Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diriku. Aku pura-pura menjelaskan bagian-bagian kamar mandiku kepada Yayan.
"Yan, ini showernya, ati-ati lho nyemprotnya kencang, trus WC-nya.. udah bisa kan..?"
Tidak lama kemudian kulakukan niat gilaku.
"Emm.. Yan..!" aku bertanya agak gemetaran sambil melihat tangga.
Yayan menjawab, "Apaan sih..? Ada apa..?"
"Ehmm.. Gue.. boleh..," Yayan langsung memotong, "Apaan sih..! Boleh apaan..?"
"Gue boleh cium elo, nggak..?"
Batinku berkata, "Kok kayak anak SMP yah..? Tapi, bodo amat lah..!"
Yayan agak tertegun, "Hah..! Ee.. emm.."
Entah adrenalin dari mana yang datang, tiba-tiba kupegang pinggang kanannya sambil menarik Yayan ke pelukanku. Yayan terlihat tidak berdaya, hanya agak mendesah. Langsung saja kucium perlahan bibir seksinya itu.

Awalnya bibir Yayan hanya diam saja, terkadang agak membuka lebar. Namun setelah agak lama, Yayan mulai memejamkan matanya dan langsung melingkari kedua tangannya di leherku, lalu membalas ciumanku ditambah jilatan di ujung bibirku. Sesekali Yayan juga mengulum lidahku dan agak digigit.
Aku mendengar desahan Yayan, "Ehmm.. eehh.. mm.." mungkin karena menikmati kulumannya.
Lalu Yayan yang mulai agresif, mendorongku ke tembok sambil membuka bajuku. Terpikir olehku, seperti di film saja. Setelah bajuku lepas, Yayan melemparkannya ke lantai dan menjilati dadaku, lalu turun menjilati bulu daerah pusarku. Bukannya geli yang kurasakan, tetapi justru menambah kencangnya ereksi batang kemaluanku. Lalu kubalas lagi melucuti kemejanya. Terlihat buah dadanya yang bulat sexy.

Sambil meneruskan ciuman mautku, kulepas kaitan BH-nya. Kulempar BH-nya ke lantai dan mulai menghisapi buah dada Yayan.
"Aghh.. ahhgghh.., Di.. aahh..!" Yayan terlihat berkeringat dan mengeluarkan desahan.
Beruntung pintu kamar mandi sudah kututup rapat. Puting Yayan kubasahi dengan ludah dan kujilati kembali. Yayan juga sesekali menjambak rambutku dan menjilati daun telingaku. Setelah lama bermain pada puting payudaranya, kulepaskan celana panjang dan celana dalamku. Kemudian aku menyender di tembok sambil memegangi batang kejantananku yang sudah berdiri tegang dan agak berurat. Yayan tidak mulai memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, tapi malah memainkannya dengan sedikit kocokan. Serentak dengan masuknya batang kejantananku ke mulut Yayan, aku merasakan ada semacam getaran listrik di daerah pinggul dan selangkangan.

"Eghh.. Yan.. ehhgghh..!" aku juga mendesah karena enaknya hisapan Yayan.
Sesekali Yayan juga meludahi ujung batang kemaluanku dan menjilati pinggirnya. Akhirnya, kuajak Yayan untuk melakukan persenggamaan.
"Ehh.. Yan.. gue masukkin yahh.. hh..!" sambil nafasku naik-turun.
Tanpa banyak bicara kecuali sedikit desahan, "Eughh.. ehh.." Yayan langsung mendorongku ke dudukan WC, sehingga aku terduduk dan Yayan duduk di pangkuanku setelah melucuti celananya.
Wajahnya menghadap ke arahku. Yayan sendiri yang mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya.

"Esshhghh.. emmhh..!" Yayan mendesah namun seperti tertahan.
Wajahnya terlihat agak merah. Dari situ kuketahui kalau dia sepikiran denganku. Tidak ingin suaranya kedengeran. Akhirnya aku melakukan persetubuhan untuk pertama kalinya. Setelah Yayan menusukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, aku merasakan ujung batang kejantananku menabrak dan mendorong sesuatu. Nampaknya selaput daranya tertekan.
Batinku berkata, "Yess.. Yayan masih perawan."
Yayan mencoba mengayunkan badannya ke atas dan bawah.

