Category Archives: cerita awek berahi

Air susu dibalas dengan air mani

Awek Pantat Panas CantikLaju sepeda motor yang dikemudikan Pak Irwan semakin cepat dan menyalip mobil angkutan di depan kami. Aku hanya diam, duduk dengan tenang di belakang boncengan, sesekali menjawab pertanyaan laki-laki tersebut atau memintanya untuk mengulanginya, karena suara bising kenderaan di sepanjang jalan membuat suara Pak Irwan tidak begitu jelas terdengar.

Memang hari ini lalu lintas begitu padat, tidak biasanya. Kecepatan sepeda Pak Irwan sedikit mulai stabil, tanganku yang sejak tadi terus merangkul tubuhnya yang besar, sedikit nakal menggoda laki-laki tersebut, dan memukul tanganku saat tanganku yang nakal meremas kontolnya.



"Jangan main-main" ucapnya sambil tertawa.
"Sudah tak tahan Pak" bisikku dan Pak Irwan tertawa lagi.

Tanganku mengelus-elus dadanya yang dibalut oleh jeket tersebut, badannya dan punggungnya tak lepas dari elusan tanganku. Laki-laki tersebut tertawa dengan kekonyolan yang aku buat padanya, yang pasti dia sangat menyukainya.

Cukup lama aku mengenal Pak Irwan. Laki-laki yang sangat baik dan dermawan. Karena beliaulah aku dapat meneruskan sekolah ke Lanjutan Pertama. Laki-laki tersebut membiayai sekolahku dari kelas 4 SD sampai sekarang. Dan bukan itu saja ketiga adikku juga. Laki-laki tersebut sangat budiman, aku banyak berhutang budi padanya. Inang tak bisa menahan harunya saat Pak Irwan mengulurkan bantuan pada keluargaku dan memberikan modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah.

Sejak meninggalnya Amang, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Inang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya. Sebagai anak laki-laki yang paling besar, aku sedikitnya terpanggil untuk membantu meringankan beban Inang, walau usiaku masih sangat-sangat muda untuk bekerja. Umurku 11 tahun dan sudah setahun yang lalu sudah meninggalkan bangku sekolah karena faktor biaya.

Dari hasil barang-barang bekas yang aku dapatkan, sedikitnya membantu Inang untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Dan seperti biasa aku berkeliling mencari barang-barang bekas dari tempat-tempat sampah orang kaya dengan karung goni yang selalu setia di atas pundakku, sementara sebuah gancu mengaduk-aduk tempat-tempat sampah tersebut, mencari barang bekas yang laku untuk dijual.

Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.

Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.

"He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini".

Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.

"Maaf, Bang" ucapku dengan sura terbata-bata.
"Aku pikir emer ini tidak dipakai lagi" dengan suara gagap ketakutan.
"Letakkan lagi di tempatnya semula, kalau tidak saya panggil polisi"
"Maaf, Bang, jangan.. Jangan panggil polisi Bang" ucapku lagi memohon dan hampir menangis dan meletakkan ember bekas tersebut ke tempatnya semula.
"Sini kau!" bentak laki-laki tersebut dan saat aku mendekatinya, laki-laki tersebut langsung menarik kupingku, menjewernya dengan kuat.
"Kecil-kecil sudah jadi maling, besarnya mau jadi apa, ah?"
"Ampun Bang, aku pikir ember itu tidak dipakai lagi, aku baru kali ini melakukannya".
"Sudah mencuri, bohong lagi" bentak laki-laki tersebut dan semakin kuat tangannya menjewer kupingku.
"Ampun Bang, ampun" ucapku memohon menahan sakit sehingga aku menangis.
"Kurang ajar, apa tidak pernah diajarkan orang taua kau, ah"

Aku hanya diam menunduk, laki-laki tersebut melepaskan tangannya pada kupingku dan memeriksa karung goniku.

"Apa kau tidak sekolah, ah" bentak laki-laki itu lagi dan aku mengangguk menjawabnya.
"Malas, ah?, mau jadi apa kau ini, sudah tidak sekolah, maling dan sudah besarnya mau jadi rampok yah?"
"Tidak Bang" jawabku.
"Lalu apa?"
"Inang tidak punya uang untuk menyekolahkan kami"

Laki-laki tersebut menatapku tajam, menyimak perkataanku, memastikan apa aku berbohong atau berkata benar padanya. Perasaan lega saat aku di suruh pergi juga akhirnya dan memenuhi janjinya untuk tidak akan menampakkan mulalu di sekitar rumahnya lagi. Berbagai sumpah serapah aku ucapkan dengan pelan pada laki-laki tersebut sambil meninggalkan pekarangan belakang rumahnya.

Sebulan kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan laki-laki galak tersebut dan sedikit terkejut saat laki-laki tersebut mengajakku ke rumahnya dan memberikan ember yang pernah aku incar beserta barang-barang bekas lainnya. Mimpi apa aku semalam, begitu banyak barang-barang bekas yang aku dapatkan hari ini, gumamku.

"Satu karung saja kau bawa dulu, yang satu tinggalkan dulu, nanti kau jeput"

Aku mengikuti saran laki-laki tersebut. Dan hari-hari berikutnya, laki-laki tersebut memberikan barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku ternyata salah, laki-laki tersebut ternyata sangat baik dan selalu menasehatiku. Aku jadi malu mengingat kejadian pertama kali itu dan beberapa kali meminta maaf padanya atas kekeliruanku. Karena ember bocor aku jadi berniat mencuri, karena ember bocor aku jadi malu dan karena ember bocor itu juga aku mengenal Pak Irwan.

Suatu hari, Pak Irwan melihat sendir keadaan keluargaku.

"Hanya rumah berdinding tepas inilah peninggalan Amang anak-anak" ucap Inang.
"Ido sangat membantu saya, penghasilannya dari barang-barang bekas itu bisa menambah untuk membeli beras dan lainnya, sementara sya bekerja di pasar jadi kuli angkat barang atau membantu pedagang menjual barangnya kalau dminta".

Singkat cerita, aku beserta adikku diangkat Pak Irwan sebagai anak angkatnya, dan aku tidak perlu mencari barang-barang bekas lagi.

"Kau harus sekolah dan juga Adik-Adik mu, sekolah yang rajin biar pintar dan suatu saat kalau sudah kerja kan bisa bantu Inang" pesan Pak Irwan.

Walau aku bukanlah tergolong anak yang pintar, namun aku selalu menurut, mengikuti nasehat Bapak angkatku itu, dan juga Bapak angkat bagi ke tiga adikku, tapi bagimana dengan Inang? Apa Pak Irwan mengangkatnya sebagai anak? Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana mungkin, tapi jika Pak Irwan mau mengawini Inang, pasti kami akan tinggal di rumahnya yang besar, kami jadi orang kaya, tapi mana mungkin, Pak Irwan khan sudah punya isteri yang cantik dan baik hati, yang pasti kalau Pak Irwan kawin dengan Inang ceritanya akan berubah pastinya yah.

Karena usiaku yang sudah 11 tahun, aku dimasukkan Pak Irwan ke kelas 4 SD, padahal kelas 3 pun aku belum tamat, tapi karena dia seorang guru dan banyak kenalan, akhirnya aku diterima di kelas 4 SD walau harus dalam masa percobaan terlebih dahulu. Kami hanya disuruh belajar dan belajar, semua kebutuhan kami di subsidi Pak Irwan. Laki-laki tersebut pun memberi modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah, sehingga lebih membantu kami lagi.

Kata-kata yang mengandung makna berupa nasehat selalu disampaikan kepadaku sehingga memacuku untuk belajar lebih giat lagi agar cita-citaku tercapai dan akan menunjukkan kepadanya bahwa pertolongannya tidak sia-sia.

Setahun kemudian

Seperti biasa, sepulang sekolah aku mampir ke rumah Pak Irwan, masuk dari belakang rumah, seperti layaknya seperti rumahku sendiri, mencari keberadaan Pak Irwan, memberi kejutan kepadanya. Melihat laki-laki tersebut yang sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV, akupun mendekatinya dengan perlahan.

"Kena" ucapku sambil menutup kedua matanya.

Pak Irwan menangkap kedua tanganku dan menariknya sehingga tubuhku terangkat ke depan, tangan laki-laki tersebut memegang celanaku, menariknya sehingga badanku terjatuh ke sofa. Pak Irwan ternyata tidak memberikan ampun kepadaku lagi, badanku digelitikinya.

"Akhh.. Ampun.. Ampun Pak" ucapku tertawa, kegelian, meliuk-liukkan badanku.

Keakraban begitu memang sering kami lakukan. Pak Irwan seperti Bapak kandungku, selayaknya keceriaan antara Bapak dan anak, dan hanya dengan Pak Irwan baru aku dapatkan. Laki-laki tersebut terus menggelitiki badanku, tidak menghiraukan aku yang memohon meminta ampun untuk menghentikan permainannya, aku sampai mengeluarkan air mata karena bahagia.

Laki-laki tersebut tersenyum, menghentikan permainannya, menatapku sejenak dan dengan tiba-tiba tangannya langsung mencaplok kontolku, meremas-remasnya.

"Geli.. Geli.. Pak.." ucapku lagi sambil tertawa.

Pak Irwan menarik tubuhku ke depan, meletakkan kepalaku di bantal kursi yang berada di bawah pusarnya dan kembali tangannya menjangkau kontolku, meremas-remasnya.

"Akhh.. Bapak gete (genit)" ucapku.

Laki-laki tersebut hanya tersenyum dan terus meremas-remas kontolku yang berada di balik celana. Mendengar sura desahan-desahan, mataku tertuju ke depan TV dan melihat permainan asyik laki-laki dan perempuan di atas ranjang, dan dalam keadaan telanjang bulat.

