Category Archives: cerita cerita 17

The power of love – 1

Awek Pantat Panas CantikNiki adalah cewek paling ngetop di kantorku. Cantik, supel, berduit, dan luas gaul. Terbukti beberapa temanku tertarik dan mencoba mendekatinya, selain dua lainnya yang kutahu pasti diam-diam sudah sering jalan sama dia. Yang satu si Aji seniorku, modalnya kuat (kapal pesiarnya saja ada dua). Satunya lagi Fendi adik kelasku semasa kuliah, ganteng, aktif gaul, dan populer di kalangan cewek. Keduanya kukenal baik.

Aku sendiri cukup bergaul walau tidak tertarik berurusan sama cewek kantor sendiri. Di kantor aku lebih dikenal sebagai orang yang 'serius' dan 'banyak urusan melulu'. Biar begitu, setiap ada waktu aku selalu menyempatkan diri nimbrung sejenak dengan mereka, cewek-cewek kantor. Aku sebenarnya tertarik juga sama Niki, tapi karena 'pertarungan'-nya demikian seru jadi rada malas untuk ikutan. Sampai satu saat, datang peristiwa yang mengawali kedekatanku dengannya.



Mulainya: April 1993 ..

Hujan deras sore itu membuat yang pulang kerja mengumpul di sekitar lobby menunggu ojek payung.
Niki datang terengah-engah dengan berkerudung koran, "Aduuh, tolong dong, mobilku mogok di depan situ."
Aku tidak terlalu mengerti soal mobil, tapi karena berdiri paling dekat, aku duluan merespon.

"Dimana mobilnya Ki..?" tanyaku.
Niki menunjuk ke arah jalan keluar sambil menyerahkan kunci. Kuseret si Joni bule yang ngerti mobil untuk menemani, dan kuserobot ojek payung yang mendekat. Bergegas kami menghampiri mobil itu. Joni langsung membuka kap mesin, aku bisanya hanya megangi payung. Dalam beberapa menit mobil langsung hidup, sementara itu Niki menyusul dengan payung lain.

Kami naik mobil sama-sama. Niki batal kuliah karena telat, lalu mengajak kami makan. Joni menolak karena ada kencan lain, ia diturunkan di kantor, lalu kami jalan. Singkat cerita, setelah kesana kemari bingung cari makan, akhirnya kami hanya nonton di KC, dengan makan malam kentang goreng dan lemper. Selama nonton Niki menyandar ke bahuku, telapaknya yang kedinginan digosokkan ke lenganku. Kami pulang tanpa terjadi apa-apa kecuali satu hal, kami semakin akrab.

Sebelum melanjutkan, aku cerita sedikit soal pribadi. Beberapa tahun lalu pernah kejadian cewekku selingkuh, sialnya aku sendiri yang mergoki. Kami putus, tapi sesudahnya 'barang'-ku sulit sekali berfungsi, padahal hasrat seksualku cukup tinggi. Saat nonton dengan Niki, entah kenapa batangku tiba-tiba bangun mengeras, persis layaknya saat aku normal.

Sesudahnya kami sering jalan sama-sama. Pulang kantor kalau Niki tidak kuliah, kami jalan pakai mobilnya, biasanya makan malam sambil ngobrol bertukar pengalaman masing-masing. Pernah kusinggung tentang hubungannya dengan Aji dan Fendi. Niki hanya ketawa, tapi secara tidak langsung ia cerita soal hubungan dengan keduanya, dan alasan kenapa ia tertarik. Hanya, di antara kami bertiga katanya aku yang paling nyaman diajak jalan, karena yang lain tidak mau terbuka, maunya 'ngumpet-ngumpet'.

Dua bulan berlalu hanya diisi dengan makan, ngobrol, nonton pameran dan hal-hal yang sejenis, tapi kami sudah sangat dekat. Di hari ulang tahunnya, Niki kuhadiahi souvenir dan ciuman di pipi. Lalu satu ketika aku pulang dari tugas ke Bali, ia kubawakan oleh-oleh baju. Spontan ia menciumku di bibir yang membuatku terperangah, terlambat bereaksi. Niki meninggalkanku terbengong-bengong.

Hangatnya: Juli 1993 ..

Malamnya (atau beberapa hari sesudahnya, aku agak lupa) ia mengajakku ke Ancol. Sambil makan bihun goreng ia memintaku cerita tentang pacar-pacarku yang disimaknya dengan antusias. Tentu saja aku cerita yang perlu-perlu saja. Sesudahnya obrolan dilanjutkan di mobil.

Niki duduk di jok driver, aku di sebelahnya. Ia menghidupkan mesin, menyalakan AC dan musik. Lalu sambil berdendang mengikuti lagu (kuingat, lagunya The Beauty and The Beast) ia merebahkan sandaran jok, aku juga. Mengikuti suasana hati, kami berduet sambil tangan saling menggenggam. Lalu terbawa suasana rileks dan syahdu, tangannya yang dalam genggamanku secara naluriah kubawa ke bibir, kucium lembut. Tiba-tiba bibir kami mendekat, kami berciuman.

Seperti air mendidih di panci tertutup, begitu dibuka uapnya menyembur ke mana-mana, begitulah kami. Begitu bibir menempel kami bengong, diam sekian detik, lalu meluap! Ganas lidahnya yang menjelajahi rongga mulutku tidak kubiarkan, lidahku menjulur membelit lidahnya. Sementara bibir menempel ketat, tanganku tidak lagi menggenggam, tapi sudah menjelajah ke pinggang, punggung dan perutnya, lalu dilanjutkan dengan membuka kancing kemejanya.

Niki akhirnya menyeberang ke jok tempatku, merapatkan pelukan untuk menumpahkan kedekatan kami dalam bentuk yang lebih nyata. Jok yang didisain untuk satu orang ternyata muat untuk berdua, bahkan masih cukup ruang untuk saling melucuti pakaian.

Sementara tanganku menyusup ke BRA-nya, Niki membuka Zip celanaku, juga jeans-nya sendiri. Batangku yang tegak mengintip dari pinggir CD makin mengeras oleh remasan jarinya. Aku melepas kaitan BRA, membuat sepasang buah ranum itu bebas mengembang. Penjelajahan jariku di putingnya membuat Niki mendesis seperti kepedasan.

Aku menarik Niki ke atas tubuhku yang telentang di jok. Kurengkuh tubuhnya hingga buah dadanya terjangkau oleh bibirku. Lembut kujelajahi buah ranum itu dengan lidah dan kuhisap putingnya perlahan. Aku berusaha melepaskan jeansnya sampai ke bawah pantat hingga tanganku bebas menyelusup ke dalam CD, mengusap lipatan pangkal pahanya yang basah dibanjiri cairan birahi, membuatnya menggelinjang. Tanganku kutekuk hingga jariku dapat menggapai klitorisnya.

Niki terlonjak oleh sentuhanku. Ia menegang sejenak, lalu sambil menggelinjang menggosok-gosokkan mulut vaginanya pelan ke jari-jariku yang terjepit oleh pangkal paha dan lipatan jeans. Dengan mata terpejam menikmati hisapan di putingnya, gesekan Niki di jariku semakin cepat, dan Niki mengerang sambil mendekap kepalaku erat-erat, lalu melemas dalam pelukanku, ia orgasme.

