Category Archives: cerita sekondeng

Desy namaku

Awek Pantat Panas CantikNamaku Dessy, 23 tahun. Aku sekarang tinggal di Jakarta. Banyak orang mengatakan bahwa aku sangat cantik, walau aku tak merasa demikian. Aku dilahirkan di satu keluarga yang biasa saja. Ayah dan ibuku bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta. Aku mempunyai 2 orang kakak laki-laki. Yoga, 29 tahun, dan Okky, 25 tahun. Keduanya belum menikah. Yoga bekerja sebagai montir mobil, Okky bekerja serabutan. Dan aku sendiri sampai saat ini belum bekerja setelah tamat kuliah D3.

Aku selalu di rumah membantu ibu dalam urusan rumah tangga. Aku jarang keluar. Sampai saat ini aku belum mempunyai kekasih karena ada suatu hal yang akan aku ceritakan sekarang ini. Keluargaku tidak ada masalah dalam hal ekonomi. Ekonomi kami cukup walau tidak bisa lebih. Hanya saja ada satu hal yang sangat membebani perasaanku saat ini. Kurang lebih 5 bulan yang lalu awal dari beban perasaanku ini dimulai..



Waktu itu, 5 April 2004 pagi hari, ayah dan ibu serta Yoga sudah pergi kerja. Hanya Okky dan aku yang ada di rumah. Okky masih tiduran di kamarnya walau sudah bangun. Aku sendiri sedang menyapu di tengah rumah. Kulihat Okky bangkit dari ranjangnya dan segera keluar dari kamar.

"Masih ada makanan, tidak?" tanya sambil lewat.

Tak kusangka tangan Okky tiba-tiba meremas pantatku dari samping sambil lewat.

"Ihh.. Kamu ngapain sih!" aku membentak.

Okky hanya tersenyum dan segera ke kamar mandi. Aku pikir Okky hanya iseng menggoda aku. Tapi ketika Okky sudah selesai dari kamar mandi, tanpa sepengetahuanku tiba-tiba Okky memelukku dari belakang.

"Hei! Lepaskan aku!" aku berteriak sambil meronta.

Tapi Okky malah sengaja meremas buah dadaku dan menciumi leher dan tengkuk aku. Aku terus meronta, tapi pelukan Okky makin kuat.

"Diamlah, Des.. Sebentar saja," bisik Okky di telingaku sambil tangannya tetap meremas buah dadaku.

Entah kenapa aku jadi lemah meronta. Malah aku rasakan ada perasaan aneh yang menjalari tubuhku. Antara mau dan tidak, aku biarkan tangan Okky meremas buah dadaku. Bahkan ketika Okky menyingkap dasterku dan tangannya masuk ke celana dalamku, aku biarkan tangannya meraba dan menelusuri belahan memekku.

"Mmhh..." aku mendesah dengan mata terpejam.
"Ke kamar, yuk?" bisik Okky tak lama kemudian.

Aku hanya bisa mengangguk. Okky lalu menarik tanganku ke kamarnya. Di dalam kamar, Okky dengan terburu-buru melepas semua pakaian yang melekat di tubuhku. Nafasnya terdengar cepat. Aku diam saja diperlakukan demikian oleh kakakku. Entah kenapa gairahku bangkit diperlakukan demikian.. Nafsuku makin terangsang lagi ketika kulihat Okky melepas semua pakaiannya dan terlihat kontolnya yang cukup besar dipenuhi bulu lebat berdiri dengan tegak.

Okky menghampiri, lalu mengecup bibirku. Aku langsung membalas ciumannya dengan hangat. Tangan Okky kembali bermain dan meremas buah dadaku. Kontolnya sesekali menyentuh memekku sehingga membuat darahku selalu berdesir.

"Ohh.. Ohh..." desahku ketika jari tangan Okky menyentuh memek dan menggosok-gosok belahan memekku. Aku sendiri langsung menggenggam kontol Okky dan meremasnya pelan.
"Mmhh..." desah Okky sambil menggerakkan pinggulnya.
"Isepin kontol aku, Des..." pinta Okky berbisik.
"Tidak mau ah, jijik..." kataku sambil terus mengocok kontol Okky.
"Ya sudah, masukkin langsung saja," kata Okky sambil menarik tubuhku ke atas ranjang.

Tak lama tubuh Okky langsung menindih tubuhku. Diarahkan kontolnya ke memekku lalu didesakannya pelan-pelan.

"Aww! Pelan dong, Ky..." jeritku pelan.
"Susah masuk nih..." kata Okky sambil terus berusaha memasukkan kontolnya ke memekku.
"Aku masih perawan, Ky..." bisikku.

Okky tak menjawab. Dia terus berusaha menyetubuhiku.

"Bantuin dong..." bisik Okky.

Akupun segera menggenggam kontol Okky. Aku arahkan kepala kontolnya ke lubang memekku.

"Tekan pelan-pelan, Ky..." bisikku.

Okky mulai mendesakkan kontolnya pelan.

"Aww.. Terus tekan pelan-pelan.. Aww..." kataku sambil agak meringis menahan perih ketika kontol Okky mulai masuk ke memekku.
"Pelan, Ky.. Pelan.. Aww.. Aww.. Mmhh.. Ohh.. Terus, Ky..." bisikku lirih ketika kontol Okyy sudah mulai keluar masuk memekku.

Okky terus memompa kontolnya mulai cepat.

"Ohh..." desah Okky disela-sela gerakannya menyetubuhi aku.
"Kenapa kamu melakukan hal ini?" tanyaku sambil memeluk Okky.
"Karena aku sayang kamu, suka kamu..." jawab Okky sambil menatap mataku.

Aku diam. Tak terasa air mataku mengalir ke pipi..

"Kenapa kamu menangis?" tanya Okky sambil menghentikan gerakannya.

Aku diam sesaat. Mataku terpejam.

"Karena.. Sudahlah..." kataku sambil tersenyum.

Ada rasa tak menentu saat itu. Antara rasa sedih karena diperawani kakak kandung sendiri, dan juga gairah seks-ku yang sangat tinggi untuk disalurkan, dan entah perasaan apalagi saat itu yang ada di hatiku. Aku lumat bibir Okky sambil menggerakkan pinggulku. Okkypun segera membalas ciumanku sambil melanjutkan menggerakan kontolnya keluar masuk memekku. Lama kelamaan perasaan tak menentu yang sempat hinggap di hatiku mulai menghilang, terganti oleh rasa sayang terhadap kakakku dan rasa nikmat yang sangat tak terhingga. Tak lama aku rasakan Okky mulai menyetubuhiku makin cepat. Dengan mata terpejam didesakkannya kontolnya dalam-dalam ke memekku.

"Ohh.. Aku mau keluar, Des..." kata Okky.
"Jangan keluarkan di dalam, Ky..." pintaku sambil menggerakan pinggulku makin cepat mengimbangi gerakan Okky.

Tak lama Okky segera mencabut kontolnya dari memekku cepat-cepat. Lalu, crott! Crott! Crott! Air mani Okky menyembur banyak di atas perutku. Okky lalu bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Diusap dan diremasnya buah dadaku. Akupun segera memegang dan menggenggam kontol Okky yang sudah mulai lemas.

