Monthly Archives: June 2013

Aku yang dimadu

Awek Pantat Panas CantikSebut saja namaku Christine, aku berasal dari kota S. Pendidikanku cukup baik, aku selalu berhasil dengan baik dalam tiap pelajaran, bahkan aku dapat lulus dari perguruan tinggi dengan IP yang sangat baik. Tetapi itu semua tidak menjamin kebahagiaan, aku dididik dengan pendidikan yang kolot, serius, sehingga aku cenderung menjadi orang yang kuper dan pendiam. Namun itu tidak menyulitkanku dalam hal perjodohan, karena banyak orang mengatakan bahwa aku cantik, dan memiliki mata yang bundar, aku tidak terlalu memahami apa yang mereka katakan, namun kebanyakan pria yang mendekatiku mengatakan hal serupa.

Karena itulah dalam usia yang relatif muda, 21 tahun aku berhasil menemukan jodoh yang baik, dia cukup kaya dan orangnya pengertian walaupun usianya jauh lebih tua dari aku, 31 tahun, maklum karena aku selama ini dibesarkan dengan didikan orang tua yang otoriter sehingga suamiku juga cukup selektif karena Mama hanya memperbolehkan orang yang qualified menurutnya untuk apel ke rumahku, bila pria yang apel ke rumahku berkesan norak dan hanya membawa kendaraan roda dua, jangan harap Mama akan mengijinkannya untuk apel lagi.



Selama beberapa tahun, hubungan kami baik-baik saja, kami dikaruniai dua orang anak, dan kami sangat berkecukupan di bidang materi. Namun kadang-kadang tidak semuanya berjalan lancar, ternyata suamiku tidak bisa lagi memberi nafkah batin kepadaku, ternyata dia mengalami problem impotensi, karena overworking. Tetapi saya tetap mencintainya karena dia jauh dari perselingkuhan dan dia sangat perhatian kepadaku.

Walaupun dia sudah tidak dapat lagi memberiku kepuasan, namun saya tetap menahan diri dan mencoba untuk tidak berselingkuh. Semuanya berjalan dengan baik sampai akhirnya datang Roni. Dia adalah rekan bisnis suamiku sejak lama, namun aku baru sekian lama dapat berjumpa dengannya, dia seusia suamiku, menurutnya dia dan suamiku berpartner sejak mulai bekerja, kami kemudian menjadi dekat karena dia orangnya humoris.

Dasar laki-laki tampaknya dia cukup tanggap dengan keadaan suamiku yang tidak mampu lagi memuaskan diriku sehingga akhirnya dia akan membawaku ke jurang kehancuran, aku dapat merasakan matanya yang jalang bila melihatku, terus terang saja aku merasa risih namun ada sensasi birahi dalam diriku bila dipandang seperti itu, aku tidak tahu mengapa, mungkin karena aku tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu, walaupun ketika masih mojang aku mempunyai banyak kenalan pria.

Suatu saat dia menelepon dari hotelnya, dia menyuruhku menjemput suamiku yang katanya minum-minum sampai mabuk, aku ingat waktu itu masih pagi betul, memang suamiku kadang lembur sampai malam sekali, sehingga aku tidak tahu kapan dia pulang. Betapa bodohnya aku, aku menyadari suamiku tidak pernah minum alkohol, entah mengapa ajakan Roni seperti hipnotis sehingga aku tidak curiga sama sekali.

Akhirnya aku sampai di hotel GS tempat Roni menginap, aku memasuki kamarnya dan dengan muka tak berdosa dia memaksaku untuk masuk, tanpa curiga aku cepat-cepat masuk dan mencari suamiku, namun ketika aku sadar dia tidak ada tiba-tiba mulutku dibekap dari belakang, napasku sesak sampai aku pingsan, entah apa yang terjadi selanjutnya, aku merasa ada kegelian di dadaku, seseorang mengelus-elus dan meremas-remas bagian dadaku. Pelan-pelan aku terbangun, kulihat Roni sedang memainkan payudaraku. Oh, betapa terkejutnya aku, apalagi mendapati diriku terebah di tempat tidur dengan hanya baju atasan yang sudah terbuka dan BH-ku yang sudah dibuka paksa. Aku menyuruhnya melepaskanku kudorong dorong badannya tetapi dia tak bergeming.

