Category Archives: cerita seks melayu

Pemuja iblis – 4

Awek Pantat Panas CantikDodi setuju bertaruh denganku, Anak tersebut kembali menelan kontolku, menarik-nariknya, aku mulai menggoyang-goyang pantatku, menyodomi mulutnya yang kecil. "Akhh.. Akhh.. Hemm.. Hemm", desahanku. Kontolku sengaja tidak kumasukkan semuanya, karena anak tersebut bisa tersedak dan terbatuk nantinya. batang totongku yang masuk setengahnya saja sudah memberikan keenakan dan kenikmatan kok. Batang kontolku masih berada di dalam mulut Dodi, beberapa lamanya, hingga berakhir juga permainanku dengan meninggalkan air maniku di dalam mulutnya dan uang 10.000 ribu menjadi miliknya. Syarat pertama, atau yang ke-berapalah telah lengkap, malam itu aku tidak bisa tidur, gelisah, saat mencoba untuk bangkit dari pembaringanku begitu susah, sepertinya aku terpaku di tikar ini, tubuhku lengket dengan lantai. Dengan tubuh yang berkeringat, padahal hari tidak begitu panas, tapi tubuhku mengeluarkan keringat sangat banyak. Akhh.. Entah kenapa badanku ini, pikirku dan dengan tiba-tiba telah muncul sesosok makhluk berbulu, yah makhluk yang aku puja ternyata datang. Yah aku yakin, bahwa kondisi hari ini yang membuatku begini adalah karena makhluk itu, yah tanda-tanda kedatangan makhluk tersebut yang mendekatiku dan tubuhnya yang besar dengan bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuhnya tersebut menindihku, akhh.. Aku rasakan bulu-bulu seluruh tubuhnya begitu lembut dan dingin. Makhluk tersebut mencumbu bibirku, akhh.. Begitu menggairahkan, aku sangat bergairah sekali jadinya. Sambil memejamkan mata dan membalas cumbuan-cumbuan bibir makhluk tersebut yang aku rasakan hangat, dan lidahnya masuk ke dalam mulutku, menjilati lidahku, menjilati langit-langit mulutku, seluruh rongga mulutku, hingga ke ujung mulutku, menggelitik anak lidah mulutku yang menggantung di ujung mulut. Akkhh.. Gelinya.. Akh.. Enaknya.. Sementara bagian duburku yang telah dimasuki kontol makhluk tersebut, terus merambat masuk dengan sendirinya, lebih ke dalam. "Akhh.. Aku mendesah keenakan, nikmatt.. Teruskann.. Teruskann..", ucapku. Makhluk tersebut dengan gerakan pelan terus melakukan permainannya, setiap gerakan dan permainannya membuatku terhanyut dengan kenikmatan dan kegelian yang sangat luar biasa dan nafsuku semakin memuncak, birahiku tak dapat kukontrol lagi. Aku memeluk tubuhnya, mengelus-elus bulu-bulu tubuhnya yang begitu lembut dan sejuk. Akhh.. Aku menikmatinya.. Aku menikmatinya.. Akhh.. Oohh.. Kenikmatan yang luar biasa, hingga berakhir di saat detik-detik fajar akan muncul di ufuk timur. Aku terkulai lemas, tak berdaya, dengan cairan maniku yang tergenang di sampingku, akhh begitu banyak, kental, entah berapa kali aku mengeluarkan air mani sampai tergenang begini. Beberapa lama aku hanya berbaring, yah berbaring saja, Akhh.. Aduhh.. Aduhh.. Erangku, memegang perutku yang terasa seperti di remas-remas, sakit.. Sakitt.. Aduhh. Kurapatkan kedua tanganku memeluk perutku, menahan sakit yang luar biasa, aduhh.. Ucapku pelan, Bapak yang baru pulang mendengar eranganku dan segera masuk. "Joko, kenapa kau Le?", tanya Bapak. "Entahlah Pak, aduhh.. Sakitt.. Aduhh, Pak", erangku. Bapak kebingungan dan memegang perutku, menanyakan daerah mana yang sakit. Tangan Bapak menekan-nekan perutku, memukul-mukulnya dengan pelan. "Aneh", ucapnya pelan. Perutku memang tidak kembung, namun sakitnya luar biasa.. Luar biasa.. Aku mengejan, seperti ada sesuatu yang mau keluar dari dalam perutku, kupaksakan, kupaksakan agar sesuatu tersebut keluar, kudorong.. Ku dorong.. Hingga dari lobang pantatku keluar gumpalan sebesar genggaman anak bayi, satu persatu keluar. Bapak terus menyaksikan saat gumpalan ketiga dan terakhir keluar dari lobang pantatku.. Aakkhh.. Desahku panjang memaksa sesuatu tersebut keluar, hingga aku dapat bernafas dengan lega. Bapak mengambilnya dengan kain, benda tersebut berwarna hitam, Bapak melihat lebih dekat lagi. Aku melihat Bapak sedang menggosok-gosokan benda tersebut dengan kain dan, Ahh.. Ucapnya, terkejut melihat barang tersebut. "Emas.. Emas.. Le.. Emass..", teriak Bapak. Aku ikut mengamati dan tidak percaya, aku memberaki emas atau melahirkan emas?, akh.. Tak masuk akal, yah tak masuk akal. Teriakan Bapak mengundang tetangga-tetanggaku datang. "Ada apa Pak Nar", ucap mereka mengetuk pintu. "Oh, tidak.. Tidak..", jawab Bapak agak gugup. Setelah membersihkan benda yang ternyata emas tersebut, aku beserta Bapak mencoba menjualnya dan sedikit susah memang, tapi syukur ada yang menerimanya dengan harga yang agak tinggi dan uang hasil penjualan ketiga emas tersebut sungguh diluar dugaan dan bayangan kami, wah.. Uang sebanyak itu belum pernah kami dapatkan, akh.. Jangankan segitu, uang satu juta saja aku tidak pernah memegangnya. "Luar biasa Le, luar biasa", ucap Bapak berkali-kali. Kami menatap uang yang terletak di lantai begitu banyak, banyak, berserakan.. "Kita berhasil Le, kita berhasil" "Yah, Pak.. Kita berhasil", ucapku tersenyum. Akhirnya Aku dan Bapak membuka usaha rumah makan di lokasi yang strategis, dengan membeli sebuah ruko berlantai tiga di depan jalan Raya. Aku mengajak teman-temanku untuk membantuku, yah.. Mereka akan menjadi pegawaiku. Tentu saja banyak yang bertanya dari mana kami mendapatkan uang dan Bapak sangat mahir dalam menyembunyikan cerita yang sebenarnya dengan mengarang cerita bahwa saat aku menarik becak mendapat batu merah delima dan seorang pengusaha luar mau membelinya dengan harga tinggi, yah itulah cerita Bapak dan semua tetanggaku percaya dan mungkin ada juga yang tidak percaya yah? Tapi peduli setan dengan mereka, yang penting hidupku akan berubah, yah akan berubah. Selamat tiggal penderitaan dan siap-siaplah menuju kebahagian yang selama ini aku impikan. Usaha rumah makan yang kami jalankan, ternyata sukses, banyak pembeli bahkan ada beberapa perusahan yang mengontrak kami untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi karyawannya. Dengan waktu cepat aku dapat membuka cabang lagi di lokasi yang strategis juga. Bapak menikahi Mak Munah, aku mengajak Darman temanku untuk tinggal bersamaku. Nasib kami sama, sama-sama ditinggal istri karena tidak tahan dengan penderitaan, karena kami ini miskin, hanya seorang penarik becak dengan uang yang pas-pasan. Nafsuku tetap bergejolak dengan laki-laki, aku mengajak karyawanku untuk bercinta, mengentot. Aku meminta Darman menjadi teman baikku, teman sekaligus kekasih, atau istri sekalipun, melayaniku nafsuku di ranjang atau dimana saja saat nafsuku bergejolak. Aku tidak melarangnya untuk mengentot dengan lonte, namun yang utama dia harus melayani nafsu homoku. Saat aku ingin Bapak untuk melayaniku, Bapak dengan senang hati melayaniku. Dan Kang Maman yang belum aku sentuh lobang pantatnya mendapat jatah juga. Dengan rela laki-laki tersebut melayaniku, tanpa malu atau sungkan karena dia sudah pernah melakukannya dengan laki-laki lain, aku sudah menebaknya pada saat meraba buritnya yang sudah agak besar waktu akan dijadikan korban ketigaku oleh Bapak. Saat-saat bersama Darman, begitu indah kurasakan, laki-laki bertubuh besar, tinggi, tampan dengan postur tubuh kekar, berotot tersebut dan dadanya yang bidang berbulu. Tak habis-habisnya aku memintanya untuk melayaniku, sebagai bininya atau lakinya mungkin. Akhh.. Darman melayaniku, membalas cumbuanku, mengisap-isap kontolku, aku mengentoti mulutnya dengan menekan-nekan pantatku, menggerak-gerakan pantatku maju mundur, hingga batang kontolku tenggelam dalam mulutnya. Bergantian aku mengemut kontolnya, mengocok-ngocoknya di dalam mulutku, menikmati daging kenyalnya yang enak aku rasakan, Akhh.. Jilatan lidahku tak habis-habisnya membasahi kontolnya dari kepala kontolnya hingga pangkalnya, menjilati dengan enak dan menikmati biji totongnya yang besar. Sementara jembut Darman aku cukur, seperti bulu-bulu di tubuhku, aku cukur semua. Aku memberi Darman kenikmatan dengan menyodomi buritku dan aku menikmati lobang pantat Darman dengan menyodominya juga. Akhh.. Saling terima dan memberilah.. Hingga merengkuh sisa-sisa kenikmatan yang tak berakhir. Setiap bulan Purnama satu malam penuh, aku melayani Iblis yang aku puja, menikmati permainan seksnya yang luar bisa yang membuat aku tak mampu bergerak, menikmati setiap permainannya yang membuatku melayang, menikmati kegelian dan kenikmatan yang luar biasa yang tidak mampu diberikan oleh manusia. Syarat selanjutnya yang harus aku lakukan adalah menyetubuhi 100 laki-laki, mengentot, menyodomi dengan mereka, saling bercumbu hingga merasakan puncak kenikmatan bagi keduanya, dan 99 laki-laki telah aku setubuhi, aku entot burit mereka, kontol mereka tak habis-habis kuisap, kukocok-kocok dengan mulutku, kujilati dari kepala kontol sampai pangkalnya, akhh.. Membuat mereka seperti melayang, keenakan dan menikmati sekali permainan yang kulakukan pada mereka. Syarat ini tidak bisa aku lakukan untuk laki-laki yang pernah aku sodomi untuk memenuhi syarat pertama. Yah, bisa saja aku lakukan namun tidak ada hitungannya dan akan membuat pengunjung yang datang ke rumah makanku menjadi berkurang. ***** Pembaca yang setia di Rumah Seks, aku tidak mengharapkan nilai A dari kalian, tapi sudilah menjadi 'syarat'ku yang ke 100, aku yakin, kalian akan terpuaskan olehku.
Tamat