Sesudahnya Niki mencoba membangunkan penisku yang lemas akibat gesekan jeans yang agak menyakitkan. Aku menolak dan dia agak kecewa (problemku kini, bila ada gangguan sedikit saja yang mengurangi kenyamanan akan berakibat 'burungku' kehilangan kekerasannya). Kuyakinkan ia bahwa aku tidak apa-apa.

Dalam perjalanan pulang kuceritakan problemku itu pada Niki, ia dapat mengerti. Dan kami kembali ngobrol dengan asyik. Kami makin dekat lagi!

Hari-hari berikutnya kami jadi terbiasa petting di mobil (hanya petting karena ternyata ia masih virgin), dan Niki selalu berusaha membantu membesarkan hatiku agar lebih percaya diri. Tapi aku tetap belum berhasil orgasme, sekeras apapun penisku selalu saja pada akhirnya melemas tanpa sebab.

Mendidihnya: September 1993 ..

Suatu ketika kami 'ngetem' di parkiran Taman Ria Senayan (waktu itu masih arena bermain anak-anak, dan kalau malam dipakai parkir warga ibukota yang ingin kencan di mobil). Setelah persiapan beres (pipis, cuci tangan, Aqua dan tisyu, blazer di gantung di jendela) kami mulai bersantai di jok belakang.

Sambil saling melepas pakaian, kami melakukan fastkissing, ia begitu pandai membangkitkan birahi dengan ciuman-ciuman kilatnya di sekujur tubuhku, sehingga begitu lembar terakhir pakaianku lepas, batangku sudah sangat keras.

Ukuran jok belakang hanya sepanjang tubuh lebih sedikit. Di situ tubuh telanjang Niki tergolek telentang dengan kaki kiri terjuntai di lantai mobil, kaki kanannya mengait ke jendela yang dibuka sedikit. Sambil jongkok di depannya, ciumanku menjelajahi leher dan dadanya seraya tanganku mengusap tubuhnya.

Sinar bulan yang menerobos dari rear window membuat tubuh telanjang Niki berkilauan. Buah dadanya yang besar nampak berkilat oleh jilatan lidahku, membuat gairahku memuncak. Sementara tangannya meremas batangku yang makin mengeras, jariku yang licin oleh cairan birahinya menggosok kelentitnya, pelan dan teratur.

Dengan menelungkupi tubuhnya, ciumanku kini menjelajahi perutnya, menggeser ke bawah pelan-pelan membuat tubuh Niki yang hangat bergetar. Lalu kepalaku membenam di antara pahanya yang terbuka, memudahkan lidahku menjilati celah vaginanya. Niki menggeliat mempererat genggamannya pada kemaluanku yang dibasahi dengan cairan yang menetes dari kepalanya, lalu mengocoknya seirama dengan sentuhan lidahku di kelentitnya. Kocokan dan desahannya membawaku pada perasaan yang sudah lama tidak kualami.

"Hmm.. Ki, kayaknya aku mau keluar.." aku berbisik sambil menciuminya.
"Keluarin aja.., gesekin aja ke memek.. Niki juga hampiir.."

Aku berputar, mencoba menindih Niki di jok yang ukurannya tidak memadai untuk kegiatan ini dan berusaha menggesek-gesekkan batang kemaluanku yang sedang pada puncak kekerasannya ke bibir vagina Niki yang sudah banjir oleh cairan kenikmatan yang meleleh dari liang perawannya. Rasa nikmat yang hampir terlupakan kini merambat ke seluruh tubuh, berputar, bergulung, mendesak memenuhi pucuk batangku.

Akhirnya Niki menggeser pantat ke pinggiran jok seraya menekuk kedua pahanya ke atas, sehingga dengan berlutut aku dapat menggesekkan leher kemaluanku di celah vaginanya, menggelitik klitorisnya yang membuat Niki mengerang. Gelombang dahsyat bergulung-gulung di seluruh tubuhku, mendesak-desak ke ujung kemaluan, dan akhirnya menyembur membasahi perut Niki. Akhirnya, AKU BISA ORGASME LAGI! (Aku tidak akan lupa kejadian itu Ki..!).

Dari pengalaman itu Niki menyimpulkan bahwa untuk dapat orgasme aku harus santai, tidak buru-buru, telanjang total dan privacy. Sejak itu petting dilakukan di hotel, motel, atau kalau terpaksa di mobil harus di tempat yang bebas gangguan.

Aku dapat memijat sedikit, dan Niki menyukainya. Biasanya Niki telungkup, kumulai dengan memijat telapak kaki, paha, pantat terus naik ke punggung. Saat memijat lengan, kadang-kadang Niki sudah tidur. Aku biarkan saja sementara aku baca-baca atau nonton film. Saat ia bangun baru kami mulai bercumbu.

Pernah juga saat aku telentang dan ia di atas menciumiku, tiba-tiba ia memborgolku di tempat tidur. Aku telentang tidak dapat menggerakkan tangan, hanya dapat mengejang dan menyepak. Sementara ia dengan ciuman dan jilatannya di seluruh tubuhku membuat batang kemaluanku tegak mengeras. Niki lalu menunggangiku, menyusuri leher kemaluanku dengan belahan vaginanya yang basah oleh cairan birahi. Kelembutan bibir vagina yang basah mengusap leher dan kepala kemaluanku, membuat rasa nikmatku membubung tinggi. Dengan cepat aku mencapai orgasme.

Niki juga menyenangi posisi konvensional. Aku di atas dengan tangan menggenggam batang kemaluan, terus helm-ku kuusapkan di mulut vaginanya. Cairan pembuka yang menetes dari ujung penis membasahi permukaan bibir vagina, melicinkan sentuhan ke klitorisnya. Rangsangan itu membuat cairan vaginanya membanjir. Kepala kemaluanku yang berlumuran cairan menjelajahi klitoris dan mulut vaginanya membuat Niki menggelinjang, mengerang sambil mencakari punggungku sampai ia orgasme.

Tiba giliranku, Niki merapatkan pahanya, menjepit batang kemaluanku yang basah licin menggesek di mulut vaginanya seolah digiling-giling. Dengan menggerakkan batangku keluar masuk jepitannya, maka tidak lama kemudian aku pasti menyusul.

Bersambung ...


Mendapat kenalan baru

Awek Pantat Panas CantikSaya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang teman saya yang belum lama ini terjadi. Namanya Lisa ***** (edited) yang juga adalah seorang warga keturunan. Saya mengenalnya ketika saya membaca suratnya di salah satu majalah bulan Desember yang mengatakan bahwa dia hendak berteman. Jadi akhirnya iseng-iseng saya mengirim surat kepadanya. Seminggu kemudian dia membalas surat saya. Setelah beberapa bulan berteman saya dikirimi foto oleh dia. Wah, rupanya orangnya cantik sekali.