Bapak angkatku ternyata sedang menonton film porno dan usiaku yang baru 12 tahun, belum faham betul permainan tersebut. Aku menjadi tertarik dengan tontonan di TV tersebut. Pak Irwan tersenyum melihatku yang begitu serius menonton adegan ngentot.

"Seius sekali kau" ucap Pak Irwan memegang daguku.

Aku tersenyum, tersipu malu dan saat itu pula Bapak angkatku mengangkat bantal kursi dari selangkangannya, kontolnya naik ke atas, tegang dengan bulu-bulu yang lebat dan ikal. Pak Irwan tersenyum menatapku, aku baru sadar, ternyata Bapak angkatku telanjang bulat.

"Bapak, tidak malu" ucapku mengejeknya sambil tersenyum.
"Kenapa malu?, khan hanya ada anak Bapak di sini" ucapnya sambil tertawa, tangannya merangkul pundakku, kepalanya dirapatkan ke kepalaku dan Pak Irwan mencium pipiku.
"Akhh, bapah tambah gete saja" ucapku dan menghapus pipiku yang habis diciumnya.

Pak Irwan tertawa lagi, meraih tanganku dan meletakkan ke kontolnya.

"Pegang kontol Bapak, kontol Arido Bapak pegang juga" bisiknya

Tanganku merasakan batang keras tersebut, sementara Pak Irwan meremas-remas kontolku juga, merasa tak puas, laki-laki tersebut membuka retsleting celanaku dan mengeluarkan batang kontolku yang lemas.

"Wah, kontolmu ternyata panjang juga" ucapnya melihat kontolku yang menjulur dari lubang retsleting.

Tangan Pak Irwan menarik-narik ujung kontolku yang terkatup, kuncup. Aku termasuk orang yang tidak sunat. Gerakkan-gerakkan tangan Bapak angkatku yang meremas-remas dan mengocok-ngocok batang kontolku, membuat kontolku semakin bereaksi, hidup, membesar pada diameter batangnya dan semakin panjang dari bentuk semula dan kulit pada ujungnya melebar, seiring kepala kontolku yang membengkak, membesar.

"Wah, kalau Bapak tahu lebih dulu kau punya batang kontol yang besar dan panjang, Bapak langsung menggarap Ido" ucapnya sambil tersenyum.

Pak Irwan mencium pipiku lagi sebelum pergi meninggalkanku dan kembali tak lama kemudian dengan membawa boneka perempuan telanjang bulat tinggi dan ramping. Laki-laki tersebut tersenyum dan kembali duduk di sampingku.

"Bapak kenalkan dengan Madonna" ucapnya padaku memperkenalkan boneka tersebut dan memberitahukan setiap organ tubuh boneka tersebut.

Aku menolak saat Pak Irwan menyuruh untuk menghisap-isap puting payudara boneka tersebut, Bapak angkatku memberi contoh, dia langsung mengisap-isap puting payudara boneka tersebut, menjilatinya dan menarik-narik puting payudara boneka tersebut bergantian. Aku tertawa melihatnya. Bapak angkatku seperti bayi yang sedang menyusu pada boneka tersebut.

Beberapa lama kemudian, Pak Irwan memasukkan kontolnya ke dalam mulut boneka karet tersebut yang menganga lebar, tersenyum melihatku, tangannya terus menekan-nekan kepala boneka karet tersebut.

"Madonna mau merasakan kontol Arido, dia mau mengisap-isap kontol Arido" ucap Bapak Angkatku.
"Enak Pak?" tanyaku.
"Geli dan enak" jawab Pak Irwan sambil tersenyum dan membuka baju dan celana seragamku.

Aku merasakan kegelian saat mulut boneka tersebut keluar masuk memakan batang kontolku.

"Geli.. Geli.. Pak" ucapku.
Pak Irwan tersenyum sambil terus menggerak-gerakan kepala boneka tersebut.
"Pak.. Gelii" ucapku lagi.
"Akhh.." desahku pelan dan pendek.
Bapak angkatku mengangkat boneka karet tersebut, "Wah.. Air manimu, tertinggal di dalam mulut Madonna" ucapnya menunjukkan cairan kental seperti ludah namun lebih kental lagi.
"Anak Bapak, kecil-kecil sudah menghasilkan" ucap Pak Irwan lagi, menambah kebingunganku lagi. Laki-laki tersebut memelukku sambil mengelus-elus rambutku.

Pak Irwan mengajakku ke kamar mandi, mendudukkanku di sisi bak, sementara Bapak angkatku tersebut jongkok, tangannya meraih kontolku dan.. Dan.. Bapak angkatku tersebut menelan batang kontolku, menarik-nariknya dengan mulutnya, dengan gerakan cepat sehingga kontolku bertambah besar kembali dan memanjang. Pak Irwan mengocok-ngocok batang kontolku, merapatkan kedua bibirnya sehingga batang kontolku terjepit, hingga batang kontolku tenggelam samapai pangkalnya. Tanpa pengetahuan dan tidak tahuanku, aku membiarkan Bapak angkatku melakukannya. Kocokan-kocokan mulutnya pada batang kontolku semakin enak saja, geli rasanya.

Pak Irwan mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya, dan lidahnya menari-nari, menjilati seluruh batang kontolku dari ujung, kepala kontolku sampai pangkalnya dan yang lebih enak lagi, saat Bapak angkatku menjilati biji kontolku, mengulumnya satu persatu sambil menarik-nariknya dengan mulutnya dan kedua biji kontolku ditelannya sekaligus dan menarik-nariknya untuk beberapa lama laki-laki tersebut melakukannya dan kemudian menelan batang kontolku berikut kedua biji kontolku secara bersamaan, kembali menariknya dengan pelan.

Akkhh.. Geli dan enak aku rasakan, hangatt..

Untuk beberapa lama Bapak angkatku melakukannya, mengisap-isap kontolku dan terus.. Terus dia lakukan hingga hal yang sama aku dapatkan seperti saat boneka karet tersebut menelan kontolku, aku merasakan gelii.. Gelii yang mengenakkan dan Bapak angkatku mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya dan menunjukkan cairan kental dalam mulutnya. Cairan mani kata Bapakku dan langsung ditelannya.

Permainan berikutnya aku dapatkan, dengan waktu yang di atur oleh Bapak angkatku sendiri, sementara aku merasa ketagihan dengan permainan tersebut.

Hari yang telah ditentukan, rasanya aku ingin pelajaran sekolah cepat selesai, supaya aku dapat menemui Pak Irwan dan memintanya untuk mengajarkan permainan berikutnya. Seperti yang sudah di jadwalkan, kembali aku merasakan permaianan Madonna dengan asuhan Bapak angkatku, aku memperkosa lubang kemaluannya, akhh.. Sangat enak.. Enakk.. Enakk, Pak Irwan menyuruhku mendesah jika aku merasakan nikmat.. Dan aku melakukannya, sementara aku mengentot Madonna, Bapak angkatku menciumiku, mencumbu, bibirku, melumat bibirku. Dengan tekhnik-teknik dan ajarannya aku pun mulai membalas setiap cumbuannya. Hangat, nikmat aku rasakan saat bibir Bapak angkatku menyentuh bibirku dan melumat mulutku. Setelah selesai dengan Madonna, kembali Bapak angkatku mengambil alih posisinya, seperti biasa menelan batang kontolku, mengocok-ngocoknya dengan mulutnya, dan kembali air maniku muncrat di dalam mulutnya, dan ditelan langsung oleh Bapak angkatku tersebut.

Malam itu, Pak Irwan menyuruhku untuk ke rumahnya dan saat yang aku nantikan akhirnya tiba, kebetulan satu minggu itu aku tidak berjumpa dengannya, Pak Irwan mengantar istrinya pulang karena ada urusan keluarga katanya. Kami akan melakukannya malam itu sepuasnya, yah sepuasnya. Aku juga sudah sangat merindukannya terutama kerinduan mulutnya yang akan mengocok-ngocok kontolku yang membuatku kegelian, keenakan, kenikmatan, hingga tubuhku mengejang seiring dengan air maniku yang kental muncrat ke dalam mulutnya.

Pak Irwan langsung mengajakku masuk dan tanpa basa-basi lagi aku menelanjangi pakaianku, sementara Pak Irwan yang sudah bertelanjang dada dan hanya memakai sarung saja saat itu, langsung membuka sarungnya dan Bapak angkatku sudah tidak memakai apa-apa lagi. Tubuhnya yang bulat, padat berisi tanpa dibalut sehelai benangpun. Pak Irwan menarik tanganku dan kami berbaring di atas air bad yang sudah terbentang di depan TV. Bpak angkatku mengusap seluruh badanku dengan baby oil, mengocok-ngocok kontolku dengan minyak tersebut hingga kontolku bertambah besar dan panjang, berdiri tegak 90 derajat.

"Madonnanya mana Pak?" tanyaku.
"Kau tidak butuh lagi" jawab Bapak angkatku sambil tersenyum.

Bapak angkatku membaringkan badannya ke air bad, terlungkup dan menyuruhku untuk mengoleskan Baby oil ke punggungnya, ke pantatnya, kedua paha, betis dan kakinya, kemudian laki-laki tersebut menumpahkan sisa baby oil pada belahan pantatnya, meraba-raba lubang pantatnya, hingga terbuka lebar, dan aku pun menaiki tubuhnya sesuai permintaannya, keadaan licin tubuhnya membuat tubuhku meliuk-liuk di atas punggungnya.

"Enak Pak, enak sekali" ucapku memberi komentar, Pak Irwan tersenyum, dan memintaku untuk memasukkan kontolku ke dalam lubang pantatnya. Tanpa banyak tanya lagi aku melakukkannya dan menekan pantatku hingga batang kontolku amblas di dalam lubang pantatnya.

"Aakkhh.." desahku, betul-betul enak.. Nikmat.. Enakk.. Gelii..

