Category Archives: cerita melayu

Pemuja iblis – 4

Awek Pantat Panas CantikDodi setuju bertaruh denganku, Anak tersebut kembali menelan kontolku, menarik-nariknya, aku mulai menggoyang-goyang pantatku, menyodomi mulutnya yang kecil. "Akhh.. Akhh.. Hemm.. Hemm", desahanku. Kontolku sengaja tidak kumasukkan semuanya, karena anak tersebut bisa tersedak dan terbatuk nantinya. batang totongku yang masuk setengahnya saja sudah memberikan keenakan dan kenikmatan kok. Batang kontolku masih berada di dalam mulut Dodi, beberapa lamanya, hingga berakhir juga permainanku dengan meninggalkan air maniku di dalam mulutnya dan uang 10.000 ribu menjadi miliknya. Syarat pertama, atau yang ke-berapalah telah lengkap, malam itu aku tidak bisa tidur, gelisah, saat mencoba untuk bangkit dari pembaringanku begitu susah, sepertinya aku terpaku di tikar ini, tubuhku lengket dengan lantai. Dengan tubuh yang berkeringat, padahal hari tidak begitu panas, tapi tubuhku mengeluarkan keringat sangat banyak. Akhh.. Entah kenapa badanku ini, pikirku dan dengan tiba-tiba telah muncul sesosok makhluk berbulu, yah makhluk yang aku puja ternyata datang. Yah aku yakin, bahwa kondisi hari ini yang membuatku begini adalah karena makhluk itu, yah tanda-tanda kedatangan makhluk tersebut yang mendekatiku dan tubuhnya yang besar dengan bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuhnya tersebut menindihku, akhh.. Aku rasakan bulu-bulu seluruh tubuhnya begitu lembut dan dingin. Makhluk tersebut mencumbu bibirku, akhh.. Begitu menggairahkan, aku sangat bergairah sekali jadinya. Sambil memejamkan mata dan membalas cumbuan-cumbuan bibir makhluk tersebut yang aku rasakan hangat, dan lidahnya masuk ke dalam mulutku, menjilati lidahku, menjilati langit-langit mulutku, seluruh rongga mulutku, hingga ke ujung mulutku, menggelitik anak lidah mulutku yang menggantung di ujung mulut. Akkhh.. Gelinya.. Akh.. Enaknya.. Sementara bagian duburku yang telah dimasuki kontol makhluk tersebut, terus merambat masuk dengan sendirinya, lebih ke dalam. "Akhh.. Aku mendesah keenakan, nikmatt.. Teruskann.. Teruskann..", ucapku. Makhluk tersebut dengan gerakan pelan terus melakukan permainannya, setiap gerakan dan permainannya membuatku terhanyut dengan kenikmatan dan kegelian yang sangat luar biasa dan nafsuku semakin memuncak, birahiku tak dapat kukontrol lagi. Aku memeluk tubuhnya, mengelus-elus bulu-bulu tubuhnya yang begitu lembut dan sejuk. Akhh.. Aku menikmatinya.. Aku menikmatinya.. Akhh.. Oohh.. Kenikmatan yang luar biasa, hingga berakhir di saat detik-detik fajar akan muncul di ufuk timur. Aku terkulai lemas, tak berdaya, dengan cairan maniku yang tergenang di sampingku, akhh begitu banyak, kental, entah berapa kali aku mengeluarkan air mani sampai tergenang begini. Beberapa lama aku hanya berbaring, yah berbaring saja, Akhh.. Aduhh.. Aduhh.. Erangku, memegang perutku yang terasa seperti di remas-remas, sakit.. Sakitt.. Aduhh. Kurapatkan kedua tanganku memeluk perutku, menahan sakit yang luar biasa, aduhh.. Ucapku pelan, Bapak yang baru pulang mendengar eranganku dan segera masuk. "Joko, kenapa kau Le?", tanya Bapak. "Entahlah Pak, aduhh.. Sakitt.. Aduhh, Pak", erangku. Bapak kebingungan dan memegang perutku, menanyakan daerah mana yang sakit. Tangan Bapak menekan-nekan perutku, memukul-mukulnya dengan pelan. "Aneh", ucapnya pelan. Perutku memang tidak kembung, namun sakitnya luar biasa.. Luar biasa.. Aku mengejan, seperti ada sesuatu yang mau keluar dari dalam perutku, kupaksakan, kupaksakan agar sesuatu tersebut keluar, kudorong.. Ku dorong.. Hingga dari lobang pantatku keluar gumpalan sebesar genggaman anak bayi, satu persatu keluar. Bapak terus menyaksikan saat gumpalan ketiga dan terakhir keluar dari lobang pantatku.. Aakkhh.. Desahku panjang memaksa sesuatu tersebut keluar, hingga aku dapat bernafas dengan lega. Bapak mengambilnya dengan kain, benda tersebut berwarna hitam, Bapak melihat lebih dekat lagi. Aku melihat Bapak sedang menggosok-gosokan benda tersebut dengan kain dan, Ahh.. Ucapnya, terkejut melihat barang tersebut. "Emas.. Emas.. Le.. Emass..", teriak Bapak. Aku ikut mengamati dan tidak percaya, aku memberaki emas atau melahirkan emas?, akh.. Tak masuk akal, yah tak masuk akal. Teriakan Bapak mengundang tetangga-tetanggaku datang. "Ada apa Pak Nar", ucap mereka mengetuk pintu. "Oh, tidak.. Tidak..", jawab Bapak agak gugup. Setelah membersihkan benda yang ternyata emas tersebut, aku beserta Bapak mencoba menjualnya dan sedikit susah memang, tapi syukur ada yang menerimanya dengan harga yang agak tinggi dan uang hasil penjualan ketiga emas tersebut sungguh diluar dugaan