Category Archives: cerita lucah

Rini si ayam kampus

Awek Pantat Panas CantikMalam itu seusai rapat organisasi, aku segera menstart motorku untuk pulang. Rasanya pengin sekali segera sampai di rumah, makan, lalu tidur. Tetapi baru saja sampai di gerbang depan kampus seseorang menyapaku, dan ketika aku toleh arah suara itu ternyata Rini, anak fakultas ekonomi. Ngapain anak ini sendirian di gerbang?

"Belum pulang, Rin?"
"Belum Den, habis nungguin bis lewat, lama amat." Jawabnya sambil berkedip-kedip genit.


"Bis lewat ditungguin, gue antar deh?"
"Bener situ mau nganterin?"
"Yah, pokoknya nggak gratis. Situ tau sendiri deh." Ujarku menggoda.
"Ah, bisa aja."

Rini mencubit kecil pinggangku lalu segera naik ke boncengan. Tangannya melingkat erat di pinggangku, lalu melajulah motor di ramainya jalanan. Lama-kelamaan si Rini malah menempelkan dadanya di punggungku. Tau nggak, rasanya benar-benar empuk dan hangat. Wuih, terasa bener kalau dia nggak pake beha. Sebagai laki-laki normal, wajar dong kalo batang penisku tiba-tiba menegang.

"Den, gimana kalo kita mampir ke taman kota? Aku dengar ada dangdutan di sana." Bisik Rini dekat di telinga kiriku.
"Seleramu dangdut juga ya?"

Rini kembali mencubit pinggangku, tapi kemudian mengelus-elus dadaku. Tengkukku mulai merinding. Ada maunya nih anak, pikirku waktu itu. Mungkin aku sedang dihadapkan salah satu ayam kampus, nih. OK, siapa takut!

Aku segera membelokkan sepeda motor ke taman kota. Lalu mencari tempat yang agak remang tapi cukup strategis untuk menikmati isi panggung yang terletak di tengah taman kota itu. Panggung yang kira-kira berukuran 6x6 meter itu tampak meriah dikelilingi ratusan pengunjung. Irama dangdut menggema memekakkan telinga.

"Den, sini dong? Sini, duduk sama aku."
Aku duduk di belakang Rini yang masih duduk di boncengan motorku. Gadis itu nampaknya asyik benar mengikuti irama dangdut. Sedang aku lebih tertarik memelototi tubuh penyanyinya dibanding suaranya yang menurutku biasa saja.

Beberapa orang penyayi bergoyang hot membangkitkan gelora birahi para pria yang memandangnya, termasuk aku. Pandanganku beralih kepada Rini. Sayang aku hanya bisa memandang ubun-ubunnya saja. Aroma wangi menebar dari rambutnya yang bisa dibilang bagus, aroma yang eksotik. Kalau saja ada kesempatan, desahku.

"Den, kok diam saja? Belum pernah lihat orang goyang ya?"
"Bukannya gitu, cuman gila aja mandang tuh cewek. Berani bener joget kayak gitu,"
"Ah, segitu saja. Coba kemarikan tanganmu!"

Aku mengulurkan tangan kananku. Astaga, gadis itu memasukkan tanganku di balik bajunya sehinga tanganku benar-benar bisa merasakan kegemukan dadanya. Keringat dinginku tiba-tiba merembes, dadaku bergemuruh.

"Rin, apa-apaan kamu ini?" Ujarku lirih tanpa menarik kembali tanganku.
"Kamu nggak suka ya?" Tanya Rini kalem.
"Engh.. Bukannya begitu..anu" Jawabku tergagap.
"Aku tau kamu suka. Aku juga suka Den, jadi nggak ada masalah kan?" Kata Rini menoleh ke padaku.
"I..iya sih."

Yah, begitulah. Akhirnya aku punya kesempatan. Tanganku membelai-belai dada Rini dengan bebasnya. Mempermainkan putingnya dengan gemas, kupelintir kesana kemari. Gadis itu bukannya kesakitan, tapi malah mendesah-desah kegirangan. Aku sendiri sudah nggak tahu berapa kali menelan ludah. Rasanya ingin memelintir puting itu dengan mulutku. Rupanya tangan kiriku mulai iri, lalu segera menyusul tangan kananku menerobos masuk di balik baju Rini. Meremas-remas kedua bukit yang tak terlihat itu.

"Den, Deni.. tangan-tanganmu benar-benar nakal. Hoh.. aduh.. geli Den," Desah Rini menjambak rambutku yang cukup gondrong.
"Rin, aku suka sekali.. bagaimana kalau kita.."
"Uhg.. heeh, iya.. aku mau."

Aku segera menghentikan kegiatanku mengobok-obok isi baju Rini. Lalu kami segera menuju sebuah hotel yang tak jauh dari taman kota. Tiada kami peduli dengan beberapa pasang mata yang memandangi kami dengan sejuta pikiran. Masa bodoh, yang penting aku segera bisa mengencani Rini.**

Segera aku bayar uang muka sewa kamar, lalu kami melenggang ke kamar 51. Rini yang sedari tadi memeluk tubuhku kini tergeletak di atas springbed. Matanya yang sayu bagai meminta, tangannya melambai-lambai. Aku langsung saja membuka kancing bajuku hingga bertelanjang dada.

"Den.. sudah lama aku inginkan kamu,"
"Oya? Kenapa tak bilang dari dulu?" Ujarku sambil melepas kancing baju Rini.

Benarlah kini tampak, dua bukit kenyal menempel di dadanya. Tangan Rini membelai-belai perutku. Rasanya geli dan uh.. lagi-lagi aku merinding. Kutekan-tekan kedua putingnya, bibir gadis itu mengulum basah. Matanya yang semakin memejam membuat birahiku semakin terkumpul menyesakkan dada.

"Den.. ayo.. kamu tak ingin mengulumnya? Ayo masukkan ke mulutmu."
"Heh.. iya, pasti!"

Aku segera mengangkangi Rini lalu berjongkok diatasnya, lalu menunduk mendekati dadanya. Kemudian segera memasukkan bukit kenyal itu ke dalam mulutku. Aku hisap putingnya perlahan, tapi semakin aku hisap rasanya aku pingin lebih sehingga semakin lama aku menghisapnya kuat-kuat. Seperti dalam haus yang sangat. Ingin rasanya aku mengeluarkan isi payudara Rini, aku tekan dan remas-remas bukit gemuk itu penuh nafsu. Rini merintih-rintih kesakitan.

"Den.. hati-hati dong, sakit tahu! Perlahan.. perlahan saja Ok? Heh.. Yah, gitu.. eeh hooh.."

Busyet, baru menghisap payudara kiri Rini saja spermaku sudah muncrat. Batang penisku terasa berdenyut-denyut sedikit panas. Rini bergelinjangan memegangi jeans yang aku pakai, seakan ingin aku segera melorotnya. Tapi aku belum puas mengemut payudara Rini. Aku pingin menggilir payudara kanannya. Tapi ketika pandanganku mengarah pada bukit kanan Rini, wuih! Bengkak sebesar buah semangka. Putingnya nampak merah menegang, aku masih ingin memandanginya. Tapi Rini ingin bagian yang adil untuk kedua propertinya itu.

"Ayo Den, yang adil dong.." Katanya sambil menyuguhkan payudara kanannya dengan kedua tangannya.