"Aku sayang kamu..." kata Okky sambil mencium kening dan mengecup bibirku.

Aku tersenyum.. Begitulah, sejak saat itu kami selalu bersetubuh setiap ada kesempatan. Aku sangat menikmati persetubuhan kami. Kedekatan dan keromantisan hubungan kami semakin hari semakin kuat. Seringkali kami saling raba, saling remas bila sedang nonton televisi walau saat itu semua keluarga sedang kumpul. Aku nikmati itu setiap malam. Antara was-was kalau ketahuan dan rasa romantis serta nikmat, semua aku lakukan dengan suka hati.

Rasa sayang yang sangat besar bisa aku rasakan dari Okky. Apapun yang aku mau, atau apapun masalah yang aku hadapi, akan selalu dipecahkan dan dilalui bersama Okky. Kenikmatan dalam persetubuhan dengan Okky telah membawa aku ke suasana yang serba indah. Dengan Okky pula aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya melakukan oral seks. Bagaimana rasanya di jilat memek sampai orgasme, bagaimana rasanya menjilat dan menghisap kontol sampai air mani Okky tumpah di dalam mulutku dan menelannya.

Untuk beberapa bulan kami nikmati "kegilaan" dalam hubungan asmara saudara sekandung. Entah sudah berapa banyak tempat yang kapai pakai untuk melampiaskan rasa sayang dan gairah dalam bentuk persetubuhan. Sudah banyak penginapan dan hotel yang kami singgahi untuk bisa memacu desah dan birahi untuk meraih kenikmatan. Entah sudah berapa puluh kali aku menghisap kontol dan menelan air mani Okky di dalam bioskop. Aku lakukan semua itu dengan perasaan bebas tanpa beban. Aku nikmati semua permainan yang kami lakukan.

Tapi ada satu hal yang mulai membebani hatiku saat ini. Aku mulai merasa berdosa atas hubunganku dengan kakak kandungku. Pernah aku bilang kepada Okky untuk menghentikan hubungan ini, dan mengatakan bahwa aku ingin membina hubungan dengan orang lain. Okky marah besar karenanya. Dia mengatakan bahwa dia sangat sayang aku, dan tidak ada satu orang lelakipun yang boleh menyentuh aku. Bahkan pernah ada beberapa lelaki yang main ke rumah untuk menemui aku, tidak pernah lagi datang berkunjung karena Okky selalu ikut nimbrung ketika aku menemui mereka. Okky selalu dengan ketus menimpali setiap ucapan mereka dengan ucapan yang menyindir dan menghina.

Hal lain adalah, aku tidak bisa menolak keinginan Okky untuk menyetubuhiku. Dan jujur saja kalau aku juga sangat menikmati cumbuan dia karena bisa memenuhi kebutuhanku untuk menyalurkan libido aku. Sekarang aku bingung harus bagaimana. Aku ingin hidup normal dalam membina hubungan asmara dan ingin normal dalam menyalurkan kebutuhan seks aku, tapi tidak mau menyakiti hati kakakku karena aku sangat sayang dia. Aku ingin hidup normal. Tolonglah..

TAMAT


Bennyku sayang

Awek Pantat Panas CantikAku kenal Benny dari kedua kakakku (Biasanya aku memanggilnya Bey). Mereka berteman ketika mereka berada di luar negri. Wajah Asianya yang kecoklatan dan tubuhnya yang atletis, membuatku terpana waktu pertama kali aku di perkenalkan. Aku sering pergi bersama mereka, dia dan kedua kakakku. Dari hanya sekedar duduk di cafe ataupun berlibur ke luar daerah. Biasanya, kedua kakakku selalu membawa pacarnya masing-masing, sementara Bey selalu menemaniku kemanapun kami pergi.

Lama kelamaan, kami menjadi sangat akrab. Kami berbincang bebas, dari hal yang biasa, hingga hal yang bisa membuat darah berdesir karena nafsu. Suatu ketika kami berbincang di Yahoo Chating. Pembicaraan mulai mengarah ke hal-hal yang membuat nafsu kami mulai naik.



"Zi.. Sepertinya lo kaya gue ya.. MLT (Manusia Libido TInggi)" katanya tiba-tiba.
"Bisa aja.. Emangnya lo gitu?" Tanyaku.
"Yah.. Gue kalau sudah Horny, bisa coli 2 kali sehari! Kaya minum obat ya?" Jawabnya.
"Haah? Gila! 2 Kali sehari? wah.. Gila! Tapi.. Gue juga kalau lagi mau mens juga gitu! Kadang.. Bisa tiap hari masturbate dikamar" Ujarku.
"Gila juga.. terus kalau masturbate, pake apaan? Kenapa nggak ngajak Ale aja?" Tanyanya.
"Kalau lagi ada dia sih enak.. Tapi kalau Ale lagi keluar negri, bisa lama dia baru pulang. Dan dia kemaren sudah berangkat lagi ke LA, padahal baru pulang minggu lalu! Sekarang kalau gue horny, yah.. Paling masturbate!" Jawabku panjang.

Setelah jeda sekian menit.

"Zi.. Gue mau tanya, sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya.. Dan tolong jangan benci gue dan tolong lupakan hal ini kalau elo enggak mau.. Please janji.. Gue mau tanya.. kalau ada kesempatan.. Elo bisa percaya gue sebagai teman elo.. Elo mau enggak lakukan ini dengan gue? Sekali lagi mohon maaf banget sebesar-besarnya telah menanyakan ini ke elo.. Soalnya gue bener-benar bingung.. Gue enggak tahu harus gimana dan harus bicara ke siapa.. Mudah-mudahan elo bisa pahami.. Dan sekali lagi maafkan gue.." Tanyanya.

'Apa?' Pikirku. Agak lama aku memikirkannya. Sudah beberapa kali ia memanggilku di window itu. Tapi tetap aku tidak menjawabnya. Memang aku sudah cukup dekat mengenalnya. Akupun sering membayangkannya ketika aku masturbasi. Tapi.. Untuk ML sama dia?

"Zi.. Kamu dimana? Sory deh kalau kamu tersinggung.. Sory Zi.. Zi.. Jangan marah ya.. Gue cuma ingin melampiaskan apa yang ada dalam pikiran gue. kalau lu nggak berkenan.. Lupain aja deh Zi kalau gue pernah nanya!" Ketiknya.

Setelah agak lama aku membiarkannya, akhirnya aku memutuskan untuk menjawabnya.

"Bey.. Gue nggak marah kok! Cuma kaget aja!"
"Eh.. Bey.. Gue harus offline dulu neh! Ada kerjaan yang harus gue kerjain! Nanti gue telepon deh! bye.."

Hubungan langsung kututup. Seketika kumatikan koneksi internetku. Tak lama, tiba-tiba HP ku berbunyi. Ada SMS masuk! 'Nanti malem aku telpon ya say!' sebuah pesan singkat dari Bey. Sekitar jam 10 malam, aku mengirimkan SMS ke Bey, yang mengatakan bahwa aku sudah bisa diajak bicara. Tak berapa lama ia menelponku.