dan bayangan kami, wah.. Uang sebanyak itu belum pernah kami dapatkan, akh.. Jangankan segitu, uang satu juta saja aku tidak pernah memegangnya. "Luar biasa Le, luar biasa", ucap Bapak berkali-kali. Kami menatap uang yang terletak di lantai begitu banyak, banyak, berserakan.. "Kita berhasil Le, kita berhasil" "Yah, Pak.. Kita berhasil", ucapku tersenyum. Akhirnya Aku dan Bapak membuka usaha rumah makan di lokasi yang strategis, dengan membeli sebuah ruko berlantai tiga di depan jalan Raya. Aku mengajak teman-temanku untuk membantuku, yah.. Mereka akan menjadi pegawaiku. Tentu saja banyak yang bertanya dari mana kami mendapatkan uang dan Bapak sangat mahir dalam menyembunyikan cerita yang sebenarnya dengan mengarang cerita bahwa saat aku menarik becak mendapat batu merah delima dan seorang pengusaha luar mau membelinya dengan harga tinggi, yah itulah cerita Bapak dan semua tetanggaku percaya dan mungkin ada juga yang tidak percaya yah? Tapi peduli setan dengan mereka, yang penting hidupku akan berubah, yah akan berubah. Selamat tiggal penderitaan dan siap-siaplah menuju kebahagian yang selama ini aku impikan. Usaha rumah makan yang kami jalankan, ternyata sukses, banyak pembeli bahkan ada beberapa perusahan yang mengontrak kami untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi karyawannya. Dengan waktu cepat aku dapat membuka cabang lagi di lokasi yang strategis juga. Bapak menikahi Mak Munah, aku mengajak Darman temanku untuk tinggal bersamaku. Nasib kami sama, sama-sama ditinggal istri karena tidak tahan dengan penderitaan, karena kami ini miskin, hanya seorang penarik becak dengan uang yang pas-pasan. Nafsuku tetap bergejolak dengan laki-laki, aku mengajak karyawanku untuk bercinta, mengentot. Aku meminta Darman menjadi teman baikku, teman sekaligus kekasih, atau istri sekalipun, melayaniku nafsuku di ranjang atau dimana saja saat nafsuku bergejolak. Aku tidak melarangnya untuk mengentot dengan lonte, namun yang utama dia harus melayani nafsu homoku. Saat aku ingin Bapak untuk melayaniku, Bapak dengan senang hati melayaniku. Dan Kang Maman yang belum aku sentuh lobang pantatnya mendapat jatah juga. Dengan rela laki-laki tersebut melayaniku, tanpa malu atau sungkan karena dia sudah pernah melakukannya dengan laki-laki lain, aku sudah menebaknya pada saat meraba buritnya yang sudah agak besar waktu akan dijadikan korban ketigaku oleh Bapak. Saat-saat bersama Darman, begitu indah kurasakan, laki-laki bertubuh besar, tinggi, tampan dengan postur tubuh kekar, berotot tersebut dan dadanya yang bidang berbulu. Tak habis-habisnya aku memintanya untuk melayaniku, sebagai bininya atau lakinya mungkin. Akhh.. Darman melayaniku, membalas cumbuanku, mengisap-isap kontolku, aku mengentoti mulutnya dengan menekan-nekan pantatku, menggerak-gerakan pantatku maju mundur, hingga batang kontolku tenggelam dalam mulutnya. Bergantian aku mengemut kontolnya, mengocok-ngocoknya di dalam mulutku, menikmati daging kenyalnya yang enak aku rasakan, Akhh.. Jilatan lidahku tak habis-habisnya membasahi kontolnya dari kepala kontolnya hingga pangkalnya, menjilati dengan enak dan menikmati biji totongnya yang besar. Sementara jembut Darman aku cukur, seperti bulu-bulu di tubuhku, aku cukur semua. Aku memberi Darman kenikmatan dengan menyodomi buritku dan aku menikmati lobang pantat Darman dengan menyodominya juga. Akhh.. Saling terima dan memberilah.. Hingga merengkuh sisa-sisa kenikmatan yang tak berakhir. Setiap bulan Purnama satu malam penuh, aku melayani Iblis yang aku puja, menikmati permainan seksnya yang luar bisa yang membuat aku tak mampu bergerak, menikmati setiap permainannya yang membuatku melayang, menikmati kegelian dan kenikmatan yang luar biasa yang tidak mampu diberikan oleh manusia. Syarat selanjutnya yang harus aku lakukan adalah menyetubuhi 100 laki-laki, mengentot, menyodomi dengan mereka, saling bercumbu hingga merasakan puncak kenikmatan bagi keduanya, dan 99 laki-laki telah aku setubuhi, aku entot burit mereka, kontol mereka tak habis-habis kuisap, kukocok-kocok dengan mulutku, kujilati dari kepala kontol sampai pangkalnya, akhh.. Membuat mereka seperti melayang, keenakan dan menikmati sekali permainan yang kulakukan pada mereka. Syarat ini tidak bisa aku lakukan untuk laki-laki yang pernah aku sodomi untuk memenuhi syarat pertama. Yah, bisa saja aku lakukan namun tidak ada hitungannya dan akan membuat pengunjung yang datang ke rumah makanku menjadi berkurang. ***** Pembaca yang setia di Rumah Seks, aku tidak mengharapkan nilai A dari kalian, tapi sudilah menjadi 'syarat'ku yang ke 100, aku yakin, kalian akan terpuaskan olehku.
Tamat