Belakangan saya mengetahui kalau tinggi dan berat badannya 167 cm dan berat 52 kg. Orangnya mempunyai postur badan yang benar-benar ideal. Akhirnya tepatnya Juni 2001 saat liburan kuliah dia memutuskan untuk datang ke Surabaya. Saya menjemputnya di bandar udara Juanda, tanggalnya saya masih ingat yaitu tanggal 22 Juni 2001. Setelah pesawatnya tiba saya mencari-cari dia. Tidak terlalu sulit menemukan dia karena saya sudah mempunyai fotonya. Dan rupanya orangnya benar-benar cantik, kulitnya putih pokoknya tidak rugi aku kenal sama dia deh.



Halo apakah kamu yang bernama Lisa?
Wah kamu rupanya, kamu pasti Robert kan?
Iya benar.
Wah rupanya kamu keren yach, hahaha..
Thanks atas pujiannya. Mau ngobrol di sini terus emangnya sampai malam.
Yah jelas nggak donk, so jadi aku nginap di Hotel **** (edited). Kamu udah booking-kan khan?
Tentu dong, apa mau diantar sekarang?
Boleh aku capek banget nich, ayo berangkat sekarang!
Ayo..

Setelah 1 jam tiba di Hotel **** (edited) tersebut saya meninggalkan Lisa tentunya atas kehendaknya karena dia ingin beristirahat. Sore-sore sekitar pukul 18:00 dia menelepon di HP saya dan menyuruh saya untuk mejemputnya makan malam. Sekitar pukul 19:00 saya sampai di hotel, Lisa memakai baju tank top dan rok mini yang tentunya membuat semua mata cowok tertuju pada dia. Karena Lisa sudah menunggu di bawah maka tanpa basa basi saya dan dia langsung cabut.

Mau makan di mana nich?
Terserah dech, pokoknya aku udah lapar banget dech.
Bagaimana kalau di restaurant **** (edited).
Beres dech, pokoknya makan.

Setelah makan kemudian kami berkeliling kota tanpa tujuan. Akhirnya dia memutuskan untuk main di tempat kontrakan saya. Karena saya tinggal sendirian di tempat kontrakan saya tentunya tidak ada yang bakalan marah kalau Lisa saya bawa ke kontrakan. Di kontrakan saya, kami berdua ngobrol-ngobrol sampai tidak terasa sudah jam 23:00 WIB.

Hah udah jam segini, gimana dong?
Wah iya yach.. kamu mau pulang sekarang? Aku antar yuk!
Hm, nggak enak nich, masak malam-malam aku nyuruh kamu ngantar aku, biar aku pulang sendiri aja dech naik taksi.
Jangan, masak kamu pulang sendiri? Gini ajalah mending kamu nginap di sini aja. Kebetulan di sini ada kamar kosong kok. Itu kalau kamu nggak keberatan.
Ok dech, tapi jangan macam-macam yach!

Kami mengobrol sampai pukul 02:00 pagi. Makin lama saya melihat si Lisa semakin seksi. Tubuhnya yang seksi membuat saya sangat bernafsu tapi saya tidak berani macam-macam terhadap dia. Dan kemudian akhirnya Lisa memutuskan untuk tidur. Saya mempersilakan dia tidur di kamar saya karena di sana lebih lengkap ada kamar mandi dan ber-AC, sedangkan saya sendiri tidur di kamar yang lainnya. Sewaku Lisa masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi saya segera menyusup masuk ke kamar saya untuk mengambil beberapa barang rahasia saya, seperti boneka dan kondom yang ada di lemari saya. Malam-malam di kamar tamu karena sangat terangsang dengan keindahan tubuh Lisa saya melalukan onani dengan boneka yang saya punyai itu. Saya ingin mencari ayam di luar untuk melampiaskan nafsu saya tapi sungkan sama Lisa karena meninggalkan dia. Jadi akhirnya saya memutuskan melakukan onani yang ditemani boneka cantik itu. Boneka itu memang khusus untuk pria melakukan onani.

Saya melepas semua pakaian yang saya kenakan lalu memasang kondom di penis saya kemudian saya mulai menindih dan melakukan onani terhadap boneka itu karena saya sangat terangsang mengingat keindahan tubuh Lisa. Saya melakukan onani dengan boneka itu sambil membayangkan saya sedang melakukan hubungan seks dengan Lisa. Malam itu saya melakukan onani sebanyak 3 kali sampai persediaan kondom saya habis. Kalau tidak pakai kondom takutnya nanti spermanya tercecer di dalam boneka sehingga saya harus mencucinya. Lalu akhirnya saya tertidur lelap tanpa memakai apapun.

Pagi-pagi ketika Lisa hendak membangunkan saya, dia langsung masuk ke kamar yang lupa saya kunci. Wajahnya bersemu merah melihat saya yang tidur dalam keadaan telanjang. Saya sendiri kaget melihat dia dengan cepat menutup daerah bagian penis saya. Kemudian dia keluar dengan tergesa-gesa dengan wajah merah. Lalu saya mengenakan pakaian dan mandi dengan segera. Setelah itu kami berdua sarapan yang disiapkan oleh pembantu tidak tetap. Karena saya ingin berduaan dengan Lisa, saya menyuruh pembantu saya pulang dengan alasan saya mau keluar. Akhirnya pembantu itu pulang dan tinggal saya dan Lisa berdua.

Kemudian Lisa bertanya, Kok kamu tidur telanjang sih, terus pake boneka segala? Itu pasti boneka untuk cowok yach?
Wah kok tau? Abis mau gimana lagi, lihat tubuh kamu yang seksi siapa yang tahan? Mau gimana lagi, satu-satunya jalan yah onani dech.
Itu salahmu, siapa suruh kamu nggak mau minta aku waktu tadi malam?
Hah? Jadi boleh nich saya main sama kamu?
Kalau nggak boleh ngapain aku tadi ngomong gitu.
Wah kalo gitu aku minta sekarang yach, aku dari kemarin bener-bener nggak tahan nich.
Terserah kamu aja, soalnya aku juga nafsu sama kamu nich, tapi kamu masih ada kondom khan? Aku nggak mau ah kalau nggak pakai kondom, soalnya aku ini kayaknya dalam masa subur nich.
Wah kayaknya udah habis tuh, aku pake tadi malam untuk onani. Kalau gitu aku beli dulu dech.

Setelah sarapan saya segera ke apotek membeli kondom isi 12 warna hitam lalu pulang.
Nich kondomnya udah ada nich, so bisa khan mulai sekarang.
Wah udah nggak sabaran yach?
Ya iyalah, gimana mau sabaran kalau udah dikasih lampu hijau kayak gitu. Aku bawa kamu ke kamar yach!
Boleh.

Lalu saya menggendong Lisa ke kamar sambil berciuman. Setelah di kamar saya membaringkan Lisa di tempat tidur, lalu saya menutup pintu. Setelah menutup pintu saya menuju ke ranjang dan melihat Lisa yang sudah terlentang pasrah. Tanpa membuang kesempatan lagi saya dan Lisa segera saling berpelukan, saling meraba dan saling berciuman. Rupanya ciuman Lisa tersebut sudah sangat hebatnya. Dia sepertinya sudah berpengalaman dalam kiss. Setelah berciuman beberapa waktu saya mulai melepaskan baju dan rok Lisa dengan perlahan-lahan sambil tetap berciuman. Setelah bajunya terlepas terlihat dadanya yang sangat luar biasa. Saya sambil menelan ludah beberapa kali melihat dadanya yang besar yang masih tertutup tersebut. Dadanya itu sepertinya berukuran 36B. Dengan tidak sabar lagi saya segera membuka penutup dadanya dan terlihatlah dadanya yang sangat indah tersebut. Tanpa basa basi lagi dan tanpa meminta ijin saya langsung meraba, meremas dan mengisap dadanya. Hal itu membuat Lisa merintih-rinih kenikmatan. Oh.. uhh.. ohh pelan-pelannhh oohh..