"Zi.." Ucapnya pelan.
"Biasa aja lagi Bey.. Gue nggak papa kok! Gue cuma kaget doang. Emangnya lo sudah ngebet banget ya?" Tanyaku.
"Iya nih Zi.. Dari pada gue main sama orang yang nggak jelas.. Gue ingin banget main sama lo!" Ujarnya polos.
"Iya sih.. Gue juga lagi ingin banget.. sudah gitu Ale pas nggak ada!"
"Boleh.. Kapan?" tanyaku.
"Asyik!! Besok kan libur tuh.. Lo gue jemput deh.. Kita ngingep di hotel. Yah?" Katanya kegirangan.
"Lo paling suka diapain?" Tanyanya kemudian.
"Gue.. Wah.. Banyak deh! Di oral juga suka banget! Biasanya kalau foreplay paling enak tuh di oral dulu" Jawabku.
"Gue janji bakalan bikin lo puas deh!! Gue kan juga nggak kalah sama Ale!" Ujarnya.
"Bukti dulu! baru ngomong!" Sahutku.

Setelah agak lama berbincang, kami pun berpisah dari udara. Aku segera mempersiapan diri. Mencukur bulu memekku sampai mulus.

*****

Besoknya, aku dijemput Bey jam 5 sore di rumahku dengan motor Tiger merahnya, kemudian kami meluncur ke sebuah Hotel mungil yang aku sendiri tidak begitu mengenal daerahnya. Bey mendaftarkan untuk memperoleh sebuah kamar. Aku mengikutinya dari belakang menuju kamar kami. Sesampainya di kamar, aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Tak berapa lama setelah aku menanggalkan pakaian dalamku dan hanya mengenakan kaosku yang longgar, Bey mengetuk pintu kamar mandi. Waktu kubuka, ternyata disana ada Bey yang hanya mengenakan celana dalam berwarna biru mudanya. Sepertinya celana itu menyimpan benda yang terlalu besar untuk dimasukkan didalamnya.

Bey langsung mencium bibirku dan memainkan lidahnya ganas dalam mulutku. Aku tidak mau kalah, akupun memainkan lidahku ke dalam mulutnya. Nafas kami berdua semakin memburu. Tangannya yang satu meremas-remas tetekku dan memainkan putingnya dan lainnya mengorek-ngorek memekku dengan jarinya. Tanganku pun tak tinggal diam. Aku meletakkan telapak tangan kananku diatas gundukan dicelananya, meremas-remasnya sedikit dan mengocoknya dari luar. Terasa seperti ada darah yang panas naik di punggungku, mendidih semua darahku oleh nafsuku. Yang ada dalam benakku saat itu hanyalah mewujudkan impianku selama ini untuk merasakan apa yang ada dibalik celana dalamnya, yang selama ini menghantuiku.

Aku menyandarkannya pada tembok kamar mandi dan mulai menjilati lehernya, kemudian semakin ke bawah, ke arah putingnya. Dadanya yang bidang dan ujung putingnya yang mungil, membuatku gemas ingin menggigitnya. Kuputar putar lidahku disekeliling putingnya kemudian menghisapnya kuat. Kudengar desahan halus dari mulut Bey menandakan ia juga menikmatinya, membuatku semakin bersemangat. Perlahan, lidahku menuju celana dalamnya yang berisi benda yang tadinya agak lembek, sekarang sudah sangat keras sekali. Pertama kucium bagian itu dengan mesra dari luar celananya, perlahan kubuka celana dalamnya itu, dan kontolnya mencuat seperti terbebas dari sangkar celana dalamnya. Batangnya yang panjang sekitar 16 cm dan sungguh tebal sekitar 5,5 cm itu membuatku terpana sebentar. Panjangnya memang tidak sepanjang milik Ale, tapi.. Sangat tebal!

Aku mulai menghisap bola bolanya dibagian bawah, kemudian menjilat dari bawah ke ujung kontolnya. Kepala kontolnya yang mengkilat karena sudah basah oleh larutan pelumasnya, kumasukkan dengan segera ke dalam mulutku. Terasa penuh, tapi aku ingin mereguk semua kontolnya hingga sampai ke dalam tenggorokanku. Desahan Bey semakin kuat menandakan ia juga menikmatinya. Kukocok kontolnya itu dalam mulutku dengan irama kadang cepat, kadang lambat. Sambil kuputar-putar tanganku yang menggenggam batang yang tersisa diluar mulutku sambil meremasnya perlahan. Semakin cepat aku menghisapnya, semakin Bey mendorong kepalaku supaya kontolnya masuk sepenuhnya dalam mulutku. Tiba tiba, ia menarik badanku dan mebalikkan badanku hingga menghadap tembok. Ia menarik pantatku hingga aku sedikit menungging. Terasa ada benda tumpul yang mulai menyodok-nyodok memekku yang sudah basah. Dalam satu kali tusukan yang keras, Bey menghujamkan kontolnya ke dalam memekku.

"Ssshh.. Aaahh.. Beeyy.." Jeritku saat itu.

Sebentar ia membiarkan kontolnya diam dalam memeku. Tangan kanannya mengusap-usap klitorisku dari depan, sementara yang satunya meremas tetekku. Ia mencium pundak dan leherku bagian belakang, membuatku semakin merinding. Perlahan ia mulai mengocok kontolnya dalam memekku. Terasa penuh dan sulit untuk digerakkan. Dinding memekku seakan ditarik-tarik keluar. Aku merapatkan pahaku, hingga benar-benar terasa kontolnya yang besar itu mengacak-acak memekku. Ia mengocoknya semakin kuat, dengan tusukan-tusukan yang dalam.

"Beeyy.. Eeennaakk.. Ssayy.. Aahh.. Teruuss.. Llaggii Beey.. Ah.. Aahh.. Ssshh.." aku mulai ngelantur.

Tiba-tiba terasa perutku bagian bawah mulai mengejang, otot-otot memekku mulai bergetar, pahaku mulai tidak kuat merasakan ledakan nafsu dalam tubuhku. Aku menjerit semakin kuat memanggil namanya.

"Beeyy.. Aaahh.."

Terasa otot-otot memekku berkedut keras, meremas kontol Bey yang masih tertanam didalamnya. Bey memegang pinggangku, menjagaku agar tidak terjatuh. Ia mengeluarkan kontolnya, dan mendudukkanku diatas toilet. Kontolnya masih berdiri tegak, berdiri persis di depan mataku. Kontol yang ada di depan mataku itu, langsung saja kuhisap. Kumainkan dalam mulutku. Terasa sangat penuh, tapi nikmat sekali. Kembali aku memainkan lidahku di kepala kontolnya, membuat Bey mendesah desah perlahan, tanda ia sangat menikmatinya. Sesekali ia mendorong kepalaku hingga kontolnya masuk lebih dalam ke dalam mulutku. Semakin cepat aku mengocoknya.

"Aaahh.." Tiba tiba ia mendesah, bersamaan dengan itu, spermanya berhamburan dalam mulutku, terasa beberapa kali semprotan yang kuat ke dalamnya. Kutelan semua spermanya hingga tidak tersisa sedikitpun, kemudian kujilat seluruh kontolnya dan kukulum dalam mulutku.