Veri harapan baruku – 1

Awek Pantat Panas CantikSemenjak kita bertemu, dunia dipenuhi keajaibanTerima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kitaBeribu-ribu kebahagiaan dan rasa cintaSemua terajut dan teranyam dalam memori indah
Semenjak kita bertemu, dunia nampak sangat indahTerima kasih pada nasib yang telah menyatukan kitaBersama kita menjelajahi dunia dan mencari arti cintaWaktu berlalu, dipenuhi kenangan-kenangan indah
Walau laut mengering dan gunung-gunung robohWalau langit runtuh dan bumi terbelahKita akan tetap bersama, bergandengan tanganCinta kita tumbuh tiap hari, semoga tanpa halangan
Bersama, menyaksikan matahari terbenam di ufuk baratBersama, bernyanyi di bawah terang bulanBersama, menjalin kasih dan cintaSemoga aku dapat di sisimu dan mencintaimu selamanya..


*****
Aku kembali ditinggal oleh pria yang kucintai; hatiku kosong dan hampa. Di saat itulah, Veri melangkah masuk. Takdir memang aneh. Saya sudah mengenal Veri sejak beberapa bulan yang lalu, tapi saya tidak mengontaknya karena saat itu saya sedang menjalin hubungan dengan mantanku yang ke-4. Saat aan, mantanku yang ke-5, mencampakkanku, aku merasa sangat sedih dan berputus asa. Bahkan dulu saya hampir saja bunuh diri..
Entah kenapa, di malam saat akan terbang ke Arab, saya merasa sangat membutuhkan seseorang. Dan orang yang lewat di benakku adalah Veri! Berbekal nomor HP-nya, kutelepon dia. Untunglah, Veri masih mengenalku. Kami dulu memang saling mengenal tapi belum pernah bertemu, maka saat itulah kami memutuskan untuk bertemu.
Pertemuan kami terjadi beberapa hari setelah saya menghubunginya. Tepatnya hari Selasa tanggal 21 September 2004, sore hari. Tanggal 21 kebetulan merupakan tanggal ulang tahunku; aku bertemu dengannya tepat 8 bulan setelah hari ulang tahunku. Dengan mengendarai mobilnya, Veri datang ke rumahku. Saya berdiri di depan jalan, menunggunya.
Jujur, saya merasa seperti orang bodoh karena saya tidak tahu kapan dia akan datang dan mobil mana yang merupakan mobilnya. Tapi untunglah, semenit kemudian, sebuah mobil model minibus warna biru tua datang menghampiri. Seorang pria memberi tanda arah padaku. Kuikuti saja mobil itu masuk ke dalam gang rumahku, tapi masih takut kalau saya salah mengenali orang. Untung saja klakson lalu berbunyi. Yakinlah saya bahwa itu Veri.
Agak gugup, saya masuk dan naik ke dalam mobilnya. Kami bersalaman. Veri nampak ganteng dan berwibawa dengan kemeja birunya. Senyumannya mengembang dan membuatku langsung jatuh hati. Kami singgah di rumahku sebentar. Veri tidak canggung saat bertemu orangtuaku, bahkan bisa ngobrol akrab. Saat kami hanya berduaan saja, Veri merengkuhku.
Dengan penuh gairah, bibirnya menciumku bibirku. Aku menerima dan membalas ciumannya. Rasanya sangat nikmat. Aku sangat merindukannya karena pria terakhir yang menciumku adalah aan dan saat itu sudah sebulan lamanya saya tidak menerima kasih sayang dari seorang pria dalam bentuk ciuman, belaian, dan pelukan. Maka saat Veri mencumbuku, aku luluh dan lumer di dalam pelukan Veri.
Usai berciuman, kami duduk berdekatan, saling memeluk dan meraba. Saat itulah saya bertanya apakah Veri berniat mencari seorang kekasih ataukah dia hanya mau mencari teman seks saja. Dengan lembut, Veri menjawab bahwa dia sedang mencari kekasih, tapi dia belum bisa memastikan karena dia belum mengenalku. Aku agak kecewa tapi aku mengerti. Kami kembali bercumbu. Ah, alangkah aku sangat merindukan belaian seorang lelaki.
Veri mengingatkanku pada Aan. Mereka sama-sama Muslim dan pribumi, berumur 30 tahun, mempunyai model badan yang sama (dada lebar padat tapi perut agak gempal), bahkan berat badan mereka dan suara mereka nyaris sama! Veri nampak seolah-olah adalah 'kembaran aan'. Dan mereka sama-sama tampan, meskipun masing-masing memiliki ketampanan khas masing-masing. Tapi alasanku menyukai Veri bukan karena dia adalah 'kembaran aan'. Tapi karena saya membutuhkan kasih sayang dan Veri nampak ingin membaginya denganku.
Karena rumahku ramai, kami memutuskan untuk memadu kasih di luar saja. Sepanjang perjalanan, tak tahu hendak ke mana, kami berbincang-bincang. Veri menyebutkan bahwa mungkin kelak dia akan menikahi seorang wanita. Hatiku agak perih saat mendengarnya. Aku takut, kisah cinta tragisku dengan aan akan terulang kembali dengan Veri. Namun Veri telah mencuri hatiku; aku tak kuasa menolaknya.
Bagaikan ngengat yang tertarik ke arah api, aku membiarkan diriku jatuh cinta padanya. Aku sadar bahwa kelak nanti aku mungkin akan terluka karena terbakar api cintaku; sama seperti yang kualami dengan aan. Tapi dalam hati aku berharap dan berdoa semoga kisah cintaku dengan Veri tidak akan berakhir tragis seperti kisah-kisah cintaku yang lain.
"Aku suka ama kamu," kata Veri tiba-tiba. Nada bicaranya kalem dan menghanyutkan. Matanya tetap tertuju ke depan, mengendarai mobilnya. Tapi saat ada kesempatan, Veri akan memalingkan wajahnya ke arahku dan menatapku dengan penuh cinta."Kamu lembut," sambungnya."Kamu spesial dan aku sangat menyukaimu."
Wajahku memerah seperti lobster rebus. Baru kali ini, ada seorang pria yang mampu meluluhkanku dengan kata-kata. Hanya pria romantis saja yang dapat berlaku demikian, dan aku sangat menyukainya. Veri hanya tersenyum saja melihatku salah tingkah. Tapi kubalas pujiannya dengan mengembangkan senyumku yang terindah. Berbeda dengan para mantanku, Veri tidak canggung mengekspresikan rasa sukanya dengan kata-kata dan perbuatan. Aku suka dia.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya merasa sangat dimanja. Aku merasa seolah-olah menjadi bintang utama dalam sebuah film percintaan gay. Dengan penuh kasih sayang, Veri memintaku untuk bersandar di pundaknya. Mulanya saya ragu karena takut mengganggu (ingat, Veri sedang menyetir), tapi dia memaksa. Maka tanpa membantah, kusandarkan kepalaku di bahunya. Meskipun Veri tidak bisa membalas dengan belaian tangan, bagiku sudah cukup. Rasanya sungguh sangat menyenangkan.