Aku mulai menggerakkan pantatku perlahan, namun dasar nafsuku yang besar namun tenaga yang kurang, aku cepat mencapai puncak orgasme..

"Yah, istirahat dulu" saran Bapak dan akan aku lanjutkan kembali.

Aku tidak ingin berlama-lama beristirahat dan mengajak Bapak angkatku kembali untuk menyodomi lubang pantatnya dan aku berhasil melakukannya beberapa kali, sampai Bapak angkatku khawatir dengan fisikku yang tidak akan mampu lagi untuk melanjutkan permainan.

"Jangan dipaksakan, kita masih banyak waktu" ucapnya.

Aku yang sudah merasakan enak, geli dengan permainan yang barusan aku lakukan, meminta Bapak kembali untuk meyodomi lubang pantatnya dan Bapak angkatku tersebut kembali melayaniku.

"Permainan ini, betul-betul enak, gelii, gelii, Pak" ucapku lagi.

Bapak angkatku hanya tersenyum. Dan hari-hari berikutnya aku meminta Bapak untuk menyodominya, memuaskan nafsuku yang sangat besar, dan Bapak dengan setia melayaniku, kami saling bercumbu, berciuman, memacu nafsu kami yang tak habis-habisnya. Aku menyukai Bapak angkatku, sama halnya dengan beliau lebih menyukaiku daripada istrinya, dia lebih terpuaskan dengan laki-laki muda dengan kontol yang besar dan panjang.

Permainan kami terus berlanjut hingga sekarang, sepertinya terjalin perasaan cinta di antara kami, rasa sayang dan saling menyukai bukan antara anak dan Bapak lagi, tetapi mungkin seperti kekasih, kekasih sejenis, tidak ada sang istri. Adakalanya Bapak bertindak sebagai istri atau sebaliknya dengan diriku sendiri, kami saling memuaskan, memacu gairah kami yang lagi panas, apalagi aku mulai tumbuh sebagai laki-laki remaja, dengan perubahan diriku yang nyata, suara, tubuhku, dan organ-organ tubuhku yang lainnya.

Kontolku semakin besar dan dengan panjangnya bertambah beberapa senti, dengan bulu-bulu yang tumbuh subur di sekita kontolku dan selalu di cukur Bapak angkatku, sehingga botak. Dia sangat menyukainya. Apa yang dia sukai otomatis aku menyukainya, aku memberikan semuanya untuk kesenangannya karena dia begitu banyak menolongku dan keluargaku. Atau apa karena aku menyukai laki-laki tersebut sejak awal, atau mungkin karena aku mencintainyakah?

Akhh, aku harap untuk selamanyaa..

TAMAT


Saya dan tetangga saya Mirna

Awek Pantat Panas CantikKejadian ini terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu saya beserta dua orang teman kantor sedang makan siang di sebuah restoran di bilangan Kemang. Ketika saya hendak membayar makanan, saya mengantri di belakang seorang wanita cantik yang sedang menggendong anak kecil.

Karena agak lama, saya menegurnya. Ketika ia menengok ke arah saya, saya sangat kaget, ternyata ia adalah Mirna. Nah, Mirna ini adalah istri tetangga saya di komplek rumah saya.
"Eh, Mas Vito. Lagi ngapain Mas..?" tanyanya.


"Anu, saya sedang makan siang. Kamu sama siapa Mir..? Andre ndak ikut..?"
"Enggak Mas, dia lagi tugas luar kota. Saya lagi beli makanan, sekalian buat nanti malam. Soalnya si Ijah lagi pulang kampung juga. Ya sudah, saya keluar aja bareng Vina (anaknya-pen)."
"Kamu bawa mobil..?" tanya saya.
"Enggak tuh Mas, mobilnya dibawa Mas Andre ke Lampung."
"Oo, mau pulang bareng..? Kebetulan saya juga mau langsung pulang, tadi habis tugas lapangan."
"Ya sudah nggak apa-apa."

Singkat cerita, saya dan kedua teman saya langsung pulang ke rumah masing-masing. Sementara saya, Mirna dan Vina pulang bersama di mobil saya. Sesampainya di rumah Mirna yang hanya berjarak 4 rumah dari saya, Mirna mengajak mampir, tapi saya bilang mau pulang dulu, ganti baju dan menaruh mobil. Karena Jenny, istri saya, sedang pergi ke rumah orangtuanya, saya langsung saja pergi ke rumah Mirna dengan memakai celana pendek dan kaos.

Ternyata, rumah Mirna tertata cukup apik. Ketika saya masuk, si Mirna hanya memakai piyama mandi.
"Saya ganti baju dulu ya Mas, gerah nih," katanya sambil tersenyum.
"Oo.., iya, si Vina mana..?" tanya saya sambil terpesona melihat kecantikan dan kemulusan body si Mirna.
"Anu Mas, dia langsung tidur pas sampai di rumah tadi, kasihan dia capek, saya ke kamar dulu ya Mas..!"
"Eh, iya, jangan lama-lama ya," kata saya.

Ketika Mirna masuk ke dalam kamar, dia (entah sengaja atau tidak) tidak rapat menutup pintu kamarnya. Merasa ada kesempatan, saya mencoba mengintip. Memang lagi mujur, ternyata di lurusan celah pintu itu, ada kaca lemari riasnya. Wow, untuk ukuran wanita yang telah mempunyai anak berumur 3 tahun, si Mirna ini masih punya bentuk tubuh yang bagus dan indah. Dengan ukuran 34B dan selangkangan yang dicukur, dia langsung membuat "adik kecil" saya berontak dan bangun. Dan yang menambah kaget saya, sebelum memakai daster yang hanya selutut, ia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan tidak mengenakan BH. Sebelum ia berjalan ke luar kamar, saya langsung lari ke sofa dan pura-pura membaca koran.

"Eh, maaf ya Mas kelamaan." kata Mirna sambil duduk setelah sepertinya berusaha untuk membetulkan letak tali celana dalamnya yang menyempil.
"Ndak apa-apa kok, saya juga lagi baca koran. Memangnya Andre berapa hari tugas luar kota..?" tanya saya yang juga 'sibuk' membetulkan letak si 'kecil' yang salah orbit.
Sambil tersenyum penuh arti, Mirna menjawab, "3 hari Mas, baru berangkat tadi pagi. Ngomong-ngomong saya juga sudah 2 hari ini nggak liat Mbak Jenny, kemana ya Mas..?"
"Dia ke rumah orangtuanya. Seminggu. Bapaknya sakit." jawab saya.

"Wah, kesepian dong..?" tanya Mirna menggoda saya.
Merasa hal ini harus saya manfaatkan, saya jawab saja sekenanya, "Iya nih, mana seminggu lagi, ndak ada yang nemenin. Kamu mau nemenin saya emangnya..?"
"Wah tawaran yang menarik tuh..," jawab Mirna sambil tersenyum lagi, "Emangnya Mas mau saya temenin..? Saya kan ada si Vina, nanti ganggu Mas lagi. Mas Vito kan belum punya anak, jadinya santai."
"Ndak apa-apa, eh iya, saya mau tanya, kamu ini umur berapa sih? Kok keliatannya masih muda ya..?" sambil menggeser posisi duduk saya supaya lebih dekat ke Mirna.
"Saya baru 27 kok Mas, saya married waktu 23, pas baru lulus kuliah. Saya diajak married Mas Andre itu pas dia sudah bekerja 3 tahun. Gitu Mas, memang kenapa sih..?"
"Ndak, saya kok penasaran ya. Kamu sudah punya anak umur 3 tahun, tapi kok badan kamu masih bagus banget, kayak anak umur 20-an gitu." kata saya.
"Yah, saya berusaha jaga badan aja Mas. Biar laki-laki yang ngeliat saya pada ngiler," katanya sambil tersenyum.

"Wah, kamu ini bisa saja, tapi memang iya sih ya, saya kok juga jadi mau ngiler nih."
"Nah kan, mulai macem-macem ya, nanti saya jewer lho..!"
"Kalo saya macem-macem beneran, emangnya kamu mau jewer apa saya..?" tanya saya sambil terus melakukan penetrasi dari sayap kanan Mirna.
Merasa saya melakukan pendekatan, Mirna kok ya mengerti.
Sambil menghadap ke wajah saya, dia bilang, "Wah, kalo beneran, saya mau jewer 'burungnya'-nya Mas Vito, biar putus sekalian."
"Memangnya kamu berani..?" tanya saya, "Dan lagi saya juga bisa mbales,"
"Saya berani lho Mas..!" sambil beneran memegang 'burung' saya yang memang sudah minta dipegang, "Terus Mas Vito mbalesnya gimana..?"
"Nanti saya remes-remes lho toketmu..!" jawab saya sambil beneran juga melakukan serangan pada bagian dada.

Karena merasa masing-masing sudah memegang 'barang', kami tidak bicara banyak lagi. Saya langsung mengulum bibir Mirna yang memang lembut sekali dan basah serta penuh gairah. Dan tampaknya, Mirna yang sudah setengah jalan, langsung memasukkan tangannya ke dalam celana saya, tepat memegang 'burung' saya yang maha besar itu (kata istri saya sih).
"Mas Vito, kontolnya gede banget." kata Mirna sambil terengah-engah.
"Sudah, nikmati aja. Kalo mau diisep juga boleh..!" kata saya.

Dan tanpa banyak bicara, Mirna langsung membuka 2 pertahanan bawah saya. Dengan seenaknya ia melempar celana pendek dan celana dalam saya, dan langsung menghisap batang kemaluan saya. Ternyata, hisapannya top banget. Tanpa tanggung-tanggung, setengah penis saya yang 18 cm itu dimasukkan semuanya.
Dalam hati saya berpikir, "Maruk juga nih perempuan..!"

