Category Archives: awek melayu

Desy namaku

Awek Pantat Panas CantikNamaku Dessy, 23 tahun. Aku sekarang tinggal di Jakarta. Banyak orang mengatakan bahwa aku sangat cantik, walau aku tak merasa demikian. Aku dilahirkan di satu keluarga yang biasa saja. Ayah dan ibuku bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta. Aku mempunyai 2 orang kakak laki-laki. Yoga, 29 tahun, dan Okky, 25 tahun. Keduanya belum menikah. Yoga bekerja sebagai montir mobil, Okky bekerja serabutan. Dan aku sendiri sampai saat ini belum bekerja setelah tamat kuliah D3.

Aku selalu di rumah membantu ibu dalam urusan rumah tangga. Aku jarang keluar. Sampai saat ini aku belum mempunyai kekasih karena ada suatu hal yang akan aku ceritakan sekarang ini. Keluargaku tidak ada masalah dalam hal ekonomi. Ekonomi kami cukup walau tidak bisa lebih. Hanya saja ada satu hal yang sangat membebani perasaanku saat ini. Kurang lebih 5 bulan yang lalu awal dari beban perasaanku ini dimulai..



Waktu itu, 5 April 2004 pagi hari, ayah dan ibu serta Yoga sudah pergi kerja. Hanya Okky dan aku yang ada di rumah. Okky masih tiduran di kamarnya walau sudah bangun. Aku sendiri sedang menyapu di tengah rumah. Kulihat Okky bangkit dari ranjangnya dan segera keluar dari kamar.

"Masih ada makanan, tidak?" tanya sambil lewat.

Tak kusangka tangan Okky tiba-tiba meremas pantatku dari samping sambil lewat.

"Ihh.. Kamu ngapain sih!" aku membentak.

Okky hanya tersenyum dan segera ke kamar mandi. Aku pikir Okky hanya iseng menggoda aku. Tapi ketika Okky sudah selesai dari kamar mandi, tanpa sepengetahuanku tiba-tiba Okky memelukku dari belakang.

"Hei! Lepaskan aku!" aku berteriak sambil meronta.

Tapi Okky malah sengaja meremas buah dadaku dan menciumi leher dan tengkuk aku. Aku terus meronta, tapi pelukan Okky makin kuat.

"Diamlah, Des.. Sebentar saja," bisik Okky di telingaku sambil tangannya tetap meremas buah dadaku.

Entah kenapa aku jadi lemah meronta. Malah aku rasakan ada perasaan aneh yang menjalari tubuhku. Antara mau dan tidak, aku biarkan tangan Okky meremas buah dadaku. Bahkan ketika Okky menyingkap dasterku dan tangannya masuk ke celana dalamku, aku biarkan tangannya meraba dan menelusuri belahan memekku.

"Mmhh..." aku mendesah dengan mata terpejam.
"Ke kamar, yuk?" bisik Okky tak lama kemudian.

Aku hanya bisa mengangguk. Okky lalu menarik tanganku ke kamarnya. Di dalam kamar, Okky dengan terburu-buru melepas semua pakaian yang melekat di tubuhku. Nafasnya terdengar cepat. Aku diam saja diperlakukan demikian oleh kakakku. Entah kenapa gairahku bangkit diperlakukan demikian.. Nafsuku makin terangsang lagi ketika kulihat Okky melepas semua pakaiannya dan terlihat kontolnya yang cukup besar dipenuhi bulu lebat berdiri dengan tegak.

Okky menghampiri, lalu mengecup bibirku. Aku langsung membalas ciumannya dengan hangat. Tangan Okky kembali bermain dan meremas buah dadaku. Kontolnya sesekali menyentuh memekku sehingga membuat darahku selalu berdesir.