Saat itu, entah kenapa, saya malah mau menangis. Kurasa, saya terlalu bahagia. Tapi nampaknya Veri tidak sempat melihat mataku yang agak berkaca-kaca. Kami tidak peduli bila orang-orang di luar mobil melihat kelakuan gay kami. Yang kami tahu, dunia hanya milik kami berdua saja; yang lain cuma ngontrak. Sepanjang perjalanan, saya berkhayal tentang kehidupan masa depanku bersama Veri. Ah, alangkah bahagianya diriku bila hal itu dapat terwujud. Tanpa terasa, akhirnya perjalanan berhenti di pantai Ancol.
"Tinggalkan saja kacamatamu di mobil. Kamu lebih manis tanpa kacamata," kata Veri."Tapi nanti aku buta. Kalau aku menabrak sesuatu, bagaimana?" sahutku, tersenyum manis padanya."Gak apa-apa. Nanti kubimbing," balasnya. Senyumannya manis sekali, tidak dapat kutolak.
Turun dari mobil, kulepas kacamataku sebentar. Veri menghampiriku dan kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. Oh, bahagianya. Baru kali ini saya diperlakukan istimewa oleh seorang pria! Dia membimbingku melewati hamparan pasir. Tangannya yang kokoh tetap terlilit di pinggangku. Bunyi deburan ombak terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
"Kita ke toilet sebentar yuk," ajaknya."Mau kencing".
Toilet pantai Ancol kecil dan bersih, tapi dipungut biaya pakai. Di sanalah untuk pertama kalinya saya melihat batang kejantanan Veri. Untung saat itu sepi sehingga kami bisa leluasa kencing. Batang Veri masih setengah tertidur, namun tetap terlihat gagah. Sambil mengosongkan kandung kemihku, saya terus-menerus menatap alat kelamin Veri. Dan Veri pun demikian. Ingin rasanya saya berjongkok dan langsung melumat penisnya. Veri hanya tersenyum penuh arti.
Suasana pantai di malam hari memang gelap. Aku sama sekali tidak dapat melihat laut. Di sisi pantai, nampak banyak pasangan heteroseksual sedang bercengkerama. Mungkin Veri dan saya adalah satu-satunya pasangan homoseksual di sana. Kebetulan ada toko makanan di dekat pantai. Veri pun memesan Green Sands dan susu soda. Selama beberapa saat, kami duduk santai di sana, membicarakan banyak hal. Kami hanya minum dan saling memandang.
Mukaku kembali memerah. Baru kali ini ada pria yang benar-benar menyukaiku apa adanya, fisik dan mental. Diam-diam, saya menjadi semakin jatuh cinta kepadanya. Veri suka sekali merokok. Seperti lokomotif, dia mengepulkan asap dari mulut dan hidungnya. Sesekali, saat tak ada yang memperhatikan kami, Veri menciumku. Saya sangat menyukainya. Suasana pun sangat mendukung, sangat romantis.
"Kita ke mobil, yuk," katanya tiba-tiba."Biar lebih enak."
Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Buru-buru, aku bangkit mengikutinya. Sebuah tonjolan besar menggembungkan bagian depan celana panjangku. Ingin sekali saya bercinta dengannya. Saat berada kembali di dalam mobil, Veri memegang tanganku dan memindahkannya ke atas tonjolan celananya. Astaga, keras sekali ereksinya. Kuremas-remas penisnya sambil tersenyum mesum. Aku ingin sekali bercinta dengannya, melanjutkan hidupku dan melupakakan aan. Untuk sesaat, aku hanyut di dalam mata Veri yang penuh cinta. Saya merasa sangat tenang, dan disayangi. Perasaan itu sungguh sangat indah..
Kami berkendara menuju tanah lapang di pojok area Ancol. Di sisi kiri dan kanan terlihat mobil-mobil berparkiran. Menurut Veri, di tempat inilah para pasangan asyik bermesraan di dalam mobil. Saya memang pernah mendengarnya tapi saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan untuk mencobanya. Mobil kami, bergoyang-goyang melewati tanah yang tak rata, berjalan perlahan mencari tempat kosong.
Saat mobil Veri sudah terparkir, Veri bergegas pindah ke bangku belakang. Dengan cekatan, celana panjangnya diperosotkan ke bawah. Penisnya yang indah itu kembali dikeluarkan, membuatku kehabisan napas. Veri memberiku tanda untuk menghampirinya. Tanpa menolak, saya langsung pindah dan duduk di sampingnya. Celana panjang dan celana dalamku kulepaskannya, berikut sepatuku. Hawa AC mobil Veri yang memang agak dingin membuat sekujur tubuhku merinding karena kedinginan. Putingku agak mengeras akibat rasa dingin itu. Tapi pada saat yang sama, saya sedang kepanasan karena nafsu.
"Hisap batangku," kata Veri sambil meraih kepalaku.
Maka untuk pertama kalinya, saya menghisap batang kejantanan Veri. Mulutku membungkus kontolnya dan air liurku membasahi permukaan kepala kontolnya yang sangat sensitif. Dan aku mulai menghisap, menjilat, menyedot. Kukerahkan semua kemampuan oral seks-ku agar Veri merasa puas.
"Hhoohh.. Aahh.. Oohh.." Veri mendesah-desah, tangannya meraba-raba punggungku.
Usahaku dihadiahi dengan cairan precum yang melelh kelaur dari lubang kencing Veri. Dengan rakus, kujilat habis semuanya. Mm.. Nikmat sekali. Air liurku terus membasahi kontol Veri, sebagian mengalir turun membasahi pangkal kontolnya yang rimbun dengan rambut kemaluan. Mulutku terus-menerus menghisap batang itu. SLURP! SLURP!
Veri menyetir kepalaku dan membawanya ke sepasang bola pelernya yang nampak menggiurkan. Kujilat-jilat sepasang bola itu sambil meraba-raba tubuh Veri. Ah, semua bagian tubuhnya terasa nikmat dan enak. Bola peler itu mulai mengkilat karena air liurku. Veri mengurut-ngurut bolanya sambil mendesah nikmat. Tanpa disuruh, aku kembali menyedot kontolnya. SLURP! SLURP! SLURP!
Bersambung . . . . .