Setelah aku beristirahat sebentar, kembali aku menghisap kontolnya hingga kembali bangun dan berdiri tegak. Bey menyalakan air hangat dari shower dan menyemprotkan ke memekku. Ia mengelus-elusnya perlahan. Aku membuka pahaku supaya ia bisa lebih leluasa. Ia mengambil sabun khusus untuk memekku, dan mengusap usapnya hingga berbusa, memainkan jarinya disana kemudian setelah bersih, ia kembali membilasnya dengan air hangat.

Setelah aku mendapatkan kembali kekuatanku, kami keluar dari kamar mandi dan berbaring di tempat tidur. Kami kembali berciuman mesra. Dari hanya berciuman biasa, aku mulai memainkan lidahku dalam mulutnya. Bey mulai naik diatasku dan mulai menciumi sekujur tubuhku. Dari telingaku, leherku, putingku tidak ada yang terlewatkan. Lidahnya yang hangat, menjelajahi daerah-daerah sensitifku dengan sempurna. Benar-benar membuatku sangat bernafsu. Tak berapa lama, lidahnya mendarat di memekku.

"Ahh.. Ssshh.." Desahku keenakan.

Lidahnya mulai memainkan lubang memekku, kadang menghisap bibir memekku, kemudian tiba-tiba menusukkan lidahnya yang hangat itu dalam memekku, membuatku serasa melayang. Ia menghisap-hisap lubangku, seperti difakum rasanya. Sungguh nikmat tiada tara. Berbeda dengan ketika ia menusukkan kontolnya, kali ini, terasa kecil tapi sangat lembut dan menggelitik. Memekku dibuatnya gatal, terasa ada cairan yang mengalir keluar dari lubang memekku, tapi dengan segera ia menjilatnya hingga bersih. Semakin lama semakin nikmat rasanya. Aku mendesah sangat kuat karena keenakan. Terasa ada desakan dari dalam memekku, membuatku semakin menggelinjang. Aku mulai merapatkan pahaku, taktahan aku menahan gejolak dalam dadaku.

"Ahh.. Beeyy.. Eennakk.. Aaahh.. Bey.. Keluar.. Beyy.. Beeyy.."

Aku meracau tak jelas, ketika memekku mulai berkedut, dan mengeluarkan cairan kenikmatan dari dalam.

"Gila Bey.. Lidah lo! Kontol lo! Enak banget! Ahli banget sih lo! Belajar dimana?" Ujarku sambil mengelus kepalanya yang masih di memekku. Kuliahat bibirnya belepotan cairan cintaku. Ia kemudian menjilatnya hingga bersih, kemudian ia menciumku mesra.

Ia terlentang disebelahku, masih dengan kontolnya yang berdiri tegak. Ternyata sampai tadi, ia belum juga mengendurkan otot-otot kontolnya. Aku duduk diatasnya, dan membimbing kontolnya masuk dalam memekku. Aku menurunkan pantatku.

"Ughh.." desahku, merasakan kontolnya yang panjang itu masuk ke dalam memekku. Menekan peranakanku. Perlahan aku memutar mutar pantatku, sementara ia sekali sekali menusukkan kontolnya ke dalam memekku dengan menyentakkan pantatnya, membuatku semakin melayang. Segala arah kucoba, semakin aku tergila gila dengan kontolnya. Dari berputar putar, maju mundur, bahkan naik turun seperti mengendarai kuda. Ya, aku seperti mengendarai kuda jantan yang kuat. Memekku terasa diobok obok, diaduk aduk. Aku berpegangan dengan kepala tempat tidur supaya aku bisa lebih kuat menggoyang pantatku.

Plok.. Plok.. Plok.. bunyi setiap kali pahaku beradu dengan pahanya. Sesungguhnya aku sudah semakin tidak kuat menahan kenikmatan itu, otot dalam memekku terasa sangat tegang, mengikat kuat kontol yang tertanam didalamnya.

"Aaahh.. Beeyy.. Akkuu mauu keluaarr.. Beeyy.." Aku meracau merasakan kenikmatan yang tiada tara.
"Bareng sayy.. Aaahh.." Terasa kedutan keras di batangnya, menandakan ia telah mengeluarkan spermanya dalam memekku.

Aku tetap duduk diatasnya sebentar. Taklama kukeluarkan kontolnya yang sudah sedikit lemas. Aku mulai mengulum kontolnya yang sudah sedikit menciut. Ternyata sekalipun begitu, tidak muat sepenuhnya dalam memekku. Hmm.. Akhirnya impianku tercapai mendapatkan kontolnya yang besar itu.

Tamat


Bennyku sayang

Awek Pantat Panas CantikAku kenal Benny dari kedua kakakku (Biasanya aku memanggilnya Bey). Mereka berteman ketika mereka berada di luar negri. Wajah Asianya yang kecoklatan dan tubuhnya yang atletis, membuatku terpana waktu pertama kali aku di perkenalkan. Aku sering pergi bersama mereka, dia dan kedua kakakku. Dari hanya sekedar duduk di cafe ataupun berlibur ke luar daerah. Biasanya, kedua kakakku selalu membawa pacarnya masing-masing, sementara Bey selalu menemaniku kemanapun kami pergi.

Lama kelamaan, kami menjadi sangat akrab. Kami berbincang bebas, dari hal yang biasa, hingga hal yang bisa membuat darah berdesir karena nafsu. Suatu ketika kami berbincang di Yahoo Chating. Pembicaraan mulai mengarah ke hal-hal yang membuat nafsu kami mulai naik.



"Zi.. Sepertinya lo kaya gue ya.. MLT (Manusia Libido TInggi)" katanya tiba-tiba.
"Bisa aja.. Emangnya lo gitu?" Tanyaku.
"Yah.. Gue kalau sudah Horny, bisa coli 2 kali sehari! Kaya minum obat ya?" Jawabnya.
"Haah? Gila! 2 Kali sehari? wah.. Gila! Tapi.. Gue juga kalau lagi mau mens juga gitu! Kadang.. Bisa tiap hari masturbate dikamar" Ujarku.
"Gila juga.. terus kalau masturbate, pake apaan? Kenapa nggak ngajak Ale aja?" Tanyanya.
"Kalau lagi ada dia sih enak.. Tapi kalau Ale lagi keluar negri, bisa lama dia baru pulang. Dan dia kemaren sudah berangkat lagi ke LA, padahal baru pulang minggu lalu! Sekarang kalau gue horny, yah.. Paling masturbate!" Jawabku panjang.

Setelah jeda sekian menit.

"Zi.. Gue mau tanya, sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya.. Dan tolong jangan benci gue dan tolong lupakan hal ini kalau elo enggak mau.. Please janji.. Gue mau tanya.. kalau ada kesempatan.. Elo bisa percaya gue sebagai teman elo.. Elo mau enggak lakukan ini dengan gue? Sekali lagi mohon maaf banget sebesar-besarnya telah menanyakan ini ke elo.. Soalnya gue bener-benar bingung.. Gue enggak tahu harus gimana dan harus bicara ke siapa.. Mudah-mudahan elo bisa pahami.. Dan sekali lagi maafkan gue.." Tanyanya.