Dia memegangi kedua tanganku dan menekuk kedua lenganku dan menaruhnya di samping kepalaku, sehingga aku praktis tidak bisa apa-apa, genggamannya terlalu kuat, dia tertawa kecil dan menciumi kedua puting payudaraku, aku menolak tapi entah kenapa aku merasa risih birahi. Kemudian dia memasukkan penisnya ke bagian kemaluanku, aku meringis-ringis dan berteriak, rasanya sakit sekali.

Tetapi aku sepertinya justru menginginkannya, di tengah pergumulan itu aku menyadari bahwa penis suamiku sebenarnya terlalu kecil, aku pelan-pelan merasakan kenikmatan, dasar lelaki tampaknya Roni sangat pintar mengambil kesimpulan, aku pasrah pada kemauannya, ketika dia membalikkan badanku sampai seperti merangkak, dia sangat agresif, tetapi aku dapat mengimbanginya karena sudah lama aku tidak merasakan ini. Dia kembali menusukkan penisnya di kemaluanku dan meremas-remas payudaraku. Ahh, memang aku merasakan kenikmatan yang luar biasa yang bahkan suamiku sendiri tidak pernah memberikannya. Kemudian merasa tidak puas dengan baju bagian atasku yang masih menempel, dia melepaskannya, sambil kemudian membuat posisiku seperti duduk dipangku olehnya.

Seperti kesetanan aku secara otomatis mengikuti irama kemauannya, ketika kedua tangannya memegang perutku dan menggerakkannya naik turun aku secara otomatis mempercepat dan memperlambat gerakanku secara teratur, dia tersenyum penuh kemenangan, merasa dia telah membuat ramalan yang jitu. Kurasakan dia kembali meremas-remas dadaku ketika dia merasa aku dapat mengambil inisiatif. Sungguh seperti binatang saja aku, melakukan hal semacam itu di pagi hari, di mana seharusnya aku ada di rumah mempersiapkan sarapan dan mengurus anak-anakku. Sempat kurasakan tiada selembar benangpun menempel di tubuhku kecuali celana jinsku di sebelah kanan yang belum terlepas seluruhnya, tampaknya Roni tidak sempat melepasnya karena terlalu terburu nafsu.

Akhirnya dia menyuruhku mengambil posisi telentang lagi dan dia mengangkat dua kakiku direntangkannya kedua kakiku ke arah wajahnya dan dia mulai memainkan penisnya lagi, dan kurasa dia sangat menaruh hati kepada payudaraku, karena kemudian dia mengomentari payudaraku, menurutnya keduanya indah bagaikan mangkuk. Hmm, aku sungguh menikmatinya karena suamiku sendiri tidak pernah memberi perlakuan spesial pada kedua payudaraku ini, paling dia hanya meremas-remasnya. Tetapi apa yang dilakukan Roni benar-benar sungguh mengejutkan dan memuaskan diriku, dia menghisap putingku dan memainkannya seperti dot bayi. Hanya sebentar rasanya aku mengalami orgasme, aku merasa lelah sekali dan kehabisan nafas sampai akhirnya dia juga sampai ke situ.

Setelah itu aku merasa sangat marah dan menyesal kudorong Roni yang masih mencoba mencumbuku, kumaki dia habis-habisan. Tampaknya dia juga menyesal, dia tidak dapat berkata apa-apa. Roni kemudian hanya duduk saja sementara aku sambil menangis memakai kembali seluruh pakaianku. Aku mencoba menenangkan diri, sampai kemudian Roni mengancamku untuk tidak mengatakan hal ini kepada suamiku, dia kembali menekankan bahwa bisnis suamiku ada di tangannya karena dia adalah pembeli mayoritas sarang burung walet suamiku. Aku membenarkannya karena suamiku pernah berkata bahwa Roni adalah koneksinya yang paling penting. Aku bingung olehnya, baru-baru ini ketika dia pulang ke kotaku, dia kembali memaksaku melakukan lagi hal serupa, bahkan dia pernah berkata bahwa suamiku sudah menyerahkan diriku padanya karena dia merasa tidak mampu lagi memuaskan diriku.