Kemudian saya mulai meraba-raba celana dalamnya yang nampaknya sudah basah. Melihat saya meraba-raba bagian vaginanya yang masih tertutup celana dalam kemudian dia melepaskan sendiri celana dalamnya. Wow, tampaklah vaginanya yang indah dan seperti perawan (belakangan baru saya mengetahui bahwa dia mempunyai obat yang dapat merapatkan vagina). Bulu-bulunya yang tidak tebal tetapi juga tidak tipis. Bulu-bulu kelaminnya sangat rapi menambah keindahannya. Segera saya mencium dan menjilat vaginanya yang membuat dia semakin merintih kenikmatan.

Tangannya menjambak rambur saya sambil sesekali juga meremas bantal, seprei dan sebagainya. Sedangkan tangan saya tetap meraba-raba dadanya yang montok itu. Sambil tetap menjilat-jilat vaginanya yang sudah semakin basah itu, saya mulai melepas pakaian saya satu persatu. Baju dan celana begitu terlepas langsung dilempar begitu saja oleh Lisa. Jeritan kenikmatannya makin menjadi-jadi ketika saya mencoba memasukkan jari saya ke dalam vaginanya. Hal itu membuat dia tampaknya semakin tidak tahan.

Saya melakukan secara begantian. Memasukkan jari lalu menjilat dan seterusnya, hingga akhirnya, Auhh.. aahh.. oohh.. aauu keluar.. terasa ada cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Saat Lisa mencapai orgasme dia sampai mendekap kepala saya dengan kedua pahanya sehingga kepala saya terjepit di vaginanya, sehingga saya sempat merasakan cairan Lisa yang benar-benar tiada duanya.

Setelah itu Lisa terkulai lemas, sedangkan saya belum apa-apa. Namun saya membiarkan dia dulu untuk meresapi keindahan yang baru dicapainya sambil menunggu dia kembali lagi. Dan benar, 5 menit kemudian tampaknya dia mulai bergairah kembali. Lisa langsung melepas celana dalam yang saya kenakan, lalu dia menyuruh saya berbaring. Sambil berbaring dia menjilat-jilat seluruh tubuhku membuat saya merasa keenakkan dan membuat saya melenguh berulang-ulang kali. Lalu semakin lama ciuman dan jilatan Lisa makin ke bawah, dan akhirnya sampai ke daerah penis. Penis saya waktu itu sudah tegak sekali karena ciuman Lisa yang dari tadi.

Lalu Lisa mulai memasukkan penisnya ke dalam mulutnya dan, Ohh.. iihh.. hisapannya benar-benar luar biasa, tidak pernah saya rasakan sebelumnya dengan wanita manapun. Dia sangat pandai dalam mempermainkan penis saya. Kadang-kadang dikulum bagian kepalanya lalu bagian bawah kepala lalu buah zakarku dan kadang-kadang pula disertai remasan yang tidak terlalu pelan tetapi tidak terlalu keras. Hal itu benar-benar membuat saya merasa kenikmatan bercinta.

Hisapan Lisa yang luar biasa itu membuat saya ingin segera memulai permainan yang sesungguhnya. Akhirnya saya bangkit berdiri dan membaringkan Lisa. Saya menyempatkan mencium bibir Lisa, meremas dadanya dan mencium vaginanya. Dan rupanya vaginanya sudah kembali basah. Setelah itu saya mengambil posisi yang tepat untuk memasukkan penis saya ke vagina Lisa. Tetapi Lisa memperingatkan saya untuk memakai kondom. Lalu saya mengambil kondom yang tadi sudah saya beli dan segera memasangkan pada penis saya. Setelah siap, Lisa yang sedang berbaring mengambil bantal untuk ditaruh di bawah pantatnya dan saya segera duduk dan siap untuk menembakkan penis saya ke arah vaginanya. Pertama kali saya menyodokkan penis saya, tidak masuk. Lalu untuk kedua kalinya saya menyodoknya masuk dan rupanya tepat sasaran masuk ke dalam vagina Lisa. Saya memasukkannya perlahan-lahan mulai kepalanya, lalu masuk setengahnya dan akhirnya masuk seluruhnya, dan ketika saya mulai memasukkannya hal tersebut membuat Lisa menjerit kenikmatan.

Saya dan Lisa sama-sama bergoyang penuh kenikmatan. Kadang-kadang saya meraba-raba dadanya atau bulu vaginanya sambil tetap mengeluar-masukkan penis saya ke dalam vagina Lisa dan memastikannya penis saya tidak keluar dari sarungnya. Setelah 10 menit kemudian Lisa meminta saya untuk mengganti posisi. Dia menyuruh saya berbaring lalu dia duduk di atas sambil bergoyang. Katanya posisi itu membuat dia cepat mencapai puncak klimaksnya. Dalam posisi itu kadang-kadang kami saling berpagutan, lalu aku meraba-raba dadanya yang sangat saya sukai bentuknya dan ukurannya.

Tidak lama kemudian terasa di penis saya yang berada di dalam vagina Lisa ada cairan kenikmatan. Rupanya Lisa telah mencapai klimaksnya untuk yang kedua kalinya. Semenit kemudian saya merasa juga akan mencapai klimaksnya maka saya mulai menggerakkan badan saya dengan cepat dan Croott.. sperma saya keluar dengan banyak dan segera saya cabut penis saya yang bersarung itu dari vagina Lisa. Lalu Lisa melepas kondom yang saya gunakan itu dan kemudian dia menjilat penis saya. Sejenak kami hening merasakan kenikmatan yang baru kami rasakan dan akhirnya kami tertidur.

Saya dan Lisa melakukan kegiatan seks itu sebanyak delapan kali. Pertama dan kedua di kamar tidur saya. Ketiga di kamar mandi. Keempat, kelima sapai ke delapan di hotel tempat dia menginap. Kami benar-benar merasakan kepuasan yang tiada tara. Lisa di Surabaya cuma 4 hari. Kemudian dia pulang. Dan hari ini tanggal 15 January dia menikah karena dijodohkan.

Saya akan menceritakan pengalaman pertama saya sewaktu SMU kelas 3 di Surabaya dengan WTS dan pengalaman saya dengan pacar saya yang masih virgin waktu bulan Desember . Saya mengharapkan teman-teman dapat memberitahukan ingin membaca pengalamanku yang mana? Waktu SMU atau waktu sama pacar saya yang masih perawan?

Bagi teman-teman yang mempunya koleksi BF dan ingin dijual dapat menghubungi saya dan bagi yang ingin kenalan silakan e-mail saya. Pasti dibalas. Dan bagi rekan-rekan cewek yang bersedia mengajar teman saya Tommy yang masih perjaka dapat pula menghubungi saya.