'Apa?' Pikirku. Agak lama aku memikirkannya. Sudah beberapa kali ia memanggilku di window itu. Tapi tetap aku tidak menjawabnya. Memang aku sudah cukup dekat mengenalnya. Akupun sering membayangkannya ketika aku masturbasi. Tapi.. Untuk ML sama dia?

"Zi.. Kamu dimana? Sory deh kalau kamu tersinggung.. Sory Zi.. Zi.. Jangan marah ya.. Gue cuma ingin melampiaskan apa yang ada dalam pikiran gue. kalau lu nggak berkenan.. Lupain aja deh Zi kalau gue pernah nanya!" Ketiknya.

Setelah agak lama aku membiarkannya, akhirnya aku memutuskan untuk menjawabnya.

"Bey.. Gue nggak marah kok! Cuma kaget aja!"
"Eh.. Bey.. Gue harus offline dulu neh! Ada kerjaan yang harus gue kerjain! Nanti gue telepon deh! bye.."

Hubungan langsung kututup. Seketika kumatikan koneksi internetku. Tak lama, tiba-tiba HP ku berbunyi. Ada SMS masuk! 'Nanti malem aku telpon ya say!' sebuah pesan singkat dari Bey. Sekitar jam 10 malam, aku mengirimkan SMS ke Bey, yang mengatakan bahwa aku sudah bisa diajak bicara. Tak berapa lama ia menelponku.

"Zi.." Ucapnya pelan.
"Biasa aja lagi Bey.. Gue nggak papa kok! Gue cuma kaget doang. Emangnya lo sudah ngebet banget ya?" Tanyaku.
"Iya nih Zi.. Dari pada gue main sama orang yang nggak jelas.. Gue ingin banget main sama lo!" Ujarnya polos.
"Iya sih.. Gue juga lagi ingin banget.. sudah gitu Ale pas nggak ada!"
"Boleh.. Kapan?" tanyaku.
"Asyik!! Besok kan libur tuh.. Lo gue jemput deh.. Kita ngingep di hotel. Yah?" Katanya kegirangan.
"Lo paling suka diapain?" Tanyanya kemudian.
"Gue.. Wah.. Banyak deh! Di oral juga suka banget! Biasanya kalau foreplay paling enak tuh di oral dulu" Jawabku.
"Gue janji bakalan bikin lo puas deh!! Gue kan juga nggak kalah sama Ale!" Ujarnya.
"Bukti dulu! baru ngomong!" Sahutku.

Setelah agak lama berbincang, kami pun berpisah dari udara. Aku segera mempersiapan diri. Mencukur bulu memekku sampai mulus.

*****

Besoknya, aku dijemput Bey jam 5 sore di rumahku dengan motor Tiger merahnya, kemudian kami meluncur ke sebuah Hotel mungil yang aku sendiri tidak begitu mengenal daerahnya. Bey mendaftarkan untuk memperoleh sebuah kamar. Aku mengikutinya dari belakang menuju kamar kami. Sesampainya di kamar, aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Tak berapa lama setelah aku menanggalkan pakaian dalamku dan hanya mengenakan kaosku yang longgar, Bey mengetuk pintu kamar mandi. Waktu kubuka, ternyata disana ada Bey yang hanya mengenakan celana dalam berwarna biru mudanya. Sepertinya celana itu menyimpan benda yang terlalu besar untuk dimasukkan didalamnya.

Bey langsung mencium bibirku dan memainkan lidahnya ganas dalam mulutku. Aku tidak mau kalah, akupun memainkan lidahku ke dalam mulutnya. Nafas kami berdua semakin memburu. Tangannya yang satu meremas-remas tetekku dan memainkan putingnya dan lainnya mengorek-ngorek memekku dengan jarinya. Tanganku pun tak tinggal diam. Aku meletakkan telapak tangan kananku diatas gundukan dicelananya, meremas-remasnya sedikit dan mengocoknya dari luar. Terasa seperti ada darah yang panas naik di punggungku, mendidih semua darahku oleh nafsuku. Yang ada dalam benakku saat itu hanyalah mewujudkan impianku selama ini untuk merasakan apa yang ada dibalik celana dalamnya, yang selama ini menghantuiku.

Aku menyandarkannya pada tembok kamar mandi dan mulai menjilati lehernya, kemudian semakin ke bawah, ke arah putingnya. Dadanya yang bidang dan ujung putingnya yang mungil, membuatku gemas ingin menggigitnya. Kuputar putar lidahku disekeliling putingnya kemudian menghisapnya kuat. Kudengar desahan halus dari mulut Bey menandakan ia juga menikmatinya, membuatku semakin bersemangat. Perlahan, lidahku menuju celana dalamnya yang berisi benda yang tadinya agak lembek, sekarang sudah sangat keras sekali. Pertama kucium bagian itu dengan mesra dari luar celananya, perlahan kubuka celana dalamnya itu, dan kontolnya mencuat seperti terbebas dari sangkar celana dalamnya. Batangnya yang panjang sekitar 16 cm dan sungguh tebal sekitar 5,5 cm itu membuatku terpana sebentar. Panjangnya memang tidak sepanjang milik Ale, tapi.. Sangat tebal!

Aku mulai menghisap bola bolanya dibagian bawah, kemudian menjilat dari bawah ke ujung kontolnya. Kepala kontolnya yang mengkilat karena sudah basah oleh larutan pelumasnya, kumasukkan dengan segera ke dalam mulutku. Terasa penuh, tapi aku ingin mereguk semua kontolnya hingga sampai ke dalam tenggorokanku. Desahan Bey semakin kuat menandakan ia juga menikmatinya. Kukocok kontolnya itu dalam mulutku dengan irama kadang cepat, kadang lambat. Sambil kuputar-putar tanganku yang menggenggam batang yang tersisa diluar mulutku sambil meremasnya perlahan. Semakin cepat aku menghisapnya, semakin Bey mendorong kepalaku supaya kontolnya masuk sepenuhnya dalam mulutku. Tiba tiba, ia menarik badanku dan mebalikkan badanku hingga menghadap tembok. Ia menarik pantatku hingga aku sedikit menungging. Terasa ada benda tumpul yang mulai menyodok-nyodok memekku yang sudah basah. Dalam satu kali tusukan yang keras, Bey menghujamkan kontolnya ke dalam memekku.

"Ssshh.. Aaahh.. Beeyy.." Jeritku saat itu.

Sebentar ia membiarkan kontolnya diam dalam memeku. Tangan kanannya mengusap-usap klitorisku dari depan, sementara yang satunya meremas tetekku. Ia mencium pundak dan leherku bagian belakang, membuatku semakin merinding. Perlahan ia mulai mengocok kontolnya dalam memekku. Terasa penuh dan sulit untuk digerakkan. Dinding memekku seakan ditarik-tarik keluar. Aku merapatkan pahaku, hingga benar-benar terasa kontolnya yang besar itu mengacak-acak memekku. Ia mengocoknya semakin kuat, dengan tusukan-tusukan yang dalam.