Tamat


AdIk iPAr

Awek Pantat Panas CantikAdik Ipar
Tak payah le aku cerita intronye yang panjang lebar. Di
ringkaskan cerita aku memang dah lama stim dengan adik
ipar aku. Adik bini aku yang bongsu. Aku stim ngan dia


sejak dari aku mula kenal bini aku lagi. Masa tu dia pun
masih sekolah di tingkatan dua. Dia tak le secantik bini
aku tapi bodynya memang menggiurkan aku. Lebih-lebih
lagi teteknye yang berisi.

Adik ipar aku ni duduk serumah dengan aku. Baru mula
mengajar. So tinggal le di rumah aku. Satu ketika bini
aku di hospital melahirkan anak yang ketiga. Aku tinggal
berdua aje le dengan adik ipar aku nie. Anak-anak aku
yang dua lagi tu masih kecil lagi. Pada subuh yang kedua
dalam keadaan pagi yang dingin. Batang aku dah mencanak
minta dilayan. Aku pun tak fikir panjang terus
teringatkan adik ipar aku yang ada dalam bilik sebelah
tu.

Dalam kesamaran cahaya subuh yang hening tu aku merayap
ke dalam bilik adik iparku. Matlamatku hanya satu.
Menikmati lubang puki adik iparku. Lagipun nak menunggu
bini aku lepas pantang tak sanggup aku. Perlahan-lahan
aku memanjat ke atas katil dan dengan penuh tenaga aku
menindih tubuh montok adik iparku yang aku panggil
Fidah. Fidah terkejut bila terasa tubuhnya ditindih dan
meronta dengan ganas. Sebelum sempat suara keluar dari
mulutnya, tanganku telah mencekup mulutnya.

Aku berbisik padanya.., "Tenang Fidah.. Kau akan
menyukainya".

Fidah terus meronta walaupun jelas tidak berkesan.
Sambil genggamanku pada mulutnya terus kemas, tanganku
yang satu lagi mula meramas buah dada Fidah yang pejal
dan membukit megah. Dapat kurasakan putingnya yang masih
kecil dan bakal kunyonyot sebentar lagi. Tanpa membuang
masa, baju kurung kedah yang dipakai Fidah kurentap
sehingga koyak. Terhidang di hadapanku suatu pemandangan
yang sungguh indah.

Tetek Fidah separuh terkeluar dari colinya. Dadanya yang
putih gebu dan berisi terus berombak kencang kerana
terlalu meronta minta dilepaskan. Coli yang dipakai
Fidah tidak bertahan lama. Lalu kurentap supaya mudah
kukerjakan semahu hatiku. Sebaik sahaja coli Fidah
kurentap, terjojol le dua gunung yang telah lama aku
idamkan. Hatiku berkata.. Begini rupanye tetek si Fidah
yang selalu aku idamkan. Aku sembamkan mukaku ke tetek
Fidah.. Kukerjakan semahuku.. Kunyonyot.. Kugigit..
Kujilat dan ku uli semahunya.

Sambil mulutku menikmati tetek Fidah yang semakin tegang
dan basah dengan air liurku, tanganku mula merayap
mencari kain batik yang dipakai Fidah. Jumpa. Kurentap
agar terlondeh. Berjaya. Kaki Fidah terus menerajang tak
tentu hala. Akibatnya kain batiknya terselak sampai ke
peha. Peha Fidah memang pejal, putih dan gebu. Dalam
keadaan dia merunta-ronta itu, aku berjaya meletakkan
sebelah kakiku ke bawah lutut Fidah. Kini Fidah tak
mampu lagi untuk merapatkan pehanya bagi menghalang aku
menunaikan hajatku.

Dengan segera, kain pelikat yang kupakai kulucutkan.
Kain batik Fidah terus kuselak ke atas hingga ke
pusatnya. Pada ketika itu juga aku hulurkan konek aku ke
arah pantat Fidah yang tembam dan belum pernah diterokai
oleh sesiapa. Pantat Fidah dan konekku bergesel. Terasa
bulu pantat Fidah yang nipis bergesel dengan bulu
konekku yang tak pernah diurus.

Fidah semakin lemah, dengan segera mulutnya kusambar dan
bibir kami bertaut. Tidak kulepaskan. Bimbang kalau
nanti dia menjerit. Aku sekarang berada di dalam posisi
yang paling sempurna untuk melampiaskan nafsuku. Adik
iparku akan menjadi mangsa bila-bila masa sahaja.
Mahkota keperawanannya akan kurobek tanpa rasa belas.
Fidah amat faham akan keadaan ini. Dia sedar aku tidak
akan menoleh ke belakang lagi. Sisa tenaga yang ada
padanya tidak akan mampu memberi tentangan yang
bermakna.