Kugoyangkan juga badanku ke atas dan ke bawah. Kurasakan selaput Yayan sudah robek. Mungkin nanti akan terlihat noda darah. Goyangan Yayan semakin kencang. Sekujur tubuhnya terlihat kucuran keringat. Bagitu juga badanku, terutama bagian leher. Kuusapi keringatnya dengan tanganku sambil mengelus tubuh seksinya, juga kutempelkan badannya ke badanku. Karena aku takut tutup WC-nya jebol, kuangkat Yayan dengan batang kejantananku masih menancap, dan kutiduri Yayan di lantai. Untung lantainya belum basah, jadi masih bersih. Kukangkangkan kedua kakinya, kutempelkan di pinggang dan kupegangi. Goyanganku kini maju mundur.

"Aghh.. aah.. Di.. a.. ayo.. Di..!" Yayan kembali mendesah sambil memanggil namaku.
Kembali aku merasakan adrenalin aneh merasukiku. Biasanya senafsu-nafsunya aku onani, paling cepat hanya 5 menit. Karena di kamar mandiku ada jam dinding, kulihat sudah hampir 10 menit sejak ciuman pertamaku itu, aku belum juga mencapai klimaksnya. Kalau onani pasti sudah keluar dari tadi. Akhirnya, Yayan ejakulasi duluan. Di sekujur batang kemaluanku kurasakan cairan hangat dari vaginanya. Kocokanku masih berlanjut, tetapi tidak lama. Aku merasa juga sudah ingin segera mencapai orgasmeku. Karena takut keluar di dalam, segera kucabut batang kejantananku. Aku bermaksud untuk memuncratkan spermaku di wajahnya.

Sambil kudekatkan batang kemaluanku ke bibir Yayan, kukocok sedikit lagi dengan telapak kananku yang sebagian dipenuhi oleh air mani Yayan. Kemudian ketika mau keluar, Yayan ikut memegangi batang kemaluanku.
"Crot.. crot..!" Spermaku membanjiri wajahnya.
Nampak seputar bibirnya dipenuhi sperma putih kental. Juga di pipinya, hidung, alis dan ada yang memuncrat hingga mengenai rambutnya. Sisa-sisa spermaku ditelan habis oleh Yayan.

"Aghh.. Di.. sperma loe banyak bangeetthh..!" Yayan mencoba berbicara sambil masih mengocok batang kejantananku dan membersihkan wajahnya dari lelehan cairan panas itu.
"Ghhahh.. ahh.. Yan.. capek nih gue..! Kuat juga elo..!" aku mencoba bercanda.
Yayan membalas, "Eughh.. ehh.. elo lagi.. kuat banget..!"
Akhirnya Yayan membersihkan bekas sperma yang membasahi sekitar wajahnya dan berpakaian kembali. Aku sepakat dengan Yayan untuk bilang kalau kami tadi lagi nelpon dulu, jadi agak lama naiknya, biar yang lainnya tidak pada curiga, dan Yayan menjawab setuju dengan ciuman.

Setelah melakukan persetubuhan itu, Yayan ke atas duluan, pura-pura tidak ada apa-apa. Begitu juga aku sehabis berbohong menelepon.

TAMAT


Penjahat kelamin – 2

Awek Pantat Panas CantikSaat Cindy dan David kembali, Robin bersikap seolah-olah tidak mengetahui kegiatan mereka di toilet perempuan beberapa saat lalu. Tak pelak sejak saat itu mata Robin selalu mencari-cari kesempatan untuk melihat pemandangan di balik rok mini Cindy setiap kali Cindy bergerak mengganti posisi duduknya. Setelah cukup menikmati suasana pub dan mendapatkan beberapa kenalan baru lagi, Elizabeth dan Robin pun memutuskan untuk pulang.

Rupanya mereka agak mabuk malam itu. Saat kembali menuju mobil, Robin terantuk pembatas besi di tempat parkir hingga tersungkur dan wajahnya mencium pasir.



"Kamu nggak apa-apa, sayang?" dengan khawatir Elizabeth membantu Robin bangkit.
"Nggak apa-apa, aku baik-baik aja. Nggak mungkin aku mabuk hanya karena beberapa gelas wine tadi."