Aku memegangi payudara kanan Rini, mengelusnya perlahan membuat Rini tersenyum-senyum geli. Ia mendesah-desah ketika aku pelintir putingnya ke kanan dan ke kiri. Lalu segera mencomot putingnya yang tersipu dengan mulutku. Puting itu tersendal-sendal oleh lidahku.
"Deni.. dahsyat banget, uaohh.. enak.. ayo Den.. teruss.."

Rini menceracau tak karuan, tangannya menjambak-jambak rambut gondrongku. Kakinya bergelinjang-gelinjang kesana kemari. Binal juga gadis ini, pikirku. Aku berpindah menyamping, menghindari sepakan kaki Rini. Jangan sampai penisku terkena sepakan kakinya, bisa kalah aku nanti. Justru dengan menyamping itulah Rini semakin bebas. Bebas membuka resleting jeans yang dipakainya. Tapi dasar binal! Gerakannya yang tak karuan membuat kami berguling jatuh di lantai kamar. Dan payudara kanannya lolos dari kulumanku.

"Gimana sih, Rin? Jangan banyak gerak dong!" Ujarku sedikit kesal.
"Habis kamu ganas banget sih.." Hiburnya dengan tatapan menggoda.

Untuk mengobati kekesalan hatiku Rini segera membuka semua pakaiannya tanpa kecuali. Jelaslah sudah tubuh mungil Rini yang mempesona. Air liurku segera terbit, inginnya mengganyang tubuh mungil itu.

Tubuhnya yang meliuk-liuk semampai, dua payudaranya yang nampak ranum bengkak sebesar buah semangka, perutnya yang langsing bagai berstagen tiap hari, ahh.. Lalu, bagian kewanitaannya! Uhh, pussy itu cukup besar dengan bulu-bulu basah yang menghiasinya. Pahanya yang sekal membuatku ingin mengelusnya, dan betisnya yang mulus nan langsat.. ehmm.. Maka dengan tergesa-gesa aku melucuti pakaianku, tanpa terkecuali!

"Wah! Pistolmu besar Den!" Kata Rini yang segera berjongkok dan meremas gemas batang penisku yang sudah sangat tegang.
"Auh.. jangan begitu, geli kan?" Jawabku menepis tangannya.
"Jangan malu-malu, pistol sebesar ini, pasti ampuh."

Rini terus saja membelai-belai batang penisku yang ukurannya bisa dibilang mantap. Semakin lama batang penisku semakin menegang, rasanya mau meledak saja. Tubuhku bagai tersiram air hangat yang kemudian mengalir di setiap sendi darahku.

"Engh, auh.." Aku berdehem-dehem asyik saat Rini asyik memainkan jemari tangannya pada batang penisku.

Telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran yang kemudian digerak-gerakkan keluar masuk batang penisku. Layaknya penisku bermain hula hop. Spermaku mencoba meyeruak keluar, tapi aku tahan dengan sekuat tenaga. Aku remas-remas rambut panjang Rini.

Tapi kemudian Rini yang semakin gemas segera memasukkan batang keperkasaanku itu ke dalam liang mulutnya. Lalu dia mengemutnya bagai mengemut es lilin.

"Ehg.. ehmm.. "
Terdengar suara desisan Rini bagai sangat menikmati batang penisku, begitupun aku. Bagaimana tidak, bibir tebal Rini segera melumat kulit penisku, lalu lidah Rini menjilat-jilat ujungnya. Nafasku serasa putus, keringatku merembes dari segala arah. Sedang Rini bagai kesetanan, terus saja menciptakan sejuta keindahan yang siap diledakkan.

Crot.. crot.. Tak ada yang bisa menahannya lagi. Spermaku keluar menyembur ke liang mulut Rini. Gadis itu nampak sedikit tersedak, beberapa sperma muncrat keluar mulutnya dan kemudian membasahi pangkal penisku.

"Ehmm.. ehmm.. keluarkan teruss.. ehmm," Ujar Rini dengan mulut yang penuh dengan cairan spermaku.
Srup, srup, ia meminumnya dengan semangat sambil tangannya menggelayut di pahaku. Ujung penisku dikenyot-kenyot membuat geloraku makin berdenyut-denyut.

Karena tak tahan maka tak ayal lagi aku segera menubruknya. Menindih tubuh mungilnya lalu melahap bibir nakalnya. Lidah kami bergelut di dalam, menggigit-gigit gemas dan penuh nafsu. Tak peduli Rini merintih-rintih. Entah karena aku terlalu rakus mengganyang bibirnya, atau berat menahan tindihanku. Yang pasti rintihan Rini terdengar sangat merdu di telingaku.

Maka setelah puas mencumbui bibirnya aku segera beralih kepada pussy-nya. Benda keramat itu entah sudah berapa kali kebobolan, aku tak peduli. Kali ini ganti kau yang kukerjain, pikirku.

Langsung saja aku lebarkan paha Rini sehingga jelas pussy berumput yang sangat basah itu. Jemariku memainkan daging gemuk itu. menyusuri perbukitan yang berlorong. Lalu memelintir klitorisnya ke kanan dan ke kiri. Surr.. menyembur lagi cairan kewanitaan Rini. Bening menetes diantara jemariku.

"Den.. tunggu apa.. ayo dong.."
"Aku datang sayang."

Wajahku segera mendekat ke pussy Rini. Lalu tanganku sedikit membuka si pussy sehingga aku bisa menikmati goa kenikmatan itudengan mataku walau hanya sebentar. Srup, srup, aku jilati pussy basah itu. Lidahku sengaja mencari-cari lubang yang mungkin bisa kutembus. Lidahku semakin ke dalam. Mempermainkan klitorisnya yang kenyal. Tanganku pun menyempurnakan segalanya. Bermain-main di payudara Rini yang semakin tegang, mengeras. Sayup-sayup terdengar suara erangan Rini. Aku harap gadis itu juga menikmatinya.

"Ayouhh Den, masukk, aku tak tahan lagi.."
Suara gadis itu terdengar lemah, mungkin sudah keletihan. Aku pun sudah cukup puas beranal ria. So, tunggu apa lagi?? Aku meminta Rini untuk menungging. Gadis itu menurut dengan wajah letih namun penuh semangat. Kemudian aku segera memasukkan penisku ke lubang kawinnya. Mudah. Sekali hentakan sudah masuk. Lalu kucabut dan kumasukkan berkali-kali. Lalu kubiarkan terbenam di dalam beberapa menit.

"Eghh.." Rini menahan rasa nikmat yang kemudian tercipta.
Tubuhnya sedikit mengejang tapi kemudian bergoyang-goyang mengikuti gerakan penisku. Aku segera mengocok penisku dengan kekuatan penuh. Dan kemudian.. kembali spermaku muncrat keluar memenuhi lubang kawin Rini.

Beberapa saat kami saling menikmati kenikmatan itu. darahku seakan berhenti mengalir seperti ada hawa panas yang menggantikan aliran darahku. Seluruh persendian terasa tegang, tapi kemudian seperti ada rasa kepuasan yang tak bisa terucapkan.

Hingga kemudian aku mencabut kembali batang penisku dari pussy Rini. Gadis itu kembali terlentang di lantai kamar hotel. Sedang aku segera menghempaskan tubuhku di atas kasur. Dinginnya lantai kamar yang menyentuh jemari kakiku tak bisa mengalahkan panasnya suasana kamar itu. Bau keringat kami berbaur.

Namun tiba-tiba batang penisku yang sudah mulai mengendur tersentuh kulit halus wanita. Ketika aku mendongakkan wajah ternyata Rini yang telah duduk di depan kakiku sambil mengelus-elus batang penisku.