Tamat


Mendapat kenalan baru

Awek Pantat Panas CantikSaya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang teman saya yang belum lama ini terjadi. Namanya Lisa ***** (edited) yang juga adalah seorang warga keturunan. Saya mengenalnya ketika saya membaca suratnya di salah satu majalah bulan Desember yang mengatakan bahwa dia hendak berteman. Jadi akhirnya iseng-iseng saya mengirim surat kepadanya. Seminggu kemudian dia membalas surat saya. Setelah beberapa bulan berteman saya dikirimi foto oleh dia. Wah, rupanya orangnya cantik sekali.

Belakangan saya mengetahui kalau tinggi dan berat badannya 167 cm dan berat 52 kg. Orangnya mempunyai postur badan yang benar-benar ideal. Akhirnya tepatnya Juni 2001 saat liburan kuliah dia memutuskan untuk datang ke Surabaya. Saya menjemputnya di bandar udara Juanda, tanggalnya saya masih ingat yaitu tanggal 22 Juni 2001. Setelah pesawatnya tiba saya mencari-cari dia. Tidak terlalu sulit menemukan dia karena saya sudah mempunyai fotonya. Dan rupanya orangnya benar-benar cantik, kulitnya putih pokoknya tidak rugi aku kenal sama dia deh.



Halo apakah kamu yang bernama Lisa?
Wah kamu rupanya, kamu pasti Robert kan?
Iya benar.
Wah rupanya kamu keren yach, hahaha..
Thanks atas pujiannya. Mau ngobrol di sini terus emangnya sampai malam.
Yah jelas nggak donk, so jadi aku nginap di Hotel **** (edited). Kamu udah booking-kan khan?
Tentu dong, apa mau diantar sekarang?
Boleh aku capek banget nich, ayo berangkat sekarang!
Ayo..

Setelah 1 jam tiba di Hotel **** (edited) tersebut saya meninggalkan Lisa tentunya atas kehendaknya karena dia ingin beristirahat. Sore-sore sekitar pukul 18:00 dia menelepon di HP saya dan menyuruh saya untuk mejemputnya makan malam. Sekitar pukul 19:00 saya sampai di hotel, Lisa memakai baju tank top dan rok mini yang tentunya membuat semua mata cowok tertuju pada dia. Karena Lisa sudah menunggu di bawah maka tanpa basa basi saya dan dia langsung cabut.

Mau makan di mana nich?
Terserah dech, pokoknya aku udah lapar banget dech.
Bagaimana kalau di restaurant **** (edited).
Beres dech, pokoknya makan.

Setelah makan kemudian kami berkeliling kota tanpa tujuan. Akhirnya dia memutuskan untuk main di tempat kontrakan saya. Karena saya tinggal sendirian di tempat kontrakan saya tentunya tidak ada yang bakalan marah kalau Lisa saya bawa ke kontrakan. Di kontrakan saya, kami berdua ngobrol-ngobrol sampai tidak terasa sudah jam 23:00 WIB.

Hah udah jam segini, gimana dong?
Wah iya yach.. kamu mau pulang sekarang? Aku antar yuk!
Hm, nggak enak nich, masak malam-malam aku nyuruh kamu ngantar aku, biar aku pulang sendiri aja dech naik taksi.
Jangan, masak kamu pulang sendiri? Gini ajalah mending kamu nginap di sini aja. Kebetulan di sini ada kamar kosong kok. Itu kalau kamu nggak keberatan.
Ok dech, tapi jangan macam-macam yach!

Kami mengobrol sampai pukul 02:00 pagi. Makin lama saya melihat si Lisa semakin seksi. Tubuhnya yang seksi membuat saya sangat bernafsu tapi saya tidak berani macam-macam terhadap dia. Dan kemudian akhirnya Lisa memutuskan untuk tidur. Saya mempersilakan dia tidur di kamar saya karena di sana lebih lengkap ada kamar mandi dan ber-AC, sedangkan saya sendiri tidur di kamar yang lainnya. Sewaku Lisa masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi saya segera menyusup masuk ke kamar saya untuk mengambil beberapa barang rahasia saya, seperti boneka dan kondom yang ada di lemari saya. Malam-malam di kamar tamu karena sangat terangsang dengan keindahan tubuh Lisa saya melalukan onani dengan boneka yang saya punyai itu. Saya ingin mencari ayam di luar untuk melampiaskan nafsu saya tapi sungkan sama Lisa karena meninggalkan dia. Jadi akhirnya saya memutuskan melakukan onani yang ditemani boneka cantik itu. Boneka itu memang khusus untuk pria melakukan onani.

Saya melepas semua pakaian yang saya kenakan lalu memasang kondom di penis saya kemudian saya mulai menindih dan melakukan onani terhadap boneka itu karena saya sangat terangsang mengingat keindahan tubuh Lisa. Saya melakukan onani dengan boneka itu sambil membayangkan saya sedang melakukan hubungan seks dengan Lisa. Malam itu saya melakukan onani sebanyak 3 kali sampai persediaan kondom saya habis. Kalau tidak pakai kondom takutnya nanti spermanya tercecer di dalam boneka sehingga saya harus mencucinya. Lalu akhirnya saya tertidur lelap tanpa memakai apapun.

Pagi-pagi ketika Lisa hendak membangunkan saya, dia langsung masuk ke kamar yang lupa saya kunci. Wajahnya bersemu merah melihat saya yang tidur dalam keadaan telanjang. Saya sendiri kaget melihat dia dengan cepat menutup daerah bagian penis saya. Kemudian dia keluar dengan tergesa-gesa dengan wajah merah. Lalu saya mengenakan pakaian dan mandi dengan segera. Setelah itu kami berdua sarapan yang disiapkan oleh pembantu tidak tetap. Karena saya ingin berduaan dengan Lisa, saya menyuruh pembantu saya pulang dengan alasan saya mau keluar. Akhirnya pembantu itu pulang dan tinggal saya dan Lisa berdua.

Kemudian Lisa bertanya, Kok kamu tidur telanjang sih, terus pake boneka segala? Itu pasti boneka untuk cowok yach?
Wah kok tau? Abis mau gimana lagi, lihat tubuh kamu yang seksi siapa yang tahan? Mau gimana lagi, satu-satunya jalan yah onani dech.
Itu salahmu, siapa suruh kamu nggak mau minta aku waktu tadi malam?
Hah? Jadi boleh nich saya main sama kamu?
Kalau nggak boleh ngapain aku tadi ngomong gitu.
Wah kalo gitu aku minta sekarang yach, aku dari kemarin bener-bener nggak tahan nich.
Terserah kamu aja, soalnya aku juga nafsu sama kamu nich, tapi kamu masih ada kondom khan? Aku nggak mau ah kalau nggak pakai kondom, soalnya aku ini kayaknya dalam masa subur nich.
Wah kayaknya udah habis tuh, aku pake tadi malam untuk onani. Kalau gitu aku beli dulu dech.

Setelah sarapan saya segera ke apotek membeli kondom isi 12 warna hitam lalu pulang.
Nich kondomnya udah ada nich, so bisa khan mulai sekarang.
Wah udah nggak sabaran yach?
Ya iyalah, gimana mau sabaran kalau udah dikasih lampu hijau kayak gitu. Aku bawa kamu ke kamar yach!
Boleh.