Robin bangkit sambil membersihkan wajah dan celana bagian depannya yang kotor oleh pasir. Agak malu juga ia terhadap Elizabeth mengingat kondisinya saat itu. Tapi sikap Elizabeth yang penuh pengertian membesarkan hati Robin.

Di dalam mobil Robin tidak segera menyalakan mesin. Mereka duduk santai sambil mendengarkan lagu-lagu dari stereo set. Tidak jauh dari tempat dimana mobil Robin parkir, terdapat sebuah lampu jalan. Daun-daun pada pepohonan sekitar yang tertimpa cahayanya menciptakan bayang-bayang indah di dashboard. Robin mengubah posisi sandaran kursi mobilnya hingga setengah berbaring. Elizabeth melakukan hal yang sama. Sambil memejamkan mata mereka menikmati musik. Pengaruh alkohol dari wine membuat mereka merasa hangat dan nyaman. Setengah mengantuk juga. Sementara sebelah matanya terpicing, mata Robin yang lain sedikit terbuka melirik Elizabeth.

Di sebelahnya Elizabeth terbaring. Matanya dipejamkan sementara kedua belah lengannya terlipat di belakang kepala. Sikap tersebut memperjelas tonjolan payudaranya, naik turun seiring setiap tarikan dan helaan nafasnya. Dua buah kancing paling atas blus satin tanpa lengan Elizabeth dibiarkan terbuka, bahan blusnya yang licin menempel di tubuhnya. Bagian atas lengannya yang telanjang terlihat putih mulus. Robin melirik ke bagian bawah tubuh Elizabeth. Rok mininya sedikit tersingkap memperlihatkan sebagian pahanya yang terbalut stocking. Ia membayangkan apa yang akan terjadi apabila rok itu ia singkapkan lebih ke atas lagi. Tentunya ia akan dapat melihat batas stocking Elizabeth dan mengetahui warna celana dalam yang dikenakannya. Robin tersenyum diam-diam, geli sendiri dengan pikiran nakalnya.

Beberapa saat kemudian Elizabeth menggeliat mengubah posisi tubuhnya. Ia menghadap ke arah Robin dan menatapnya. Tubuhnya miring dengan kaki kiri ia tumpangkan ke atas kaki kanannya. Mengetahui bahwa Elizabeth memandanginya, Robin pun menoleh ke arah Elizabeth. Mereka saling pandang. Setelah beberapa saat, ia mengusap-ngusap pipi Elizabeth, kemudian jemarinya bergerak ke arah mulut Elizabeth. Jemarinya menyentuh bibir, yang saat itu agak terbuka. Jemari Robin membelai-belai bibir Elizabeth dan Robin membiarkan jari telunjuknya masuk ke dalam mulut Elizabeth untuk dikulum.

Saat dikulum, telunjuknya merasakan hangat dan basah lidah Elizabeth hingga menimbulkan sensasi tersendiri. Setelah beberapa saat kemudian Robin menjerit. Elizabeth tiba-tiba menggigitnya,
"Ouch!", dengan refleks Robin mencabut jari telunjuknya dari mulut Elizabeth. Elizabeth tertawa geli melihat reaksi Robin yang kesakitan campur kaget. Robin segera menghukum Elizabeth dengan sebuah ciuman di bibir yang lama dan dalam.

Setelah berciuman, Robin tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh belahan dada Elizabeth yang terbuka. Di usap-usapnya dengan penuh keinginan. Elizabeth merasakan hangatnya sentuhan Robin di belahan dadanya. Ia ingin Robin tidak sekedar mengelus-elus bagian atas dadanya saja. Ia ingin Robin mengelus dan meremas seluruh bagian payudaranya dan bermain-main dengan kedua putingnya juga. Ia memandang sendu Robin. Seolah mampu membaca pikiran Elizabeth, Robin pun mulai menyentuh tidak hanya bagian atas dada Elizabeth, ia pun mulai meremas-remas perlahan payudara Elizabeth. Bahan satin blus Elizabeth membuat pergerakan tersebut lancar dan Elizabeth dapat merasakan sentuhan Robin layaknya telanjang. Elizabeth mulai mendesah sambil menyodorkan payudaranya.