There he goes – 4

Awek Pantat Panas CantikChap IV

"Lucas berubah, Van."
"Berubah?" Vanka menatapku dengan pandangan heran.


"Maksud kamu?"
Kutatap siswa-siswa lain yang lalu lalang di depanku.
"Entahlah.." jawabku lirih.
"Dee, kamu kenapa..?"
"Nope. Nothing," jawabku mengelak.

"Aku buka, ya?" Dengan nafas tersengal Luke berbisik di telingaku.
"Jangan, Luke.." desahku mengerenyitkan alis.
Kulihat kaca mobil sudah dipenuhi embun. Keringat menetes di keningku.
"Please.." matanya memohon. Memohon lagi.
"Sudah, ya..?" bisikku seraya memeluk lehernya, berharap Lucas menghentikan semua kegilaannya. Tapi Lucas menarik tubuhnya dan melepaskan rangkulanku.
"Oke kalau begitu.." pemuda itu meraih dan menarik retsleting celananya.
"Ngga mau!" seruku seraya memalingkan wajah.
Lucas sudah gila!

"Dee.." kudengar Lucas mendesah di samping telingaku.
Tidak! Mendadak Lucas meraih tanganku dan kurasakan jemariku menyentuh sesuatu yang keras. Ya Tuhan! Kutarik cepat-cepat tanganku. Tapi Lucas meraih pundakku dan membalikkan tubuhku, melumat bibirku liar dan membaringkanku di jok. Sejenak kurasakan benda keras itu menusuk celana dalamku.
"Lepaskan! Lepaskan, Luke..!"
Tapi lucas menahan tanganku, menindih tubuhku dengan berat tubuhnya, membuka kedua pahaku dan menekan benda keras itu ke kemaluanku.
"Ahk! Sakit, Luke!"
Lucas seolah tak mendengar teriakanku. Benda itu masih menekan dan menggesek. Akhirnya dengan sekuat tenaga kutekuk lututku dan menendang pundaknya.

"Lepaskan..!"
Luke terlempar ke sisi lain mobil. Suara berdebuk terdengar saat kepalanya membentur jandela. Kulihat Lucas meringis dan memegangi kepalanya. Air mata mulai mengalir ke pipiku. Kutekuk tubuhku dan menutupi mulutku tanpa menatapnya.
"Aku ngga mau, Luke."
Kudengar Lucas mendesah lau menjatuhkan kepalanya di pahaku.
"Maafkan aku, Dee."
"Jangan, Luke. Aku ngga mau."
Lucas mengangat tubuhnya dan menempelkan kepalanya di bahuku.
"Aku tahu, Dee. Aku juga ngga mau. Aku hanya ingin menunjukkan padamu tentang segala sesuatunya aku.." pemuda itu berbisik dan mengecup daun telingaku.
"Dee.." bisiknya setelah aku tetap diam tanpa reaksi.
Lucas meraih pundakku dan mendekapku.

Masih tak berani kutatap dirinya. Lucas meraih tanganku sambil berbisik, "Please," dan meletakkannya lagi di atas benda keras itu. Kututup mataku dan mulai menangis lebih keras.
"Touch me, Dee. It's me. Aku, Lucas."
Kurasakan jemarinya melipat jemariku hingga menggenggam benda keras itu. Sesuatu menghalangiku untuk menolak. Apa maksudnya semua ini? Mengapa aku jadi begini?
"Look at me, Dee. Buka matamu."
Aku tak mau melihatmu!
"Dee, please," Lucas menarik daguku dan mengecup bibirku.
"Aku mau kamu tahu semua tentangku, Dee. Tanpa apapun yang harus dirahasiakan."
Kubuka mataku dan menatap matanya. Lucas tersenyum dan mengecup kedua mataku.

"Lihat ke bawah. Yang itu milikku." Suaranya terdengar begitu lembut.
Kutundukkan kepalaku, dan pertama kali itulah dalam hidupku kulihat alat kelamin seorang lelaki, selain kepunyaan Alex yang masih kuingat saat kami dulu sering mandi bersama waktu kecil. Bentuknya besar dan panjang dengan urat-urat yang melingkar. Sesuatu di ujungnya seolah tersenyum dan mengajakku berkenalan.
"Sudah..?" tanyaku pada Lucas.
Lucas mendesah. "Kamu sama sekali tidak tertarik, ya?"
"Ngga.." jawabku terus terang.
"Tapi itu aku, Dee. It's part of Lucas too."
Kutatap lagi benda yang masih kugenggam itu.
"Lalu..?" Pikiranku kosong. Sesuatu membuatu sakit hati dan kehilangan nalar. Dan Lucas menunjukkan cara memainkan batang penisnya. Menjijikkan.