Lalu saya menggendong Lisa ke kamar sambil berciuman. Setelah di kamar saya membaringkan Lisa di tempat tidur, lalu saya menutup pintu. Setelah menutup pintu saya menuju ke ranjang dan melihat Lisa yang sudah terlentang pasrah. Tanpa membuang kesempatan lagi saya dan Lisa segera saling berpelukan, saling meraba dan saling berciuman. Rupanya ciuman Lisa tersebut sudah sangat hebatnya. Dia sepertinya sudah berpengalaman dalam kiss. Setelah berciuman beberapa waktu saya mulai melepaskan baju dan rok Lisa dengan perlahan-lahan sambil tetap berciuman. Setelah bajunya terlepas terlihat dadanya yang sangat luar biasa. Saya sambil menelan ludah beberapa kali melihat dadanya yang besar yang masih tertutup tersebut. Dadanya itu sepertinya berukuran 36B. Dengan tidak sabar lagi saya segera membuka penutup dadanya dan terlihatlah dadanya yang sangat indah tersebut. Tanpa basa basi lagi dan tanpa meminta ijin saya langsung meraba, meremas dan mengisap dadanya. Hal itu membuat Lisa merintih-rinih kenikmatan. Oh.. uhh.. ohh pelan-pelannhh oohh..

Kemudian saya mulai meraba-raba celana dalamnya yang nampaknya sudah basah. Melihat saya meraba-raba bagian vaginanya yang masih tertutup celana dalam kemudian dia melepaskan sendiri celana dalamnya. Wow, tampaklah vaginanya yang indah dan seperti perawan (belakangan baru saya mengetahui bahwa dia mempunyai obat yang dapat merapatkan vagina). Bulu-bulunya yang tidak tebal tetapi juga tidak tipis. Bulu-bulu kelaminnya sangat rapi menambah keindahannya. Segera saya mencium dan menjilat vaginanya yang membuat dia semakin merintih kenikmatan.

Tangannya menjambak rambur saya sambil sesekali juga meremas bantal, seprei dan sebagainya. Sedangkan tangan saya tetap meraba-raba dadanya yang montok itu. Sambil tetap menjilat-jilat vaginanya yang sudah semakin basah itu, saya mulai melepas pakaian saya satu persatu. Baju dan celana begitu terlepas langsung dilempar begitu saja oleh Lisa. Jeritan kenikmatannya makin menjadi-jadi ketika saya mencoba memasukkan jari saya ke dalam vaginanya. Hal itu membuat dia tampaknya semakin tidak tahan.

Saya melakukan secara begantian. Memasukkan jari lalu menjilat dan seterusnya, hingga akhirnya, Auhh.. aahh.. oohh.. aauu keluar.. terasa ada cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Saat Lisa mencapai orgasme dia sampai mendekap kepala saya dengan kedua pahanya sehingga kepala saya terjepit di vaginanya, sehingga saya sempat merasakan cairan Lisa yang benar-benar tiada duanya.

Setelah itu Lisa terkulai lemas, sedangkan saya belum apa-apa. Namun saya membiarkan dia dulu untuk meresapi keindahan yang baru dicapainya sambil menunggu dia kembali lagi. Dan benar, 5 menit kemudian tampaknya dia mulai bergairah kembali. Lisa langsung melepas celana dalam yang saya kenakan, lalu dia menyuruh saya berbaring. Sambil berbaring dia menjilat-jilat seluruh tubuhku membuat saya merasa keenakkan dan membuat saya melenguh berulang-ulang kali. Lalu semakin lama ciuman dan jilatan Lisa makin ke bawah, dan akhirnya sampai ke daerah penis. Penis saya waktu itu sudah tegak sekali karena ciuman Lisa yang dari tadi.

Lalu Lisa mulai memasukkan penisnya ke dalam mulutnya dan, Ohh.. iihh.. hisapannya benar-benar luar biasa, tidak pernah saya rasakan sebelumnya dengan wanita manapun. Dia sangat pandai dalam mempermainkan penis saya. Kadang-kadang dikulum bagian kepalanya lalu bagian bawah kepala lalu buah zakarku dan kadang-kadang pula disertai remasan yang tidak terlalu pelan tetapi tidak terlalu keras. Hal itu benar-benar membuat saya merasa kenikmatan bercinta.

Hisapan Lisa yang luar biasa itu membuat saya ingin segera memulai permainan yang sesungguhnya. Akhirnya saya bangkit berdiri dan membaringkan Lisa. Saya menyempatkan mencium bibir Lisa, meremas dadanya dan mencium vaginanya. Dan rupanya vaginanya sudah kembali basah. Setelah itu saya mengambil posisi yang tepat untuk memasukkan penis saya ke vagina Lisa. Tetapi Lisa memperingatkan saya untuk memakai kondom. Lalu saya mengambil kondom yang tadi sudah saya beli dan segera memasangkan pada penis saya. Setelah siap, Lisa yang sedang berbaring mengambil bantal untuk ditaruh di bawah pantatnya dan saya segera duduk dan siap untuk menembakkan penis saya ke arah vaginanya. Pertama kali saya menyodokkan penis saya, tidak masuk. Lalu untuk kedua kalinya saya menyodoknya masuk dan rupanya tepat sasaran masuk ke dalam vagina Lisa. Saya memasukkannya perlahan-lahan mulai kepalanya, lalu masuk setengahnya dan akhirnya masuk seluruhnya, dan ketika saya mulai memasukkannya hal tersebut membuat Lisa menjerit kenikmatan.

Saya dan Lisa sama-sama bergoyang penuh kenikmatan. Kadang-kadang saya meraba-raba dadanya atau bulu vaginanya sambil tetap mengeluar-masukkan penis saya ke dalam vagina Lisa dan memastikannya penis saya tidak keluar dari sarungnya. Setelah 10 menit kemudian Lisa meminta saya untuk mengganti posisi. Dia menyuruh saya berbaring lalu dia duduk di atas sambil bergoyang. Katanya posisi itu membuat dia cepat mencapai puncak klimaksnya. Dalam posisi itu kadang-kadang kami saling berpagutan, lalu aku meraba-raba dadanya yang sangat saya sukai bentuknya dan ukurannya.

Tidak lama kemudian terasa di penis saya yang berada di dalam vagina Lisa ada cairan kenikmatan. Rupanya Lisa telah mencapai klimaksnya untuk yang kedua kalinya. Semenit kemudian saya merasa juga akan mencapai klimaksnya maka saya mulai menggerakkan badan saya dengan cepat dan Croott.. sperma saya keluar dengan banyak dan segera saya cabut penis saya yang bersarung itu dari vagina Lisa. Lalu Lisa melepas kondom yang saya gunakan itu dan kemudian dia menjilat penis saya. Sejenak kami hening merasakan kenikmatan yang baru kami rasakan dan akhirnya kami tertidur.