"Den, kamu hebat banget. Aku benar-benar puas."
"Ehng.. kamu juga. Sekarang kamu mau minta apa??"

Gadis itu masih diam sambil terus mempermainkan batang penisku. Gawat, bisa-bisa bangun lagi batang penisku. Bisa perang lagi nih, dobel dong tarifnya.

"Kamu minta apa? HP? Duit?"
"Aku minta.. minta lagi deh," Kata Rini yang kemudian kembali mengenyot batang penisku.
"Waduh, bisa-bisa lembur nih!", pikirku.

*****

Tamat


Aku menjadi pacar gelap – 2

Awek Pantat Panas Cantik"Dik Ton, kamu diam aja, biar Mbak yang mainin..!"
Aku menurut walaupun kadang aku kembali mengocoknya, tapi dia menatapku dengan tajam dan menggelengkan kepala. Aku menurut dan diam saja. Mbak Dwi mengocok kemaluanku dengan tempo sangat lambat, dan lama kelamaan makin dalam, sehingga pangkal paha kami saling menempel dengan ketat. Dan ketika itu lah Mbak Dwi merangkulku, dan merintih-rintih. Dia mengocok kemalauanku makin cepat, dan kadang pinggulnya diputarnya, sehingga menimbulkan sensasi yang demikian hebatnya. Hampir aku tidak kuat menahan ejakulasi.

"Mbak, stop dulu Mbak, aku mau muncrat..!" bisikku.


Dia berhenti sebentar, tetapi segera mulai memutar dan mengocokkan pinggulnya lagi. Aku sudah benar-benar hampir keluar, maka kugigit lidahku, kualihkan rasa nikmatku kerasa sakit yang menyerang lidahku. Ternyata dengan cara ini aku dapat menahan pancaran spermaku. Mbak Dwi makin menggelora, dia merintih-rintih, kadang kupingku digigitnya, kadang leherku, dan juga jari tangannya mencakari punggungku.

"Dik Ton, aku nikmat sekali.., oohh.., apa kamu juga enak..?"
"Iya Mbak.." balasku.
"Sebelah mana..? Mbak sudah senut-senut sampai tulang punggung, mungkin Mbak sudah nggak bisa lama lagi. Aduh.., sshh.., nikmat sekali, Mbak belum pernah seperti ini. Kontolmu besar dan nikmat sekali..!"
Mbak Dwi berbicara sendiri, aku tidak yakin apakah dia sadar atau tidak, tetapi itu membuatku makin terangsang. Aku ikut mengocok dari bawah, pangkal kelamin kami yang becek oleh lendir beradu makin sering, sehingga menimbulkan bunyi ceprok.., ceprok.., ceprok.

Batangku sudah berdenyut kenikmatan, sedang kepala penis kurasakan makin membesar dan siap memuntahkan lahar. Ketika Mbak Dwi merintih makin keras, dan ketika jarinya mencengkeram pundakku kencang sekali, instingku mengatakan bahwa Mbak Dwi akan selesai. Maka kuangkat pinggukku, kutekan kemaluanku jauh ke dalam dasar vaginanya, kuputar pinggulku sehingga rambut kemaluan kami terasa menjadi satu. Pada saat itulah ledakan terjadi.

"Dik Ton.., eekh.., eekh.., eekh.., eekh..!"
Lubang dalam vaginanya berkedut-kedut, sementara ototnya menjepit batangku. Mbak Dwi melepas orgasmenya, dan pada saat itu pula lah maniku menyembur deras ke diding rahimnya, banyak sekali. Kami telah selesai, tubuhku lemas dan kami istirahat serta pura-pura tidur berjauhan ketika penumpang lain mulai masuk mobil.

*****

Sejak kejadian itu, aku sering melakukan hubungan sex dengannya pada siang hari ketika suaminya tidak di rumah. Papan yang menyekat kamarku dengan kamarnya telah kulonggarkan pakunya, sehingga 2 buah papan penyekat dapat kucopot dan pasang kembali dengan mudah. Kami menyebutnya "Pintu Cinta", karena untuk masuk ke kamarnya aku sering melalui lubang papan tersebut. Mbak Dwi kini tahu bahwa aku sering mengintip ke kamarnya, bahkan ketika dia melayani suaminya, dan kelihatannya dia tidak keberatan. Dan entah kenapa, aku pun tidak pernah cemburu, bahkan selalu terangsang jika mengintip Mbak Dwi sedang disetubuhi oleh suaminya.

Siang hari jika aku tidak ada kuliah, dan Mbak Dwi sendirian di rumah, aku sering menerobos melalui "Pintu Cinta" untuk menyalurkan birahiku sekaligus birahinya yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya. Tetapi sejak saat itu pulalah hubungannya dengan suaminya tambah mesra, jarang marah-marah, sering pula kulihat dia memijat suaminya mejelang tidur. Pelayanan sex-nya kepada suaminya juga tidak berkurang (dia melakukannya rata-rata dua kali satu minggu), tidak jarang pula suaminya hanya dilayani dengan oral sex.

Yang mebuatku bingung adalah jika Mbak Dwi mengulum dan mengurut-urut penis suaminya, suaminya mampu bertahan cukup lama, tetapi kalau dimasukkan ke vagina hanya mampu 5 sampai 10 kocokan, kemudian sudah tidak tahan. Biasanya, jika telah selesai melakukan tugasnya dan suaminya sudah pulas, Mbak Dwi akan mengeser tidurnya ke arah dinding yang menempel ke kamarku. Dengan posisi miring setengah telungkup, tangannya menyusup melalui kelambu dan "Pintu Cinta" yang sudah kubuka. Dia akan mencari paha dan kemaluanku, dan tanganku pun akan menyelusup ke arah selangkangannya untuk menuntaskan birahinya yang tidak pernah dicapainya dengan suaminya. Setelah itu kami saling mengocok kemaluan kami sampai masing-masing orgasme. Petting di samping suaminya yang tidur sungguh menegangkan, tetapi nikmat sekali.

Bahkan pernah suatu malam, dimana suaminya tertidur pulas, kami melakukan persetubuhan yang sangat unik. Setelah saling meraba melalui lubang cinta, Mbak Dwi memasukkan separuh tubuhnya bagian bawah melalui kelambu dan lubang cinta ke kasurku, sedangkan pinggang ke atas masih tetap di kamarnya bersebelahan dengan suaminya yang masih mendengkur. Sebenarnya aku sangat kuatir kalau ketahuan suaminya, tetapi karena nafsuku juga sudah tinggi, melihat vagina yang merekah dan berlendir aku tidak tahan untuk tidak menjilatnya dan menyedot-nyedot kemaluannya.

Ketika nafsuku tidak terkendali dan berniat untuk memasukkan penisku yang sudah mengeras sejak tadi ke lubang vaginanya, aku mengalami kesulitan posisi. Maka tidak ada jalan lain, kutarik tubuhnya makin ke dalam dan kuganjal pantatnya dengan bantal. Walaupun buah dadanya dan kepalanya masih di kamarnya, tetapi seluruh pinggangnya yang masih terbalut baju tidur sudah masuk ke kamarku, pahanya mengangkang lebar-lebar. Maka dengan setengah berjongkok, kumasukkan kemaluanku ke arah bawah. Memang ada sensasi lain. Jepitannya semakin kencang, dan klitorisnya terlihat jelas dari sudut pandangku.