Veri harapan baruku – 1

Awek Pantat Panas CantikSemenjak kita bertemu, dunia dipenuhi keajaibanTerima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kitaBeribu-ribu kebahagiaan dan rasa cintaSemua terajut dan teranyam dalam memori indah
Semenjak kita bertemu, dunia nampak sangat indahTerima kasih pada nasib yang telah menyatukan kitaBersama kita menjelajahi dunia dan mencari arti cintaWaktu berlalu, dipenuhi kenangan-kenangan indah
Walau laut mengering dan gunung-gunung robohWalau langit runtuh dan bumi terbelahKita akan tetap bersama, bergandengan tanganCinta kita tumbuh tiap hari, semoga tanpa halangan
Bersama, menyaksikan matahari terbenam di ufuk baratBersama, bernyanyi di bawah terang bulanBersama, menjalin kasih dan cintaSemoga aku dapat di sisimu dan mencintaimu selamanya..


*****
Aku kembali ditinggal oleh pria yang kucintai; hatiku kosong dan hampa. Di saat itulah, Veri melangkah masuk. Takdir memang aneh. Saya sudah mengenal Veri sejak beberapa bulan yang lalu, tapi saya tidak mengontaknya karena saat itu saya sedang menjalin hubungan dengan mantanku yang ke-4. Saat aan, mantanku yang ke-5, mencampakkanku, aku merasa sangat sedih dan berputus asa. Bahkan dulu saya hampir saja bunuh diri..
Entah kenapa, di malam saat akan terbang ke Arab, saya merasa sangat membutuhkan seseorang. Dan orang yang lewat di benakku adalah Veri! Berbekal nomor HP-nya, kutelepon dia. Untunglah, Veri masih mengenalku. Kami dulu memang saling mengenal tapi belum pernah bertemu, maka saat itulah kami memutuskan untuk bertemu.
Pertemuan kami terjadi beberapa hari setelah saya menghubunginya. Tepatnya hari Selasa tanggal 21 September 2004, sore hari. Tanggal 21 kebetulan merupakan tanggal ulang tahunku; aku bertemu dengannya tepat 8 bulan setelah hari ulang tahunku. Dengan mengendarai mobilnya, Veri datang ke rumahku. Saya berdiri di depan jalan, menunggunya.
Jujur, saya merasa seperti orang bodoh karena saya tidak tahu kapan dia akan datang dan mobil mana yang merupakan mobilnya. Tapi untunglah, semenit kemudian, sebuah mobil model minibus warna biru tua datang menghampiri. Seorang pria memberi tanda arah padaku. Kuikuti saja mobil itu masuk ke dalam gang rumahku, tapi masih takut kalau saya salah mengenali orang. Untung saja klakson lalu berbunyi. Yakinlah saya bahwa itu Veri.
Agak gugup, saya masuk dan naik ke dalam mobilnya. Kami bersalaman. Veri nampak ganteng dan berwibawa dengan kemeja birunya. Senyumannya mengembang dan membuatku langsung jatuh hati. Kami singgah di rumahku sebentar. Veri tidak canggung saat bertemu orangtuaku, bahkan bisa ngobrol akrab. Saat kami hanya berduaan saja, Veri merengkuhku.
Dengan penuh gairah, bibirnya menciumku bibirku. Aku menerima dan membalas ciumannya. Rasanya sangat nikmat. Aku sangat merindukannya karena pria terakhir yang menciumku adalah aan dan saat itu sudah sebulan lamanya saya tidak menerima kasih sayang dari seorang pria dalam bentuk ciuman, belaian, dan pelukan. Maka saat Veri mencumbuku, aku luluh dan lumer di dalam pelukan Veri.
Usai berciuman, kami duduk berdekatan, saling memeluk dan meraba. Saat itulah saya bertanya apakah Veri berniat mencari seorang kekasih ataukah dia hanya mau mencari teman seks saja. Dengan lembut, Veri menjawab bahwa dia sedang mencari kekasih, tapi dia belum bisa memastikan karena dia belum mengenalku. Aku agak kecewa tapi aku mengerti. Kami kembali bercumbu. Ah, alangkah aku sangat merindukan belaian seorang lelaki.
Veri mengingatkanku pada Aan. Mereka sama-sama Muslim dan pribumi, berumur 30 tahun, mempunyai model badan yang sama (dada lebar padat tapi perut agak gempal), bahkan berat badan mereka dan suara mereka nyaris sama! Veri nampak seolah-olah adalah 'kembaran aan'. Dan mereka sama-sama tampan, meskipun masing-masing memiliki ketampanan khas masing-masing. Tapi alasanku menyukai Veri bukan karena dia adalah 'kembaran aan'. Tapi karena saya membutuhkan kasih sayang dan Veri nampak ingin membaginya denganku.
Karena rumahku ramai, kami memutuskan untuk memadu kasih di luar saja. Sepanjang perjalanan, tak tahu hendak ke mana, kami berbincang-bincang. Veri menyebutkan bahwa mungkin kelak dia akan menikahi seorang wanita. Hatiku agak perih saat mendengarnya. Aku takut, kisah cinta tragisku dengan aan akan terulang kembali dengan Veri. Namun Veri telah mencuri hatiku; aku tak kuasa menolaknya.
Bagaikan ngengat yang tertarik ke arah api, aku membiarkan diriku jatuh cinta padanya. Aku sadar bahwa kelak nanti aku mungkin akan terluka karena terbakar api cintaku; sama seperti yang kualami dengan aan. Tapi dalam hati aku berharap dan berdoa semoga kisah cintaku dengan Veri tidak akan berakhir tragis seperti kisah-kisah cintaku yang lain.
"Aku suka ama kamu," kata Veri tiba-tiba. Nada bicaranya kalem dan menghanyutkan. Matanya tetap tertuju ke depan, mengendarai mobilnya. Tapi saat ada kesempatan, Veri akan memalingkan wajahnya ke arahku dan menatapku dengan penuh cinta."Kamu lembut," sambungnya."Kamu spesial dan aku sangat menyukaimu."
Wajahku memerah seperti lobster rebus. Baru kali ini, ada seorang pria yang mampu meluluhkanku dengan kata-kata. Hanya pria romantis saja yang dapat berlaku demikian, dan aku sangat menyukainya. Veri hanya tersenyum saja melihatku salah tingkah. Tapi kubalas pujiannya dengan mengembangkan senyumku yang terindah. Berbeda dengan para mantanku, Veri tidak canggung mengekspresikan rasa sukanya dengan kata-kata dan perbuatan. Aku suka dia.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya merasa sangat dimanja. Aku merasa seolah-olah menjadi bintang utama dalam sebuah film percintaan gay. Dengan penuh kasih sayang, Veri memintaku untuk bersandar di pundaknya. Mulanya saya ragu karena takut mengganggu (ingat, Veri sedang menyetir), tapi dia memaksa. Maka tanpa membantah, kusandarkan kepalaku di bahunya. Meskipun Veri tidak bisa membalas dengan belaian tangan, bagiku sudah cukup. Rasanya sungguh sangat menyenangkan.