Saya dan Lisa melakukan kegiatan seks itu sebanyak delapan kali. Pertama dan kedua di kamar tidur saya. Ketiga di kamar mandi. Keempat, kelima sapai ke delapan di hotel tempat dia menginap. Kami benar-benar merasakan kepuasan yang tiada tara. Lisa di Surabaya cuma 4 hari. Kemudian dia pulang. Dan hari ini tanggal 15 January dia menikah karena dijodohkan.

Saya akan menceritakan pengalaman pertama saya sewaktu SMU kelas 3 di Surabaya dengan WTS dan pengalaman saya dengan pacar saya yang masih virgin waktu bulan Desember . Saya mengharapkan teman-teman dapat memberitahukan ingin membaca pengalamanku yang mana? Waktu SMU atau waktu sama pacar saya yang masih perawan?

Bagi teman-teman yang mempunya koleksi BF dan ingin dijual dapat menghubungi saya dan bagi yang ingin kenalan silakan e-mail saya. Pasti dibalas. Dan bagi rekan-rekan cewek yang bersedia mengajar teman saya Tommy yang masih perjaka dapat pula menghubungi saya.

Tamat


Dari email turun ke ranjang – 2

Awek Pantat Panas Cantik"Sshh.. ohh.. Rio.. sshh" Mbak Lilis mendesah menahan rasa nikmat.
Aku tak peduli. Lidahku terus menjelajahi puting dan payudaranya secara bergantian. Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. sementara kedua tanganku tak henti-henti meremasnya.
"Sshh.. Riioo" tiba-tiba Mbak Lilis bangkit dan memeluk tubuhku erat sekali. Hmm.. payudaranya yang hangat pun menempel ketat di dadaku. Nikmat sekali. Mbak Lilis mendesah panjang sambil membenamkan wajahnya di bahuku. Aku mengangkat kepala wanita itu dari bahuku.
"Kenapa Mbak?" tanyaku setengah berbisik.


Mbak Lilis tersenyum agak tersipu, lantas menggeleng. Kedua tangannya yang lembut membelai pipiku.
"Nggak pa-pa.. Yo" desahnya.
Wajahnya terlihat habis menuntaskan sesuatu. Aku langsung menyimpulkan bahwa wanita di hadapanku ini baru saja melepas orgasmenya. Aku tersenyum sambil mencubit payudara Mbak Lilis.
"Udah keluar ya Mbak?" bisikku setengah menggoda.
Mbak Lilis tersenyum geli sambil mengangguk. Aku pun tertawa. Wanita itu malah mencubit pinggangku.
"Ketawa lagi.. awas ya kamu, ntar aku bikin kelojotan baru tau rasa.. hihihihi"
Mbak Lilis langsung mendorong tubuhku hingga jatuh di sofa lagi. Kemudian dengan liar wanita itu mencoba melepas ritsleting celanaku. Tak diperdulikannya daster yang sudah mawut-mawut di tubuhnya itu. Aku membiarkan Mbak Lilis menelanjangiku. Dan tak lama kemudian tubuhku sudah lolos tanpa busana.

Mbak Lilis tersenyum melihat batang penisku yang mulai tegang. Digelitiknya daerah sensitifku dengan rambutnya yang panjang. Hmm.. geli-geli enak. Mbak Lilis kemudian meneteskan air ludahnya ke atas kepala penisku. aahh.. aku merasakan enak ketika air ludah itu menyentuh lubang kencingku. hh.. tubuhku sedikit bergidik. Dengan jemari lentiknya, Mbak Lilis meratakan air ludah yang membasahi penisku. Dengan lembut wanita itu mengusap seluruh permukaan penisku yang sudah licin. hhmm.. nikmat sekali. Kelima jemari lentiknya mengusap dan menjepit pangkal penisku, dan.. ahh.. Mbak Lilis mulai menjilati kepala penisku yang sudah basah.

Lembut sekali lidah wanita ini. Sementara tangan Mbak Lilis mengocok bagian pangkal penisku, lidahnya lincah menjelajahi kepala dan leher penisku. Dijelajahinya seluruh daerah sensitifku. Dan sebagai ibu-ibu yang sudah lama menikah, Mbak Lilis lihai sekali mencari titik-titik rangsangku. Akhirnya batang penisku masuk ke dalam mulutnya yang hangat. Ahh.. nikmat sekali. Kulihat kepala Mbak Lilis naik-turun mengikuti irama kenikmatan yang diberikan padaku. Sebelah tangannya yang sejak tadi diam saja kini merayapi daerah perutku. Uuuhh.. nikmatnya. Birahiku semakin memuncak. Tak tahan kedua tanganku pun meremas rambut Mbak Lilis yang lebat. Wanita itu bagai tak peduli terus menjilat, mengulum dan mengisap batang penisku.
Birahiku yang semakin naik menuntunku untuk mengangkat tubuh Mbak Lilis naik ke atas tubuhku. Wanita itu tersenyum senang melihat birahiku yang menyala-nyala. Aku meloloskan daster yang masih menyangkut di pinggangnya. aahh.. gila, ternyata Mbak Lilis juga tidak mengenakan celana dalam sejak tadi.

Kini kami berdua sudah sama-sama telanjang bulat. Mbak Lilis duduk di atas pahaku, kedua tangannya merangkul leherku. Aku memeluk pinggang Mbak Lilis yang dihiasi sedikit lemak itu.
"Sekarang Yo?" desahnya.
Aku tersenyum sambil menggeleng. Kemudian secara mengejutkan aku memutar posisi hingga Mbak Lilis kini yang duduk di sofa. Wanita itu sempat menjerit sesaat. Detik berikutnya dengan buas aku mengangkat sebelah paha Mbak Lilis yang mulus ke atas sandaran sofa. Aku memperhatikan vagina Mbak Lilis yang ditumbuhi bulu lebat sekali. Hmm.. terus terang bagiku kurang nikmat menjilati vagina wanita yang ditumbuhi bulu yang lebat.

"Mbak bulunya banyak banget" seruku. Mbak Lilis mengangguk.
"Iya, nggak pernah dicukur. Aku nggak berani" jawabnya. Aku tersenyum penuh arti.
"Aku cukurin ya Mbak" pintaku. Mbak Lilis terlihat terkejut.
"Hah.. terus gimana?" tanyanya setengah bingung.
"Ya nggak gimana-gimana hihihi.. Mbak ada cukuran?" tanyaku.
Tanpa diminta dua kali Mbak Lilis bangkit menuju kamar tidurnya dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah alat cukur manual.
"Oke.. aku cukur ya, mau model apa Mbak? Hihihihi" godaku.
"Apa aja deh, abis juga boleh hihihi" jawab Mbak Lilis.
Aku pun mulai beraksi. Kucukuri seluruh bulu yang tumbuh di daerah kemaluan Mbak Lilis sampai bersih, diiringi desahan-desahan manja si pemilik bulu.
"Udah Mbak" seruku. Mbak Lilis melongok ke bawah.
"Hihihi.. botak abis, aku cuci dulu ya"
Mbak Lilis pun ke kamar mandi untuk membersihkan bulu-bulunya. Tak lama wanita itu kembali ke ruang TV.
"Taraa" serunya menirukan suara terompet sambil merentangkan kedua tangannya. Aku tertawa melihat gayanya.
"Waahh.. mulus abiss" seruku.