Aku mengocoknya pelan-pelan, karena aku menjaga untuk tidak membuat bunyi apapun. Sambil kukocok vaginanya yang menjepit terus menerus itu, kuelus-elus klitorisnya dengan ibu jariku. Pada saat Mbak Dwi mengalami orgasme yang pertama, ternyata aku masih separuh perjalanan. Kubiarkan kemaluanku tetap di lubangnya ketika pinggulnya diangkat ke atas tinggi-tinggi saat menikmati orgasmenya, kedua pahanya menjepit keras pinggangku. Setelah kubiarkan istirahat sejenak, kembali kukocok vaginanya serta kuputar-putar klitorisnya dengan jempolku. Dan kulihat pinggulnya berputar semakin liar, aku segera tahu bahwa Mbak Dwi akan segera oegasme yang kedua.

Kutekan kemaluanku ke dalam liang sanggamanya, dan kupercepat putaran jempolku ke klitorisnya, sampai kurasakan tangannya mencengkeram pahaku. Biasanya pada saat orgasme aku mendengar rintihan dan melihat wajahnya menegang, tapi kali ini aku tidak mendengar dan melihat wajahnya. Kucabut penisku yang masih mengeras dan bersimbah lendirnya, segera kukocok dengan tangan kananku, kira-kira lima centi di atas lubangnya, dan akhirnya.., aku tidak dapat menahan kenikmatan. Kusemprotkan seluruh spermaku ke lubang vaginannya yang masih menganga. Mbak Dwi segera menarik tubuhnya masuk ke kamarnya, sedang aku menutup kembali papan yang terbuka. Sebuah permainan sex yang berbahaya dan menegangkan namun penuh nikmat dan tidak terlupakan.

Sejak saat itu, kami tidak pernah berani melakukannya lagi permainan sex di samping suaminya yang masih tidur, walaupun permainan dengan tangan tetap dilakukan. Apalagi sex di siang hari, masih rutin kami lakukan.

*****

Sudah dua minggu ibunya Mbak Dwi yang tinggal di kota lain menginap di keluarga itu. Umurnya kutaksir sekitar 45 tahun, kulitnya putih seperti anaknya, tubuhnya sudah tidak langsing, tapi masih padat dan mulus, terutama paha dan pinggulnya sungguh menggiurkan untuk lelaki normal. Aku biasa memanggilnya Bu Ar, dan aku sering mengobrol dengannya dengan bahasa Jawa yang sangat santun, seperti kebanyakan orang Jawa berbicara kepada orang yang lebih tua. Di rumah dia selalu menggunakan daster tanpa lengan, sehingga pangkal lengannya yang mulus sering menjadi curian pandanganku. Kehadirannya ini tentu mengganggu hubunganku dengan Mbak Dwi, karena kami tidak dapat bebas lagi bercinta.

Sejak kedatangannya, kami hanya melakukannya sekali ketika dia sedang pergi ke warung, itu pun kami lakukan dengan terburu-buru. Suatu minggu pagi, Mbak Dwi dan suaminya terlihat pergi berbonceng motor, dan ibunya sendirian di rumah. Karena kulihat koran minggu tergeletak di meja ruang tamunya, dengan terlebih dulu minta ijin aku masuk ruang tamunya untuk ikut membaca di ruang tamunya. Tidak berapa lama, ibunya keluar membawa secangkir kopi dan singkong rebus.

"Nak Ton, ini Ibu bikin singkong rebus, dicobain..!" sambil meletakan cangkir dia duduk di depanku.
"Terima kasih Bu..,"
"Anak muda koq hari minggu tidak ngelencer kemana-mana..?"
"Ah enggak Bu, badan saya lagi kurang sehat, mungkin masuk angin, saya mau istirahat saja di rumah." jawabku.
"Mau Ibu kerokin supaya agak ringan..?" dia menawarkan jasanya.
"Terima kasih Bu, saya nggak biasa kerokan."
"Kalau gitu diurut saja, masuk angin nggak boleh didiamkan. Nanti setelah diurut, Ibu bikinkan minuman jahe." nadanya memerintah.
Karena tidak enak menolaknya, aku pun mengikuti dia masuk ke dalam rumah.

"Situ di kamar saja nak Ton, dan kaosnya dicopot, Ibu mau menyiapkan minyaknya dulu..!"
Aku masuk ke kamar yang ditunjuknya, melepas T-shirtku, dan dengan hanya mengenakan celana training, aku telungkup di kasur.
"Celananya diganti sarung saja nak Ton, supaya mudah ngurut kakinya..!" dia masuk kamar sambil membawa mangkuk berisi minyak sambil menyerahkan sarung dari lemari.
Kuganti trainingku dengan sarung dengan extra hati-hati, karena kebiasaanku kalau di rumah memakai training, aku tidak pernah memakai celana dalam.

Dia mulai mengurut kakiku, pijatannya sangat keras, sehingga kadang aku harus meringis karena menahan kesakitan. Dalam mengurut bagian ini, kakiku ditumpangkan di atas pahanya, sehingga gesekan kaki dengan pahanya yang tertutup oleh daster menimbulkan kenyamanan tersendiri. Bahkan ujung jari kakiku menyentuh perutnya, aku tidak bereaksi, karena dianggap kurang ajar.

Bersambung . . . . .


Asmara dalam selimut duka – 2

Awek Pantat Panas CantikEka bangkit dari tempat duduknya mendekat ke tempat Antok duduk. Tapi Antok sudah terburu menghamburkan tubuhnya ke tempat tidur dan membenamkan mukanya diatas bantal. Eka menyusulnya dan memeluk pundaknya.
"Sudah Tok, lepaskan kepergian adikku! Biarkan dia tenang! Sahabat sejati tak akan menambah penderitaan sahabatnya yang pergi, bukan?", suara lirih Eka diatas telinga Antok yang masih menelungkupkan mukanya. Nasihat Eka menyadarkan Antok dari keterpurukan suasana kalut hatinya.

Sedikit demi sedikit beban kesedihan Antok mulai berkurang. Seiring dengan itu ia mulai membalikkan badannya pelan. Kepalanya menengadah ke arah plafon dengan muka masih berurai sisa-sisa air matanya. Sentuhan tangan Eka yang lembut mengusapnya. Keduanya sangat dekat hingga satu sama lain dapat merasakan nafas masing-masing. Membangkitkan kembali kesadaran emosi dan nafsu Antok.



Antok bingung dengan apa yang sedang dialaminya hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata maupun berbuat sesuatu. Yang dapat dilakukannya adalah memeluk bahu Eka yang saat ini tengah menidurkan kepalanya diatas dada Antok. Eka merasakan pelukan tangan Antok pada bahunya dengan hati tersenyum. Degup jantung yang didengar Eka dari dada Antok bagaikan irama "nina-bobo" yang mengantarkannya kembali tidur. Terbuai dengan kehangatan tubuh Eka yang sedang memeluknya, Antok pun ikut tertidur.

Sinar matahari pagi membangunkan Eka dari tidurnya. Bangkit pelan ia memberanikan diri mendekatkan mukanya pada muka Antok yang masih tertidur pulas. Ditatapnya wajah sahabat adiknya itu. Dalam hati Eka menanyai dirinya sendiri, dia heran mengapa dia bisa merasa sangat dekat dengan Eko. Padahal sebelumnya ia sangat jarang bertemu dengannya dan telah lama tak bertemu dengannya. Pertemuan-pertemuan sebelumnya pun terjadi tanpa sengaja dan sangat sebentar. Memang Edo pernah menceritakan perihal Antok tapi itupun tidak detil dan banyak yang sudah ia lupakan. Yang ia tahu pasti adalah Antok merupakan sahabat Edo dalam masa lebih dari 10 tahun. Dan keluarganya sudah menganggap Antok seperti anggota keluarganya begitu pula keluarga Antok juga sudah menganggap Edo sebagai keluarganya.