Setelah hampir 5 menit, Mirna saya suruh berdiri di depan saya sambil saya lucuti pakaiannya. Tanpa di komando, Mirna melepas celana dalamnya yang mini itu, dan menjejalkan kemaluannya yang tanpa bulu ke mulut saya. Ya sudah, namanya juga dikasih, langsung saja saya ciumi dan saya jilat-jilat.
"Mas, geli Mas," kata Mirna sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya.
"Tadi ngasih, sekarang komentar..!" kata saya sambil memasukkan dua jari tangan saya ke dalam vaginanya yang (ya ampun) peret banget, kayak kemaluan perawan.

Masih dalam posisi duduk, saya membimbing pantat dan vagina Mirna ke arah batang kemaluan saya yang makin lama makin keras. Perlahan-lahan, Mirna memasukkan kejantanan saya ke dalam vaginanya yang mulai agak-agak basah.
"Pelan-pelan ya Mir..! Nanti memekmu sobek," kata saya sambil tersenyum.
Mirna malah menjawab saya dengan serangan yang benar-benar membuat saya kaget. Dengan tiba-tiba dia langsung menekan batang kejantanan saya dan mulai bergoyang-goyang. Gerakannya yang halus dan lembut saya imbangi dengan tusukan-tusukan tajam menyakitkan yang hanya dapat dijawab Mirna dengan erangan dan desahan. Setelah posisi duduk, Mirna mengajak untuk berposisi Dog Style.

Mirna langsung nungging di lantai di atas karpet.
Sambil membuka jalan masuk untuk kemaluan saya di vaginanya, Mirna berkata, "Mas jangan di lubang pantat ya, di memek aja..!"
Seperti anak kecil yang penurut, saya langsung menghujamkan batang kejantanan saya ke dalam liang senggama Mirna yang sudah mulai agak terbiasa dengan ukuran kemaluan saya. Gerakan pantat Mirna yang maju mundur, benar-benar hebat.

Pertandingan antar jenis kelamin itu, mulai menghebat tatkala Mirna 'jebol' untuk yang pertama kali.
"Mas, aku basah..," katanya dengan hampir tidak memperlambat goyangannya.
Mendengar hal itu, saya malah langsung masuk ke gigi 4, cepat banget, sampai-sampai dengkul saya terasa mau copot. Kemaluan Mirna yang basah dan lengket itu, membuat si 'Vladimir' tambah kencang larinya.

"Mir, aku mau keluar, di dalam apa di luar nih buangnya..?" tanya saya.
Eh Mirna malah menjawab, "Di dalam aja Mas, kayaknya aku juga mau keluar lagi, barengin ya..?"
Sekitar 3 menit kemudian, saya sudah benar-benar mau keluar, dan sepertinya Mirna juga.
Sambil memberi aba-aba, saya bilang, "Mir, sudah waktunya nih, keluarin bareng ya, 1 2 3..!"
Saya memuntahkan air mani saya ke dalam liang vagina Mirna yang pada saat bersamaan juga mengeluarkan cairan kenikmatannya. Setelah itu saya mengeluarkan batang kejantanan saya dan menyuruh Mirna menghisap dan menjilatinya sekali lagi. Si Mirna menurut saja, sambil ngos-ngosan, Mirna menjilati penis saya.

Ketika Mirna sedang sibuk dengan batang kejantanan saya, Vina bangun tidur dan langsung menghampiri kami sambil bertanya, "Mami lagi ngapain..? Kok Om Vito digigit..?"
Mirna yang tampaknya tidak kaget, malah menyuruh Vina mendekat dan berkata, "Vina, Mami nggak gigit Om Vito. Mami lagi makan 'permen kojek'-nya Om Vito, rasanya enak banget deh, asin-asin.."
"Mami, emangnya permennya enak..? Vina boleh nggak ikut makan..?" tanya Vina.
Sambil mengocok-ngocok penis saya, Mirna berkata, "Vina nggak boleh, nanti diomelin sama Om Vito, mendingan Vina duduk di bangku ya, ngeliat Mami sama Om Vito main dokter-dokteran."

Saya yang dari tadi diam saja, mulai angkat bicara, "Iya, Vina nonton aja ya, tapi jangan bilang-bilang ke Papi Vina, soalnya kasian Mami nanti. Ini Mami kan lagi sakit, jadinya Om kasih permen terus disuntik."
Sambil terus memegang penis saya yang mulai kembali mengeras, Mirna berkata pada Vina, "Nanti kalo' Vina nggak bilang ke papi, Vina Mami beliin baju baru lagi deh, ya? Tuh liat, suntikannya Om Vito mulai keras. Vina diam aja ya, Mami mau disuntik dulu nih..!"

Merasa ada tantangan lagi, saya langsung mencium Mirna dengan lembut di bibirnya yang masih beraroma sperma, sambil meremas buah dadanya yang kembali mengeras. Mirna langsung melakukan gerakan berputar dan langsung telentang sambil tertawa dan berteriak tertahan, "Babak kedua dimulai, teng..!"
Sementara Vina hanya diam melihat maminya dan saya 'acak-acak', walaupun terkadang dia membantu mengelap keringat maminya dan saya.

Itulah pengalaman saya dan Mirna yang masih berlanjut untuk hari-hari berikutnya. Kadang-kadang di rumah saya, dan tidak jarang pula di rumahnya. Kami melakukan berbagai macam gaya, dan di segala ruangan dan kondisi. Pernah kami melakukan di kamar mandi, masih dengan Vina yang ikut nimbrung 'nonton' pertandingan saya vs maminya. Dan Vina juga diam dan tidak bicara apa-apa ketika papinya pulang dari Lampung.

Hal itu malah makin mempermudah saya dan Mirna yang masih sering bersenggama di rumah saya ketika saya pulang kantor, dan ketika istri saya belum pulang dari rumah orangtuanya. Dan saya akan masih terus akan menceritakan pengalaman saya dengan Mirna. Dan nanti akan saya ceritakan pengalaman saya dengan adik Mirna, Rere.

TAMAT


Budak seks pekerja bangunan

Awek Pantat Panas CantikInilah cerita GAY SEX PERTAMA berbahasa Indonesia yang pernah saya tulis dalam hidupku. Mulanya, saya tidak berniat untuk mempublikasikannya tapi karena antusiasme para pembaca cerita situs 17Tahun yang sangat besar pada ceritaku yang berbau tukang bangunan: "2 Abang Tukang Bangunan" dan "0", saya memutuskan untuk mempublikasikannya. Dalam kesempatan ini, saya ingin berterima kasih pada semua pembaca 17Tahun.com yang telah membaca kedua cerita di atas karena kedua cerita itu sampai masuk ke dalam Top 10 List cerita Sesama Pria yang paling sering dibaca.

Jika ada ide cerita, Anda boleh mengirimkannya. Terima kasih juga bagi semua yang telah menghubungiku. Maaf jika tidak semuanya bisa kubalas karena jumlahnya BANYAK sekali :) Terima kasih sekali lagi. Saya akan terus menulis untuk kepuasan Anda sekalian. Tunggu apalagi? Buka celana kalian, keluarkan kontol yang menggiurkan itu, santai saja, dan nikmati cerita ini sambil mengocok kontol kalian.



*****

Sejak masa puber, saya sudah tahu kalau saya berbeda dengan para pria lainnya. Saya menyukai sesama lelaki. Tapi karena saya jarang keluar rumah, saya kurang berinteraksi dengan para pria di luar sana. Sebagai pelampiasan, saya sering masturbasi sambil melihat koleksi foto cowok bugil yang kudapat dari internet, hasil copian di warnet tiap minggu. Fantasi terbesarku adalah diperkosa oleh laki-laki jantan berbadan bagus. Saya tak pernah menyangka bahwa fantasiku akan terwujud sebentar lagi..

Pagi itu, saya sedang berjalan-jalan di sekitar lingkungan tempat tinggalku untuk mencari angin pagi. Seperti biasa, sambil berjalan, kusapukan pandanganku mencari laki-laki ganteng untuk mencuci mata. Sesosok tubuh pria pribumi bertelanjang dada menangkap perhatianku. Tubuhnya terlihat sangat bagus dari belakang. Memang tidak sebagus tubuh binaragawan, namun tetap saja menggiurkan. Pokoknya cocoklah kalau dia memutuskan ingin menjadi model sampul majalah fitness pria. Warna kulitnya agak gelap, namun dengan tubuh seseksi itu, dia nampak semakin menarik. Otot-otot punggungnya terbentuk lumayan, nampaknya dia adalah seorang tukang bangunan atau semacamnya.

Sesekali, dia menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, tanpa sengaja memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya. Nampaknya dia tak terlalu tua, sekitar 30an. Tampangnya sangat jantan, tegas, dan "beringas". Tapi wajahnya lumayan menarik juga. Perlahan-lahan, batang kontolku mulai berdiri. Di dalam otakku yang mesum, kubayangkan nikmatnya diperkosa olehnya. Oohh.. Saya lalu memutuskan untuk berjalan tepat di belakangnya. Kapan lagi bisa ketemu lelaki menggiurkan seperti ini? Telanjang dada lagi ;)

Setelah beberapa menit kuikuti, tiba-tiba dia berbelok arah dan masuk ke dalam sebuah gang kecil. Dengan tekad membara, kuikuti dia seperti seorang mata-mata. Gang itu sepi sekali. Tak ada satu pun orang di sana. Semakin kuikuti, saya menjadi semakin takut namun gairahku malah semakin tinngi. Kontolku telah basah oleh "precum" dan cairannya telah membasahi bagian depan celena pendekku yang tipis.