Konekku terus kutekan ke pantat Fidah. Kuurut pantatnya
turun dan naik dengan konekku. Fidah mula memberikan
respon. Samada sengaja atau tidak, aku tidak pasti. Tapi
itu tidak penting. Pehanya yang terkuak oleh kakiku
sudah tidak cuba dirapatkan lagi. Pertahanan Fidah makin
longgar. Kubawa tanganku ke bawah punggung Fidah.
Kuramas bontotnya. Memang hebat. Aku bergerak lebih
jauh. Kali ini, jejariku mula meneroka alur puki Fidah.
Bibir pantatnya memang mengkal dan pejal. Dapat
kurasakan tebing pantatnya yang terbelah itu begitu
jelas.

Jejariku bermain-main di situ. Fidah cuba menahan
kenikmatan yang dirasa. Tapi tubuhnya berdegil dan terus
menggeliat seiring dengan kenikmatan yang mula
dirasakan. Masanya sudah tiba. Pada ketika Fidah sudah
mengisyaratkan ketewasan dan kerelaan yang bercampur,
aku menguakkan kelangkang Fidah. Luas dan luas. Tanpa
melepaskan mulutnya, peha Fidah kulipat ke perutnya.
Nah.. Fidah di dalam posisi yang sungguh bersedia. Kali
pertama dalam hidupnya dia berada dalam keadaan begitu.

Batangku yang telah bersedia kubenamkan sedikit ke
rekahan puki Fidah. Pengalaman bersama biniku menjadikan
aku mudah mencari sasaran yang ada pada Fidah. Mungkin
merasakan kesakitan, Fidah cuba memberontak. Tapi dalam
posisi yang begitu. Usahanya sia-sia belaka. Aku tidak
mahu bertangguh lagi. Kepala konekku yang telah mengenal
pasti sasaran yang aku tetapkan kuhenjut ke dalam puki
Fidah. Menerobos terus sampai tenggelam keseluruhan
konek aku.

Aku diam sebentar. Memberi peluang Fidah menerima apa
yang sedang dialaminya. Fidah tidak berbuat apa-apa,
kini dia hanya menerima. Dia tahu, tiada apa lagi yang
hendak dipertahankan. Dia telah mencuba sedaya upaya..
Kini terserahlah padaku untuk memperlakukan apa sahaja.
Aku memulakan pergerakan. Konekku kusorong tarik keluar
dan masuk puki Fidah yang hangat dan sempit. Kekadang
pergerakan keluar masuk konekku tersekat kerana lubang
yang baru sahaja diteroka begitu sempit.

Dalam menghayun keluar dan masuk, kupelbagaikan gerak ke
kiri dan ke kanan dan kekadang berhenti separuh sebelum
menghentak sekuat hati ke pangkal puki Fidah. Aku puas
dengan kenikmatan yang kurasa. Lama aku mengerjakan
Fidah. Apabila terasa hendak terpancut aku berhenti.
Kemudian kusambung semula. Beberapa kali, tubuh Fidah
menegang. Dia juga dalam diam sedang menikmati
persetubuhan antara aku dan dia. Fidah kini lebih senang
membiarkan aku dari menentang kehendakku. Adakalanya,
punggungnya yang pejal itu digerak-gerakkan ke kiri dan
ke kanan menyambut hentakan-hentakan yang aku lakukan.

Aku pasti Fidah juga mencari kenikmatan buat dirinya
sendiri. Subuh yang telah menjelang pagi membolehkan aku
melihat baju dan coli Fidah bertaburan di atas lantai.
Aku masih lagi di atas tubuhnya. Kepuasan yang diberikan
oleh pantat Fidah tidak dapat aku gambarkan. Kesempitan,
kehangatan, kekenyalan di dinding pantatnya menjadikan
aku sentiasa berahi setiap kali batang pelirku menerobos
masuk ke lubang nikmat Fidah. Setiap kali aku klimaks,
kenikmatannya kurasa sampai ke kepalaku.