"Ohh.. Ohh..." desahku ketika jari tangan Okky menyentuh memek dan menggosok-gosok belahan memekku. Aku sendiri langsung menggenggam kontol Okky dan meremasnya pelan.
"Mmhh..." desah Okky sambil menggerakkan pinggulnya.
"Isepin kontol aku, Des..." pinta Okky berbisik.
"Tidak mau ah, jijik..." kataku sambil terus mengocok kontol Okky.
"Ya sudah, masukkin langsung saja," kata Okky sambil menarik tubuhku ke atas ranjang.

Tak lama tubuh Okky langsung menindih tubuhku. Diarahkan kontolnya ke memekku lalu didesakannya pelan-pelan.

"Aww! Pelan dong, Ky..." jeritku pelan.
"Susah masuk nih..." kata Okky sambil terus berusaha memasukkan kontolnya ke memekku.
"Aku masih perawan, Ky..." bisikku.

Okky tak menjawab. Dia terus berusaha menyetubuhiku.

"Bantuin dong..." bisik Okky.

Akupun segera menggenggam kontol Okky. Aku arahkan kepala kontolnya ke lubang memekku.

"Tekan pelan-pelan, Ky..." bisikku.

Okky mulai mendesakkan kontolnya pelan.

"Aww.. Terus tekan pelan-pelan.. Aww..." kataku sambil agak meringis menahan perih ketika kontol Okky mulai masuk ke memekku.
"Pelan, Ky.. Pelan.. Aww.. Aww.. Mmhh.. Ohh.. Terus, Ky..." bisikku lirih ketika kontol Okyy sudah mulai keluar masuk memekku.

Okky terus memompa kontolnya mulai cepat.

"Ohh..." desah Okky disela-sela gerakannya menyetubuhi aku.
"Kenapa kamu melakukan hal ini?" tanyaku sambil memeluk Okky.
"Karena aku sayang kamu, suka kamu..." jawab Okky sambil menatap mataku.

Aku diam. Tak terasa air mataku mengalir ke pipi..

"Kenapa kamu menangis?" tanya Okky sambil menghentikan gerakannya.

Aku diam sesaat. Mataku terpejam.

"Karena.. Sudahlah..." kataku sambil tersenyum.

Ada rasa tak menentu saat itu. Antara rasa sedih karena diperawani kakak kandung sendiri, dan juga gairah seks-ku yang sangat tinggi untuk disalurkan, dan entah perasaan apalagi saat itu yang ada di hatiku. Aku lumat bibir Okky sambil menggerakkan pinggulku. Okkypun segera membalas ciumanku sambil melanjutkan menggerakan kontolnya keluar masuk memekku. Lama kelamaan perasaan tak menentu yang sempat hinggap di hatiku mulai menghilang, terganti oleh rasa sayang terhadap kakakku dan rasa nikmat yang sangat tak terhingga. Tak lama aku rasakan Okky mulai menyetubuhiku makin cepat. Dengan mata terpejam didesakkannya kontolnya dalam-dalam ke memekku.

"Ohh.. Aku mau keluar, Des..." kata Okky.
"Jangan keluarkan di dalam, Ky..." pintaku sambil menggerakan pinggulku makin cepat mengimbangi gerakan Okky.

Tak lama Okky segera mencabut kontolnya dari memekku cepat-cepat. Lalu, crott! Crott! Crott! Air mani Okky menyembur banyak di atas perutku. Okky lalu bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Diusap dan diremasnya buah dadaku. Akupun segera memegang dan menggenggam kontol Okky yang sudah mulai lemas.

"Aku sayang kamu..." kata Okky sambil mencium kening dan mengecup bibirku.

Aku tersenyum.. Begitulah, sejak saat itu kami selalu bersetubuh setiap ada kesempatan. Aku sangat menikmati persetubuhan kami. Kedekatan dan keromantisan hubungan kami semakin hari semakin kuat. Seringkali kami saling raba, saling remas bila sedang nonton televisi walau saat itu semua keluarga sedang kumpul. Aku nikmati itu setiap malam. Antara was-was kalau ketahuan dan rasa romantis serta nikmat, semua aku lakukan dengan suka hati.