Tiba-tiba, pria itu berhenti. Otomatis, saya berhenti juga. Pada saat dia membalikkan tubuhnya dan memandangku, jantungku serasa ingin lepas. Saya takut sekali. Bagaimana jika dia sampai tahu bahwa saya mengikutinya. Namun pria itu hanya tesenyum. Senyuman itu nampaknya seperti senyuman seorang penjahat.

"Mau apa loe ngikutin gue?" Nada bicaranya terdengar agak tak ramah. Saya hanya terdiam saja. Saat saya tertunduk, kulihat benjolan basah besar di celanaku.
"Gawat, dia pasti melihatnya.. Aduh, bagaimana ini?", pikirku.

Pria itu mendekatiku. Entah kenapa, saya hanya berdiri terpaku di situ. Saya mulai gemetar ketakutan, namun ketakutanku hanya menambah gairahku. Dalam hatiku, saya berharap dia akan memperkosaku. Saya rela memberikan keperjakaanku padanya.

"Loe suka liat badan gue, yach?" tanyanya setelah mengamati benjolan di celanaku.

Tangan kanannya bergerak menyapu dada bidangnya. Dadanya yang agak gelap diremas-remas. Tak ayal lagi, putingnya mulai menegang menjadi sangat lancip. Gairahku menjadi tak terbendung lagi. Ingin rasanya saya memintanya untuk menyodomi pantatku, namun saya terlalu takut.

"Loe suka ini?" tanyanya lagi, kali ini agak terdengar menantang.

Dia berjalan semakin dekat.. Dekat.. Dan dekat, hingga akhirnya wajahku hampir menyentuh lehernya (Dia lebih tinggi dibanding diriku). Menundukkan kepalanya sedikit, dia berbisik..

"Pengen diperkosa nggak?"

Saya hanya terdiam. Air liurku rasanya susah sekali ditelan. Tangannya meraih turun dan memegang benjolanku dengan kasar.

"Kontol loe pasti bagus. Gue paling suka ama kontol yang nggak disunat.."

Setelah puas meraba-raba daerah terlarangku, dia meraih resleting celananya. Dengan sekali tarik, resleting itu terbuka dan kepala kontolnya menyembulkan diri untuk memberi salam. Namun saya menjadi semakin takut. Palkon (kepala kontol) pria itu begitu besar dan ukuran itu hanya ukuran sewaktu masih lemas. Bagaimana jika kontolnya terangsang? Saya mulai berpikir untuk menolak kesempatan ini. Saya memang ingin dingetotin, tapi bukan oleh kontol kuda. Saya bersiap-siap untuk kabur namun dia dapat membaca pikiranku. Sebelum saya sempat bertindak, kedua tangannya telah mencengkeram bahuku dengan sangat kuat.

Sambil menatap kedua mataku dalam-dalam, dia berkata..

"Loe nggak bakal ke mana-mana. Kalo loe berani kabur tau teriak, gue akan sumpah gue bakal ngabisi nyawa loe dengan kedua tangan ini.." Cengkeramannya dipererat untuk menegaskkan maksudnya.

Saya sungguh tak berdaya. Pada saat dia membawaku ke tempatnya, saya hanya dapat mengikutinya. Tak ada kesempatan untuk kabur karena dia tetap memegangi bahuku. Kontolnya masih bergoyang-goyang di luar resleting celananya, mengikuti irama jalannya. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah kumuh, tak jauh dari gang tempat dia menangkapku. Dari luar, rumah itu nampak tak terawat dan agak gelap.

Dengan kasar, dia mendorongku masuk. Pria itu ikut masuk, setelah mengunci pintu untuk memastikan saya tak dapat melarikan diri. Rumah itu memang kumuh sekali. Sinar matahari hampir tak dapat masuk. Suasana di dalam rumah kecil itu remang-remang. Lantainya terbuat dari semen halus, ruangannya hanya ada dua, penerangannya tak memadai, jendelanya hanya ada satu, hampir tak ada ventilasi, dan tak ada perabotan selain beberapa meja dan kursi kayu. Saya terhentak. Ruangan ini lebih tepat disebut sebagai ruang tahanan bawah tanah, tempat para tentara menyiksa musuh-mush mereka.. Apa yang akan dilakukan pria itu terhadapku, tanyaku dalam hati.

"Buka baju loe," perintahnya.
"Cepat!!" sambungnya, agak kasar dan tak sabaran.

Beberapa saat kemudian, saya berdiri tanpa sehelai benang pun di hadapan pria itu. Kontolku mengeras bak pelat baja. Kolam "precum" terbentuk di atas palkonku yang tertutup kulup. Pakaianku kutaruh di pojok ruangan itu. Pria itu melahap tubuhku dengan tatapan bernafsu. Kontolnya yang masih tergantung di luar mulai hidup. Pelan-pelan namun pasti, kontol itu memanjang, mengeras, dan membesar.

Tak lama kemudian, kontol itu telah mencapai ukuran maksimum. Panjangnya kira-kira 25 cm. Dan keliling batang kontolnya sekitar 15cm. Sungguh besar kontol yang dia miliki, seperti kontol kuda penjantan. Agar lebih nyaman, pria itu melepas celananya sehingga kini dia pun berdiri telanjang bulat. Tak ada rasa minder sedikit pun di wajahnya. Dia bangga dengan tubuhnya dan juga dengan kontolnya.

"Sini loe." Dengan kasar dan bernafsu, dia menarik tubuhku mendekat padanya.

Tanpa memberiku waktu untuk berpikir, dia melumat bibirku sambil merangkul tubuh telanjangku. Kontol kami saling beradu dan cairan kenikmatan membasahi tubuh kami. Untuk sesaat, rasa takutku menghilang. Pada saat saya sedang terbuai oleh kenikmatan sentuhannya, dengan sigap dia merantai tanganku dan menariknya sekuat mungkin. Tubuhku terangkat ke atas. Dia terus menarik sampai akhirnya kontolku berada tepat di depan mulutnya.

"Ini yang gue suka.. Kontol berkulup.. Mm.." Kontolku langsung disantap olehnya.

Dengan liar, dipermainkannya lidahnya. Saya hanya dapat meronta-ronta kenikmatan sambil mengerang-erang. Bagiku, ini sama sekali bukan pemerkosaan. Namun, saya kemudian menyesal telah berpikir demikian..

Saya hampir saja keluar, namun pria itu menghentikan aksinya, Nampaknya, dia cukup puas dengan "precum" yang kuhasilkan. Rantai yang mengikat kedua tanganku dilepaskannya. Saya langsung dibawa ke sebuah meja kayu dan ditelentangkan di sana. Kedua tangan dan kakiku diikat pada kaki-kaki meja. Khusus untuk kakiku, Supri mengikatnya sedemikian rupa sehingga kakiku ngangkang dan memperlihatkan lubang ngentot yang kumiliki. Ikatannya benar-benar kuat. Saya tak dapat bergerak! Telentang pasrah di sana menunggu nasib. Nasib seorang budak homo.

"Untuk apa tubuhku diikat seperti ini?" tanyaku, khawatir.
"Untuk dientotin.. Untuk apa lagi?" tawanya, bernada mengejek.
"Mulai saat ini, loe adalah budak sex gue. Budaknya Supri. Loe musti muasin nafsu seks gue, dan juga ngecret sebanyak yang loe bisa. Gue paling suka liat budak seks gue ngecret dan mengerang kesakitan akibat dientotin." Kali ini, saya benar-benar ketakutan. Pria yang bernama Supri ini nampaknya tidak main-main.

Supri berjalan mengelilingi meja sambil meraba-raba tubuhku. Sentuhannya hanya membuatku semakin gila dengan gairah. Dia lalu berhenti di depanku.

"Buka mulut loe, homo!" serunya.

Tanpa kubantah, langsung kubuka mulutku dengan senang hati. Kontol kuda itu lalu meluncur masuk. Rasanya besar sekali, mulutku serasa ingin pecah. Kepala kontolnya bergerak maju dan mendesak langit-langit mulutku. Cairan asin mengalir keluar dari lubang kontolnya dan masuk ke dalam mulutku. Rasanya nikmat sekali. Namun sebelum saya dapat menikmatinya, Supri menarik kontolnya mundur. Sesaat kemudian, kontol itu bergerak maju lagi, lalu munder, maju, mundur. Dan begitu seterusnya. Untuk mengimbangi kepalaku, Supri memegang kepalaku menyamping agar dia lebih leluasa memperkosa mulutku. Saya hanya dapat mengerang nikmat sambil sesekali tersedak dan hampir kehilangan napas.

"Yeah.. Hisap terus.. Aahh.. Homo emang paling tau nyenengin cowok.." katanya sambil tersengal-sengal.
"Uugghh.. Aahh.. Loe adalah budak homo gue.. Milik gue seorang.. Aahh.. Nikmat sekali.. Oohh yah.. Oohh.. Ahh.."

Erangan-erangan nikmatnya sebentar pelan, dan sebentar keras. Saya sendiri mulai suka diperlakukan seperti itu. Namun mendadak, Supri semakin panas. Erangan-erangannya semakin keras dan terdengar seperti sedang kesakitan.

"Aarrgghh.. Oohh.. Siap-siap, homo.. Pejuh gue mau keluar.. Aahh.. Oohh.. Telan ini..!! Aarrgghh..!! Oohh.."

Dan dengan itu, kontol Supri pun memuntahkan isinya. Crroott.. Crroot.. Croot.. Cairan putih kental dan hangat itu membanjiri mulutku. Dengan lahap, kutelan semuanya tanpa sisa. Oohh cairan kelaki-lakian Supri memang sangat lezat.. Nikmat sekali..

"Uugghh.. Aahh.. Oohh.." Kontol Supri menembakkan pejuhnya selama kurang lebih sepuluh kali, lalu berhenti.