Sentuhan lembut Robin pun mulai berubah menjadi remasan-remasan gemas bernafsu. Desahan Elizabeth membuat Robin hampir kehilangan kesabarannya, akan tetapi ia adalah seorang lelaki berpengalaman yang tahu bagaimana cara menaklukkan wanita. Ia tidak larut terbawa nafsu, ia menahan diri dengan penuh perhitungan. Robin mulai memainkan puting payudara Elizabeth. Dengan bantuan jari jempol dan telunjuknya puting payudara Elizabeth dipijat-pijat hingga mengeras di balik blus dan behanya, sementara itu desahan Elizabeth mulai berubah menjadi erangan lembut. Mata Elizabeth begitu sayu. Robin sadar, ia akan mendapatkan apa yang telah sekian lama ditunggu-tunggu. Malam ini saatnya, demikian batinnya.

Robin mencium bibir Elizabeth yang mengerang. Karena mulut Elizabeth tengah dalam keadaan agak terbuka, maka bibir Robin terasa begitu pas di bibir Elizabeth dan lidah Robin dapat melakukan manuver menuju lidah Elizabeth dengan leluasa. Cecapan-cecapan itu terasa nikmat. Seiring setiap kecupan dan kulumannya mereka dapat merasakan setiap bagian tubuh mereka digetarkan gairah asmara. Robin mengulum bibir Elizabeth sambil kedua tangannya bermain-main di kedua bukit kembar Elizabeth. Dibelainya apa yang bisa dibelai, diremasnya apa yang mampu ia remas.

Kedua lengan Elizabeth merangkul bagian belakang leher Robin sambil mengusap-ngusap tengkuknya. Hal itu sudah cukup untuk membuat Robin melancarkan aksinya lebih seru. Perlahan tapi pasti sebelah tangan Robin membuka satu demi satu kancing blus satin Elizabeth. Disibakkannya blus Elizabeth hingga payudara Elizabeth yang terbalut BH putih terlihat. Segera ia loloskan Elizabeth dari blus satinnya yang sedetik kemudian teronggok di bawah jok depan mobil. Dalam keadaan tanpa blus, hanya terbalut BH putih, Elizabeth tidak kuasa menghentikan tindakan lebih lanjut Robin yang ternyata selama ini diam-diam ia dambakan.

Robin tidak mau buang waktu, segera pula ia loloskan BH Elizabeth. Kini kedua gundukan montok payudara Elizabeth dengan kedua puting berwarna coklat kemerahan terpampang di depan wajahnya: bebas dan polos. Robin membenamkan wajahnya di kedua bukit kembar yang ranum itu dan menghirup keharumannya dengan suka cita. Dijilatinya payudara Elizabeth perlahan, sebagian demi sebagian, sesenti demi sesenti, dengan telaten. Tidak terbayangkan bagaimana nikmatnya hal itu dirasakan Elizabeth. Ia menggelinjang-gelinjang bergairah. Tidak disangka, ternyata kedua bukit kembar bagian dari dirinya selama ini mampu menciptakan kenikmatan baginya, dengan bantuan Robin. Robin menghisap dan mengulum puting payudaranya, kemudian lidahnya menjilat-jilat melingkari daerah sekitarnya yang sensitif, terasa oleh Elizabeth betapa menggelitik nikmat. Elizabeth hampir tidak mampu membuka kedua matanya.

Robin menyembunyikan senyumannya sambil menyusupkan tangannya ke balik rok Elizabeth. Tersentuh olehnya kehangatan lembab tonjolan di balik celana dalam Elizabeth. Ia meraba-raba di bagian itu sambil mencari-cari titik lemah paling sensitifnya. Saat tersentuh, Elizabeth menjerit kecil tertahan. Tindakan itu adalah sebuah kejutan nikmat baginya. Robin menggosok-gosok di situ. Jemarinya kemudian mulai menyelusupi tepi celana dalam di selangkangan Elizabeth. Jari telunjuknya terbenam di antara bibir vagina Elizabeth dan menyentuh tonjolan daging lembut klitoris dengan cairan licin di situ.