Rasa sayang yang sangat besar bisa aku rasakan dari Okky. Apapun yang aku mau, atau apapun masalah yang aku hadapi, akan selalu dipecahkan dan dilalui bersama Okky. Kenikmatan dalam persetubuhan dengan Okky telah membawa aku ke suasana yang serba indah. Dengan Okky pula aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya melakukan oral seks. Bagaimana rasanya di jilat memek sampai orgasme, bagaimana rasanya menjilat dan menghisap kontol sampai air mani Okky tumpah di dalam mulutku dan menelannya.

Untuk beberapa bulan kami nikmati "kegilaan" dalam hubungan asmara saudara sekandung. Entah sudah berapa banyak tempat yang kapai pakai untuk melampiaskan rasa sayang dan gairah dalam bentuk persetubuhan. Sudah banyak penginapan dan hotel yang kami singgahi untuk bisa memacu desah dan birahi untuk meraih kenikmatan. Entah sudah berapa puluh kali aku menghisap kontol dan menelan air mani Okky di dalam bioskop. Aku lakukan semua itu dengan perasaan bebas tanpa beban. Aku nikmati semua permainan yang kami lakukan.

Tapi ada satu hal yang mulai membebani hatiku saat ini. Aku mulai merasa berdosa atas hubunganku dengan kakak kandungku. Pernah aku bilang kepada Okky untuk menghentikan hubungan ini, dan mengatakan bahwa aku ingin membina hubungan dengan orang lain. Okky marah besar karenanya. Dia mengatakan bahwa dia sangat sayang aku, dan tidak ada satu orang lelakipun yang boleh menyentuh aku. Bahkan pernah ada beberapa lelaki yang main ke rumah untuk menemui aku, tidak pernah lagi datang berkunjung karena Okky selalu ikut nimbrung ketika aku menemui mereka. Okky selalu dengan ketus menimpali setiap ucapan mereka dengan ucapan yang menyindir dan menghina.

Hal lain adalah, aku tidak bisa menolak keinginan Okky untuk menyetubuhiku. Dan jujur saja kalau aku juga sangat menikmati cumbuan dia karena bisa memenuhi kebutuhanku untuk menyalurkan libido aku. Sekarang aku bingung harus bagaimana. Aku ingin hidup normal dalam membina hubungan asmara dan ingin normal dalam menyalurkan kebutuhan seks aku, tapi tidak mau menyakiti hati kakakku karena aku sangat sayang dia. Aku ingin hidup normal. Tolonglah..

TAMAT


Daftar Cerita Sedarah – 01

Awek Pantat Panas Cantik01. Aku dan 3 sepupuku
02. Fenty sayang papa
03. Adik iparku
04. Adik iparku Asti


05. Adik sepupu istriku
06. Aku dan adik laki-lakiku 1
07. Aku dan adik laki-lakiku 2
08. Aku dan ibu mertuaku 1
09. Aku dan ibu mertuaku 2
10. Aku dan ibu mertuaku 3
11. Aku dan ibu mertuaku 4
12. Aku dan mertua
13. Aku dan tiga sepupuku
14. Aku jadi ketagihan 1
15. Aku jadi ketagihan 2
16. Aku jadi ketagihan 3
17. Aku jadi ketagihan 4
18. Aku jadi ketagihan 5
19. Aku, Mama dan Tante Rina
20. Anakku sarana pelampiasanku
21. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin 1
22. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin 2
23. Ayahku tercinta 1
24. Ayahku tercinta 2
25. Benih papa mertua