Aku menggelepar disebabkan oleh kenikmatan yang
kurasakan. Dan aku terkulai layu di atas tubuh Fidah.
Dalam pada aku mengumpul tenaga untuk pusingan yang
berikutnya, Fidah membuat tindakan yang sama sekali
tidak kuduga. Dengan baki sisa-sisa yang ada, Fidah
membalikkan tubuhku. Kini dia berada di atas.
Punggungnya digerak-gerakkan bagi meransang konekku.

Fahamlah aku betapa Fidah yang telah mula berpengalaman
disetubuhi kini ingin melakukan dengan caranya sendiri.
Aku tidak ada halangan. Batangku segera mencanak. Akur
dengan ransangan yang dicetuskan oleh gelekan punggung
Fidah yang montok dan pejal. Dengan gerakan yang lembut
Fidah mengusap-ngusap konekku dengan pantatnya. Celaka
Fidah. Kau punya agenda sendiri rupanya.

Nafas Fidah semakin kuat. Nyata nafsunya sudah tidak
dapat dibendung lagi. Alunan punggungnya yang lembut dan
mesra tadi segera bertukar menjadi rancak dan ganas.
Tanpa membuang masa, jejari halus dan gebunya
menggenggam konekku dan ditusukkan ke dalam lubang
nikmatnya yang sebentar tadi aku terokai. Apabila
terbenam sahaja konekku, Fidah meneruskan hayunan turun
dan naik. Suara kenikmatan mula keluar dari bibirnya
yang mungil. Fidah seperti tidak keruan menahan nikmat.

Fidah semakin tidak dapat mengawal dirinya. Kenikmatan
yang menjalari tubuhnya menjadikan dia tidak dapat
mengawal dirinya. Dari rintihan kecil, kini rintihan
Fidah semakin nyata. Fidah tidak lagi malu. Dia
meronta-ronta di atas tubuhku sambil melanyak-lanyak
lubang nikmatnya dengan konekku.

"Aahh.. Aahh.. Aahh.. Aahhgh.. Aaghh.. Aa.. Sedapnyaa..
Aa..", Fidah terus menggelepar kesedapan dengan konekku
terhunus kemas di dalam pantatnya.

Buah dada Fidah bergantungan dan bergetar mengikut
rentak hayunan tubuhnya. Aku angkat kepalaku dan
menyonyot buah dada Fidah yang bergetar megah di
dadanya. Setelah teteknya kulepaskan, aku memberi
galakan kepada Fidah dengan kata-kata yang meransang
lagi nafsu Fidah..

"Do it.. Do.. It Fidah.. It's all yours.. Big thingy is
for you to enjoy.. Feel my thingy in your tight girl thingy".

Fidah tidak berdiam diri bukan sahaja pergerakannya
semakin menjadi-jadi bahkan turut menjawab ransanganku
dengan menyebut..

"Aabaang.. Aahghh.. Aa.. Sedapnya abaang..".

Fidah terkulai di atas tubuhku. Tubuhnya kejang.
Pantatnya terus menekan konekku sekuat yang mampu. Fidah
menikmati klimaks yang paling klimaks dan paling
bermakna dalam hidupnya. Klimaks yang dilakukannya
sendiri.. Mengikut fantasi seks yang mungkin telah lama
dipendamkan dalam dirinya. Aku bangga dapat menjadi
lelaki yang menjadikan kenikmatan fantasi seksnya satu
kenyataan.

Itulah permulaan perhubungan seks yang indah antara aku
dan Fidah – adik ipar yang telah lama aku idamkan. Fidah
ternyata mempunyai fantasi seks yang cukup hebat.
Kesemuanya dipertontonkan kepada aku di setiap kali kami
berasmara.

Kau memang hebat Fidah. Tidak sia-sia aku merobek
kegadisanmu. Indah sungguh pembalasan yang kau berikan.