Elizabeth menjerit tertahan. Sementara penis Robin semakin mengeras, siap mengarungi pengembaraan di dalam gua melalui lembah vagina lembab berselimut rambut milik Elizabeth yang kini tengah ia persiapkan kematangannya. Ia semakin bersemangat memainkan jari tengah dan telunjuknya di situ, mengobel-ngobel. Ia resapi kelembutan klitoris yang hangat dan licin di antara bibir vagina Elizabeth. Ia bayangkan bentuknya. Tentunya saat itu terlihat seperti lidah yang sedikit terjulur dari bibir perempuan. Itu disebabkan rangsangan yang dilakukannya telah mampu membuat klitoris itu bertambah ukuran, basah berlendir.

Elizabeth pasrah oleh nikmat. Ia mendesah, mengerang, menjerit dan dengan tubuh gelisah merapat dan melebarkan kedua belah pahanya, sementara jemari kekasihnya mengeksplorasi bagian tubuhnya yang vital, yang selama ini ia jaga kesuciannya, yang ternyata menjadi sumber kenikmatan surga dunia. Elizabeth mencengkeram kepala Robin yang naik turun di dadanya. Keadaannya setengah telanjang dan ia tidak mencegah Robin saat Robin menarik rok mininya hingga tanggal. Kini Elizabeth hanya berbalut celana dalam putih yang keadaannya telah basah di bagian tertentu, serta stocking warna putih susunya. Sepatunya telah ia lepaskan sejak tadi. Elizabeth menikmati saat itu, ia merasa seksi dan liar.

Robin menanggalkan celana dalam putih Elizabeth. Kini Elizabeth hanya terbalut sepasang stocking hingga pangkal paha. Selangkangannya telanjang hingga bibir vaginanya yang berhiaskan rambut hitam tebal terpampang jelas, klitorisnya mengkilap oleh cairan licin bening, menyembul di antara bibir vaginanya. Robin bersimpuh membenamkan kepalanya di antara pangkal paha Elizabeth. Dihirupnya aroma khas di situ. Ia tak mampu lagi menahan nafsu berahinya kini.

Dijilatinya klitoris Elizabeth sepenuh hati. Kemudian ia kecup, dan ia jilati lagi. Demikian berulang-ulang. Digetar-getarkannya ujung lidahnya tepat di puncak mungil klitoris Elizabeth. Elizabeth berusaha setengah mati menahan teriakan yang hampir keluar dari mulutnya. Ia menggelinjang-gelinjang di dalam kabin mobil yang sempit. Tangannya mencengkeram kencang bahu Robin untuk menahan nikmat tiada terkira yang dirasakannya. Kewanitaannya berdenyut-denyut. Tak mampu ia bayangkan kenikmatan macam apa lagi yang akan diberikan Robin untuknya setelah ini. Ia menebak-nebak sambil sekali-sekali mencuri pandang ke arah penis di selangkangan Robin yang kini terlihat membesar dan mengeras di balik celana panjangnya. Elizabeth berniat memuaskan keingintahuannya. Disentuhnya bagian itu. Setelah tersentuh, dirasakannya tonjolan itu dengan jemarinya. Elizabeth meraba-raba batang penis Robin yang mengeras sambil melihat reaksi Robin. Robin kelihatan menyukai aksinya.

Elizabeth menurunkan ritsleting celana Robin. Kini celana Robin merosot hingga paha. Penisnya membentuk tonjolan besar di balik celana boxernya. Tidak sabar Elizabeth menghentakkannya ke bawah. Penis Robin mencelat keluar. Panjang, kekar, dan berwarna gelap. Dua kantung pelir menggantung di kedua sisinya. Elizabeth terpesona. Elizabeth mulai mengocok batang penis Robin yang mengaceng hingga Robin mendesah. Penis Robin terasa hangat, kemudian membesar dan jadi keras sekali. Dan saat Elizabeth terus menyentuh, membelai dan memijat-mijat dengan jempol bagian kepala penisnya, keluarlah cairan licin dari situ. Dengan cairan licin tersebut Elizabeth dapat mengocok-ngocok penis Robin dengan lebih lancar. Penis Robin menjadi semakin besar dan semakin keras. Sementara Elizabeth mengerjai penis Robin. Robin pun mengerjai klitoris Elizabeth.