"Sudah?"
"Kok nanya begitu terus?"
"Capek.." ucapku pendek seraya masih menggerakkan jemariku menarik-narik batang kemaluannya.
Lucas tertawa. Dan aku membenci tawa itu.
"Kalau begitu ya sudah. Tapi.."
"Apa lagi..?" tanyaku memalingkan wajah.
"I want to see you too."
Jadi begitu ceritanya. Tersenyum kutatap matanya. Benakku benar-benar kosong. Dan sesuatu merasukiku.

Kujauhkan tubuhku sampai bersandar ke pintu belakang dan mengangkat kakiku ke atas jok. Kutatap mata Lucas dalam sebelum memejamkan mataku dan menarik kepalaku ke belakang. Kurasakan jemari Lucas menyusup ke dalam rok yang kukenakan, menyingkapnya dan.. "Sshh," desisku saat jemari Lucas meraba kemaluanku. Rasa geli yang aneh menyusup ke tulang punggungku sampai ke otak.
"Ahh.." kudengar Lucas mendesah.
"Dee.."
Nyaris kumenjerit saat merasakan Lucas mulai menjilat kemaluanku dengan lidahnya. Rasa geli yang amat sangat membuatku mengangkat paha dan menjepit kepalanya di selangkanganku. Lidah Lucas bergerak-gerak di kemaluanku.
"Ahk.." jeritan-jeritan tertahan keluar dari bibirku.

Lucas mengulurkan lengannya dan meremas dada telanjangku dengan gerakan liar. Tanpa sadar aku mulai menggelinjang dan bergerak ke sana ke mari. Lucas mengangkat kepalaku, menarik kedua kakiku hingga kepalaku terjatuh di atas jok. Pemuda itu menarik tubuhnya sendiri dan menindih kemaluanku dengan kemaluannya. Rasa sakit mulai terasa di perut bagian bawahku.
"Jangan lakukan, Luke..!" desahku.
"Ngga kok.." Lucas mengecup kening dan bibirku, meninggalkan rasa hambar yang aneh, lalu mulai menggerakkan pinggulnya, menggesek dan menekan, menimbulkan rasa sakit dan geli yang menyengat seluruh syaraf di tubuhku. Membuat tubuhku meronta dan menggelinjang, dan suara-suara desahan keluar dari mulutku. Lucas menunduk dan mengecup bergantian kedua payudaraku, sementara pinggulnya terus bergerak.

Akhirnya kurasakan pinggulnya menekan dalam permukaan liang kemaluanku. Semula kukira batang kemaluannya sudah memasukiku, sehingga aku sempat tersentak kaget. Namun dalam hati aku bersyukur karena ternyata tidak. Tapi perutku terasa panas. Lucas mengangkat tubuhnya dan melirik ke bawah lalu tertawa. Keringatnya menetes di dadaku. Ingin tahu, kuangkat pinggangku dan melihat di atas bulu-bulu kemaluanku menempel cairan lenget berwarna keputihan.
"I love you, Dee.." Lucas mengecup lagi bibirku.
Hatiku hancur.

Chap V

"Kamu kok diam sekali hari ini, Dee? Bukan hari ini saja sih, sejak beberapa hari yang lalu." Vanka mengomel panjang lebar keesokan harinya di sekolah.
Kulirik sahabatku dan tersenyum pahit. "Entahlah."
"Dee..? Cerita dong..! Kamu kan tahu aku sahabat kamu. Dan calon kakak ipar kamu juga sih.." sahut Vanka membuatku merasa geli juga.
"Aku mau memutuskan hubunganku dengan Lucas."
"Hahh..?" Vanka terlihat terperanjat.
"Iya. Mumpung belum keterusan."
"Keterusan? KETERUSAN..?" Dan dengan air mata kuceritakan semua kejadian itu padanya.
Vanka mendengarkan dengan mata membelalak.

"Van, kamu apain si Dita kok nangis..?" mendadak salah seorang teman sekelasku menyeletuk.
Anak itu langsung kaget ketika Vanka berdiri tiba-tiba dan memukulkan tangannya ke meja.
"BANGSAT..! Akan kubunuh jahanam itu..!"
"Van.." isakku menahan, beberapa anak mulai menghampiri kami.

"Putus..?" Lucas menatapku terkejut.
"Yap..!" ucapku pendek menoleh ke arah lain.
Mungkin lebih tepat disebut mengalihkan pandanganku daripada aku melihatnya dan menangis.
"Dee, aku.. aku.." Lucas memegang bahuku tapi kusentakkan.
"Sory, Luke. Semuanya sudah berakhir."
Kulangkahkan kakiku menghampiri Pak Oto yang sudah menepikan mobil di trotoar.

"Dee..! DEE..!" Lucas memanggil-manggil dari balik jendela mobil.
"Jalan, Pak..!" ucapku pada Pak Oto.
Kudengar Lucas masih berusaha mengejar laju mobil seraya mengetuk-ngetuk jendela di samping tempatku duduk. Kupalingkan wajahku ke arah lain dan mulai menangis. Lucas masih mengetuk.
"Mau saya hajar, Non..?" Pak Oto berkata gusar.
Kugelengkan kepalaku lemah. Akhirnya suara ketukan itu hilang. Kubiarkan tangisku membanjir.

Bagaimanapun, setelah semua yang dialami walaupun hanya dua setengah bulan. Rasa suka dan cinta yang sudah ada sejak dua tahun yang lalu. Mimpi-mimpi yang jadi kenyataan. Patched dreams that became true.. Semuanya berakhir sampai di sini. Hancur lebur sudah.

Chap VI

Dear Dita, Mungkin kamu tidak mau membaca surat ini, atau mungkin bahkan tidak mau menerimanya sama sekali. Tapi, seandainya kamu mau.. tidak.. bahkan seandainya ada seseorang yang menemukan surat ini setelah kamu membuangnya, membacanya, dan membertahukan isinya kepadamu, aku akan sangat-sangat bersyukur. Dita, sekian lama hatiku lebur saat kamu memutuskan hubungan kita. Semuanya terasa begitu indah walaupun tak sampai tiga bulan. Dan aku.. aku telah merusaknya. Aku tahu itu. Tapi bahkan kamu tidak mau menerima maafku. Tidak bahkan surat-surat dan telepon yang kutujukan padamu. Dita, aku minta maaf. Sedalam-dalamnya. Dari lubuk hatiku. Ini surat terakhir yang mungkin kualamatkan padamu. Aku ingin menemuimu saat pembagian STTB, tapi teman-temanmu melindungimu dariku. Kamu selalu 'tidak ada' di rumah. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku akan pergi ke London lewat Jakarta. Pesawatku berangkat pukul 15:40 WIB Rabu ini. Mungkin aku takkan pernah bisa menemui kamu lagi. Dita, kuharap kamu ada di sana mengantarkanku. Aku tahu itu tak mungkin, mengingat kebencianmu yang sebegitu dalamnya padaku. Tapi tak ada salahnya bermimpi, bukan? Mengingat segala yang lalu, aku mungkin tak berharga bagimu. Tapi.. sekali saja. Yang terakhir. Karena aku masih mencintai kamu.. Lucas.

Luke, aku tak pernah tidak membaca surat yang kamu berikan padaku. Bahkan surat bunuh diri yang kamu kirim sebelum kamu overdosis dan masuk rumah sakit. Aku tahu, Luke. Aku tahu semua tentangmu. Tapi aku takut, Luke. Aku takut. Kuremas surat itu dan mulai menangis lagi. Kutatap foto di atas meja. Saat benih terasa begitu indah. Ya Tuhan, mengapa aku tak bisa melupakannya. Bahkan setelah berbulan- bulan? Apakah aku masih mencintainya? Malam itu aku menangis sendirian. Dan aku merasakan kesepian yang dalam itu. Kesepian sejak Lucas tak lagi dalam kehidupanku. Ya Tuhan, katakan kalau aku salah mengambil keputusan.

Chap VII

"Alex, aku sendirian sampai di sini."
Alex menatapku dengan sendu, tatapan mata yang terlau sering kulihat akhir-akhir ini.
"Take care, Dee."
"Kalau dia memintamu kembali, tolak saja!" Vanka mendesis seraya memelukku.
"Vanka!" Alex menyergah.
Dengan mengusap air mata aku tersenyum dan berlari memasuki hall keberangkatan. Ya Tuhan, sekali lagi kumohon. Jangan sampai aku salah.