26. Adikku
27. Forever in love
28. Anakku tersayang
29. Bersetubuh dengan ibu kandung 1
30. Bersetubuh dengan ibu kandung 2
31. Bibiku korbanku 1
32. Bibiku korbanku 2
33. Birahi adik iparku yang tertunda
34. Birahi ayah kandung 1
35. Birahi ayah kandung 2
36. Birahi ayah kandung 3
37. Birahi ayah kandung 4
38. Budhe Is guruku 1
39. Budhe Is guruku 2
40. Budhe Is guruku 3
41. Cinta selamanya 1
42. Cinta selamanya 2
43. Cinta selamanya 3
44. Dewi sepupuku yang nakal
45. Di kamar Tante Ninik
46. Dina adik gue
47. Family education of sex 1
48. Family education of sex 2
49. Gairah kakak kandung 1
50. Gairah kakak kandung 2

51. Mulusnya ibuku, nikmatnya kakakku
52. Gairah ibu dan anaknya 1
53. Gairah ibu dan anaknya 2
54. Gairah sepupuku
55. Gairah Tanteku di warungnya
56. Gejolak nafsu 1
57. Gejolak nafsu 2
58. Gelora gairah putri sulung Tante
59. Hadiah istimewa dani mama
60. Herry teganya kau
61. Home sweet home
62. Ibu dan anak 1
63. Ibu dan anak 2
64. Ibuku istriku
65. Ima, hilangnya mahkotaku
66. Kado ulang tahun kakakku 1
67. Kado ulang tahun kakakku 2
68. Kado ulang tahun kakakku 3
69. Kisah cinta ibu dan anak 1
70. Kisah cinta ibu dan anak 2
71. Mama ohhh... mama
72. Mamaku sayang 1
73. Mamaku sayang 2
74. Mamaku sayang 3
75. Senin sore di kampung halamanku

76. Adik sepupu istriku
77. Mamiku 1
78. Mamiku 2
79. Nikmatnya anak tiriku 1
80. Nikmatnya anak tiriku 2
81. Nikmatnya lubang anus ibu kandung
82. Nikmatnya tubuh keluargaku
83. Ohhh mama ohhh adikku
84. Pelajaran cinta buat adikku 1
85. Pelajaran cinta buat adikku 2
86. Pelajaran cinta buat adikku 3
87. Pelajaran dari Tante Sofi 1
88. Pelajaran dari Tante Sofi 2
89. Pelajaran dari Tante Sofi 3
90. Penyesalan tiada akhir 1
91. Penyesalan tiada akhir 2
92. Penyesalan tiada akhir 3
93. Pernikahan putriku 1
94. Pernikahan putriku 2
95. Persetubuhan yang terlarang 1
96. Persetubuhan yang terlarang 2
97. Ranting patah 1
98. Ranting patah 2
99. Ranting patah 3
100. Ranting patah 4




Daftar Cerita Sedarah – 01

Awek Pantat Panas Cantik01. Aku dan 3 sepupuku
02. Fenty sayang papa
03. Adik iparku
04. Adik iparku Asti


05. Adik sepupu istriku
06. Aku dan adik laki-lakiku 1
07. Aku dan adik laki-lakiku 2
08. Aku dan ibu mertuaku 1
09. Aku dan ibu mertuaku 2
10. Aku dan ibu mertuaku 3
11. Aku dan ibu mertuaku 4
12. Aku dan mertua
13. Aku dan tiga sepupuku
14. Aku jadi ketagihan 1
15. Aku jadi ketagihan 2
16. Aku jadi ketagihan 3
17. Aku jadi ketagihan 4
18. Aku jadi ketagihan 5
19. Aku, Mama dan Tante Rina
20. Anakku sarana pelampiasanku
21. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin 1
22. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin 2
23. Ayahku tercinta 1
24. Ayahku tercinta 2
25. Benih papa mertua

26. Adikku
27. Forever in love
28. Anakku tersayang
29. Bersetubuh dengan ibu kandung 1
30. Bersetubuh dengan ibu kandung 2
31. Bibiku korbanku 1
32. Bibiku korbanku 2
33. Birahi adik iparku yang tertunda
34. Birahi ayah kandung 1
35. Birahi ayah kandung 2
36. Birahi ayah kandung 3
37. Birahi ayah kandung 4
38. Budhe Is guruku 1
39. Budhe Is guruku 2
40. Budhe Is guruku 3
41. Cinta selamanya 1
42. Cinta selamanya 2
43. Cinta selamanya 3
44. Dewi sepupuku yang nakal
45. Di kamar Tante Ninik
46. Dina adik gue
47. Family education of sex 1
48. Family education of sex 2
49. Gairah kakak kandung 1
50. Gairah kakak kandung 2