Saat itu, entah kenapa, saya malah mau menangis. Kurasa, saya terlalu bahagia. Tapi nampaknya Veri tidak sempat melihat mataku yang agak berkaca-kaca. Kami tidak peduli bila orang-orang di luar mobil melihat kelakuan gay kami. Yang kami tahu, dunia hanya milik kami berdua saja; yang lain cuma ngontrak. Sepanjang perjalanan, saya berkhayal tentang kehidupan masa depanku bersama Veri. Ah, alangkah bahagianya diriku bila hal itu dapat terwujud. Tanpa terasa, akhirnya perjalanan berhenti di pantai Ancol.
"Tinggalkan saja kacamatamu di mobil. Kamu lebih manis tanpa kacamata," kata Veri."Tapi nanti aku buta. Kalau aku menabrak sesuatu, bagaimana?" sahutku, tersenyum manis padanya."Gak apa-apa. Nanti kubimbing," balasnya. Senyumannya manis sekali, tidak dapat kutolak.
Turun dari mobil, kulepas kacamataku sebentar. Veri menghampiriku dan kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. Oh, bahagianya. Baru kali ini saya diperlakukan istimewa oleh seorang pria! Dia membimbingku melewati hamparan pasir. Tangannya yang kokoh tetap terlilit di pinggangku. Bunyi deburan ombak terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
"Kita ke toilet sebentar yuk," ajaknya."Mau kencing".
Toilet pantai Ancol kecil dan bersih, tapi dipungut biaya pakai. Di sanalah untuk pertama kalinya saya melihat batang kejantanan Veri. Untung saat itu sepi sehingga kami bisa leluasa kencing. Batang Veri masih setengah tertidur, namun tetap terlihat gagah. Sambil mengosongkan kandung kemihku, saya terus-menerus menatap alat kelamin Veri. Dan Veri pun demikian. Ingin rasanya saya berjongkok dan langsung melumat penisnya. Veri hanya tersenyum penuh arti.
Suasana pantai di malam hari memang gelap. Aku sama sekali tidak dapat melihat laut. Di sisi pantai, nampak banyak pasangan heteroseksual sedang bercengkerama. Mungkin Veri dan saya adalah satu-satunya pasangan homoseksual di sana. Kebetulan ada toko makanan di dekat pantai. Veri pun memesan Green Sands dan susu soda. Selama beberapa saat, kami duduk santai di sana, membicarakan banyak hal. Kami hanya minum dan saling memandang.
Mukaku kembali memerah. Baru kali ini ada pria yang benar-benar menyukaiku apa adanya, fisik dan mental. Diam-diam, saya menjadi semakin jatuh cinta kepadanya. Veri suka sekali merokok. Seperti lokomotif, dia mengepulkan asap dari mulut dan hidungnya. Sesekali, saat tak ada yang memperhatikan kami, Veri menciumku. Saya sangat menyukainya. Suasana pun sangat mendukung, sangat romantis.
"Kita ke mobil, yuk," katanya tiba-tiba."Biar lebih enak."
Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Buru-buru, aku bangkit mengikutinya. Sebuah tonjolan besar menggembungkan bagian depan celana panjangku. Ingin sekali saya bercinta dengannya. Saat berada kembali di dalam mobil, Veri memegang tanganku dan memindahkannya ke atas tonjolan celananya. Astaga, keras sekali ereksinya. Kuremas-remas penisnya sambil tersenyum mesum. Aku ingin sekali bercinta dengannya, melanjutkan hidupku dan melupakakan aan. Untuk sesaat, aku hanyut di dalam mata Veri yang penuh cinta. Saya merasa sangat tenang, dan disayangi. Perasaan itu sungguh sangat indah..
Kami berkendara menuju tanah lapang di pojok area Ancol. Di sisi kiri dan kanan terlihat mobil-mobil berparkiran. Menurut Veri, di tempat inilah para pasangan asyik bermesraan di dalam mobil. Saya memang pernah mendengarnya tapi saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan untuk mencobanya. Mobil kami, bergoyang-goyang melewati tanah yang tak rata, berjalan perlahan mencari tempat kosong.
Saat mobil Veri sudah terparkir, Veri bergegas pindah ke bangku belakang. Dengan cekatan, celana panjangnya diperosotkan ke bawah. Penisnya yang indah itu kembali dikeluarkan, membuatku kehabisan napas. Veri memberiku tanda untuk menghampirinya. Tanpa menolak, saya langsung pindah dan duduk di sampingnya. Celana panjang dan celana dalamku kulepaskannya, berikut sepatuku. Hawa AC mobil Veri yang memang agak dingin membuat sekujur tubuhku merinding karena kedinginan. Putingku agak mengeras akibat rasa dingin itu. Tapi pada saat yang sama, saya sedang kepanasan karena nafsu.
"Hisap batangku," kata Veri sambil meraih kepalaku.
Maka untuk pertama kalinya, saya menghisap batang kejantanan Veri. Mulutku membungkus kontolnya dan air liurku membasahi permukaan kepala kontolnya yang sangat sensitif. Dan aku mulai menghisap, menjilat, menyedot. Kukerahkan semua kemampuan oral seks-ku agar Veri merasa puas.
"Hhoohh.. Aahh.. Oohh.." Veri mendesah-desah, tangannya meraba-raba punggungku.
Usahaku dihadiahi dengan cairan precum yang melelh kelaur dari lubang kencing Veri. Dengan rakus, kujilat habis semuanya. Mm.. Nikmat sekali. Air liurku terus membasahi kontol Veri, sebagian mengalir turun membasahi pangkal kontolnya yang rimbun dengan rambut kemaluan. Mulutku terus-menerus menghisap batang itu. SLURP! SLURP!
Veri menyetir kepalaku dan membawanya ke sepasang bola pelernya yang nampak menggiurkan. Kujilat-jilat sepasang bola itu sambil meraba-raba tubuh Veri. Ah, semua bagian tubuhnya terasa nikmat dan enak. Bola peler itu mulai mengkilat karena air liurku. Veri mengurut-ngurut bolanya sambil mendesah nikmat. Tanpa disuruh, aku kembali menyedot kontolnya. SLURP! SLURP! SLURP!
Bersambung . . . . .