Kulihat pemuda itu memeluk kedua mama dan papanya. Ah, betapa kurusnya pemuda itu sekarang. Tulang pipinya tampak cekung dan kantung matanya menghitam. Tanpa sadar air mata keluar lagi membasahi pipiku. Tapi aku masih tidak juga berani keluar dari baik tembok ini. Aku hanya berharap pemuda itu melirik ke arahku. Tapi pemuda itu tidak meluruskan kepalanya sama sekali. Menunduk dan tetap menunduk, seolah tak ingin menatap dunia. Apa yang sudah kulakukan padanya? Apa?? Apa yang kulakukan sekarang?!!

"Dee.." bibir pemuda itu bergerak saat menatapku melangkah ke arahnya.
Kuhentikan langkahku dan tak tahan lagi tubuhku terjatuh. Orang-orang mulai mengerumuniku. Seorang penjaga toko membantuku berdiri.
"Dee.." kurasakan telingaku basah saat pemuda itu menyahutku dan memelukku erat. Erat sekali.
Semua kerinduan dalam hatiku tumpah serentak. Aku masih mencintainya! Sekian lamanya kami berpelukan seolah tak ingin terlepas.
"Aku mencintaimu, Dee. Aku minta maaf. Aku minta maaf." Lucas menangis di bahuku seperti seorang anak kecil.
Kupejamkan mataku dan membelai rambutnya. "Aku juga, Luke," desisku lirih, "Aku juga."

"Pesawat Garuda jurusan Jakarta dengan nomor penerbangan GA 718 akan segera diberangkatkan. Bagi seluruh penumpang diharapkan segera menuju ke ruang keberangkatan."

Kudorong pundak pemuda itu menjauh dan menganggukkan kepalaku. Sebuah tangan menepuk pundak Lucas.
"Ayo, Luke. Kamu harus berangkat sekarang."
Kuangkat kepalaku dan menatap wajah ayah Lucas, pria itu tersenyum dan mengangguk ke arahku seolah ingin mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata.
"Dee.." Lucas menghapus air matanya dan tersenyum menatapku.
"Apa, Luke..?"
Lepasnya kerinduan ini begitu singkat.
"Kamu menungguku? Aku akan mencoba berubah."
"Ssshh.." bisikku lalu mengecup pipinya, tak perduli ada kedua orangtuanya di situ, dan mata-mata yang menatap kami.
"I'm your dreampatcher, remember that..?"
Lucas mengangguk, tersenyum, lalu merangkul kedua orangtuanya. Kulihat ibu Lucas menangis, sementara ayahnya memeluk dan menenangkan.

"Bye, Dee." Lucas menatap terakhir kalinya ke arahku sebelum melangkah tanpa menoleh lagi menuju ruang keberangkatan.
"Ayo, Nak. Kita pulang," kudengar ayah Lucas memanggilku 'nak' serasa sebuah simfoni indah yang mengalun lembut di telingaku.
"Permisi, Pak.." ucapku lalu segera berlari menembus penjaga ruang keberangkatan.
"Loh, Mbak! Mbak..!"
Mereka mengejarku. Aku tak perduli. Kucari Lucas dengan pandangan mataku.
"LUKE!! AKU MENCINTAIMU!!" teriakku yang membuat orang-orang memandang ke arahku.
Lucas menolehkan kepalanya dan berlari memelukku, berputar dan mengecup keningku.
"Aku juga, Dreampatcher. Aku juga."
Dan aku menangis di dadanya. Petugas keamanan hanya menggaruk-garuk kepala mereka sambil tersenyum-senyum.

Akhirnya mereka membiarkanku menatap keberangkatan pesawat yang ditumpangi Lucas, sampai akhirnya pesawat itu menghilang di balik awan. Cintaku berangkat jauh, tapi tidak sejauh itu di hatiku. Kutunggu dia pulang untuk bersama membaca mimpi-mimpinya. Dan akan kuwujudkan dengan cinta dan kasih sayangku. Karena aku adalah.. dreampatcher-nya. So it told that when dreams come true Then the sadness be blown away When the path is clear and the dream patched Suddenly happiness answers the pray How long will it still I think it's forever [END OF There He Goes - the dreampatcher story] Dee, sobbing I have nothing to say..

TAMAT


There he goes – 4

Awek Pantat Panas CantikChap IV

"Lucas berubah, Van."
"Berubah?" Vanka menatapku dengan pandangan heran.


"Maksud kamu?"
Kutatap siswa-siswa lain yang lalu lalang di depanku.
"Entahlah.." jawabku lirih.
"Dee, kamu kenapa..?"
"Nope. Nothing," jawabku mengelak.

"Aku buka, ya?" Dengan nafas tersengal Luke berbisik di telingaku.
"Jangan, Luke.." desahku mengerenyitkan alis.
Kulihat kaca mobil sudah dipenuhi embun. Keringat menetes di keningku.
"Please.." matanya memohon. Memohon lagi.
"Sudah, ya..?" bisikku seraya memeluk lehernya, berharap Lucas menghentikan semua kegilaannya. Tapi Lucas menarik tubuhnya dan melepaskan rangkulanku.
"Oke kalau begitu.." pemuda itu meraih dan menarik retsleting celananya.
"Ngga mau!" seruku seraya memalingkan wajah.
Lucas sudah gila!

"Dee.." kudengar Lucas mendesah di samping telingaku.
Tidak! Mendadak Lucas meraih tanganku dan kurasakan jemariku menyentuh sesuatu yang keras. Ya Tuhan! Kutarik cepat-cepat tanganku. Tapi Lucas meraih pundakku dan membalikkan tubuhku, melumat bibirku liar dan membaringkanku di jok. Sejenak kurasakan benda keras itu menusuk celana dalamku.
"Lepaskan! Lepaskan, Luke..!"
Tapi lucas menahan tanganku, menindih tubuhku dengan berat tubuhnya, membuka kedua pahaku dan menekan benda keras itu ke kemaluanku.
"Ahk! Sakit, Luke!"
Lucas seolah tak mendengar teriakanku. Benda itu masih menekan dan menggesek. Akhirnya dengan sekuat tenaga kutekuk lututku dan menendang pundaknya.

"Lepaskan..!"
Luke terlempar ke sisi lain mobil. Suara berdebuk terdengar saat kepalanya membentur jandela. Kulihat Lucas meringis dan memegangi kepalanya. Air mata mulai mengalir ke pipiku. Kutekuk tubuhku dan menutupi mulutku tanpa menatapnya.
"Aku ngga mau, Luke."
Kudengar Lucas mendesah lau menjatuhkan kepalanya di pahaku.
"Maafkan aku, Dee."
"Jangan, Luke. Aku ngga mau."
Lucas mengangat tubuhnya dan menempelkan kepalanya di bahuku.
"Aku tahu, Dee. Aku juga ngga mau. Aku hanya ingin menunjukkan padamu tentang segala sesuatunya aku.." pemuda itu berbisik dan mengecup daun telingaku.
"Dee.." bisiknya setelah aku tetap diam tanpa reaksi.
Lucas meraih pundakku dan mendekapku.

Masih tak berani kutatap dirinya. Lucas meraih tanganku sambil berbisik, "Please," dan meletakkannya lagi di atas benda keras itu. Kututup mataku dan mulai menangis lebih keras.
"Touch me, Dee. It's me. Aku, Lucas."
Kurasakan jemarinya melipat jemariku hingga menggenggam benda keras itu. Sesuatu menghalangiku untuk menolak. Apa maksudnya semua ini? Mengapa aku jadi begini?
"Look at me, Dee. Buka matamu."
Aku tak mau melihatmu!
"Dee, please," Lucas menarik daguku dan mengecup bibirku.
"Aku mau kamu tahu semua tentangku, Dee. Tanpa apapun yang harus dirahasiakan."
Kubuka mataku dan menatap matanya. Lucas tersenyum dan mengecup kedua mataku.