Kebiasaan rutin Eka setelah bangun adalah segera mandi untuk menyegarkan badan. Tapi kali ini ia merasa berat untuk melakukannya. Ia masih terbelenggu oleh perasaannya dan belum beranjak dari tempatnya. Tak kuasa menahan kehendak hatinya, dengan pelan ia mengusapkan bagian belakang jari-jari tangannya pada wajah Antok yang imut dan lugu selagi pulas. Usapannya pelan dan lembut penuh perasaan. Kembali hatinya menanyakan perasaannya pada Antok. Hatinya tak mau diajak kompromi untuk menganggap Antok hanya sebagai adiknya sepeninggal Edo. Perasaannya menginginkan lebih dari itu.

Semakin keras usaha Eka untuk melawan perasaannya semakin gundah pula hatinya. Tapi berkat pengalamannya berhubungan dengan lawan jenisnya, akhirnya Eka dapat menepis semua itu dengan rasionilnya. Rasio sadarnya menyatakan bahwa perasaannya pada Antok muncul hanya karena situasi dan kondisi serta pengaruh gairah nafsunya yang sedang memuncak. Ciuman bibir basahnya ia layangkan pada kening Antok untuk tanda ucapan perpisahan bagi perasaannya pada Antok. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi, khawatir ciumannya akan membangunkan Antok.

Dalam guyuran air shower, rasio pikiran Eka ikut jatuh terguyur. Perasaan yang telah ditepisnya kembali menghinggapi hati Eka.
"Kenapa aku sangat tertarik pada Antok? Apakah ini bukan sekedar ajakan nafsu? Apakah hal ini benar-benar kata hatiku? Apakah aku harus mengikuti kata hatiku? Ataukah harus kuhalau semua perasaan itu? Tapi bagaimana caranya? Bagaimana dengan Antok? Bagaimana sikapnya kalau dia mengetahui perasaanku padanya?", itulah sebagian pertanyaan yang muncul dibenak Eka ketika ia mandi.

Ketukan pintu kamar dan suara perbincangan antara Eka dengan pegawai room service hotelmembangunkan Antok dari tidurnya. Antok agak bingung merasa seakan-akan ingatannya hilang sebagian. Lalu dilihatnya Eka dengan troli makanan. Sedikit demi sedikit ingatannya pulih dan akhirnya ia ingat akan semua kejadian kemarin hingga saat ini.

"Tok, kamu kupesankan nasi goreng untuk sarapan", ujar Eka sambil buru-buru mengenakan celana jeansnya sementara masih mengenakan piyamanya.
Lalu Eka memutar badannya dan mengganti piyamanya dengan kaos putih berkerah. Celana dalam dan BH warna hitam yang dikenakannya sempat terlihat oleh Antok tanpa sengaja. Pemandangan Eka berganti pakaian itu membuat ereksi pagi yang sedang dialami Antok semakin kuat. Segera saja ia turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi karena tak ingin malu pada kakak sahabatnya itu.

Di kamar mandi ia hanya buang air kecil, membasuh muka dan menyempatkan gosok gigi dengan sikat gigi dalam plastik dari fasilitas kamar hotel.
"Mbak, sikat gigi hotelnya kupakai", kata Antok pada Eka yang lagi minum kopi panasnya dengan hati-hati.
"Nggak apa-apa, aku juga nggak akan memakainya", jawab Eka.
"Cepat minum kopimu sebelum keburu dingin, eh kamu suka kopi atau nggak?", lanjutnya.
"Suka malah sudah jadi kebutuhan, Mbak kok repot-repot sih!", balas Antok sedikit berbasa-basi.
"Hitung-hitung punya bodyguard yang dibayar pakai sarapan", canda Eka sambil tersenyum manis pada Antok.
Antok pun membalasnya dengan senyuman dan segera menghabiskan sarapan yang telah dipesankan Eka.

"Omong-omong, mandimu cepat sekali, Tok!", komentar Eka seusai sarapan.
"Memang nggak Mbak", jawab Antok santai.
"Apa? Kamu nggak mandi.. Uhh.. jorok kamu!", komentar Eka yang sempat keheranan.
"Sudah dari dulu Mbak", kata Antok polos tanpa rasa bersalah.
"Pantas aja kamu belum dapat pacar!", olok Eka.
"Ah, Mbak bisa aja! Saya memang belum usaha cari kok Mbak!", tangkis Antok.
"Hmm.. rupanya kamu pinter ngomong juga ya, kukira kamu pendiam", kata Eka.
"Soalnya kuperhatikan sejak kemarin, kamu banyak diam", imbuh Eka.
"Bukannya gitu Mbak, tapi kenyataannya memang seperti itu", jawab Antok.
"Terus kalau sudah usaha, apa kamu yakin dan pasti bisa dapat pacar?", kejar Eka.
"Belum, namanya juga usaha, Mbak", jawab Antok tanpa beban.

Eka kemudian berdiri ke depan cermin dan menyisir rambutnya serta melanjutkannya dengan sedikit merias wajahnya.
Sambil memperhatikan Eka, Antok berceloteh, "Mbak meskipun aku belum berusaha cari pacar tapi sudah ada kok cewek yang memperhatikan aku".
Eka hanya melirikkan matanya ke arah Antok sambil tersenyum penuh arti. Senyuman bibir mungil Eka diantara kedua lesung pipitnya membuat Antok terpana sesaat dan salah tingkah.

"Eh, Mbak.. mm.. saya bisa bertanya sedikit soal Edo?", kata Antok mengalihkan pembicaraan setelah ia teringat perihal yang lebih serius.
"Soal apa Tok?", tanya Eka sambil kembali ke tempat duduknya.
"Ini soal hutang piutang Edo dengan saya, apa bisa kuutarakan pada bapak dan ibunya Mbak Eka?", tanya Antok kemudian.
"Sebaiknya jangan diutarakan hari ini, tunggulah 2-3 hari lagi, biar bapak dan ibu agak tenang dulu", jawab Eka.
Antok hanya mengangguk mendengar penjelasan Eka.

"Begini saja, kalau kamu memang sedang butuh kira-kira berapa hutang Edo biar kutanggung dulu", kata Eka agak tegang.
"Mbak, kalau Edo yang berhutang pada saya, sudah kurelakan sejak kemarin, tapi ini kebalikannya Mbak", kata Antok.
"Maksudmu?", tanya Eka kebingungan.
"Saya yang masih punya tanggungan pada Edo makanya saya merasa punya beban hutang", jelas Antok.
"Kalau begitu sewaktu-waktu kamu bisa mengembalikannya baru kamu ngomong ke bapak dan ibu", kata Eka kembali tenang.
"Mbak, ini bentuknya bukan uang tunai", kata Antok.

Melihat Eka yang jadi bingung oleh penjelasannya, Antok menceritakan dengan lebih rinci lagi soal investasi Edo yang dipercayakan padanya. Dari penjelasan Antok akhirnya Eka mengetahui bahwa Edo memutarkan sebagian tabungannya di pasar saham bersama Antok. Dan sewaktu Edo meninggal sebagian besar investasi Edo masih berbentuk saham yang belum diuangkan didalam account Antok. Dan saat ini Antok sedang tidak tahu apakah investasi Edo tersebut ingin dicairkan atau terus diputar karena si empunya sudah tiada. Tapi akhirnya Eka dapat membantu memberinya saran solusi mengenai hal itu.