Kemudian Robin mengarahkan batang penisnya ke lubang vagina Elizabeth. Mula-mula dimasukkannya bagian kepala penisnya dulu. Terasa hangat dan nikmat saat kepala penisnya terjepit lubang vagina Elizabeth yang masih terhalang selaput dara tipis. Robin memompa sebentar kemudian mendorong batang penisnya untuk menerobos lebih dalam. Agak sulit dirasakannya, tapi juga gesekannya menimbulkan rasa nikmat. Ia memompa lagi. Elizabeth menjerit-jerit, mengaduh, namun kemudian mengerang dan mendesah. Keluar-masuknya penis semakin lancar terbantu oleh cairan yang membanjiri vagina Elizabeth. Mungkin saat itu selaput dara Elizabeth telah tertembus oleh kepala penis Robin.

Robin terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Kian lama kian nikmat. Robin membenamkan batang penisnya lebih dalam pada setiap pompaan. Akhirnya seluruh batang penisnya amblas ke dalam lubang vagina Elizabeth yang sempit. Keterbatasan ruang kabin mobil semakin menambah keintiman. Apalagi bersamaan dengan itu beat lagu berirama disko dari stereo set mobil pas dengan irama pompaan penis Robin. Mobil Robin bergoyang-goyang. Kedua tangan Robin pun mulai kreatif, sesekali yang satu meremas payudara Elizabeth. Jemari tangan yang satu lagi merangsang klitoris hingga Elizabeth pun mencapai orgasme.

Kini giliran Robin melepaskan tembakan maut ejakulasinya. Ia meminta Elizabeth untuk menungging di jok belakang mobil. Sambil mengelus-ngelus penisnya sendiri agar tetap dalam keadaan siap tempur, Robin menggaruk-garuk dulu klitoris Elizabeth dari belakang melalui belahan bokongnya. Robin juga mencolok-colokkan jari tengahnya ke lubang vagina Elizabeth, kemudian jari tengah yang dipenuhi lendir vagina Elizabeth tersebut ia masukkan ke mulutnya.

Setelah beberapa saat, Robin mulai menyelipkan kepala penisnya ke lubang vagina Elizabeth, mendorong lebih dalam dan mulai memompa. Kedua tangannya berpegangan di punggung Elizabeth sambil sesekali mengelus-ngelus dan memijat. Sambil terus memompa penisnya di lubang vagina Elizabeth, tangannya yang satu mulai bergerak menyentuh payudara Elizabeth yang menggantung bergoyang-goyang. Diremas-remasnya dengan gemas. Jemari tangannya yang satu lagi merabai klitoris Elizabeth. Elizabeth hanya bisa mengerang-ngerang nikmat. Bokongnya maju mundur seirama dengan pompaan penis Robin. Mobil Robin bergoyang-goyang lagi. Penis Robin berdenyut-denyut bergesekan dengan kehangatan dinding vagina Elizabeth.

Untuk mencapai klimaks ia memompa lebih cepat lagi, semakin cepat dan makin cepat hingga dirasakannya getaran nikmat luar biasa mengalir mulai dari ubun-ubun, menyebar ke seluruh tubuh, kemudian terpusat di ujung kepala penisnya, secepat kilat Robin mencabut penisnya keluar, dan muncratlah tembakan sperma di pantat Elizabeth. Robin pun mendesah puas sambil memeluk erat Elizabeth dari belakang. Penisnya menempel di pantat Elizabeth menikmati detik-detik terakhir getaran orgasmenya yang dahsyat.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah anjuran penulis John Gray, Phd. Terbukti? Sayangnya demikian. Setelah dalam kurun waktu satu bulan terjadi beberapa kali rendezvous dengan menu utama pergulatan asmara di atas ranjang, Robin pun mulai menjaga jarak. Hingga akhirnya pada suatu hari Robin memutuskan secara sepihak hubungan asmaranya dengan Elizabeth. Robin pergi meninggalkan Elizabeth, pindah dan bekerja di kota lain. Elizabeth pun patah hati. Panjang waktu yang diperlukan Elizabeth untuk menyembuhkan luka hatinya. Ia terpaksa menerima kenyataan bahwa Robin ternyata adalah seorang penjahat kelamin. Misinya: Membobol sebanyak mungkin selaput dara perawan molek di planet bumi ini.

Tamat