Budak Sekolah

Awek Pantat Panas Cantik Budak Sekolah Pengalaman ini ingin saya kongsikan bersama dengan pembaca semua. Ianya berlaku hampir dua tahun yang lepas. Sepertimana selalu, apabila aku bosan, aku akan memandu kereta ku dan akan lepak di Tasik Titiwangsa sambil mencuci mata. Selalunya aku hanya akan lepak sambil memerhatikan gelagat orang yang berkunjung ke tasik itu. Hari itu adalah hari Rabu...lebih kurang dalam pukul 1pm. Seperti biasa, aku akan parking kereta sambil lepak di dalam kereta mendengar lagu. Tapi pada hari itu, suasana agak berlainan kerana semasa aku lepak, dari jauh aku terpandang seorang budak perempuan lengkap berbaju sekolah...baju kurung. Yang menarik pandangan aku adalah teteknya yang agak membonjol. Tanpa malu lagi, aku keluar dari kereta sambil berdiri menunggu dia lalu. Aku pun menegurnya apabila dia lalu disebelah ku. Terkejut aku apabila dia berhenti dan senyum pada ku. "Ada respon nampaknya," bisik hatiku. Kami berbual seketika. Aku dapat tahu yang namanya adalah Adina dan baru berusia 15 tahun. Bagaikan tidak percaya aku apabila mendapat tahu umurnya memandangkan teteknya yang membonjol di bajunya. Aku lantas mengajaknya berjalan-jalan dengan kereta aku. Dia tidak menolak. Sambil memandu, kepala ku merangka cara bagaimana aku hendak memulakan adengan seterusnya. Terus terang aku katakan yang nafsu ku sudah memuncak ketika itu...lebih-lebih lagi apabila aku terpandang alur teteknya ketika dia membongkok membula radio kereta ku. Ternampak sahaja satu sudut tasik yang sunyi, aku pun memandu kereta ku ke sana lalu berhenti. Tangan ku terus memegang pahanya lalu mengurut lembut. Dia tersenyum memandang ku lalu tangannya terus diletakkan di atas senjata ku yang sedang menegang dan menggeras di dalam seluar ku. Entah di mana dia belajar kerana langkahnya selanjut itu terus membuatkan aku tidak dapat mengawal perasaan ku. Tangan ku semakin berani. Dari luar, aku terus masuk ke dalam kainnya sambil meramas mesra seluar dalamnya yang agak tembam itu. Aku dapat rasakan ianya semakin basah...mungkin kerana mainan tangan ku itu. Aku memandang sekeliling. Apabila puas hati yang tiada siapa berada hampir, aku terus bergerak ke kerusi sebelah, berdiri mengadapnya sambil tangan ku menaikkan kainnya dan terus membuka seluar dalamnya yang berwarna hitam. Licin! Bulu kemaluannya baru sahaja hendak tumbuh walaupun ada beberapa helai yang agak kasar. Aku terus membuka seluar ku dan mengeluarkan senjata ku yang sedang tegang. Aku terus merapatkannya ke bibir kemaluannya sambil menolak masuk. Ketatnya tidak perlu aku ceritakan. Aku terus berdayung sambil dia mengerang keseronokkan bercampur kesakitan. Selang beberapa minit, aku rasakan bagaikan hendak meletup. "Jangan lepas kat dalam bang," katanya pada ku. Aku terus berdayung dan apabila hendak meletup, aku teruskan lagi dan terus memancutkan air pekat ku kedalam kemaluannya itu. Itulah kali pertama dan terakhir aku bertemu dengannya. Aku tidak tahu samada air ku dalam kemaluaannya menjadi sesuatu atau tidak sebab aku tidak lagi bertemu dengannya selepas itu.


Kehidupan seksku – 2

Awek Pantat Panas CantikDengan bersiul gembira suamiku beranjak ke ruang kerjanya, sementara aku lalu mandi dan mempersiapkan diri, entah kenapa aku jadi berdandan dan mengenakan daster sutera yang membuatku tampak sexy, dengan belahan dada yang rendah, aku ingin tampil cantik, padahal siapa yang akan datang aku juga tidak tahu.

Ning.. Nong.., pada pukul 11 kurang sedikit bel rumah berbunyi dan suamiku bergegas keluar menyambut tamunya, sementara pembantuku sudah pada tidur, lagi pula sudah kupesankan kalau malam ini kami akan ada tamu tapi tidak perlu repot karena tamu tersebut adalah teman suamiku.



"Silakan Mbak", suara Harry membuyarkan lamunanku.
"B.. Bagaimana caranya..?", tanyaku agak nervous.
"Mbak berbaring saja.. Telungkup, mohon dasternya dibuka ya..?", Harry berkata dengan lembut, namun profesional, tegas dan tidak tampak kurang ajar.