"Sudah lama kamu bermain saham Tok?", tanya Eka.
"Hampir 2 tahunan Mbak, tapi Edo baru ikut setelah kerjanya pindah kesini, ya kira-kira 8 bulanan kalau Edo", jelas Antok.
"Makanya semalam kamu tahu soal saham, sungguh nggak mengira aku", kata Eka.
"Semalam itu sebenarnya saya penasaran dengan perkataan temannya Mbak dan ingin memancing keluarnya informasi baru mengenai saham perusahaan Mbak bekerja kalau memang ada, eh tahunya malah dapat caci-maki", jawab Antok.
"Tentu saja Tok, kamu cari informasi dengan orang yang lagi cemburu padamu", komentar Eka.

Antok terbengong mendengar komentar Eka, lalu beranjak dari kursinya untuk menghindar dari subyek yang dikomentari Eka.
"Mbak, aku pamit pulang dulu ya!", ujar Antok.
"Eh, tunggu! Tolong anterin aku ke rumah lagi ya", kata Eka.
"Iya Mbak, saya kan sudah dibayar sarapan, jadi ya tidak bisa nolak", canda Antok sambil menuju ke arah pintu kamar.
Eka senang mendengar Antok dapat bergurau dan melupakan kesedihannya tapi juga agak gemas terhadap kata-kata yang dilontarkan Antok karena seperti tak pernah serius.

Setelah menyalakan mesin mobil Antok tak segera melajukan kendaraannya. Ia menyempatkan mengambil hand phone nya dari laci dashboard didepan Eka. Tanpa sengaja tangannya bergeser dengan paha Eka.
"Oh, maaf Mbak!", kata Antok.
"Memangnya kenapa?", tanya Eka sengaja bergurau.
"Nggak, eh nggak apa-apa!", jawab Antok dengan muka agak merah dan segera menyibukkan diri dengan HP nya menunggu mesin mobilnya panas.
Eka pun hanya tersenyum melihat Antok salah tingkah.

Dalam perjalanan mereka berdua banyak berbincang tentang keadaan kota Surabaya. Mereka berdua juga saling menukar nomer HP masing-masing. Sesampai dirumah orang tua Eka, Antok langsung melajukan mobilnya kembali tanpa mampir.

Di rumahnya yang sedang ramai dikunjungi oleh sanak famili keluarganya, Eka kembali disibukkan oleh kesibukan-kesibukan yang berhubungan dengan meninggalnya seseorang. Di sela-sela kesibukannya ia sempat menanyakan perihal Antok pada adik-adiknya. Rupanya tak hanya Edo yang mengenal Antok tapi adik-adiknya yang lain juga karena ia memperoleh informasi lebih banyak yang ia perkirakan.

3 Hari Kemudian

Antok sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tua Edo, ketika Eka datang bersama Edi adiknya, dengan membawa bungkusan makanan.
"Tok, kamu kok tahu kalau ada makanan enak", ujar Eka.
"Ayo Mas kita santap bersama makanan ini", imbuh Edi.
Belum sempat Antok berkomentar, Edwin si bungsu keluar dari kamarnya sambil berteriak, "Kok lama sih kak, sudah lapar nih!".
"Ah kamu bisanya ngomel melulu, antrinya nih bikin kaki capek", hardik Eka tak dihiraukan Edwin karena sudah berlari menyusul Edi ke ruang makan.
Tak mau ketinggalan Antok pun langsung menyusul Edi dan Edwin meninggalkan sopan santunnya pada kedua orang tua sahabatnya. Ayah dan ibunya Edo menyambut hal itu dengan bahagia karena kesedihan keluarga sepeninggal Edo berangsur-angsur surut.

Sewaktu Eka melangkahkan kaki ke ruang makan, Ayahnya memanggilnya.
"Ini Ka, tadi Antok menyerahkan ini tapi ayah masih belum mengerti meski Antok sudah menerangkannya tadi", kata ayahnya sambil menunjukkan cek dan beberapa lembar catatan.
"Iya Ka, darimana sih kok Edo bisa dapat banyak uang?", lanjut ibunya.
Eka pun menerangkan dengan bahasanya hingga kedua orang tuanya mengerti.
Setelah agak mengerti, ibunya berkomentar, "Edo tak pernah cerita soal ini pada siapapun, beruntung ia punya sahabat seperti Antok". Komentar itu diiyakan oleh ayahnya dan wajah Eka yang berbinar haru.

Ramainya ruang makan terdengar hingga ruang tengah dan mengingatkan Eka pada makanan yang dibelinya. Bergegas ia pun bergabung dengan 3 pemuda yang sedang melahap makan malam sambil bersenda gurau.
"Awas kalian kalau sampai aku nggak kebagian", ancam Eka.
Antok, Edi dan Edwin saling menyalahkan dan mengolok yang makannya banyak.

Ketiga pemuda itu telah menyelesaikan makannya ketika Eka mengambil lauk pauk yang ada di meja.
"Sudah Kak, meski ada Mas Antok nggak usah malu-malu, ambil aja yang banyak seperti biasanya", goda adiknya Edwin.
"Iya, kemarin bisa menghabiskan 3 potong, masa sekarang cuman satu", timpal Edi.
"Makanya kakakmu belum dapat jodoh, rupanya calon-calonnya takut nggak bisa memberi jatah", tambah Antok yang langsung disambut tawa oleh Edi dan Edwin.

Eka berusaha menahan emosinya dengan wajah bersungut dan diam seribu bahasa.
"Ngambek nih ye!", goda Edi.
"Marah, ya?", imbuh Edwin.
"Eh, kalian kesini sebentar!", ajak Antok pada Edi dan Edwin agar duduk mendekat disampingnya.
"Coba lihat, wajah kakakmu, kalau lagi ngambek gitu tambah cakep ya, tapi kenapa jodohnya pada lari ya!", kata Antok sambil tertawa diikuti Edi dan Edwin.

Mendengar kata-kata Antok, Eka pun tak kuasa menahan amarahnya. Ia langsung berdiri memegang piring kosong yang ada disampingnya. Ketiga pemuda yang ada didepannya segera saja lari ketakutan dan berhamburan dari ruang makan. Dan Eka pun kembali duduk untuk melanjutkan makannya karena memang dia hanya berniat menggertak saja.

Bersambung . . . .


Asmara dalam selimut duka – 2

Awek Pantat Panas CantikEka bangkit dari tempat duduknya mendekat ke tempat Antok duduk. Tapi Antok sudah terburu menghamburkan tubuhnya ke tempat tidur dan membenamkan mukanya diatas bantal. Eka menyusulnya dan memeluk pundaknya.
"Sudah Tok, lepaskan kepergian adikku! Biarkan dia tenang! Sahabat sejati tak akan menambah penderitaan sahabatnya yang pergi, bukan?", suara lirih Eka diatas telinga Antok yang masih menelungkupkan mukanya. Nasihat Eka menyadarkan Antok dari keterpurukan suasana kalut hatinya.

Sedikit demi sedikit beban kesedihan Antok mulai berkurang. Seiring dengan itu ia mulai membalikkan badannya pelan. Kepalanya menengadah ke arah plafon dengan muka masih berurai sisa-sisa air matanya. Sentuhan tangan Eka yang lembut mengusapnya. Keduanya sangat dekat hingga satu sama lain dapat merasakan nafas masing-masing. Membangkitkan kembali kesadaran emosi dan nafsu Antok.