"Beeyy.. Eeennaakk.. Ssayy.. Aahh.. Teruuss.. Llaggii Beey.. Ah.. Aahh.. Ssshh.." aku mulai ngelantur.

Tiba-tiba terasa perutku bagian bawah mulai mengejang, otot-otot memekku mulai bergetar, pahaku mulai tidak kuat merasakan ledakan nafsu dalam tubuhku. Aku menjerit semakin kuat memanggil namanya.

"Beeyy.. Aaahh.."

Terasa otot-otot memekku berkedut keras, meremas kontol Bey yang masih tertanam didalamnya. Bey memegang pinggangku, menjagaku agar tidak terjatuh. Ia mengeluarkan kontolnya, dan mendudukkanku diatas toilet. Kontolnya masih berdiri tegak, berdiri persis di depan mataku. Kontol yang ada di depan mataku itu, langsung saja kuhisap. Kumainkan dalam mulutku. Terasa sangat penuh, tapi nikmat sekali. Kembali aku memainkan lidahku di kepala kontolnya, membuat Bey mendesah desah perlahan, tanda ia sangat menikmatinya. Sesekali ia mendorong kepalaku hingga kontolnya masuk lebih dalam ke dalam mulutku. Semakin cepat aku mengocoknya.

"Aaahh.." Tiba tiba ia mendesah, bersamaan dengan itu, spermanya berhamburan dalam mulutku, terasa beberapa kali semprotan yang kuat ke dalamnya. Kutelan semua spermanya hingga tidak tersisa sedikitpun, kemudian kujilat seluruh kontolnya dan kukulum dalam mulutku.

Setelah aku beristirahat sebentar, kembali aku menghisap kontolnya hingga kembali bangun dan berdiri tegak. Bey menyalakan air hangat dari shower dan menyemprotkan ke memekku. Ia mengelus-elusnya perlahan. Aku membuka pahaku supaya ia bisa lebih leluasa. Ia mengambil sabun khusus untuk memekku, dan mengusap usapnya hingga berbusa, memainkan jarinya disana kemudian setelah bersih, ia kembali membilasnya dengan air hangat.

Setelah aku mendapatkan kembali kekuatanku, kami keluar dari kamar mandi dan berbaring di tempat tidur. Kami kembali berciuman mesra. Dari hanya berciuman biasa, aku mulai memainkan lidahku dalam mulutnya. Bey mulai naik diatasku dan mulai menciumi sekujur tubuhku. Dari telingaku, leherku, putingku tidak ada yang terlewatkan. Lidahnya yang hangat, menjelajahi daerah-daerah sensitifku dengan sempurna. Benar-benar membuatku sangat bernafsu. Tak berapa lama, lidahnya mendarat di memekku.

"Ahh.. Ssshh.." Desahku keenakan.

Lidahnya mulai memainkan lubang memekku, kadang menghisap bibir memekku, kemudian tiba-tiba menusukkan lidahnya yang hangat itu dalam memekku, membuatku serasa melayang. Ia menghisap-hisap lubangku, seperti difakum rasanya. Sungguh nikmat tiada tara. Berbeda dengan ketika ia menusukkan kontolnya, kali ini, terasa kecil tapi sangat lembut dan menggelitik. Memekku dibuatnya gatal, terasa ada cairan yang mengalir keluar dari lubang memekku, tapi dengan segera ia menjilatnya hingga bersih. Semakin lama semakin nikmat rasanya. Aku mendesah sangat kuat karena keenakan. Terasa ada desakan dari dalam memekku, membuatku semakin menggelinjang. Aku mulai merapatkan pahaku, taktahan aku menahan gejolak dalam dadaku.

"Ahh.. Beeyy.. Eennakk.. Aaahh.. Bey.. Keluar.. Beyy.. Beeyy.."

Aku meracau tak jelas, ketika memekku mulai berkedut, dan mengeluarkan cairan kenikmatan dari dalam.

"Gila Bey.. Lidah lo! Kontol lo! Enak banget! Ahli banget sih lo! Belajar dimana?" Ujarku sambil mengelus kepalanya yang masih di memekku. Kuliahat bibirnya belepotan cairan cintaku. Ia kemudian menjilatnya hingga bersih, kemudian ia menciumku mesra.

Ia terlentang disebelahku, masih dengan kontolnya yang berdiri tegak. Ternyata sampai tadi, ia belum juga mengendurkan otot-otot kontolnya. Aku duduk diatasnya, dan membimbing kontolnya masuk dalam memekku. Aku menurunkan pantatku.

"Ughh.." desahku, merasakan kontolnya yang panjang itu masuk ke dalam memekku. Menekan peranakanku. Perlahan aku memutar mutar pantatku, sementara ia sekali sekali menusukkan kontolnya ke dalam memekku dengan menyentakkan pantatnya, membuatku semakin melayang. Segala arah kucoba, semakin aku tergila gila dengan kontolnya. Dari berputar putar, maju mundur, bahkan naik turun seperti mengendarai kuda. Ya, aku seperti mengendarai kuda jantan yang kuat. Memekku terasa diobok obok, diaduk aduk. Aku berpegangan dengan kepala tempat tidur supaya aku bisa lebih kuat menggoyang pantatku.

Plok.. Plok.. Plok.. bunyi setiap kali pahaku beradu dengan pahanya. Sesungguhnya aku sudah semakin tidak kuat menahan kenikmatan itu, otot dalam memekku terasa sangat tegang, mengikat kuat kontol yang tertanam didalamnya.

"Aaahh.. Beeyy.. Akkuu mauu keluaarr.. Beeyy.." Aku meracau merasakan kenikmatan yang tiada tara.
"Bareng sayy.. Aaahh.." Terasa kedutan keras di batangnya, menandakan ia telah mengeluarkan spermanya dalam memekku.

Aku tetap duduk diatasnya sebentar. Taklama kukeluarkan kontolnya yang sudah sedikit lemas. Aku mulai mengulum kontolnya yang sudah sedikit menciut. Ternyata sekalipun begitu, tidak muat sepenuhnya dalam memekku. Hmm.. Akhirnya impianku tercapai mendapatkan kontolnya yang besar itu.

Tamat


Akhirnya kunikmati pemerkosaan atas diriku 5

Awek Pantat Panas CantikBegitulah, aku merasa semakin dikejar keterbatasan. Aku merasa betapa kesempatan berasyik masyuk tinggal sesaat di siang hari ini dan besok di siang hari pula. Aku menjadi terpana ketika berpikir betapa selama mengikuti suami kali ini aku telah memasuki petualangan yang sangat berbahaya bagi kehidupan rumah tanggaku, kehidupan duniaku maupun alam fanaku nanti.
Aku heran sendiri, kok mampu berbuat macam ini, melakukan penyelewengan langsung di belakang suamiku yang tengah berjuang untuk meningkatkan kehidupan kami bersama. Tetapi aku memang sedang dilanda mabok. Kenikmatan birahi ini demikian memabokkan aku. Meraih orgasme dari orang yang bukan suamiku yang pada awalnya bukan mauku. Tetapi perkosaan yang tak mampu aku lawan ini telah merubah aku menjadi istri yang nyeleweng. Dan kini justru aku yang seakan ketagihan dan berbalik mengejar sang pemerkosa itu dengan sepenuh nafsu birahiku. Kenapa aku mesti mengalami dan melewati peristiwa macam ini.