"Lihat ke bawah. Yang itu milikku." Suaranya terdengar begitu lembut.
Kutundukkan kepalaku, dan pertama kali itulah dalam hidupku kulihat alat kelamin seorang lelaki, selain kepunyaan Alex yang masih kuingat saat kami dulu sering mandi bersama waktu kecil. Bentuknya besar dan panjang dengan urat-urat yang melingkar. Sesuatu di ujungnya seolah tersenyum dan mengajakku berkenalan.
"Sudah..?" tanyaku pada Lucas.
Lucas mendesah. "Kamu sama sekali tidak tertarik, ya?"
"Ngga.." jawabku terus terang.
"Tapi itu aku, Dee. It's part of Lucas too."
Kutatap lagi benda yang masih kugenggam itu.
"Lalu..?" Pikiranku kosong. Sesuatu membuatu sakit hati dan kehilangan nalar. Dan Lucas menunjukkan cara memainkan batang penisnya. Menjijikkan.

"Sudah?"
"Kok nanya begitu terus?"
"Capek.." ucapku pendek seraya masih menggerakkan jemariku menarik-narik batang kemaluannya.
Lucas tertawa. Dan aku membenci tawa itu.
"Kalau begitu ya sudah. Tapi.."
"Apa lagi..?" tanyaku memalingkan wajah.
"I want to see you too."
Jadi begitu ceritanya. Tersenyum kutatap matanya. Benakku benar-benar kosong. Dan sesuatu merasukiku.

Kujauhkan tubuhku sampai bersandar ke pintu belakang dan mengangkat kakiku ke atas jok. Kutatap mata Lucas dalam sebelum memejamkan mataku dan menarik kepalaku ke belakang. Kurasakan jemari Lucas menyusup ke dalam rok yang kukenakan, menyingkapnya dan.. "Sshh," desisku saat jemari Lucas meraba kemaluanku. Rasa geli yang aneh menyusup ke tulang punggungku sampai ke otak.
"Ahh.." kudengar Lucas mendesah.
"Dee.."
Nyaris kumenjerit saat merasakan Lucas mulai menjilat kemaluanku dengan lidahnya. Rasa geli yang amat sangat membuatku mengangkat paha dan menjepit kepalanya di selangkanganku. Lidah Lucas bergerak-gerak di kemaluanku.
"Ahk.." jeritan-jeritan tertahan keluar dari bibirku.

Lucas mengulurkan lengannya dan meremas dada telanjangku dengan gerakan liar. Tanpa sadar aku mulai menggelinjang dan bergerak ke sana ke mari. Lucas mengangkat kepalaku, menarik kedua kakiku hingga kepalaku terjatuh di atas jok. Pemuda itu menarik tubuhnya sendiri dan menindih kemaluanku dengan kemaluannya. Rasa sakit mulai terasa di perut bagian bawahku.
"Jangan lakukan, Luke..!" desahku.
"Ngga kok.." Lucas mengecup kening dan bibirku, meninggalkan rasa hambar yang aneh, lalu mulai menggerakkan pinggulnya, menggesek dan menekan, menimbulkan rasa sakit dan geli yang menyengat seluruh syaraf di tubuhku. Membuat tubuhku meronta dan menggelinjang, dan suara-suara desahan keluar dari mulutku. Lucas menunduk dan mengecup bergantian kedua payudaraku, sementara pinggulnya terus bergerak.

Akhirnya kurasakan pinggulnya menekan dalam permukaan liang kemaluanku. Semula kukira batang kemaluannya sudah memasukiku, sehingga aku sempat tersentak kaget. Namun dalam hati aku bersyukur karena ternyata tidak. Tapi perutku terasa panas. Lucas mengangkat tubuhnya dan melirik ke bawah lalu tertawa. Keringatnya menetes di dadaku. Ingin tahu, kuangkat pinggangku dan melihat di atas bulu-bulu kemaluanku menempel cairan lenget berwarna keputihan.
"I love you, Dee.." Lucas mengecup lagi bibirku.
Hatiku hancur.

Chap V

"Kamu kok diam sekali hari ini, Dee? Bukan hari ini saja sih, sejak beberapa hari yang lalu." Vanka mengomel panjang lebar keesokan harinya di sekolah.
Kulirik sahabatku dan tersenyum pahit. "Entahlah."
"Dee..? Cerita dong..! Kamu kan tahu aku sahabat kamu. Dan calon kakak ipar kamu juga sih.." sahut Vanka membuatku merasa geli juga.
"Aku mau memutuskan hubunganku dengan Lucas."
"Hahh..?" Vanka terlihat terperanjat.
"Iya. Mumpung belum keterusan."
"Keterusan? KETERUSAN..?" Dan dengan air mata kuceritakan semua kejadian itu padanya.
Vanka mendengarkan dengan mata membelalak.

"Van, kamu apain si Dita kok nangis..?" mendadak salah seorang teman sekelasku menyeletuk.
Anak itu langsung kaget ketika Vanka berdiri tiba-tiba dan memukulkan tangannya ke meja.
"BANGSAT..! Akan kubunuh jahanam itu..!"
"Van.." isakku menahan, beberapa anak mulai menghampiri kami.

"Putus..?" Lucas menatapku terkejut.
"Yap..!" ucapku pendek menoleh ke arah lain.
Mungkin lebih tepat disebut mengalihkan pandanganku daripada aku melihatnya dan menangis.
"Dee, aku.. aku.." Lucas memegang bahuku tapi kusentakkan.
"Sory, Luke. Semuanya sudah berakhir."
Kulangkahkan kakiku menghampiri Pak Oto yang sudah menepikan mobil di trotoar.

"Dee..! DEE..!" Lucas memanggil-manggil dari balik jendela mobil.
"Jalan, Pak..!" ucapku pada Pak Oto.
Kudengar Lucas masih berusaha mengejar laju mobil seraya mengetuk-ngetuk jendela di samping tempatku duduk. Kupalingkan wajahku ke arah lain dan mulai menangis. Lucas masih mengetuk.
"Mau saya hajar, Non..?" Pak Oto berkata gusar.
Kugelengkan kepalaku lemah. Akhirnya suara ketukan itu hilang. Kubiarkan tangisku membanjir.

Bagaimanapun, setelah semua yang dialami walaupun hanya dua setengah bulan. Rasa suka dan cinta yang sudah ada sejak dua tahun yang lalu. Mimpi-mimpi yang jadi kenyataan. Patched dreams that became true.. Semuanya berakhir sampai di sini. Hancur lebur sudah.

Chap VI

Dear Dita, Mungkin kamu tidak mau membaca surat ini, atau mungkin bahkan tidak mau menerimanya sama sekali. Tapi, seandainya kamu mau.. tidak.. bahkan seandainya ada seseorang yang menemukan surat ini setelah kamu membuangnya, membacanya, dan membertahukan isinya kepadamu, aku akan sangat-sangat bersyukur. Dita, sekian lama hatiku lebur saat kamu memutuskan hubungan kita. Semuanya terasa begitu indah walaupun tak sampai tiga bulan. Dan aku.. aku telah merusaknya. Aku tahu itu. Tapi bahkan kamu tidak mau menerima maafku. Tidak bahkan surat-surat dan telepon yang kutujukan padamu. Dita, aku minta maaf. Sedalam-dalamnya. Dari lubuk hatiku. Ini surat terakhir yang mungkin kualamatkan padamu. Aku ingin menemuimu saat pembagian STTB, tapi teman-temanmu melindungimu dariku. Kamu selalu 'tidak ada' di rumah. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku akan pergi ke London lewat Jakarta. Pesawatku berangkat pukul 15:40 WIB Rabu ini. Mungkin aku takkan pernah bisa menemui kamu lagi. Dita, kuharap kamu ada di sana mengantarkanku. Aku tahu itu tak mungkin, mengingat kebencianmu yang sebegitu dalamnya padaku. Tapi tak ada salahnya bermimpi, bukan? Mengingat segala yang lalu, aku mungkin tak berharga bagimu. Tapi.. sekali saja. Yang terakhir. Karena aku masih mencintai kamu.. Lucas.