Antok bingung dengan apa yang sedang dialaminya hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata maupun berbuat sesuatu. Yang dapat dilakukannya adalah memeluk bahu Eka yang saat ini tengah menidurkan kepalanya diatas dada Antok. Eka merasakan pelukan tangan Antok pada bahunya dengan hati tersenyum. Degup jantung yang didengar Eka dari dada Antok bagaikan irama "nina-bobo" yang mengantarkannya kembali tidur. Terbuai dengan kehangatan tubuh Eka yang sedang memeluknya, Antok pun ikut tertidur.

Sinar matahari pagi membangunkan Eka dari tidurnya. Bangkit pelan ia memberanikan diri mendekatkan mukanya pada muka Antok yang masih tertidur pulas. Ditatapnya wajah sahabat adiknya itu. Dalam hati Eka menanyai dirinya sendiri, dia heran mengapa dia bisa merasa sangat dekat dengan Eko. Padahal sebelumnya ia sangat jarang bertemu dengannya dan telah lama tak bertemu dengannya. Pertemuan-pertemuan sebelumnya pun terjadi tanpa sengaja dan sangat sebentar. Memang Edo pernah menceritakan perihal Antok tapi itupun tidak detil dan banyak yang sudah ia lupakan. Yang ia tahu pasti adalah Antok merupakan sahabat Edo dalam masa lebih dari 10 tahun. Dan keluarganya sudah menganggap Antok seperti anggota keluarganya begitu pula keluarga Antok juga sudah menganggap Edo sebagai keluarganya.

Kebiasaan rutin Eka setelah bangun adalah segera mandi untuk menyegarkan badan. Tapi kali ini ia merasa berat untuk melakukannya. Ia masih terbelenggu oleh perasaannya dan belum beranjak dari tempatnya. Tak kuasa menahan kehendak hatinya, dengan pelan ia mengusapkan bagian belakang jari-jari tangannya pada wajah Antok yang imut dan lugu selagi pulas. Usapannya pelan dan lembut penuh perasaan. Kembali hatinya menanyakan perasaannya pada Antok. Hatinya tak mau diajak kompromi untuk menganggap Antok hanya sebagai adiknya sepeninggal Edo. Perasaannya menginginkan lebih dari itu.

Semakin keras usaha Eka untuk melawan perasaannya semakin gundah pula hatinya. Tapi berkat pengalamannya berhubungan dengan lawan jenisnya, akhirnya Eka dapat menepis semua itu dengan rasionilnya. Rasio sadarnya menyatakan bahwa perasaannya pada Antok muncul hanya karena situasi dan kondisi serta pengaruh gairah nafsunya yang sedang memuncak. Ciuman bibir basahnya ia layangkan pada kening Antok untuk tanda ucapan perpisahan bagi perasaannya pada Antok. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi, khawatir ciumannya akan membangunkan Antok.

Dalam guyuran air shower, rasio pikiran Eka ikut jatuh terguyur. Perasaan yang telah ditepisnya kembali menghinggapi hati Eka.
"Kenapa aku sangat tertarik pada Antok? Apakah ini bukan sekedar ajakan nafsu? Apakah hal ini benar-benar kata hatiku? Apakah aku harus mengikuti kata hatiku? Ataukah harus kuhalau semua perasaan itu? Tapi bagaimana caranya? Bagaimana dengan Antok? Bagaimana sikapnya kalau dia mengetahui perasaanku padanya?", itulah sebagian pertanyaan yang muncul dibenak Eka ketika ia mandi.

Ketukan pintu kamar dan suara perbincangan antara Eka dengan pegawai room service hotelmembangunkan Antok dari tidurnya. Antok agak bingung merasa seakan-akan ingatannya hilang sebagian. Lalu dilihatnya Eka dengan troli makanan. Sedikit demi sedikit ingatannya pulih dan akhirnya ia ingat akan semua kejadian kemarin hingga saat ini.

"Tok, kamu kupesankan nasi goreng untuk sarapan", ujar Eka sambil buru-buru mengenakan celana jeansnya sementara masih mengenakan piyamanya.
Lalu Eka memutar badannya dan mengganti piyamanya dengan kaos putih berkerah. Celana dalam dan BH warna hitam yang dikenakannya sempat terlihat oleh Antok tanpa sengaja. Pemandangan Eka berganti pakaian itu membuat ereksi pagi yang sedang dialami Antok semakin kuat. Segera saja ia turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi karena tak ingin malu pada kakak sahabatnya itu.

Di kamar mandi ia hanya buang air kecil, membasuh muka dan menyempatkan gosok gigi dengan sikat gigi dalam plastik dari fasilitas kamar hotel.
"Mbak, sikat gigi hotelnya kupakai", kata Antok pada Eka yang lagi minum kopi panasnya dengan hati-hati.
"Nggak apa-apa, aku juga nggak akan memakainya", jawab Eka.
"Cepat minum kopimu sebelum keburu dingin, eh kamu suka kopi atau nggak?", lanjutnya.
"Suka malah sudah jadi kebutuhan, Mbak kok repot-repot sih!", balas Antok sedikit berbasa-basi.
"Hitung-hitung punya bodyguard yang dibayar pakai sarapan", canda Eka sambil tersenyum manis pada Antok.
Antok pun membalasnya dengan senyuman dan segera menghabiskan sarapan yang telah dipesankan Eka.

"Omong-omong, mandimu cepat sekali, Tok!", komentar Eka seusai sarapan.
"Memang nggak Mbak", jawab Antok santai.
"Apa? Kamu nggak mandi.. Uhh.. jorok kamu!", komentar Eka yang sempat keheranan.
"Sudah dari dulu Mbak", kata Antok polos tanpa rasa bersalah.
"Pantas aja kamu belum dapat pacar!", olok Eka.
"Ah, Mbak bisa aja! Saya memang belum usaha cari kok Mbak!", tangkis Antok.
"Hmm.. rupanya kamu pinter ngomong juga ya, kukira kamu pendiam", kata Eka.
"Soalnya kuperhatikan sejak kemarin, kamu banyak diam", imbuh Eka.
"Bukannya gitu Mbak, tapi kenyataannya memang seperti itu", jawab Antok.
"Terus kalau sudah usaha, apa kamu yakin dan pasti bisa dapat pacar?", kejar Eka.
"Belum, namanya juga usaha, Mbak", jawab Antok tanpa beban.

Eka kemudian berdiri ke depan cermin dan menyisir rambutnya serta melanjutkannya dengan sedikit merias wajahnya.
Sambil memperhatikan Eka, Antok berceloteh, "Mbak meskipun aku belum berusaha cari pacar tapi sudah ada kok cewek yang memperhatikan aku".
Eka hanya melirikkan matanya ke arah Antok sambil tersenyum penuh arti. Senyuman bibir mungil Eka diantara kedua lesung pipitnya membuat Antok terpana sesaat dan salah tingkah.

"Eh, Mbak.. mm.. saya bisa bertanya sedikit soal Edo?", kata Antok mengalihkan pembicaraan setelah ia teringat perihal yang lebih serius.
"Soal apa Tok?", tanya Eka sambil kembali ke tempat duduknya.
"Ini soal hutang piutang Edo dengan saya, apa bisa kuutarakan pada bapak dan ibunya Mbak Eka?", tanya Antok kemudian.
"Sebaiknya jangan diutarakan hari ini, tunggulah 2-3 hari lagi, biar bapak dan ibu agak tenang dulu", jawab Eka.
Antok hanya mengangguk mendengar penjelasan Eka.