51. Mulusnya ibuku, nikmatnya kakakku
52. Gairah ibu dan anaknya 1
53. Gairah ibu dan anaknya 2
54. Gairah sepupuku
55. Gairah Tanteku di warungnya
56. Gejolak nafsu 1
57. Gejolak nafsu 2
58. Gelora gairah putri sulung Tante
59. Hadiah istimewa dani mama
60. Herry teganya kau
61. Home sweet home
62. Ibu dan anak 1
63. Ibu dan anak 2
64. Ibuku istriku
65. Ima, hilangnya mahkotaku
66. Kado ulang tahun kakakku 1
67. Kado ulang tahun kakakku 2
68. Kado ulang tahun kakakku 3
69. Kisah cinta ibu dan anak 1
70. Kisah cinta ibu dan anak 2
71. Mama ohhh... mama
72. Mamaku sayang 1
73. Mamaku sayang 2
74. Mamaku sayang 3
75. Senin sore di kampung halamanku

76. Adik sepupu istriku
77. Mamiku 1
78. Mamiku 2
79. Nikmatnya anak tiriku 1
80. Nikmatnya anak tiriku 2
81. Nikmatnya lubang anus ibu kandung
82. Nikmatnya tubuh keluargaku
83. Ohhh mama ohhh adikku
84. Pelajaran cinta buat adikku 1
85. Pelajaran cinta buat adikku 2
86. Pelajaran cinta buat adikku 3
87. Pelajaran dari Tante Sofi 1
88. Pelajaran dari Tante Sofi 2
89. Pelajaran dari Tante Sofi 3
90. Penyesalan tiada akhir 1
91. Penyesalan tiada akhir 2
92. Penyesalan tiada akhir 3
93. Pernikahan putriku 1
94. Pernikahan putriku 2
95. Persetubuhan yang terlarang 1
96. Persetubuhan yang terlarang 2
97. Ranting patah 1
98. Ranting patah 2
99. Ranting patah 3
100. Ranting patah 4




Veri harapan baruku – 1

Awek Pantat Panas CantikSemenjak kita bertemu, dunia dipenuhi keajaibanTerima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kitaBeribu-ribu kebahagiaan dan rasa cintaSemua terajut dan teranyam dalam memori indah
Semenjak kita bertemu, dunia nampak sangat indahTerima kasih pada nasib yang telah menyatukan kitaBersama kita menjelajahi dunia dan mencari arti cintaWaktu berlalu, dipenuhi kenangan-kenangan indah
Walau laut mengering dan gunung-gunung robohWalau langit runtuh dan bumi terbelahKita akan tetap bersama, bergandengan tanganCinta kita tumbuh tiap hari, semoga tanpa halangan
Bersama, menyaksikan matahari terbenam di ufuk baratBersama, bernyanyi di bawah terang bulanBersama, menjalin kasih dan cintaSemoga aku dapat di sisimu dan mencintaimu selamanya..