Dengan gemas Mbak Lilis menghampiriku dan memeluk tubuhku. Aku pun memutar tubuh hingga Mbak Lilis kembali duduk di sofa. Seperti tadi aku mengangkat paha Mbak Lilis dan kudekatkan wajahku ke arah vaginanya. Hmm.. aroma kewanitaannya langsung tercium. Dengan lembut kujilati sekeliling vagina dan selangkangan Mbak Lilis sebelum akhirnya aku bergumul dengan bibir vaginanya yang masih rapat.
"sshh.. Rioo.. aahh" Mbak Lilis menggelinjang menahan nikmat.
Lidahku semakin liar menjelajahi vagina Mbak Lilis. Jemariku pun ikut membantu melonggarkan liang vaginanya agar aku bisa menjilati klitoris Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis terus menggelinjang tak karuan. Nafasnya tidak teratur. Desahan-desahan menahan nafsu terus keluar dari bibirnya.
"Riioo.. sshh" desahan panjang Mbak Lilis kembali terdengar.
Bersamaan dengan itu dari vagina yang tengah kujilati pun keluar cairan kewanitaannya. Hmm.. aku langsung menghirup cairan itu sambil menyedot dinding vagina Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis sampai terlonjak.
"sshh.. cukup sayang.. sekarang kasih yang aslinya dong" pinta Mbak Lilis seraya mengangkat tubuhku.
Aku tersenyum sambil mengangguk. Perlahan aku mulai mengarahkan batang penisku ke vagina Mbak Lilis. Pelan-pelan kumasukkan sedikit demi sedikit. Dan.. ssllpp.. aahh.. penisku pun amblas dalam hangatnya vagina Mbak Lilis. Wanita itu merintih sejenak. Kemudian aku menggoyang-goyangkan pantatku untuk berbagi kenikmatan dengan Mbak Lilis.

"Oohh.. oohh.. sshh.. aahh" desahan dan erangan kami saling bersahutan.
Kami betul-betul menikmati permainan. Vagina Mbak Lilis terasa hangat sekali mengulum penisku. Kedua tangan kami saling berpegangan. Kira-kira lima belas menit kemudian aku mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis berdenyut dan cengramannya semakin kencang. Desahan Mbak Lilis pun semakin liar. Tak lama kemudian aku merasakan ada cairan yang membanjiri penisku dari dalam vagina Mbak Lilis. aahh.. wanita itu orgasme lagi. Kulihat Mbak Lilis tersenyum simpul.

Kemudian kami berganti posisi. Mbak Lilis nungging di sofa sambil berpegang pada sandaran, dan sambil berdiri kembali kutembus liang kenikmatan wanita itu dengan penisku. Uuuhh.. kedua tanganku memegangi pinggul Mbak Lilis yang ikut maju-mundur karena goyanganku. Kuusap pantat Mbak Lilis yang halus dan mulus. Bosan dengan posisi tersebut, kami berganti lagi. Kali ini aku duduk di sofa dan Mbak Lilis duduk di atas tubuhku. Hmm.. hangat sekali tubuhnya. Mbak Lilis cukup lihai memimpin permainan. Pinggulnya tak hanya maju-mundur tapi juga memutar sehingga memberi sensasi nikmat yang luar biasa pada penisku. Aku memeluk tubuh montok Mbak Lilis erat-erat hingga payudara wanita itu menempel di wajahku. Huuff.. lidahku segera menjulur keluar untuk menikmati kenyalnya puting susu Mbak Lilis. Sesekali kugigit dengan pelan. Wanita itu berkali-kali menjerit di tengah desahan nikmatnya.

Setelah beberapa menit aku mulai merasa spermaku akan muntah dari penisku.
"aahh.. ahh.. Mbak.. udah mau nyampe nih" desahku.
Mbak Lilis tersenyum sambil terus mendekap kepalaku.
"sshh.. iya Yo.. aku juga nih, tungguin yaa" desah Mbak Lilis seraya mencium bibirku.
Ugghh.. lumatan bibir Mbak Lilis membuatku semakin tak kuasa menahan kendali. Kucengkeram pinggang Mbak Lilis yang tengah bergoyang hebat agar wanita itu berhenti bergoyang.
"sshh.. kenapa sayang?" tanya Mbak Lilis. Aku tersenyum.
"Nggak pa-pa, nunda sebentar Mbak.. hihihi" jawabku. Mbak Lilis mencubit dadaku gemas.
"Dasar ya" desahnya manja. Wanita itu memeluk tubuhku erat. aahh.. hangat sekali tubuhnya.
"Terusin Mbak" bisikku sambil menjilati telinganya.
Tubuh Mbak Lilis kembali bergoyang. aahh.. betul-betul nikmat. Gairahku semakin memuncak, dan aku juga mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis berdenyut.
"Rioo.. bareng ya.. keluarin di dalam aja" desah Mbak Lilis.
Aku mengangguk. Mbak Lilis semakin mempercepat goyangannya. Aku pun membantu dengan menggoyangkan pinggangku. aahh.. ahh.. penisku semakin cepat keluar masuk vagina Mbak Lilis, dan.. Croott.. crott.. crroott.. croott.. ccrroott.. ccroott.. Entah berapa kali penisku menyemprotkan cairan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Mbak Lilis.

"aawww.. kamu duluan ya sayang.. hihihihi" desah Mbak Lilis.
Aku tersenyum kecut seraya memeluk tubuh Mbak Lilis. Dengan sisa-sisa yang ada aku mencoba menggenjot tubuhku untuk membuat Mbak Lilis mencapai puncak. Dan..
"aahh.. sshh.. Riioo" Mbak Lilis kembali mengeluarkan desahan panjang seiring membanjirnya vagina wanita itu.
Dengan tubuh agak lemas kami berpelukan. Penisku masih tertancap di dalam vagina Mbak Lilis.
"sshh.. makasih ya sayang, aku udah lama banget nggak ngerasa kayak gini" desah Mbak Lilis di sela-sela kecupan bibirnya.
"Iya.. makasih juga untuk pengalamannya Mbak hihihi" jawabku.
Mbak Lilis memelukku dengan gemas dan melumat bibirku habis-habisan. Malam itu akhirnya aku menginap di rumah Mbak Lilis. Aku tidak ingat berapa kali kami memacu birahi bersama. Hampir setiap sudut rumah itu kami pakai. Di ruang TV, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan juga dapur. Yang kuingat kami tertidur di ranjang Mbak Lilis sekitar jam 3 pagi. Kemudian Mbak Lilis membangunkanku jam 7 pagi. Kulihat wanita itu sudah segar kembali lengkap dengan pakaian kantornya.
"Mandi dulu sayang.. kamu juga kan mesti ke kantor" desah Mbak Lilis seraya membangunkanku.

Aku harus kembali ke rumah dulu sebelum ke kantor karena aku tidak membawa baju. Setelah mandi, aku berangkat bareng Mbak Lilis dengan taksi yang dipesannya ke rumah. Oke, sampai di sini dulu pengalamanku dengan Mbak Lilis. Aku belum tau bagaimana selanjutnya hubungan kami. Yang jelas kami masih sering SMS-an dan telepon. Tunggu saja cerita selanjutnya.

Tamat