Aku lalu melangkah ke kamar mandi di dalam kamar kami, dengan hati yang tidak karuan karena takut, tegang namun exciting kubuka dasterku, dan mengambil handuk yang kulilitkan di tubuhku. Aku kembali ke kamar dan langsung menelungkupkan diri di ranjangku.

Harry duduk di sampingku dan membuka handuk yang masih terlilit, lalu handuk itu digunakan untuk menutupi bongkahan pantatku. Aku masih mengenakan celana dalam, dan terasa dingin ketika tangannya mulai melumuri punggungku dengan lotion yang harum. Tangan kekar itu mulai mengurut perlahan namun mantap dan perlahan aku mulai merasa rilex, sementara kulirik suamiku yang duduk memperhatikan dengan wajah penuh senyum dan rasa senang.

"Hmm.. Senang olah raga ya Mbak..", tanya Harry.
"Badan Mbak kencang sekali..", katanya lagi sementara tangannya tak berhenti memijat mulai dari bahu turun ke punggung.
"He.. Eh..", jawabku sekenanya karena aku sungguh menikmati pijatan lembut namun bertenaga dari pria yang baru ketemu sekarang ini.

Kedua tanganku bergiliran juga diurutnya dan entah sudah berapa lama ketika kurasakan tangan itu mengangkat handuk yang menutupi pantatku.

"Mbak celana dalamnya boleh dibuka..? Supaya mudah diurutnya", Harry berkata dengan perlahan dan tanpa menunggu persetujuanku, celana dalamku sudah diturunkan dan anehnya aku mengikuti dengan mengangkat perutku untuk memudahkan turunnya celana dalamku.

Lengkaplah pikirku, kini aku telanjang bulat telungkup di ranjang dan seorang laki-laki asing yang baru ketemu belum sampai dua jam memijati seluruh tubuhku.

"H.. Hh.. Ss..", aku mendesis ketika tangan yang sedang memijat pantatku menyentuh anus dan terkadang menyenggol vaginaku, aku mulai 'naik'.
"Direnggangkan sedikit Mbak..?", kudengar suara Harry berkata sementara tangannya memijat pahaku, meminta aku merenggangkan kedua kakiku.

Kini semakin sering vaginaku tersentuh ketika Harry memijat paha bagian dalam, dan aku semakin menahan birahi yang mulai naik, dan ketika kulirik.. kulihat suamiku memperhatikan dengan seksama, dan aku kenal sekali wajahnya kalau ia juga agak terangsang dengan suasana yang ada ini.

"Balik Mbak..!?!", suara lembut Harry memecah kesunyian, memang bukan aku nggak mau ngobrol tapi posisi telungkup itu membuatku susah berbicara.

Aku membalik dan kini benar benar aku telentang tanpa selembar benangpun dan kulihat bahwa walau professional, Harry tampak menelan ludah melihat tubuh mulusku terpampang di hadapannya.

Tangannya mulai memijat payudaraku dan tanpa dapat dicegah, putingku mengeras ketika tersentuh. Setelah kurang lebih 3 menit masingmasing payudara mendapat 'giliran', tangannya mengusap perutku dengan lembut dan terus ke bawah.. Aku mulai menggigit bibir. Dengan penuh konsentrasi, kulihat Harry mulai memijat paha, kaki lalu balik lagi ke paha dan mulai memijat vaginaku..

"Uh.. Oh..", erangku lirih ketika tangannya memijat atau lebih tepat mengusap bibir vaginaku dan sesekali jarinya 'membuka' vaginaku dan menyentuh klitorisku.

Lalu.. Jarinya mulai memasuki vaginaku yang memang sejak tadi sudah membasah.

"Hh.. Uh..", aku mencoba menahan rasa terangsang yang mulai membakar dan tanganku mencengkeram seprai tempat tidur dan ketika suamiku maju mendekat, kupegang tangannya yang dibalasnya dengan genggaman.

Kini jari-jari tangan Harry benar benar memainkan vaginaku dengan penuh irama dengan jari telunjuk vaginaku di 'tusuk' dan digerakkan maju mundur sementara jempol tangannya memainkan klitorisku dan iramanya benar benar konstan membawaku sangat tinggi dan ketika aku hampir mencapai orgasme, tiba tiba ia menghentikan gerakannya.