*****
Aku kembali ditinggal oleh pria yang kucintai; hatiku kosong dan hampa. Di saat itulah, Veri melangkah masuk. Takdir memang aneh. Saya sudah mengenal Veri sejak beberapa bulan yang lalu, tapi saya tidak mengontaknya karena saat itu saya sedang menjalin hubungan dengan mantanku yang ke-4. Saat aan, mantanku yang ke-5, mencampakkanku, aku merasa sangat sedih dan berputus asa. Bahkan dulu saya hampir saja bunuh diri..
Entah kenapa, di malam saat akan terbang ke Arab, saya merasa sangat membutuhkan seseorang. Dan orang yang lewat di benakku adalah Veri! Berbekal nomor HP-nya, kutelepon dia. Untunglah, Veri masih mengenalku. Kami dulu memang saling mengenal tapi belum pernah bertemu, maka saat itulah kami memutuskan untuk bertemu.
Pertemuan kami terjadi beberapa hari setelah saya menghubunginya. Tepatnya hari Selasa tanggal 21 September 2004, sore hari. Tanggal 21 kebetulan merupakan tanggal ulang tahunku; aku bertemu dengannya tepat 8 bulan setelah hari ulang tahunku. Dengan mengendarai mobilnya, Veri datang ke rumahku. Saya berdiri di depan jalan, menunggunya.
Jujur, saya merasa seperti orang bodoh karena saya tidak tahu kapan dia akan datang dan mobil mana yang merupakan mobilnya. Tapi untunglah, semenit kemudian, sebuah mobil model minibus warna biru tua datang menghampiri. Seorang pria memberi tanda arah padaku. Kuikuti saja mobil itu masuk ke dalam gang rumahku, tapi masih takut kalau saya salah mengenali orang. Untung saja klakson lalu berbunyi. Yakinlah saya bahwa itu Veri.
Agak gugup, saya masuk dan naik ke dalam mobilnya. Kami bersalaman. Veri nampak ganteng dan berwibawa dengan kemeja birunya. Senyumannya mengembang dan membuatku langsung jatuh hati. Kami singgah di rumahku sebentar. Veri tidak canggung saat bertemu orangtuaku, bahkan bisa ngobrol akrab. Saat kami hanya berduaan saja, Veri merengkuhku.
Dengan penuh gairah, bibirnya menciumku bibirku. Aku menerima dan membalas ciumannya. Rasanya sangat nikmat. Aku sangat merindukannya karena pria terakhir yang menciumku adalah aan dan saat itu sudah sebulan lamanya saya tidak menerima kasih sayang dari seorang pria dalam bentuk ciuman, belaian, dan pelukan. Maka saat Veri mencumbuku, aku luluh dan lumer di dalam pelukan Veri.
Usai berciuman, kami duduk berdekatan, saling memeluk dan meraba. Saat itulah saya bertanya apakah Veri berniat mencari seorang kekasih ataukah dia hanya mau mencari teman seks saja. Dengan lembut, Veri menjawab bahwa dia sedang mencari kekasih, tapi dia belum bisa memastikan karena dia belum mengenalku. Aku agak kecewa tapi aku mengerti. Kami kembali bercumbu. Ah, alangkah aku sangat merindukan belaian seorang lelaki.
Veri mengingatkanku pada Aan. Mereka sama-sama Muslim dan pribumi, berumur 30 tahun, mempunyai model badan yang sama (dada lebar padat tapi perut agak gempal), bahkan berat badan mereka dan suara mereka nyaris sama! Veri nampak seolah-olah adalah 'kembaran aan'. Dan mereka sama-sama tampan, meskipun masing-masing memiliki ketampanan khas masing-masing. Tapi alasanku menyukai Veri bukan karena dia adalah 'kembaran aan'. Tapi karena saya membutuhkan kasih sayang dan Veri nampak ingin membaginya denganku.
Karena rumahku ramai, kami memutuskan untuk memadu kasih di luar saja. Sepanjang perjalanan, tak tahu hendak ke mana, kami berbincang-bincang. Veri menyebutkan bahwa mungkin kelak dia akan menikahi seorang wanita. Hatiku agak perih saat mendengarnya. Aku takut, kisah cinta tragisku dengan aan akan terulang kembali dengan Veri. Namun Veri telah mencuri hatiku; aku tak kuasa menolaknya.