Luke, aku tak pernah tidak membaca surat yang kamu berikan padaku. Bahkan surat bunuh diri yang kamu kirim sebelum kamu overdosis dan masuk rumah sakit. Aku tahu, Luke. Aku tahu semua tentangmu. Tapi aku takut, Luke. Aku takut. Kuremas surat itu dan mulai menangis lagi. Kutatap foto di atas meja. Saat benih terasa begitu indah. Ya Tuhan, mengapa aku tak bisa melupakannya. Bahkan setelah berbulan- bulan? Apakah aku masih mencintainya? Malam itu aku menangis sendirian. Dan aku merasakan kesepian yang dalam itu. Kesepian sejak Lucas tak lagi dalam kehidupanku. Ya Tuhan, katakan kalau aku salah mengambil keputusan.

Chap VII

"Alex, aku sendirian sampai di sini."
Alex menatapku dengan sendu, tatapan mata yang terlau sering kulihat akhir-akhir ini.
"Take care, Dee."
"Kalau dia memintamu kembali, tolak saja!" Vanka mendesis seraya memelukku.
"Vanka!" Alex menyergah.
Dengan mengusap air mata aku tersenyum dan berlari memasuki hall keberangkatan. Ya Tuhan, sekali lagi kumohon. Jangan sampai aku salah.

Kulihat pemuda itu memeluk kedua mama dan papanya. Ah, betapa kurusnya pemuda itu sekarang. Tulang pipinya tampak cekung dan kantung matanya menghitam. Tanpa sadar air mata keluar lagi membasahi pipiku. Tapi aku masih tidak juga berani keluar dari baik tembok ini. Aku hanya berharap pemuda itu melirik ke arahku. Tapi pemuda itu tidak meluruskan kepalanya sama sekali. Menunduk dan tetap menunduk, seolah tak ingin menatap dunia. Apa yang sudah kulakukan padanya? Apa?? Apa yang kulakukan sekarang?!!

"Dee.." bibir pemuda itu bergerak saat menatapku melangkah ke arahnya.
Kuhentikan langkahku dan tak tahan lagi tubuhku terjatuh. Orang-orang mulai mengerumuniku. Seorang penjaga toko membantuku berdiri.
"Dee.." kurasakan telingaku basah saat pemuda itu menyahutku dan memelukku erat. Erat sekali.
Semua kerinduan dalam hatiku tumpah serentak. Aku masih mencintainya! Sekian lamanya kami berpelukan seolah tak ingin terlepas.
"Aku mencintaimu, Dee. Aku minta maaf. Aku minta maaf." Lucas menangis di bahuku seperti seorang anak kecil.
Kupejamkan mataku dan membelai rambutnya. "Aku juga, Luke," desisku lirih, "Aku juga."

"Pesawat Garuda jurusan Jakarta dengan nomor penerbangan GA 718 akan segera diberangkatkan. Bagi seluruh penumpang diharapkan segera menuju ke ruang keberangkatan."

Kudorong pundak pemuda itu menjauh dan menganggukkan kepalaku. Sebuah tangan menepuk pundak Lucas.
"Ayo, Luke. Kamu harus berangkat sekarang."
Kuangkat kepalaku dan menatap wajah ayah Lucas, pria itu tersenyum dan mengangguk ke arahku seolah ingin mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata.
"Dee.." Lucas menghapus air matanya dan tersenyum menatapku.
"Apa, Luke..?"
Lepasnya kerinduan ini begitu singkat.
"Kamu menungguku? Aku akan mencoba berubah."
"Ssshh.." bisikku lalu mengecup pipinya, tak perduli ada kedua orangtuanya di situ, dan mata-mata yang menatap kami.
"I'm your dreampatcher, remember that..?"
Lucas mengangguk, tersenyum, lalu merangkul kedua orangtuanya. Kulihat ibu Lucas menangis, sementara ayahnya memeluk dan menenangkan.

"Bye, Dee." Lucas menatap terakhir kalinya ke arahku sebelum melangkah tanpa menoleh lagi menuju ruang keberangkatan.
"Ayo, Nak. Kita pulang," kudengar ayah Lucas memanggilku 'nak' serasa sebuah simfoni indah yang mengalun lembut di telingaku.
"Permisi, Pak.." ucapku lalu segera berlari menembus penjaga ruang keberangkatan.
"Loh, Mbak! Mbak..!"
Mereka mengejarku. Aku tak perduli. Kucari Lucas dengan pandangan mataku.
"LUKE!! AKU MENCINTAIMU!!" teriakku yang membuat orang-orang memandang ke arahku.
Lucas menolehkan kepalanya dan berlari memelukku, berputar dan mengecup keningku.
"Aku juga, Dreampatcher. Aku juga."
Dan aku menangis di dadanya. Petugas keamanan hanya menggaruk-garuk kepala mereka sambil tersenyum-senyum.

Akhirnya mereka membiarkanku menatap keberangkatan pesawat yang ditumpangi Lucas, sampai akhirnya pesawat itu menghilang di balik awan. Cintaku berangkat jauh, tapi tidak sejauh itu di hatiku. Kutunggu dia pulang untuk bersama membaca mimpi-mimpinya. Dan akan kuwujudkan dengan cinta dan kasih sayangku. Karena aku adalah.. dreampatcher-nya. So it told that when dreams come true Then the sadness be blown away When the path is clear and the dream patched Suddenly happiness answers the pray How long will it still I think it's forever [END OF There He Goes - the dreampatcher story] Dee, sobbing I have nothing to say..

TAMAT


Desah Nafas – 3

Awek Pantat Panas Cantik"Darma, aku belum selesai ngomong"
"Apa Teh?" Aku berhenti mencumbunya. Tapi tubuhku tetap berada di atasnya. Pantatku menekan-nekan dengan perlahan.
"Tapi kamu janji dulu, tak akan bilang siapa-siapa"
"Iya, saya janji, Teh"


"Suamiku sebenarnya seorang homo. Sejak aku menikahnya dengannya, aku belum pernah melakukan sex"
"Astaga" Aku kaget.
"Sstt"
"Lalu? Gimana cara Teteh, kalau pingin?"
"Suamiku membelikan vibrator penis, untuk masturbasiku"
"Terus?"
"Mulanya Aku bertahan untuk menikmati itu. Namun lama-lama, tak tahan juga. Aku ingin yang asli"
"Ayo..!" Ucapku sambil meraba bagian vagina-nya.
"Tunggu dulu..!"
"Apa lagi? Nanti suamimu keburu datang"
"Aku udah minta ijin sama suamiku"
"Apa?"
"Iya, aku udah minta ijin"
"Lalu?"
"Asalnya dia marah. Namun dengan alasan pingin punya anak, akhirnya dia ngijinin dengan syarat"
"Apa saratnya?"
"Yang pertama, saratnya adalah harus dengan satu orang laki-laki. Tidak boleh ganti-ganti"
"Terus?"
"Dia mau ikut"
"Ikut gimana?"
"Three In One"
"Jadi, dia mau ngesex sama saya?"
"Iya bener. Kamu mau kan?"
"Saya cuma mau sama Teteh aja. Saya jijik kalau harus intim sama laki-laki"
"Berarti aku mau cari laki-laki lain"
"Terus kita gimana?"
"Gak jadi" Ucapnya seraya menghempaskan tubuhku.
Tentu saja aku tak mau kehilangan kesempatan seperti ini. Apalagi mendengar Teh Ana masih perawan.
"Oke deh, saya mau. Tapi saya tidak mau anal sex" Ucapku pada akhirnya.
Teh Ana tersenyum senang. Lalu memeluk tubuhku kembali. Sekali membuka gaunnya, tubuh Teh Ana hanya menyisakan celana dalam saja. Kugumul dulu bagian sensitif tubuhnya, mulai dari telinga, leher, buah dada, puting susunya, sampai lidahku turun ke bawah. Teh Ana menggelinjang dengan nafas yang tersengal-sengal. Kubuka celana dalamnya. Kujilati vagina-nya. Lidahku mempermainkan clitorisnya, sambil terkadang kusedot-sedot juga.