Keringatnya menetes membasahi wajahku. Pria jantan itu lalu mengelus-ngelus wajahku seolah sedang berterima kasih. Saya tersenyum puas sambil memejamkan mataku. Tak dapat dipercaya kalau saya telah melakukan oral sex dengan pejantan itu. Kukira saya dapat beristirahat, namun tiba-tiba kurasakan tangan Supri menjalar ke pahaku. Sewaktu kubuka mataku, Supri telah berdiri di depan kontolku.

Dengan bernafsu, Supri membasahi jari-jarinya kemudian jari-jari basah itu dimain-mainkan di lubang anusku yang masih ketat. Ketika jari-jari itu menekan masuk ke dalam anus, rasanya agak nyeri dan sakit. Apalagi ketika Supri memutar-mutarnya. Katanya, dia perlu melonggarkan sedikit lubang pantatku sebab lubangku terlalu ketat. Lama-kelamaan terasa nyaman dan nikmat. Saya mulai terbuai..

"Aa!! Apa itu?!" teriakku.

Rasanya luar biasa sakit. Sesuatu yang jauh lebih besar tiba-tiba menghunjam masuk. Tersadar olehku kalau benda itu adalah kontol Supri. Ya, tidak salah lagi, pikirku. Benda itu besar dan panjang, hangat, agak basah di bagian ujungnya dan berdenyut-denyut.

"Aahh..!! Sakit.." erangku.
"Diam loe, homo! Loe adalah budak seks gue dan loe musti mau gue ngentot. Sebentar lagi, loe udah bukan perjaka lagi.." tawanya riang.
"Jarang sekali bisa perkosa cowok homo yang masih perjaka.. Aahh.. Nikmatnya.."

Supri menarik jari-jarinya keluar dan menusukkan kontolnya lebih dalam lagi. Saya mengerang semakin keras. Sakitnya bukan kepalang. Rasanya seperti hendak terbelah dua saja. Lubang pantatku menganga lebar, tersumbat oleh kontol kuda itu. Air mata mengalir dari mataku, saya telah diperkosa oleh Supri.

Pada saat itu, saya benar-benar menyesal telah meminta permohonan konyol macam itu, namun sudah terlambat untuk menyadarinya. Supri mulai menggenjot pantatku. Masuk, keluar, masuk keluar.. Seiring dengan irama genjotannya, saya menangis dan mngerang. Lubang duburku benar-benar panas dan perih. Saya berusaha untuk berontak namun tali itu mengikatku terlalu kuat.

"Aagghh!!" teriakku lagi.
"Ampun, Bang.. Aacchh.. Sakit.. Ampun, Bang.." tangisku.
"Aacchh!!" Namun tangisku tak dihiraukannya. Malah Supri menjadi semakin beringas dan liar.
"Oohh.. Lubang loe ketat sekali.. Aahh.. Lebih ketat dibanding memek.. Uugghh.. Mimpi apa gue semalam.. Aahh.. Bisa dapatin homo kayak loe.. Aahh.." sahutnya di sela-sela aktivitas ngentotnya.

Saya terkejut ketika menyadari bahwa saya menikmati rasa sakitku. Rasa sakit akibat diperkosa Supri itu terasa sangat nikmat. Gesekan kontolnya dengan dinding dalam duburku mengirim sinyal-sinyal nikmat ke otak mesumku. Perlahan namun pasti, saya terhanyut dalam irama ngentotnya.

Supri nampaknya mahir sekali dalam urusan ngetot-mengentot. Dia bisa melakukannya dalam ebrbagai versi. Pertama dia bisa melakukannya dengan sangat lambat. Menusukkan kontolnya sampai masuk dalam sekali lalu dicabut seluruhnya. Kemudian, kontolnya itu dihujamkan lagi tanpa ampun dan kemudian ditarik lagi. Begitu eterusnya dan semuanya dilakukan dalam tempo lambat. Sungguh sakit, menyiksa, namun nikmat bagiku. Kedua, Surpi bisa mengentotiku dengan sangat cepat seperti laju kereta api express. Saking cepatnya, tubuhku terguncang-guncang dan lubangku terasa mulai berdarah. Ketiga, Surpi dapat memutar-mutarkan kontolnya di dalam anusku. Aahh.. Nikmatnya..

"Aahh.. Homo.. Oohh.. Ngentot.. Aarrghh..!! Nikmatnya.. Aahh.." erang Supri.

Sekujur tubuhnya bsah dengan keringat. Rambutnya pun basah. Keringatnya jatuh membasahi tubuhku yang juga mulai berkeringat. Sisa pejuhnya yang tadi dia keluarkan sedikit terlumur di badanku.

"Lagi, Bang.. Lagi.." mintaku, terengah-engah.
"Wow, lihat ini.. Budak homoku akhirnya menunjukkan kulit aslinya.. Aahh.. Gue tau.. Loe pasti suka.. Oohh.. Dientotin ama kontol gue.. Ngentot! Arrghh.."

Supri kemudian memegang kontolku yang telah banjir dengan "precum"-ku dan mulai mengocoknya. Kontolnya masih terus memompa tubuhku.

"Ngecret, ngecret, ngecret.." ulangnya berkali-kali, seperti mantra.
"Oohh!!"

Saya tidak kuat lagi. Saya harus ngecret. Saya harus mengeluarkan pejuhku.. Pejuh seorang homo..

"Aarrgghh..!! Oohh!! Aahh!! Uughh!! Oohh!!"

Saya terus mengerang-erang seperti orang kesetanan. Tubuhku menggelepar-gelepar seperti tersengat listrik, tersengat orgasme hebat. Mengalami orgasme hebat sambil terikat di meja dengan sebuah kontol super di dalam pantat rasanya NIKMAT sekali!! Aarrgghh..!! Pada saat yang sama, Supri pun berorgasme.

Begitu saya ngecret, lubang duburku menutup secara refleks dan mencekik kontol Supri. Kontan saja, kontol itu pun menyerah dan memuntahkan laharnya untuk yang kedua kalinya Crot!! Crot!! Crot!! "aarrgghh!!" Dengan jeritan yang keras sekali, seperti lolongan serigala yang terluka, Supri pun ngecret. Badannya mengejang-ngejang dengan dahsyat. Pejuhnya, seperti air bah, membanjiri lubang ngentotku. Aahh.. Hangat.. Tubuh kami berdua dikuasai oleh setan orgasme dan setan nafsu seks. Saya baru pertama kali itu mengalami orgasme yang sedemikian hebat.

Akhirnya orgasme itupun usai. Supri menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku. Pejuh yang kusemprotkan menodai perutku dan perutnya. Rasanya enak sekali ditimpa oleh pria segagah Supri. Afterplay kami diisi dengan tidur-tiduran seperti itu selama beberapa menit. Setelah Supri berhasil mengumpulkan tenaganya kembali, dia bangun dan menciumiku dengan mesra. Kontolnya telah melemas di dalam anusku dan tergelincir keluar dengan sendirinya. Pejuhnya yang bersarang di dalam anusku juga ikut mengalir keluar seperti tetesan air keran. Supri pun berkata..

"Mulai saat ini, loe adalah budak gue. Kapan pun gue panggil, loe musti datang. Kalo nggak, gue bakal beberin semuanya ke orang se-RT biar semua tau loe homo."
"Loe musti bersedia nyedot kontol gue, minum pejuh gue, dingentotin gue, dan juga ngelakuin apapun yang gue suruh. Ngerti?", lanjutnya lagi. Saya hanya mengangguk lemah.
"Loe adalah homo gue. Hak milik Supri. Gak boleh ada cowok lain yang ngentotin loe, kecuali gue yang suruh. Mengerti?"
"Ya, Bang," sahutku lemah.

Dan dimulailah hari-hariku bersama Supri. Setiap hari, saya dingentot habis-habisan oleh Supri. Tak jarang Supri mengundang teman-temannya sesama tukang bangunan untuk menghajar pantat homoku dna memuaskan nafsuku akan kontol. Dan saya bahagia untuk dapat menjadi budak seorang tukang bangunan macho seperti Supri.

TAMAT


Budak seks pekerja bangunan

Awek Pantat Panas CantikInilah cerita GAY SEX PERTAMA berbahasa Indonesia yang pernah saya tulis dalam hidupku. Mulanya, saya tidak berniat untuk mempublikasikannya tapi karena antusiasme para pembaca cerita situs 17Tahun yang sangat besar pada ceritaku yang berbau tukang bangunan: "2 Abang Tukang Bangunan" dan "0", saya memutuskan untuk mempublikasikannya. Dalam kesempatan ini, saya ingin berterima kasih pada semua pembaca 17Tahun.com yang telah membaca kedua cerita di atas karena kedua cerita itu sampai masuk ke dalam Top 10 List cerita Sesama Pria yang paling sering dibaca.

Jika ada ide cerita, Anda boleh mengirimkannya. Terima kasih juga bagi semua yang telah menghubungiku. Maaf jika tidak semuanya bisa kubalas karena jumlahnya BANYAK sekali :) Terima kasih sekali lagi. Saya akan terus menulis untuk kepuasan Anda sekalian. Tunggu apalagi? Buka celana kalian, keluarkan kontol yang menggiurkan itu, santai saja, dan nikmati cerita ini sambil mengocok kontol kalian.



*****

Sejak masa puber, saya sudah tahu kalau saya berbeda dengan para pria lainnya. Saya menyukai sesama lelaki. Tapi karena saya jarang keluar rumah, saya kurang berinteraksi dengan para pria di luar sana. Sebagai pelampiasan, saya sering masturbasi sambil melihat koleksi foto cowok bugil yang kudapat dari internet, hasil copian di warnet tiap minggu. Fantasi terbesarku adalah diperkosa oleh laki-laki jantan berbadan bagus. Saya tak pernah menyangka bahwa fantasiku akan terwujud sebentar lagi..