Ah.. aku jadi linglung kalau memikirkannya. Biarlah apa yang terjadi, terjadilah.. Siang itu aku nampak terlampau merangsek Ronad untuk mengejar kepuasan nafsu birahiku. Aku sudah tidak menghitung-hitung risiko. Aku demikian larut dalam kenikmatan kontol Ronad. Edan.


Sore harinya suamiku kembali mengajak aku makan lesehan di Malioboro. Dan malam harinya dia mecumbu aku. Aku merasa tak ada gairah sama sekali. Suamiku merasakan sikapku ini.
"Udahlah ma, besok kan sudah nyampai di rumah lagi" Kasihan suamiku yang demikian memprihatinkan aku.
Besoknya, waktu yang semakin sempit merembet tak mungkin kuhindari. Begitu suamiku pergi ke lantai 2, aku tak sabar lagi. Aku ketuk pintu Ronad. Kami langsung berpagutan. Aku merasakan waktu semakin mendekati habis, semakin menyala-nyala nafsu seksualku. Aku semakin merangsang untuk merangseki Ronad. Kini akulah yang mendorongnya ke ranjang. Kini akulah yang seakan memperkosanya.
Kulepasi celananya, kemejanya, celana dalamnya. Kuciumi tubuhnya, dadanya, ketiaknya, perutnya, selangkangannya. Aku jadi sangat liar dan buas. Akulah yang menyanggamai dia. Dia serahkan tubuhnya untuk kepuasanku. Aku naik ke atas kontolnya. Dengan setengah menduduki tubuhnya, aku masukkan kemaluannya yang telah tegang dan kaku menembus memekku. Aku pompa dengan cepat dan penuh nafsuku. Aku dapatkan orgasmeku hanya dalam 3 menit sejak aku mulai memompa. Aku menjadi demikian blingsatan dalam gelinjang birahi yang tak lagi terkendali. Ronad nampaknya menikmati ulah keblingsatanku ini. Aku rubuh ke sampingnya.
Selanjutnya Ronad mengambil alih. Kontolnya yang belum terpuaskan dia tusukkan ke memekku kembali. Dia pompakan dengan cepatnya. Rasa pedih dan perih pada bibir-bibir kemaluanku semakin terasa menyiksaku. Aku merintih dan mengaduh-aduh kesakitan. Ronad justru nampak sangat menikmati kesakitanku. Dia balikkan tubuhku dan angkat pantatku hingga aku nungging tinggi-tinggi. Aku tahu dia ingin aku menjadi anjing betinanya. Tetapi.. Acchh, .. Tidak.. tidakk.. jangann..
Rupanya Ronad tidak hendak menyanggamai kemaluanku. Dia menjilati anusku. Uhh.. aku tak pernah membayangkan sebelumnya. Dia menciumi dan menusuk-nusukkan lidahnya ke lubang pembuangan taiku. Dia nampak sangat menikmati aroma pantatku itu, sambil kedua tangannya merabai dan kemudian memerasi buah dadaku.
Oohh.. ampuunn.. Ronadd.. Kenapa kamu selalu memberikan sensasi yang serba dahsyat padaku.. Kenapa kamu selalu memberikan pembelajaran berbagai nikmat sensasional begini macam padaku.. Ronaadd.. Jangann..!!
Aku rasakan bagaimana ujung lidahnya menyapu bibir-bibir analku. Aku rasakan bagaimana bibir Ronad mengecupi lubang anusku. Aku rasakan bagaimana hidungnya berusaha menyergapi segala rupa aroma yang menyebar dari pantatku. Aku rasakan bagaimana ludahnya membasahi hingga kuyup seluruh wilayah di seputar analku ini.
Dan puncak dari segala puncak ketakutanku akhirnya datang. Ronad bangkit. Dia setengah jongkok mengangkangi pantatku. Aku masih berpikir bahwa dia hendak menusukkan kontolnya ke memekku. Aku masih berpikir dan membayangkan nikmat jadi anjing betinanya Ronad. Aku masih berpikir bagaimana sesak dan legitnya kontol Ronad menusukki kemaluanku dengan cara nungging anjing ini. Aku sama sekali tidak berpikir lain..
Tiba-tiba, tanpa kompromi, kontol Ronad didesak-desakkanya ke pantatku. Dia hendak melakukan sodomi padaku. Edan kau Ronad, bajingan kauu.. Kamu bisa membunuh aku Ronad.. Nggak! Nggak akan aku rela melayani maumu ini Ronad.. Biar mati aku akan lawan kamu Ronad.. Aku nggak akan berikan pantatku untuk kepuasan nafsu biadabmu Ron..
Aku berguling. Kutendang perutnya, dia mengelak. Kucakar tangan dan dadanya, dia pegang tangan-tanganku, kugigit bahunya yang rebah ke wajahku, dia berkelit. Aku teriak-teriak, dia membiarkan. Kupingnya sangat menimati teriakkanku. Dia terus merenggutku dengan tanpa bicara. Aku terus menggeliat-geliat untuk melawannya.
Tiba-tiba, aku nggak tahu dari mana dia mengambilnya, dia keluarkan borgol. Borgol itu borgol besi yang aku sering lihat di TV digunakan polisi saat menangkap maling atau penjahat. Tangan kiriku direnggut paksa dan diborgolkannya ke kisi-kisi ranjang Novotel. Berhasil. Kemudian dia renggut kembali tangan kananku, dia keluarkan borgol yang kedua untuk memborgolkan tangan kanan ini ke kisi-kisi yang lain. Aku langsung dilanda cemas ketakutan yang amat sangat.
Akankah dia melukai aku? Aku panik. Sangat panik. Aku sangat histeris ketakutan. Aku memohon dengan tangisan panikku.
"Jangan.. jangan Ronad.. ampuni akuu.. Jangan borgol aku.. Ampuni aku Ronad..", aku menghiba dalam histeris.
Kini benar-benar aku seperti hewan yang dilumpuhkan yang siap menunggu penyembelihan. Akankan aku jadi hewan korban kebiadaban Ronad?
"Sayang, jangan takut.. Aku nggak akan sakiti kamu.. Kamu akan aku berikan kenikmatan yang tak akan pernah kamu lupakan.."
Aku masih menangis minta belas kasihannya..
Kini dia mendekat ke tubuhku. Dia gulingkan setengah miring pantatku. Dia angkat kakiku hingga melipat ke arah dadaku. Dan kembali pantatku menjadi terpampang. Kemudian dengan merapat dari arah punggungku, Ronad memeluk tubuhku. Kemudian kembali kurasakan kontolnya merapat ke arah pantatku. Dia akan terus melakukan sodomi padaku. Apa dayaku. Aku yang kini terangket, tak lagi mampu melawan dengan cara apapun.
Saat dia tusuk-tusukkan kontolnya ke lubang pantatku aku mulai merasakan betapa pedih dan sakitnya. Aku rasakan seakan berjuta saraf-saraf peka di lubang analku sepertinya hancur oleh tempaan ujung kontolnya yang demikian keras itu. Aku menangis kesakitan dan penuh iba. Ronald tahu, karena dia adalah dokter. Dia hentikan tusukkannya. Dia ambil ludahnya dan dioleskan ke lubang duburku. Beberapa kali dia lakukan sebelum kemaluannya kembali untuk berusaha menembusinya lagi. Saat aku kembali berteriak sakit, dia membisikkan ketelingaku.
"Kamu mesti santai, kendorkan saraf-sarafmu, jangan tegang, jangan khawatir. Kamu percaya padaku, khan?".
Duh, suara Ronald langsung membiusku. Aku percaya padanya. Dan sesungguhnyalah aku sangat berhasrat padanya. Akupun berusaha untuk lebih tenang. Toh aku nggak bisa berbuat lain. Tangan-tanganku terborgol dan Ronald telah demikian melumpuhkan aku. Kemudian aku merasakan seperti ada pemukul soft ball yang memaksakan menembusi anusku. Aku yakin pantatku mulai terluka, mungkin berdarah. Beberapa kali aku rasakan Ronad mengulangi melumasi lubangku dengan ludahnya.
Akhirnya setelah beberapa kali dan sedikit demi sedikit menyodok masuk, kontol Ronad berhasil tembus tertanam dalam lubang taiku. Aku mungkin kelenger. Aku tak mampu lagi merasakan sakit atau tidak sakit lagi. Aku lunglai dalam rasa panas dan pedas yang amat sangat. Aku tak mampu lagi berontak atau melawan. Aku benar-benar jadi pesakitan. Aku adalah korban keganasan Ronald.
Dan saat Ronad mulai memompakan kontolnya, aku benar-benar pingsan. Entah berapa lama. Aku terbangun saat aku rasakan ada air yang menyiram wajah dan mulutku hingga aku gelagapan. Pelan-pelan aku membuka mataku. Aku belum melihat apa-apa. Aku masih mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kulihat ada bayang-bayang gelap yang hampir menutupi wajahku. Dan.. Biadab, anjiingg.. Begundal busuk kau Ronaadd..
Dia benar-benar gila. Dia tengah menduduki aku dengan kontolnya yang mengarah dan mengencingi wajah dan mulutku. Sebagian air kencingnya masuk kemulutku dan tertelan hingga membuat aku gelagapan tersedak-sedak. Kudengar samar-samar.
"Minum, ini sundal, minum kencingku. Ayoo.. Minum.. Air segar inii.. minum perempuan sial.. Minum kencingku sundalku.."
Tangannya membekap hidungku yang langsung membuat mulutku ternganga mencari nafas. Dan pada saat yang bersaman air kencing itu deras ngucur ke mulutku. Bagaimanapun aku tak terpaksa menelannya. Aku gelagapan setengah mati dan kembali pingsan.
Entah berapa lama aku kelenger.. Hingga kudengar bunyi telepon keras berdering.. Kubiarkan telpon itu terus berdering hingga berhenti dengan sendirinya.. Badanku, celana jeans dan blusku, seprei ranjang, selimut, bantal, semuanya basah. Bau anyir dan pesing memenuhi kamar. Aku jadi ingat, itu air kencing. Aku juga jadi ingat tanganku, telah lepas dari borgolku.
Aku jadi ingat saat terakhir yang aku ingat, Ronad menduduki dadaku dan kencing ke wajah dan mulutku..