Aku agak kecewa sebenarnya karena tadi sudah sangat 'dekat' dengan orgasme yang kukejar namun aku diam saja dan harry mulai lagi memijatku dari lutut ke atas. Ketika tangannya mencapai vaginaku, kembali ia memainkan irama seperti tadi dan birahiku kembali mulai merambat naik.. Semakin tinggi.. Dan aku semakin menggelinjang menahan rasa nikmat. Kembali ia menghentikan gerakannya, namun tidak lama aku merasakan yang lain, kini hangat dan lebih lembut, ketika mataku kubuka..(dari tadi aku terpejam), kulihat.. Oh Tuhan.. Ia mulai menjilati vaginaku.

Tanpa sadar aku memperbaiki posisiku, sementara Harry juga mengatur posisi menempatkan diri di tengah kedua kakiku yang kini sudah mengangkang lebar, meletakan bantal di pantatku sehingga posisinya nyaman dan mudah untuk menjilatiku.

Lidah hangat itu mulai menjilat, menelusuri dan sesekali menerobos liang vaginaku, dan aku semakin tak tahan..

"Oh.. Uh.. Hh..", tanganku pun sudah tak sungkan untuk menjambak dan memegang kepala laki-laki itu.

Aku semakin tak tahan ketika lidah itu menelusur ke belakang dan mulai menjilati, bahkan memasuki anusku..

"Oh.."

Terlalu dahsyat sensasi yang kurasakan dan ketika lidahnya secara teratur kembali memasuki liang vaginaku dengan irama teratur juga menjilati bahkan menyedot klitorisku, akupun berteriak..

"Aakkhh.. Aku keluaarr.."

Dan orgasme itu benar benar membuatku terkulai, namun aku masih merasa belum lengkap, vaginaku masih ingin.. kemaluan.. pria.. Namun orgasme tadi menyadarkan aku bahwa ada suamiku di sini dan ketika kulihat ia tampak sangat terangsang.

"Mbak.. Sungguh cantik.. Senang sekali bisa membantu..", suara Harry yang memujiku kembali membuatku tersipu, dan aku segera bangkit, menyambar handuk lalu setengah berlari menuju kamar mandi.

Aku mandi dan vaginaku masih terus berdenyut-denyut. Ketika aku selesai, kulihat suamiku memberi tanda dan berkata..

"Ma.. Harry mau pamit.."
"Terima kasih Mas..", kataku dan mengulurkan tangan mnerima jabatannya, sempat kulihat bagaimana selangkangan laki laki itu tampak menggembung, kasihan.., pikirku.
"Hmm.. Bagaimana Ma..?", tanya suamiku sekembalinya ke kamar setelah mengantar Harry ke pintu.

Aku tidak menjawab, namun langsung menerkamnya, melucutinya dan kemaluannya langsung berada di mulutku..

"Uh..", cuma itu desahan yang kudengar dan tidak sampai dua menit mulutku sudah penuh air mani suamiku.
"Gila.. Aku sungguh tidak tahan dari tadi, apalagi ketika Harry menjiilatimu", kata suamiku ketika kami berbaring, menunggu dia 'recover' sementara tanganku asyik mengelus kemaluannya yang masih setengah tidur.
"Mas nggak cemburu atau sakit hati?", tanyaku.
"Nggak.. Malah sangat terangsang.. Toh aku tahu kamu istriku dan mencintaiku", jawabnya dan aku tak sempat menjawab karena bibirnya sudah menutup bibirku.

Malam itu kami bercinta berkali kali, dan kuakui efek dari kehadiran laki laki lain itu sungguh sangat meningkatkan gairah kami.

"Lain kali.. Boleh kuminta yang memijatmu juga telanjang?", tanya suamiku beberapa hari kemudian.
"Terserah Mas.. Bagimana baiknya..", aku menjawab ketika beberapa hari kemudian kami sedang berbaring sehabis bercinta.
"Tapi.. Kalau bisa jangan Harry lagi..", kataku.
"Kenapa..?" tanya suamiku.
"Nggak ah.. Jangan sampai ada pihak lain yang nanti merasa terlalu dekat dengan kita", jawabku lagi.

Memang aku tidak ingin rumah tanggaku terguncang karena sebenarnya aku yang takut kalau-kalau aku jadi senang dengan laki laki lain, apalagi setampan dan se-gentle Harry, masih terbayang betapa besar gelembung celananya ketika ia selesai menjilatiku, dapat kubayangkan berapa besar isinya..?