Pagi itu, saya sedang berjalan-jalan di sekitar lingkungan tempat tinggalku untuk mencari angin pagi. Seperti biasa, sambil berjalan, kusapukan pandanganku mencari laki-laki ganteng untuk mencuci mata. Sesosok tubuh pria pribumi bertelanjang dada menangkap perhatianku. Tubuhnya terlihat sangat bagus dari belakang. Memang tidak sebagus tubuh binaragawan, namun tetap saja menggiurkan. Pokoknya cocoklah kalau dia memutuskan ingin menjadi model sampul majalah fitness pria. Warna kulitnya agak gelap, namun dengan tubuh seseksi itu, dia nampak semakin menarik. Otot-otot punggungnya terbentuk lumayan, nampaknya dia adalah seorang tukang bangunan atau semacamnya.

Sesekali, dia menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, tanpa sengaja memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya. Nampaknya dia tak terlalu tua, sekitar 30an. Tampangnya sangat jantan, tegas, dan "beringas". Tapi wajahnya lumayan menarik juga. Perlahan-lahan, batang kontolku mulai berdiri. Di dalam otakku yang mesum, kubayangkan nikmatnya diperkosa olehnya. Oohh.. Saya lalu memutuskan untuk berjalan tepat di belakangnya. Kapan lagi bisa ketemu lelaki menggiurkan seperti ini? Telanjang dada lagi ;)

Setelah beberapa menit kuikuti, tiba-tiba dia berbelok arah dan masuk ke dalam sebuah gang kecil. Dengan tekad membara, kuikuti dia seperti seorang mata-mata. Gang itu sepi sekali. Tak ada satu pun orang di sana. Semakin kuikuti, saya menjadi semakin takut namun gairahku malah semakin tinngi. Kontolku telah basah oleh "precum" dan cairannya telah membasahi bagian depan celena pendekku yang tipis.

Tiba-tiba, pria itu berhenti. Otomatis, saya berhenti juga. Pada saat dia membalikkan tubuhnya dan memandangku, jantungku serasa ingin lepas. Saya takut sekali. Bagaimana jika dia sampai tahu bahwa saya mengikutinya. Namun pria itu hanya tesenyum. Senyuman itu nampaknya seperti senyuman seorang penjahat.

"Mau apa loe ngikutin gue?" Nada bicaranya terdengar agak tak ramah. Saya hanya terdiam saja. Saat saya tertunduk, kulihat benjolan basah besar di celanaku.
"Gawat, dia pasti melihatnya.. Aduh, bagaimana ini?", pikirku.

Pria itu mendekatiku. Entah kenapa, saya hanya berdiri terpaku di situ. Saya mulai gemetar ketakutan, namun ketakutanku hanya menambah gairahku. Dalam hatiku, saya berharap dia akan memperkosaku. Saya rela memberikan keperjakaanku padanya.

"Loe suka liat badan gue, yach?" tanyanya setelah mengamati benjolan di celanaku.

Tangan kanannya bergerak menyapu dada bidangnya. Dadanya yang agak gelap diremas-remas. Tak ayal lagi, putingnya mulai menegang menjadi sangat lancip. Gairahku menjadi tak terbendung lagi. Ingin rasanya saya memintanya untuk menyodomi pantatku, namun saya terlalu takut.

"Loe suka ini?" tanyanya lagi, kali ini agak terdengar menantang.

Dia berjalan semakin dekat.. Dekat.. Dan dekat, hingga akhirnya wajahku hampir menyentuh lehernya (Dia lebih tinggi dibanding diriku). Menundukkan kepalanya sedikit, dia berbisik..

"Pengen diperkosa nggak?"

Saya hanya terdiam. Air liurku rasanya susah sekali ditelan. Tangannya meraih turun dan memegang benjolanku dengan kasar.

"Kontol loe pasti bagus. Gue paling suka ama kontol yang nggak disunat.."

Setelah puas meraba-raba daerah terlarangku, dia meraih resleting celananya. Dengan sekali tarik, resleting itu terbuka dan kepala kontolnya menyembulkan diri untuk memberi salam. Namun saya menjadi semakin takut. Palkon (kepala kontol) pria itu begitu besar dan ukuran itu hanya ukuran sewaktu masih lemas. Bagaimana jika kontolnya terangsang? Saya mulai berpikir untuk menolak kesempatan ini. Saya memang ingin dingetotin, tapi bukan oleh kontol kuda. Saya bersiap-siap untuk kabur namun dia dapat membaca pikiranku. Sebelum saya sempat bertindak, kedua tangannya telah mencengkeram bahuku dengan sangat kuat.

Sambil menatap kedua mataku dalam-dalam, dia berkata..

"Loe nggak bakal ke mana-mana. Kalo loe berani kabur tau teriak, gue akan sumpah gue bakal ngabisi nyawa loe dengan kedua tangan ini.." Cengkeramannya dipererat untuk menegaskkan maksudnya.

Saya sungguh tak berdaya. Pada saat dia membawaku ke tempatnya, saya hanya dapat mengikutinya. Tak ada kesempatan untuk kabur karena dia tetap memegangi bahuku. Kontolnya masih bergoyang-goyang di luar resleting celananya, mengikuti irama jalannya. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah kumuh, tak jauh dari gang tempat dia menangkapku. Dari luar, rumah itu nampak tak terawat dan agak gelap.

Dengan kasar, dia mendorongku masuk. Pria itu ikut masuk, setelah mengunci pintu untuk memastikan saya tak dapat melarikan diri. Rumah itu memang kumuh sekali. Sinar matahari hampir tak dapat masuk. Suasana di dalam rumah kecil itu remang-remang. Lantainya terbuat dari semen halus, ruangannya hanya ada dua, penerangannya tak memadai, jendelanya hanya ada satu, hampir tak ada ventilasi, dan tak ada perabotan selain beberapa meja dan kursi kayu. Saya terhentak. Ruangan ini lebih tepat disebut sebagai ruang tahanan bawah tanah, tempat para tentara menyiksa musuh-mush mereka.. Apa yang akan dilakukan pria itu terhadapku, tanyaku dalam hati.

"Buka baju loe," perintahnya.
"Cepat!!" sambungnya, agak kasar dan tak sabaran.

Beberapa saat kemudian, saya berdiri tanpa sehelai benang pun di hadapan pria itu. Kontolku mengeras bak pelat baja. Kolam "precum" terbentuk di atas palkonku yang tertutup kulup. Pakaianku kutaruh di pojok ruangan itu. Pria itu melahap tubuhku dengan tatapan bernafsu. Kontolnya yang masih tergantung di luar mulai hidup. Pelan-pelan namun pasti, kontol itu memanjang, mengeras, dan membesar.

Tak lama kemudian, kontol itu telah mencapai ukuran maksimum. Panjangnya kira-kira 25 cm. Dan keliling batang kontolnya sekitar 15cm. Sungguh besar kontol yang dia miliki, seperti kontol kuda penjantan. Agar lebih nyaman, pria itu melepas celananya sehingga kini dia pun berdiri telanjang bulat. Tak ada rasa minder sedikit pun di wajahnya. Dia bangga dengan tubuhnya dan juga dengan kontolnya.

"Sini loe." Dengan kasar dan bernafsu, dia menarik tubuhku mendekat padanya.

Tanpa memberiku waktu untuk berpikir, dia melumat bibirku sambil merangkul tubuh telanjangku. Kontol kami saling beradu dan cairan kenikmatan membasahi tubuh kami. Untuk sesaat, rasa takutku menghilang. Pada saat saya sedang terbuai oleh kenikmatan sentuhannya, dengan sigap dia merantai tanganku dan menariknya sekuat mungkin. Tubuhku terangkat ke atas. Dia terus menarik sampai akhirnya kontolku berada tepat di depan mulutnya.

"Ini yang gue suka.. Kontol berkulup.. Mm.." Kontolku langsung disantap olehnya.

Dengan liar, dipermainkannya lidahnya. Saya hanya dapat meronta-ronta kenikmatan sambil mengerang-erang. Bagiku, ini sama sekali bukan pemerkosaan. Namun, saya kemudian menyesal telah berpikir demikian..

Saya hampir saja keluar, namun pria itu menghentikan aksinya, Nampaknya, dia cukup puas dengan "precum" yang kuhasilkan. Rantai yang mengikat kedua tanganku dilepaskannya. Saya langsung dibawa ke sebuah meja kayu dan ditelentangkan di sana. Kedua tangan dan kakiku diikat pada kaki-kaki meja. Khusus untuk kakiku, Supri mengikatnya sedemikian rupa sehingga kakiku ngangkang dan memperlihatkan lubang ngentot yang kumiliki. Ikatannya benar-benar kuat. Saya tak dapat bergerak! Telentang pasrah di sana menunggu nasib. Nasib seorang budak homo.

"Untuk apa tubuhku diikat seperti ini?" tanyaku, khawatir.
"Untuk dientotin.. Untuk apa lagi?" tawanya, bernada mengejek.
"Mulai saat ini, loe adalah budak sex gue. Budaknya Supri. Loe musti muasin nafsu seks gue, dan juga ngecret sebanyak yang loe bisa. Gue paling suka liat budak seks gue ngecret dan mengerang kesakitan akibat dientotin." Kali ini, saya benar-benar ketakutan. Pria yang bernama Supri ini nampaknya tidak main-main.

Supri berjalan mengelilingi meja sambil meraba-raba tubuhku. Sentuhannya hanya membuatku semakin gila dengan gairah. Dia lalu berhenti di depanku.

"Buka mulut loe, homo!" serunya.