"Aduh, Darma. Aku gak tahan" bisik Teh Ana sambil menuntun kepalaku ke atas.
Kubuka baju dan celanaku dengan cepat. Celana dalamku dibukakan oleh Teh Ana. Namun Aku tidak memberikan penis-ku untuk dipegang oleh tangannya. Masih ada sisa rasa takutku pada pengalaman sebelumnya. Aku takut ejakulasi dini lagi. Hatiku berdebar-debar, tatkala penis-ku mulai dekat pada memeknya. Kuraba liang vaginanya. Setelah yakin sudah siap, kumasukan perlahan-lahan dengan hati yang tenang. Teh Nia memejamkan matanya. Bles.. akh.. akhirnya kontolku masuk pada lubang memeknya. Memang agak seret, tapi tidak terlalu sulit. Rasanya tak mungkin, kalau Teh Ana seorang perawan. Sebab vagina perawan, sangat sulit untuk ditembus pertama kali. Tapi aku tak mempedulikan hal itu. Yang penting aku langsung saja memompanya dengan agak perlahan dulu. Kunikmati cumbuan bibirnya yang menyatu dengan bibirku. Tanganku pun menggerayang pada bagian-bagian penting tubuhnya.

"Ehm.. ehmm.. ah.. ih.. ah" suara Teh Nia jelas sekali terdengar oleh kedua telingaku.
Tangannya memeluk erat tubuhku. Entah karena vagina-nya yang agak seret atau apa, baru sekitar empat menit, aku merasakan otot-ototku menegang. Sebagai pertanda akan segera orgasme. Kupacu gerakan pantatku lebih cepat. Terlihat Teh Ana makin asik menikmatinya. Setiap hentakan penis-ku, pasti keluar suara yang berlainan dari bibirnya. Desahan nafas, erangan, rintihan, bahkan jeritan yang tertahan. Sehingga aku tidak tega, jika harus cepat-cepat mengakhiri permainan. Tapi memang desakanku tak bisa kutahan.

Aku menghentikan gerakan pantatku sejenak, untuk menahan arus maniku yang begitu mendesak. Namun Teh Ana tetap menggoyangkan pantatnya, sehingga tidak tertahan lagi, maniku semakin mendekati pintu keluar. Tak ada jalan lagi, selain mengeluarkannya dengan tenang. Aku berlagak belum mengalami orgasme. Ketika air maniku muncrat. Aku berusaha menyembunyikannya dengan cara menggigit telinganya perlahan-lahan. Tak kuhentikan gerakan pantatku, turun naik dengan cepat. Walau sudah lemas dan loyo, aku terus memacunya.

Aku tak tahu, apakah Teh Ana mengetahui orgasmeku atau tidak. Yang pasti dia tetap memejamkan matanya sambil merintih-rintih. Kelihatannya Teh Ana begitu menikmatinya. Aku terus berusaha dengan keadaan sisa-sisa kekuatanku. Kupaksakan, agar penis-ku bertahan. Walau hambar bagiku, namun aku ingin memuaskan Teh Ana. Terus kutekan, sambil menghayalkan keindahan dan kenikmatan. Agar tidak kelihatan lemas dan loyo, lebih kupercepat lagi gerakanku. Mungkin sekitar tujuh menit, baru kurasakan penis-ku menegang lagi dengan normal. Kenikmatan pun menjalar lagi. Sedangkan Teh Nia terus menggoyangkan pantatnya, setengah berputar.

"Darma.. sedikit lagi" Teh Ana berbisik, sambil mempererat pelukannya.
Pantatnya diangkat, menekan penis-ku. Aku pun memompanya lebih kencang lagi. Tak kupedulikan suara desahannya yang makin keras. Tangannya menjabak rambutku. Kedua kakinya menekan pinggangku, dan ujung kakinya melingkar, serta mengunci pahaku. Bibirku dilumat dengan ganasnya. Hingga akhirnya Teh Ana mengeluarkan desahan yang cukup panjang.
"Aakkh" begitulah, Teh Ana terkulai dengan lemas.
Pada saat itu pula, orgasme keduaku akan segera datang. Kuhentakan penis-ku lebih keras. Teh Ana merintih, membuatku makin bernafsu. Semakin keras rintihannya, desakan orgasmeku pun makin menggelora. Kulingkarkan tanganku pada lehernya. Aku bersiap-siap ambil posisi untuk mencapai puncak kenikmatan. Teh Ana pun sepertinya mengerti. Kakinya dilingkarkan lagi pada posisi semula. Tangannya memeluk tubuhku lebih erat. Kugigit bagian bawah telinganya agak keras. Bersama rintihannya, aku memuncratkan maniku di dalam vagina-nya. Cret.. cret.. agh.. Dan akhirnya aku pun terkulai dengan lemas.

*****

Jam setengah sepuluh, Teh Ana sudah kembali ke kamarnya. Aku tidak boleh tidak, harus masuk ke kamarnya jam duabelas malam nanti, setelah suaminya datang. Tak pernah kubayangkan, jika aku harus melayani seorang laki-laki. Kalau saja wanitanya tidak secantik Teh Ana, pasti akan kutolak.

Aku mengisi waktu dengan persiapan kekuatan. Kumakan kuning telur mentah yang dicampurkan dengan sprit. Aku pun makan dulu sampai kenyang. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukan jam setengah dua belas. Terdengar bunyi motor yang tak asing lagi di telingaku. Motor Didi, suaminya Teh Ana. Kubiarkan saja dulu sampai waktunya jam duabelas tepat.

Waktu yang mendebarkan pun telah tiba. Aku bangkit dari tempat duduk, menuju pintu kamar. Tak terlalu jauh, antara pintu kamarku dengan pintu kamar Teh Ana. Hanya beberapa langkah saja. Sehingga tak mungkin, jika ada yang mengetahuinya. Kuketuk pintunya dua kali. Dan tanpa menunggu lama, pintu pun terbuka. Terulas senyuman Didi menyambut kedatanganku.

Ternyata mereka telah lebih siap. Didi hanya mengenakan celana dalam. Dan tiba-tiba Teh Ana pun memelukku dari belakang. Tonjolan susunya terasa hangat dan empuk. Rupanya Teh Ana telah telanjang bulat. Dia membukakan pakaianku satu persatu. Kurasakan kehalusan kulit Teh Ana, membuat penis-ku langsung menegang. Didi yang memperhatikan dari depanku, napasnya terlihat agak memburu. Didi membuka celana dalamnya, penis-nya yang cukup besar itu sudah ngaceng juga. Bahkan Didi tak segan-segan lagi memelukku dari depan. Betapa jijiknya ketika bibirku harus berpagutan dengan bibir Didi. Namun Teh Ana seakan mengerti. Dia tetap memelukku sambil mencumbuku dari belakang.

Didi menarik tanganku ke atas kasur. Aku disuruh merebahkan diri. Lalu dia menindihku sambil menggerayangi sekujur tubuhku. Bibirnya tak mau lepas dari bibirku. Penis-nya ditekankan pada kontolku. Lalu digesek-gesekannya. Sementara Teh Ana hanya duduk di pinggirku, sambil mengusap-usap tubuhku, yang tidak terhalangi tubuh Didi. Tiba-tiba Didi memekik agak keras. Hentakannya bertambah kuat, membuatku pingin muntah. Mungkin dia mau orgasme. Sebab terasa leherku digigitnya. Dan benar juga, terasa ada cairan hangat membasuh sekitar penis-ku. Dia kemudian terkulai dengan nafas yang tersengal-sengal.