Kemana dia sekarang..??

Dimana Ronad bajingan itu..??
Tiba-tiba rasa mual langsung menyergap aku. Aku tak mampu menahan ingatan itu dan mualku makin menjadi-jadi. Aku muntah-muntah. Telpon kembali berdering keras. Dengan terseok aku bangkit dari ranjang dan kuraih telepon,
"Cepat balik ke kamarmu, penataran sudah selesai, suamimu sedang menuju ke lift untuk kembali ke kamar. Cepat..!!" itu suara Ronad.
Telepon langsung putus. Aku panik. Kusambar apa yang kuingat. Aku keluar kamar Ronad dan kembali ke kamarku. Tanganku gemetar tak keruan saat memasukkan kunci pintu. Aku berkejaran dengan suamiku. Aku berkejaran dengan nasibku. Aku berkejaran dengan keutuhan keluargaku. Aku berkejaran dengan martabatku.. Dengan terseok aku berlari ke kamarku dan langsung masuk kamar mandi dan mengunci pintunya. Ah.. ini semua adalah hasil kebodohanku.. Aku benar-benar keluar dari siksaan neraka jahanam..
Kudengar seseorang membuka pintu kamar.
"Ma, kok pintunya nggak dikunci..?" terdengar suara suamiku.
Ah, ademnya.. damainya.. Shower dingin di kamar mandi langsung membuat kesadaranku kembali utuh. Saat aku keluar kamar mandi suamiku menjemputku dan mencium aku dengan sepenuh cinta dan kerinduannya.
"Kita pulang, Ma. Ayo cepetan dandan, teman-teman sudah menunggu makan siang. Aku telepon ke kamar tadi. Kemana kamu, Ma? Shopping? Jalan-jalan?"
Ah.. Suamiku.. Cinta sejatiku.. Orang yang kuingkari.. Yang aku khianati..
Sejak saat itu aku tak pernah berjumpa lagi dengan Ronald. Tak aku pungkiri, hingga kini aku masih merindukan kontolnya yang gede panjang itu. Aku masih terobsesi padanya. Aku sering membayangkan betapa kekerasan dan kekasarannya memberikan nikmat syahwatku. Dalam keadaan sendiri aku sering mencoba ber-masturbasi. Aku merindukan orgasme beruntun yang kudapatkan dari dia.
Aku pernah mencoba menghubungi telpon yang tertera di kartu namanya. Ternyata dia telah pindah. Dia tidak lagi berdomisili di Malang. Saat berkumpul dengan ibu-ibu kenalanku, aku suka memancing, apakah mereka pernah periksa ke dokter kandungan? Aku berharap mereka pernah berjumpa dengan Ronald. Tetapi pertanyaanku tak ada jawabannya.
Aku juga coba telpon ke Novotel, apakah ada tamu berinisial Ronald menginap di hotel ini?!
Akhirnya aku menyerah. Dia telah raib dibawa angin lalu. Aku juga berharap, kapankan angin lalu juga membawa raib obsesiku? Sungguh lelah mencoba menempatkan hasrat birahi dalam penantian tanpa kunjung jelas. Aku akan berusaha melupakannya. Aku mencoba memberikan perhatian lebih banyak kepada suamiku. Aku melengkapi perabotan dapurku. Aku punya hobby memasak makanan oriental. Kemarin masakan suamiku memuji masakanku Muc Don Thit. Masakan tumis cumi yang telah aku isi dengan soun, hioko dan jamur kuping. Aku juga membuat Tom Yang Goong yang pedasnya demikian menggigit. Kami makan malam bersama dalam penerangan lilin. Aku sempat keluar keringat karena kepedasan.
TAMAT