Tanpa kubantah, langsung kubuka mulutku dengan senang hati. Kontol kuda itu lalu meluncur masuk. Rasanya besar sekali, mulutku serasa ingin pecah. Kepala kontolnya bergerak maju dan mendesak langit-langit mulutku. Cairan asin mengalir keluar dari lubang kontolnya dan masuk ke dalam mulutku. Rasanya nikmat sekali. Namun sebelum saya dapat menikmatinya, Supri menarik kontolnya mundur. Sesaat kemudian, kontol itu bergerak maju lagi, lalu munder, maju, mundur. Dan begitu seterusnya. Untuk mengimbangi kepalaku, Supri memegang kepalaku menyamping agar dia lebih leluasa memperkosa mulutku. Saya hanya dapat mengerang nikmat sambil sesekali tersedak dan hampir kehilangan napas.

"Yeah.. Hisap terus.. Aahh.. Homo emang paling tau nyenengin cowok.." katanya sambil tersengal-sengal.
"Uugghh.. Aahh.. Loe adalah budak homo gue.. Milik gue seorang.. Aahh.. Nikmat sekali.. Oohh yah.. Oohh.. Ahh.."

Erangan-erangan nikmatnya sebentar pelan, dan sebentar keras. Saya sendiri mulai suka diperlakukan seperti itu. Namun mendadak, Supri semakin panas. Erangan-erangannya semakin keras dan terdengar seperti sedang kesakitan.

"Aarrgghh.. Oohh.. Siap-siap, homo.. Pejuh gue mau keluar.. Aahh.. Oohh.. Telan ini..!! Aarrgghh..!! Oohh.."

Dan dengan itu, kontol Supri pun memuntahkan isinya. Crroott.. Crroot.. Croot.. Cairan putih kental dan hangat itu membanjiri mulutku. Dengan lahap, kutelan semuanya tanpa sisa. Oohh cairan kelaki-lakian Supri memang sangat lezat.. Nikmat sekali..

"Uugghh.. Aahh.. Oohh.." Kontol Supri menembakkan pejuhnya selama kurang lebih sepuluh kali, lalu berhenti.

Keringatnya menetes membasahi wajahku. Pria jantan itu lalu mengelus-ngelus wajahku seolah sedang berterima kasih. Saya tersenyum puas sambil memejamkan mataku. Tak dapat dipercaya kalau saya telah melakukan oral sex dengan pejantan itu. Kukira saya dapat beristirahat, namun tiba-tiba kurasakan tangan Supri menjalar ke pahaku. Sewaktu kubuka mataku, Supri telah berdiri di depan kontolku.

Dengan bernafsu, Supri membasahi jari-jarinya kemudian jari-jari basah itu dimain-mainkan di lubang anusku yang masih ketat. Ketika jari-jari itu menekan masuk ke dalam anus, rasanya agak nyeri dan sakit. Apalagi ketika Supri memutar-mutarnya. Katanya, dia perlu melonggarkan sedikit lubang pantatku sebab lubangku terlalu ketat. Lama-kelamaan terasa nyaman dan nikmat. Saya mulai terbuai..

"Aa!! Apa itu?!" teriakku.

Rasanya luar biasa sakit. Sesuatu yang jauh lebih besar tiba-tiba menghunjam masuk. Tersadar olehku kalau benda itu adalah kontol Supri. Ya, tidak salah lagi, pikirku. Benda itu besar dan panjang, hangat, agak basah di bagian ujungnya dan berdenyut-denyut.

"Aahh..!! Sakit.." erangku.
"Diam loe, homo! Loe adalah budak seks gue dan loe musti mau gue ngentot. Sebentar lagi, loe udah bukan perjaka lagi.." tawanya riang.
"Jarang sekali bisa perkosa cowok homo yang masih perjaka.. Aahh.. Nikmatnya.."

Supri menarik jari-jarinya keluar dan menusukkan kontolnya lebih dalam lagi. Saya mengerang semakin keras. Sakitnya bukan kepalang. Rasanya seperti hendak terbelah dua saja. Lubang pantatku menganga lebar, tersumbat oleh kontol kuda itu. Air mata mengalir dari mataku, saya telah diperkosa oleh Supri.

Pada saat itu, saya benar-benar menyesal telah meminta permohonan konyol macam itu, namun sudah terlambat untuk menyadarinya. Supri mulai menggenjot pantatku. Masuk, keluar, masuk keluar.. Seiring dengan irama genjotannya, saya menangis dan mngerang. Lubang duburku benar-benar panas dan perih. Saya berusaha untuk berontak namun tali itu mengikatku terlalu kuat.

"Aagghh!!" teriakku lagi.
"Ampun, Bang.. Aacchh.. Sakit.. Ampun, Bang.." tangisku.
"Aacchh!!" Namun tangisku tak dihiraukannya. Malah Supri menjadi semakin beringas dan liar.
"Oohh.. Lubang loe ketat sekali.. Aahh.. Lebih ketat dibanding memek.. Uugghh.. Mimpi apa gue semalam.. Aahh.. Bisa dapatin homo kayak loe.. Aahh.." sahutnya di sela-sela aktivitas ngentotnya.

Saya terkejut ketika menyadari bahwa saya menikmati rasa sakitku. Rasa sakit akibat diperkosa Supri itu terasa sangat nikmat. Gesekan kontolnya dengan dinding dalam duburku mengirim sinyal-sinyal nikmat ke otak mesumku. Perlahan namun pasti, saya terhanyut dalam irama ngentotnya.

Supri nampaknya mahir sekali dalam urusan ngetot-mengentot. Dia bisa melakukannya dalam ebrbagai versi. Pertama dia bisa melakukannya dengan sangat lambat. Menusukkan kontolnya sampai masuk dalam sekali lalu dicabut seluruhnya. Kemudian, kontolnya itu dihujamkan lagi tanpa ampun dan kemudian ditarik lagi. Begitu eterusnya dan semuanya dilakukan dalam tempo lambat. Sungguh sakit, menyiksa, namun nikmat bagiku. Kedua, Surpi bisa mengentotiku dengan sangat cepat seperti laju kereta api express. Saking cepatnya, tubuhku terguncang-guncang dan lubangku terasa mulai berdarah. Ketiga, Surpi dapat memutar-mutarkan kontolnya di dalam anusku. Aahh.. Nikmatnya..

"Aahh.. Homo.. Oohh.. Ngentot.. Aarrghh..!! Nikmatnya.. Aahh.." erang Supri.

Sekujur tubuhnya bsah dengan keringat. Rambutnya pun basah. Keringatnya jatuh membasahi tubuhku yang juga mulai berkeringat. Sisa pejuhnya yang tadi dia keluarkan sedikit terlumur di badanku.

"Lagi, Bang.. Lagi.." mintaku, terengah-engah.
"Wow, lihat ini.. Budak homoku akhirnya menunjukkan kulit aslinya.. Aahh.. Gue tau.. Loe pasti suka.. Oohh.. Dientotin ama kontol gue.. Ngentot! Arrghh.."

Supri kemudian memegang kontolku yang telah banjir dengan "precum"-ku dan mulai mengocoknya. Kontolnya masih terus memompa tubuhku.

"Ngecret, ngecret, ngecret.." ulangnya berkali-kali, seperti mantra.
"Oohh!!"

Saya tidak kuat lagi. Saya harus ngecret. Saya harus mengeluarkan pejuhku.. Pejuh seorang homo..

"Aarrgghh..!! Oohh!! Aahh!! Uughh!! Oohh!!"

Saya terus mengerang-erang seperti orang kesetanan. Tubuhku menggelepar-gelepar seperti tersengat listrik, tersengat orgasme hebat. Mengalami orgasme hebat sambil terikat di meja dengan sebuah kontol super di dalam pantat rasanya NIKMAT sekali!! Aarrgghh..!! Pada saat yang sama, Supri pun berorgasme.

Begitu saya ngecret, lubang duburku menutup secara refleks dan mencekik kontol Supri. Kontan saja, kontol itu pun menyerah dan memuntahkan laharnya untuk yang kedua kalinya Crot!! Crot!! Crot!! "aarrgghh!!" Dengan jeritan yang keras sekali, seperti lolongan serigala yang terluka, Supri pun ngecret. Badannya mengejang-ngejang dengan dahsyat. Pejuhnya, seperti air bah, membanjiri lubang ngentotku. Aahh.. Hangat.. Tubuh kami berdua dikuasai oleh setan orgasme dan setan nafsu seks. Saya baru pertama kali itu mengalami orgasme yang sedemikian hebat.

Akhirnya orgasme itupun usai. Supri menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku. Pejuh yang kusemprotkan menodai perutku dan perutnya. Rasanya enak sekali ditimpa oleh pria segagah Supri. Afterplay kami diisi dengan tidur-tiduran seperti itu selama beberapa menit. Setelah Supri berhasil mengumpulkan tenaganya kembali, dia bangun dan menciumiku dengan mesra. Kontolnya telah melemas di dalam anusku dan tergelincir keluar dengan sendirinya. Pejuhnya yang bersarang di dalam anusku juga ikut mengalir keluar seperti tetesan air keran. Supri pun berkata..

"Mulai saat ini, loe adalah budak gue. Kapan pun gue panggil, loe musti datang. Kalo nggak, gue bakal beberin semuanya ke orang se-RT biar semua tau loe homo."
"Loe musti bersedia nyedot kontol gue, minum pejuh gue, dingentotin gue, dan juga ngelakuin apapun yang gue suruh. Ngerti?", lanjutnya lagi. Saya hanya mengangguk lemah.
"Loe adalah homo gue. Hak milik Supri. Gak boleh ada cowok lain yang ngentotin loe, kecuali gue yang suruh. Mengerti?"
"Ya, Bang," sahutku lemah.

Dan dimulailah hari-hariku bersama Supri. Setiap hari, saya dingentot habis-habisan oleh Supri. Tak jarang Supri mengundang teman-temannya sesama tukang bangunan untuk menghajar pantat homoku dna memuaskan nafsuku akan kontol. Dan saya bahagia untuk dapat menjadi budak seorang tukang bangunan macho seperti Supri.

TAMAT