Bagaikan ngengat yang tertarik ke arah api, aku membiarkan diriku jatuh cinta padanya. Aku sadar bahwa kelak nanti aku mungkin akan terluka karena terbakar api cintaku; sama seperti yang kualami dengan aan. Tapi dalam hati aku berharap dan berdoa semoga kisah cintaku dengan Veri tidak akan berakhir tragis seperti kisah-kisah cintaku yang lain.
"Aku suka ama kamu," kata Veri tiba-tiba. Nada bicaranya kalem dan menghanyutkan. Matanya tetap tertuju ke depan, mengendarai mobilnya. Tapi saat ada kesempatan, Veri akan memalingkan wajahnya ke arahku dan menatapku dengan penuh cinta."Kamu lembut," sambungnya."Kamu spesial dan aku sangat menyukaimu."
Wajahku memerah seperti lobster rebus. Baru kali ini, ada seorang pria yang mampu meluluhkanku dengan kata-kata. Hanya pria romantis saja yang dapat berlaku demikian, dan aku sangat menyukainya. Veri hanya tersenyum saja melihatku salah tingkah. Tapi kubalas pujiannya dengan mengembangkan senyumku yang terindah. Berbeda dengan para mantanku, Veri tidak canggung mengekspresikan rasa sukanya dengan kata-kata dan perbuatan. Aku suka dia.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya merasa sangat dimanja. Aku merasa seolah-olah menjadi bintang utama dalam sebuah film percintaan gay. Dengan penuh kasih sayang, Veri memintaku untuk bersandar di pundaknya. Mulanya saya ragu karena takut mengganggu (ingat, Veri sedang menyetir), tapi dia memaksa. Maka tanpa membantah, kusandarkan kepalaku di bahunya. Meskipun Veri tidak bisa membalas dengan belaian tangan, bagiku sudah cukup. Rasanya sungguh sangat menyenangkan.
Saat itu, entah kenapa, saya malah mau menangis. Kurasa, saya terlalu bahagia. Tapi nampaknya Veri tidak sempat melihat mataku yang agak berkaca-kaca. Kami tidak peduli bila orang-orang di luar mobil melihat kelakuan gay kami. Yang kami tahu, dunia hanya milik kami berdua saja; yang lain cuma ngontrak. Sepanjang perjalanan, saya berkhayal tentang kehidupan masa depanku bersama Veri. Ah, alangkah bahagianya diriku bila hal itu dapat terwujud. Tanpa terasa, akhirnya perjalanan berhenti di pantai Ancol.
"Tinggalkan saja kacamatamu di mobil. Kamu lebih manis tanpa kacamata," kata Veri."Tapi nanti aku buta. Kalau aku menabrak sesuatu, bagaimana?" sahutku, tersenyum manis padanya."Gak apa-apa. Nanti kubimbing," balasnya. Senyumannya manis sekali, tidak dapat kutolak.
Turun dari mobil, kulepas kacamataku sebentar. Veri menghampiriku dan kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. Oh, bahagianya. Baru kali ini saya diperlakukan istimewa oleh seorang pria! Dia membimbingku melewati hamparan pasir. Tangannya yang kokoh tetap terlilit di pinggangku. Bunyi deburan ombak terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
"Kita ke toilet sebentar yuk," ajaknya."Mau kencing".
Toilet pantai Ancol kecil dan bersih, tapi dipungut biaya pakai. Di sanalah untuk pertama kalinya saya melihat batang kejantanan Veri. Untung saat itu sepi sehingga kami bisa leluasa kencing. Batang Veri masih setengah tertidur, namun tetap terlihat gagah. Sambil mengosongkan kandung kemihku, saya terus-menerus menatap alat kelamin Veri. Dan Veri pun demikian. Ingin rasanya saya berjongkok dan langsung melumat penisnya. Veri hanya tersenyum penuh arti.