Makcik Anum

Awek Pantat Panas CantikMenemukan pembaca situs Rumah Seks. Salam sejahtera. Aku dari Malaysia. Sangat ingin berkongsi cerita dengan pembaca budiman. Aku N, budak nakal usia dua belas tahun sekitar tahun 60an dan masih sekolah dalam darjah Enam waktu itu. Muga kisah-kisah yang aku alami dahulu boleh dijadikan perbandingan dengan cerita-cerita yang berlaku di Milenium ini.

Aku anak polis. Hidup di berek polis. Populasi polis di sekitar berek kami terdiri dari empat buah flat dua tingkat sekitar 100 keluarga. Banyak kisah-kisah menarik yang berlaku di dalam masyarakat kami. Aku memfokuskan kisah-kisah yang aku alami sahaja.



Aku masih berpeluang dan bahagia dapat mengintai/mengintip Pakcik Hassan dan makcik Anum memadu kasihsayang dan bersetubuh dalam pondok di kebun Pakcik Hassan. Mereka tidak sedar dan tahu yang aku mengetahui rahasia mereka berdua.

Secara peribadi aku memang geram terhadap Makcik Anum. Puting teteknya berwarna merah dan besar ibu jari. Tundunnya tembam dihiasi rumput yang dipotong bagus. Perutnya kempis dan dia cerah orangnya. Akju juga tahu yang dia tidak puas bersetubuh dengan suaminya maka dia membenarkan tubuhnya diratah oleh Pakcik Hassan.

Aku sengih dan senyum sendirian. Sebabnya, bila Pakcik Hassan mengodam cipap Makcik Anum, kedua-dua mereka adalah jiran aku-aku pula dipelawa dan di ajak oleh Makcik Timah, isteri Pakcik Hassan mengodam dan mempompa pepetnya. Aneh sungguh.

Tidak lupa Kak Etun, isteri Pakcik Agus, yang tidak melepaskan peluang bila suaminya tiada, dia akan terus meminta aku menemaninya dan suka sangat mengulum batang zakarku. Dia suka memainkan lidahnya ke batang zakarku membuatkan aku sendiri kegelian dan tak ketentuan. Namun aku adalah kekasih yang setia buat Makcik Timah dan Kak Etun, dua orang isteri yang curang terhadap suami masing-masing.

*****

Petang itu redup sebab awan kelabu menghiasi langit. Angin berhembus sedikit kuat. Daun-daun lalang liang lintuk dipukul angin. Bunyi ayam berkokok dan berketuk. Kawasan kebun menjadi sunyi. Hujan jatuh satu-satu. Angin tetap bertiup..

Aku baru selesai memberi ayam-ayam ku makan. Hanya nasi semalam untuk ayam-ayam dan dedak untuk itik-itik. Bila hujan turun satu-satu, aku mula bergegas menutup pintu reban ayam. Guruh dan kilat tiada. Hanya hujan mula turun renyai-renyai.

"N.. Sini," jerit sebuah suara antara dengar dan tidak. Hujan turun renyai sambil aku berlari anak menutup mukaku dengan suratkabar lama keluar dari reban.

"O Nnn.." pekik suara itu lagi dan ketika itu aku melalui tepi kebun Pakcik Rahman.

Aku terhenti dan menoleh ke arah suara yang memanggil aku tu. Hati ku berdebar dan dub dab juga. Suara hanu ke? Aku amati suara itu sambil menghalakan pandangan ke arah datangnya suara.

"Makcik Anum lah.. Ke sini N.." panggilnya melambai dari pondok Pakcik Rahman.

Aku melihat dan mengenal-pasti yang memanggil itu makcik Anum yang sudah menunggu di pondok Pakcik Rahman sedang hujan sudah mula turun sedikit deras.

"Ya makcik.." sahut aku sambil berlari anak menuju ke pondok di mana Makcik Anum sedang berteduh duduk dalam pondok. Dia tersengih ketika aku mengah-mengah sampai ke pondok itu. Hatiku
berdebar dan kulihat dia seorang diri sedangkan pakcik Rahman tiada. Aku tidak berani bertanyakan di mana pakcik Rahman, takut nanti makcik Anum tahu yang aku mengetahui rahsia mereka berdua.

"Buat apa sini Makcik?" tanya ku dalam mengah sambil naik ke pondok dan menutup daun pintu dari plastik itu.
"Hujan mak cik teduh sekejap kat pondok pakcik Rahman ni," katanya sambil memeluk tubuh memandang kepada aku yang bersila di depannya.

Aku memakai kemeja T sekolah dan bercelana pendek. Makcik Anum mengenakan Kemeja T biru tua dan berkain batik. Nyata dia tak memakai coli dan mungkin juga dia tidak berseluar dalam. Fikirku. Nasib baik pondok Pakcik Rahman ada. Nasib baik Pakcik Rahman membuat bidai untuk menangkis angin dan hujan pada pondoknya. Angin bertiup sederhana dan hujan renyai menjadi garang sedikit. Aku dan Makcik Anum berdua sahaja di dalam pondok itu.

"Pakcik Abas mana kak?"aku bertanya sengih memandang tepat ke payudara kembar Makcik Anum.
"Dia keje jauh dua minggu. Jadi Makcik bosan. Jalan-jalan tengok kebun kat sini," katanya tersenyum melirik.

Dia tidak bermake-up namun dia tetap lawa di mataku cukup mengairahkan melihat puting teteknya menonjol kemeja T yang dipakainya.

"Makcik Anum aku tahu yang kebun-kebun kat sini bagus."
"Ya kak, Pakcik Rahman rajin berkebun dan membuat pondok ni. Saya bagi makan ayam dan itik. Kami berkebun juga sebelah sana tu," jawab aku Sengih.
"Kau ni N.. Besar badan ye.. Tak sangka usia kau masih muda lagi," kata Makcik Anum, sambil mencubit pipiku.
"Nak buat camne makcik, sudah rangka saya jauh lebih besar dari usia," jawabku.
"Agaknya ikut belah Atuk saya Makcik Anum oi."

Aku sengih dan mataku tetap terpaku kepada puting teteknya. Makcik Anum bertubuh gebu bulat. Masih muda dalam 25 tahun dan pejal Bodynya.

"Makcik sunyi ye takde anak?" aku beranya sambil meletakkan akhbar yang ada di tanganku.
"Sunyi dan bosan juga N.., Makcik lom ada rezeki nak beranak," jawab Makcik Anum lesu.

Dia menyandarkan tubuhnya ke tiang pondok tu. Angin masih bertiup segar. Dia melunjurkan kakinya di depanku. Aku tahu fikiran nakalku mula menular. Aku berhajat sangat mahu mengongkek Makkcik Anum tetapi dia masih cool bercakap denganku. Hatiku berdebar-debar juga. Penisku mula mencanak tapi aku cuba menyoroknya disebalik seluarku.