Aku muak. Jijik. Apalagi ketika lidahnya menjilati air maninya yang tumpah pada tubuhku. Bahkan dia pun mengulum kontolku. Dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Teh Ana. Dia mencumbuku dengan gairah birahinya. Tubuhnya yang tidak terhalang selembar kain pun, membuat tanganku bebas menggerayang ke mana aku suka. Aku bangkit sambil menarik kontolku dari mulut Didi. Lalu cepat-cepat memasukan pada lubang vagina Teh Ana, yang sudah siap menyambutnya. Dengan gaya konvensional, kontolku sangat aman, keluar masuk vagina Teh Ana. Teh Ana mulai memejamkan matanya lagi. Aku pun merasakan kenikmatan yang tiada tara.

Tiba-tiba punggungku dijilati oleh lidah Didi. Lalu ke telingaku. Bahkan lama-lama lidahnya menerobos di antara bibirku dan bibir Teh Ana yang tengah menyatu. Aku dan Teh Ana tidak meresponnya. Membuat Didi mencari posisi lain. Aku tak peduli. Semakin kupercepat pompaan tubuhku. Aku mulai tahu kelemahan Teh Ana. Vagina-nya harus ditekan dengan keras, agar cepat mencapai orgasme. Kulakukan hal itu, sampai napas Teh Ana tersengal-sengal.

Tiba-tiba aku dikejutkan perlakuan Didi. Dia berusaha memasukan kontolnya pada pantatku. Membuat aku berguling, menggantikan posisi. Teh Ana di atas, aku di bawahnya, masih berhadapan. Terlihat Teh Nia menyenangi posisi seperti ini. Dia leluasa menekan memeknya lebih keras, dan menggoyangkannya. Aku menekan turun naik dari bawah.

"Aukh" Aku tak bisa menahan suaraku, saking nikmatnya.
"Akh" Teh Ana pun menjerit agak tertahan. Rupanya dia sudah mau orgasme. Sama seperti halnya aku.
Teh Ana mempercepat putaran pantatnya sambil menekan. Tubuhnya sudah merapat denganku. Aku pun mengalami hal yang sama. Kugigit lehernya, sebagai isarat bahwa aku pun akan segera keluar.

Namun hal itu nampaknya mengundang nafsu Didi yang makin menggebu. Dia menarik tubuh Teh Ana, setengah memaksa. Lepaslah penis-ku dari vagina-nya Teh Ana. Didi menyuruh Teh Ana, agar berganti posisi. Dia tetap di atasku, namun dengan posisi membelakangiku. Teh Ana yang tengah diburu nafsu yang kian memuncak, tak bisa menolaknya. Dia melakukan semua keinginan Didi. Bless.. penis-ku masuk lagi. Ketika aku akan bangkit, dadaku disorong oleh tangan Didi. Dia mendekatkan batang penis-nya pada mulutku. Sejenak aku benar-benar jijik. Namun Didi memaksanya. Sehingga untuk pertama kalinya, aku mengulum penis. Kupejamkan mataku. Di satu sisi aku merasakan mual dan jijik. Di sisi lain, aku merasakan kontolku semakin nikmat rasanya, dengan hentakan vagina Teh Ana yang makin kuat.

Akhirnya aku mencoba mengkonsentrasikan pada kenikmatan penis-ku. Biarlah bibirku mengulum penis Didi. Kubayangkan menjadi bibir Teh Ana. Apalagi ketika Teh Ana makin mempercepat gerakannya, terasa terbang di atas awan. Melayang-layang dengan kenikmatan. Hingga pada akhirnya, tubuh Teh Ana terasa menegang. Aku pun sama. Puncak orgasme akan segera tiba.

"Akgh.. emh.. sedikit la.. gi" Terdengar suara tertahan Teh Ana.
"Aku juga" suara Didi pun terdengar.
Aku mencoba mengeluarkan kontolnya dari mulutku, takut tertumpah air maninya. Baru saja lepas, cret.. cret.. air mani Didi muncrat mengenai mukaku.
"Agh..!" Didi berteriak.
Aku bangkit seraya menghempaskan penis Didi. Kupeluk tubuh Teh Ana dari belakang. Kubantu dengan hentakan yang lebih dahsyat. Air mani Didi, kubersihkan pada punggung Teh Ana.

"Teh.. Akh" Aku berbisik tertahan, sambil lebih merapatkan lagi tubuhnya.
"Heeh" Teh Ana pun sama halnya denganku. Menekankan vagina-nya lebih keras. Kedua tangannya melingkar ke belakang, menarik pinggangku. Sampai akhirnya.. cret.. cret.. cret.. kutumpahkan maniku dengan nikmatnya. Pantat Teh Ana masih bergerak turun naik. Rupanya dia belum orgasme juga. Sehingga aku bertahan dengan menekan penis-ku lebih dalam.

Mungkin Teh Ana kesulitan orgasme dengan posisi seperti itu. Sebab dia tiba-tiba bangkit, dan berganti posisi. Dia tetap di atasku, namun dengan posisi berhadapan. Kupertahankan penis-ku untuk tetap bertahan. Kasihan Teh Ana. Dia memasukan lagi penis-ku yang telah berlendir. Lalu bergerak turun naik dengan tubuhnya menindihku. Lalu tangannya melingkar pada leherku. Sekitar dua menit lamanya, dia baru terasa menggigit leherku agak kuat. Kubiarkan saja. Sampai akhirnya Teh Ana menghentakan pantatnya untuk yang terakhir kalinya dengan sangat keras, diiringi erangan dari mulutnya yang cukup panjang.

"Aaakh" begitulah Teh Ana.
Kurasakan cairan hangat pada penis-ku yang masih berada di dalam vagina-nya. Lagi-lagi Didi mendekatkan penis-nya pada mulutku. Aku malas sekali. Untungnya Teh Ana mengerti. Teh Ana-lah yang menyambut penis Didi, sambil merangsek maju. Teh Ana mengulum penis Didi. Sementara vagina-nya tepat di hadapanku. Maka aku pun menjilat dan menyedotnya. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba Didi menjatuhkan tubuhnya. Teh Ana pun terguling. Aku tetap memburu vagina-nya. Teh Ana mengangkat paha kanannya, untuk keleluasaan mulutku. Tiba-tiba mulut Didi sudah menempel pada kontolku juga. Begitulah pengalaman pertamaku melakukan three in one. Penis-ku dikulum oleh Didi. Aku menjilati vagina Teh Ana. Sementara Teh Ana mengulum penis Didi.

*****

Aku melakukan three in one, selama lima kali. Tapi tetap, aku menolak anal sex, apapun alasannya. Dan selanjutnya aku tak mau lagi melakukan three in one, sebab tak tahan dengan jijiknya. Aku hanya mau dengan Teh Ana saja. Sehingga aku sering bolos kerja di siang hari. Leluasa sekali kalau melakukannya pada siang hari. Tak ada gangguan. Hingga Aku dan Teh Ana hampir tiap hari melakukannya. Berbagai gaya pun telah kupraktekan dengan diakhiri kepuasan. Sampai pada suatu hari, kami tertangkap basah oleh suaminya. Tak kusangka Didi pulang lebih awal. Untung saja, ketika Didi pulang, kami sedang melakukannya di kamarku. Dia tak bisa masuk, sebab kukunci dari dalam. Dan kami pun menyelesaikannya dulu permainan sampai pada puncaknya, dengan menahan suara.

Setelah kejadian itulah, Didi sikapnya jadi berubah. Dia seperti tak bersahabat lagi. Sampai akhirnya dia membawa pindah istrinya ke kontrakan lain. Entah ke mana. Aku tidak mengetahuinya. Membuatku begitu kehilangan. Setelah dua minggu lamanya berpagutan dalam asmara membara, kini harus terhenti secara tiba-tiba.

Lima bulan kemudian, barulah aku bertemu dengan Teh Ana. Dia menemuiku dengan agak tergesa-gesa. Teh Ana mengabarkan, bahwa dirinya akan dibawa pindah ke Sulawesi Selatan. Aku terharu mendengarnya.

"Terimakasih atas kenangan indahnya" Kata Teh Ana, sambil mengusap perutnya yang telah membesar.
Aku terbelalak. Dia ternyata tengah hamil. Bahkan kandungannya sudah terlihat besar. Kalau dihitung sejak kepergiannya, pasti kandungan Teh Ana telah berusia lima bulan.