Suasana pantai di malam hari memang gelap. Aku sama sekali tidak dapat melihat laut. Di sisi pantai, nampak banyak pasangan heteroseksual sedang bercengkerama. Mungkin Veri dan saya adalah satu-satunya pasangan homoseksual di sana. Kebetulan ada toko makanan di dekat pantai. Veri pun memesan Green Sands dan susu soda. Selama beberapa saat, kami duduk santai di sana, membicarakan banyak hal. Kami hanya minum dan saling memandang.
Mukaku kembali memerah. Baru kali ini ada pria yang benar-benar menyukaiku apa adanya, fisik dan mental. Diam-diam, saya menjadi semakin jatuh cinta kepadanya. Veri suka sekali merokok. Seperti lokomotif, dia mengepulkan asap dari mulut dan hidungnya. Sesekali, saat tak ada yang memperhatikan kami, Veri menciumku. Saya sangat menyukainya. Suasana pun sangat mendukung, sangat romantis.
"Kita ke mobil, yuk," katanya tiba-tiba."Biar lebih enak."
Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Buru-buru, aku bangkit mengikutinya. Sebuah tonjolan besar menggembungkan bagian depan celana panjangku. Ingin sekali saya bercinta dengannya. Saat berada kembali di dalam mobil, Veri memegang tanganku dan memindahkannya ke atas tonjolan celananya. Astaga, keras sekali ereksinya. Kuremas-remas penisnya sambil tersenyum mesum. Aku ingin sekali bercinta dengannya, melanjutkan hidupku dan melupakakan aan. Untuk sesaat, aku hanyut di dalam mata Veri yang penuh cinta. Saya merasa sangat tenang, dan disayangi. Perasaan itu sungguh sangat indah..
Kami berkendara menuju tanah lapang di pojok area Ancol. Di sisi kiri dan kanan terlihat mobil-mobil berparkiran. Menurut Veri, di tempat inilah para pasangan asyik bermesraan di dalam mobil. Saya memang pernah mendengarnya tapi saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan untuk mencobanya. Mobil kami, bergoyang-goyang melewati tanah yang tak rata, berjalan perlahan mencari tempat kosong.
Saat mobil Veri sudah terparkir, Veri bergegas pindah ke bangku belakang. Dengan cekatan, celana panjangnya diperosotkan ke bawah. Penisnya yang indah itu kembali dikeluarkan, membuatku kehabisan napas. Veri memberiku tanda untuk menghampirinya. Tanpa menolak, saya langsung pindah dan duduk di sampingnya. Celana panjang dan celana dalamku kulepaskannya, berikut sepatuku. Hawa AC mobil Veri yang memang agak dingin membuat sekujur tubuhku merinding karena kedinginan. Putingku agak mengeras akibat rasa dingin itu. Tapi pada saat yang sama, saya sedang kepanasan karena nafsu.
"Hisap batangku," kata Veri sambil meraih kepalaku.
Maka untuk pertama kalinya, saya menghisap batang kejantanan Veri. Mulutku membungkus kontolnya dan air liurku membasahi permukaan kepala kontolnya yang sangat sensitif. Dan aku mulai menghisap, menjilat, menyedot. Kukerahkan semua kemampuan oral seks-ku agar Veri merasa puas.
"Hhoohh.. Aahh.. Oohh.." Veri mendesah-desah, tangannya meraba-raba punggungku.
Usahaku dihadiahi dengan cairan precum yang melelh kelaur dari lubang kencing Veri. Dengan rakus, kujilat habis semuanya. Mm.. Nikmat sekali. Air liurku terus membasahi kontol Veri, sebagian mengalir turun membasahi pangkal kontolnya yang rimbun dengan rambut kemaluan. Mulutku terus-menerus menghisap batang itu. SLURP! SLURP!
Veri menyetir kepalaku dan membawanya ke sepasang bola pelernya yang nampak menggiurkan. Kujilat-jilat sepasang bola itu sambil meraba-raba tubuh Veri. Ah, semua bagian tubuhnya terasa nikmat dan enak. Bola peler itu mulai mengkilat karena air liurku. Veri mengurut-ngurut bolanya sambil mendesah nikmat. Tanpa disuruh, aku kembali menyedot kontolnya. SLURP! SLURP! SLURP!
Bersambung . . . . .