Makcik Anum melirik senyum sambil memerhatikan keadaan aku. Hujan renyai-renyai kini menjadi sedikit lebat.

"Kuat hujan kuat angin Makcik..," kataku sambil memandang keluar dari balik tirai pondok.
"Apa yang bonjol dalam seluar kau tu N," tegur Makcik Anum memandang ke seluarku yang terbonjol.
Aku senyum, tersipu dan malu sambil mengalihkan pandanganku.
"Kau ni sudah baligh ke N.." kata makcik Anum sambil memegang bonjolan di seluarku.
"Ooo, besar penis kau ni N.. Cam orang dewasa nyer," tambah Makcik Anum terus memegang batang zakarku yang mencanak dari dalam seluar. Aku segan dan menginsut ke belakang.
"Jangan malu lah dengan Makcik Anum, makcik suka kat N.." kata Makcik Anum membujuk aku dan dia sudah mula menanggalkan celana pendek ku melepasi kakiku.

Aku macam tak percaya yang bahagian bawah pinggangku sudah bogel dan jelas Makcik Anum memegang penisku dan meembelainya. Matanya terbelalak melihat kote ku yang besar dan panjang tu. Makcik
Anum sudah mula menjilat kepala zakarku.

"Makcik Anum suka kau N.. Besar kote kau niee, kalah suami makcik punya, hmm," desah makcik Anum sambil membelai dan mula mengulum batang kote aku. Aku menjingkat punggungku mengikut rentak kulomannya. Aku tak berdiam lalu meminta Makcik Anum menanggalkan kemeja t nya. Aku nak menghisap puting teteknya. Pantas makcik Anum menanggalkan kemeja T nya. Aku melihat gunung kembarnya yang besar. Bulat dengan puting Teteknya berwarna merah muda.

Sebaik payudara itu berbuai aku terus memegang dan meramas sambil makcik Anum meneruskan kocokan dan mengulum batang zakar ku yang mengembang. Makcik Anum mula membongkok menjilat dan menghisap baang Zakarku. Aku mengentel puting susu dan meramas susunya.

"Huu.." desahku, "Makcik sedapp.." aku menhinggut-hinggutkan punggungku bila kote ku terus dihisap makcik Anum.
"Mak Cik akan sedapkan kau N.. Kote kau besar.. Makcik suka." kata Makcik Anum lagi.

Aku sendiri sudah tak tahan. Aku selak kain makcik Anum. Kini makcik Anum mengangkangkan pehanya sambil bersandar ke tiang pondok. Aku menariknya perlahan untuk berbaring. Aku melihat pepetnya yang tembam. Ku raba dan mendapati ia sudah basah. Lalu aku membuat posisi 69 dengan aku di atas. Kini aroma pukinya menikam hidungku.. Uuu sedapp merangsangkan koteku menjadi keras..

Aku mula menjilat kelentit, kemudian mengulom kelentit Makcik Anum sambil memainkan lidahku. Dia mengerang halus sambil menginjalkan pungungnya mengikut rentak jilatan aku. Kemudian ku jilat lurah puki dan bibir pukinya kukulom.. Air membecak sambil menjilat aku menghirup jus madu di puki makcik Anumm yang sudah mengerang dan mendesah keras..

"N.. Makkcik tak tahan dahh.." desah makcik Anum,
"Masukkan kote kau N.. Masukkan kat sini," arah makcik Anum.

Aku pun mengikut maunya. Aku meletakkan kepala kote ku yang merah menyala besar tu ke muka lubang jusnya. Kemudian aku menolak kepala zakarku sedikit kuat..

"Aduhh.. Perlahan tolak N.." kata makcik Anum. Dia memegang pinggang aku. Aku menghenjut zakarku ke dalam sedikit.. Dan ke dalam lagi..
"UU N.. Sedapp.. Henjut N.. Henjut kat puki Makcik," arah Makcik Anum geram dan mahu.

Aku terus menghunjamkan kote ku ke lubang puki Makcik Anum. Bibir pukinya mula mengemut dan mengigit batang zakarku. Aku menyorong dan menarik keluar dalam dan lama.

"Huhh kuat-kuat henjut N.. Lajukan.." arah makcik Anum mengangkat kakinya kemudian memeluk pinggangku dengan kedua belah kakinya dan mengikut henjutan aku. Sambil itu mengoyangkan punggungnya menerima tujahan penisku dalam liang pukinya. Aku merasa puki makcik Anum besah dengan air yang banyak.

"Arghh.. Sedapp N makcik nak kuarr," kata makcik Ann menahan sedap dan mengigit bibirnya sedang aku melumat mulutnya selepas itu. Henjutan aku aku kuatkan dan melakukannya dengan laju sekali sehinga aku sendiri meraskan kegelian.

Makcik Anum orgasme sambil mencakar-cakar belakangbadanku. Aku juga tak tahan dan menyemprutkan maniku ke dalam lubang puki Makcik Anum. Aku rebah atas tubuhnya dan masih merasakan kemutan pada zakarku oleh puki Makcik Anum. Makcik Anum kepuasan.

"Pandai kau mengongkek N," puji Makcik Anum sambil mengenakan kemeja T nya. Dia menyapu bekas-bekas air mani di zakarku dengan kain batiknya.
Aku mencium Makcik Anum." Makcik pun sedap. Saya suka. Makci suka ke?"
"Mestilahh," jawabnya mencubit pipi dan zakarku.
Aku memakai celana ku semula.
"Jangan citer kat sapa-sapa N. Ini rahsia kita berdua. Nanti bila Makcik senang kita kongkek lagi ok." kata makcik Anum memeluk aku.

Aku angguk. Aku bahagia aku dapat bersetubuh dengan makcik jiran-jiranku.

*****

Hasrat untuk mengongkek Makcik Anum berjaya juga dalam hujan di pondok Pakcik Rahman. Aku bahagia keraana dapat menikmati puki milik Makcik Timah, Kak Etun dan makcik Anum.

Dan tidak ketinggalan ketiga-tiga wanita ini suka bersetubuh dengan aku. Jadi aku kenalah bergilir-gilir mengongkek dan memuaskan kehausan dan kedahagaan mereka.

E N D