"Begini saja, kalau kamu memang sedang butuh kira-kira berapa hutang Edo biar kutanggung dulu", kata Eka agak tegang.
"Mbak, kalau Edo yang berhutang pada saya, sudah kurelakan sejak kemarin, tapi ini kebalikannya Mbak", kata Antok.
"Maksudmu?", tanya Eka kebingungan.
"Saya yang masih punya tanggungan pada Edo makanya saya merasa punya beban hutang", jelas Antok.
"Kalau begitu sewaktu-waktu kamu bisa mengembalikannya baru kamu ngomong ke bapak dan ibu", kata Eka kembali tenang.
"Mbak, ini bentuknya bukan uang tunai", kata Antok.

Melihat Eka yang jadi bingung oleh penjelasannya, Antok menceritakan dengan lebih rinci lagi soal investasi Edo yang dipercayakan padanya. Dari penjelasan Antok akhirnya Eka mengetahui bahwa Edo memutarkan sebagian tabungannya di pasar saham bersama Antok. Dan sewaktu Edo meninggal sebagian besar investasi Edo masih berbentuk saham yang belum diuangkan didalam account Antok. Dan saat ini Antok sedang tidak tahu apakah investasi Edo tersebut ingin dicairkan atau terus diputar karena si empunya sudah tiada. Tapi akhirnya Eka dapat membantu memberinya saran solusi mengenai hal itu.

"Sudah lama kamu bermain saham Tok?", tanya Eka.
"Hampir 2 tahunan Mbak, tapi Edo baru ikut setelah kerjanya pindah kesini, ya kira-kira 8 bulanan kalau Edo", jelas Antok.
"Makanya semalam kamu tahu soal saham, sungguh nggak mengira aku", kata Eka.
"Semalam itu sebenarnya saya penasaran dengan perkataan temannya Mbak dan ingin memancing keluarnya informasi baru mengenai saham perusahaan Mbak bekerja kalau memang ada, eh tahunya malah dapat caci-maki", jawab Antok.
"Tentu saja Tok, kamu cari informasi dengan orang yang lagi cemburu padamu", komentar Eka.

Antok terbengong mendengar komentar Eka, lalu beranjak dari kursinya untuk menghindar dari subyek yang dikomentari Eka.
"Mbak, aku pamit pulang dulu ya!", ujar Antok.
"Eh, tunggu! Tolong anterin aku ke rumah lagi ya", kata Eka.
"Iya Mbak, saya kan sudah dibayar sarapan, jadi ya tidak bisa nolak", canda Antok sambil menuju ke arah pintu kamar.
Eka senang mendengar Antok dapat bergurau dan melupakan kesedihannya tapi juga agak gemas terhadap kata-kata yang dilontarkan Antok karena seperti tak pernah serius.

Setelah menyalakan mesin mobil Antok tak segera melajukan kendaraannya. Ia menyempatkan mengambil hand phone nya dari laci dashboard didepan Eka. Tanpa sengaja tangannya bergeser dengan paha Eka.
"Oh, maaf Mbak!", kata Antok.
"Memangnya kenapa?", tanya Eka sengaja bergurau.
"Nggak, eh nggak apa-apa!", jawab Antok dengan muka agak merah dan segera menyibukkan diri dengan HP nya menunggu mesin mobilnya panas.
Eka pun hanya tersenyum melihat Antok salah tingkah.

Dalam perjalanan mereka berdua banyak berbincang tentang keadaan kota Surabaya. Mereka berdua juga saling menukar nomer HP masing-masing. Sesampai dirumah orang tua Eka, Antok langsung melajukan mobilnya kembali tanpa mampir.

Di rumahnya yang sedang ramai dikunjungi oleh sanak famili keluarganya, Eka kembali disibukkan oleh kesibukan-kesibukan yang berhubungan dengan meninggalnya seseorang. Di sela-sela kesibukannya ia sempat menanyakan perihal Antok pada adik-adiknya. Rupanya tak hanya Edo yang mengenal Antok tapi adik-adiknya yang lain juga karena ia memperoleh informasi lebih banyak yang ia perkirakan.

3 Hari Kemudian

Antok sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tua Edo, ketika Eka datang bersama Edi adiknya, dengan membawa bungkusan makanan.
"Tok, kamu kok tahu kalau ada makanan enak", ujar Eka.
"Ayo Mas kita santap bersama makanan ini", imbuh Edi.
Belum sempat Antok berkomentar, Edwin si bungsu keluar dari kamarnya sambil berteriak, "Kok lama sih kak, sudah lapar nih!".
"Ah kamu bisanya ngomel melulu, antrinya nih bikin kaki capek", hardik Eka tak dihiraukan Edwin karena sudah berlari menyusul Edi ke ruang makan.
Tak mau ketinggalan Antok pun langsung menyusul Edi dan Edwin meninggalkan sopan santunnya pada kedua orang tua sahabatnya. Ayah dan ibunya Edo menyambut hal itu dengan bahagia karena kesedihan keluarga sepeninggal Edo berangsur-angsur surut.

Sewaktu Eka melangkahkan kaki ke ruang makan, Ayahnya memanggilnya.
"Ini Ka, tadi Antok menyerahkan ini tapi ayah masih belum mengerti meski Antok sudah menerangkannya tadi", kata ayahnya sambil menunjukkan cek dan beberapa lembar catatan.
"Iya Ka, darimana sih kok Edo bisa dapat banyak uang?", lanjut ibunya.
Eka pun menerangkan dengan bahasanya hingga kedua orang tuanya mengerti.
Setelah agak mengerti, ibunya berkomentar, "Edo tak pernah cerita soal ini pada siapapun, beruntung ia punya sahabat seperti Antok". Komentar itu diiyakan oleh ayahnya dan wajah Eka yang berbinar haru.

Ramainya ruang makan terdengar hingga ruang tengah dan mengingatkan Eka pada makanan yang dibelinya. Bergegas ia pun bergabung dengan 3 pemuda yang sedang melahap makan malam sambil bersenda gurau.
"Awas kalian kalau sampai aku nggak kebagian", ancam Eka.
Antok, Edi dan Edwin saling menyalahkan dan mengolok yang makannya banyak.

Ketiga pemuda itu telah menyelesaikan makannya ketika Eka mengambil lauk pauk yang ada di meja.
"Sudah Kak, meski ada Mas Antok nggak usah malu-malu, ambil aja yang banyak seperti biasanya", goda adiknya Edwin.
"Iya, kemarin bisa menghabiskan 3 potong, masa sekarang cuman satu", timpal Edi.
"Makanya kakakmu belum dapat jodoh, rupanya calon-calonnya takut nggak bisa memberi jatah", tambah Antok yang langsung disambut tawa oleh Edi dan Edwin.

Eka berusaha menahan emosinya dengan wajah bersungut dan diam seribu bahasa.
"Ngambek nih ye!", goda Edi.
"Marah, ya?", imbuh Edwin.
"Eh, kalian kesini sebentar!", ajak Antok pada Edi dan Edwin agar duduk mendekat disampingnya.
"Coba lihat, wajah kakakmu, kalau lagi ngambek gitu tambah cakep ya, tapi kenapa jodohnya pada lari ya!", kata Antok sambil tertawa diikuti Edi dan Edwin.

Mendengar kata-kata Antok, Eka pun tak kuasa menahan amarahnya. Ia langsung berdiri memegang piring kosong yang ada disampingnya. Ketiga pemuda yang ada didepannya segera saja lari ketakutan dan berhamburan dari ruang makan. Dan Eka pun kembali duduk untuk melanjutkan makannya karena memang dia hanya berniat menggertak saja.

Bersambung . . . .